
Nara dan Rafa yang mendengarkan teriakan-teriakan atau sorai-sorai gembira dari seorang perempuan yang merupakan sang Mama dan sang Mama mertua bagi Rafa dan Nara tersebut pun kini hanya bisa menghela nafas mereka dengan kasar sembari berbicara melalui kata hati mereka masing-masing.
"Ē to, watashi no gibo wa, kanja ni shunkan-tekina kyōki o hikiokosu gokai no uirusu o tsukamaeta yōdesu. Sore dakedenaku, watashi no gibo hodo waruku wa arimasenga, watashi no gifu mo uirusu ni kansen shite imasu! (Huh, sepertinya Mama mertuaku ini sedang terjangkit virus salah paham yang menyebabkan kegilaan sesaat pada penderitanya. Tak hanya itu saja, Papa mertuaku juga sedang terjangkit virus itu walaupun tak separah Mama mertuaku!)" batin Nara sembari menghela nafasnya sendiri dengan sangat kasar.
"Ya ampun, tidak Mama, tidak Papa sama-sama salah paham dengan ucapanku itu. Niatku yang sebenarnya ingin mengajak istri kecilku agar bisa membiarkan Mama dan Papa membereskan masalah rumah tangga kalian justru Mama dan Papa salah paham dan mengira jika aku dan istri kecilku ini akan melakukan hal-hal yang membuat Mama dan Papa bisa memiliki seorang cucu. Padahal, sebenarnya Mama dan Papa salah besar jika mengira hal itu akan terjadi kepadaku dan istri kecilku ini" batin Rafa sembari menghela nafasnya sendiri dengan sangat kasar.
Karena tak ingin menjadi pusing karena mendengar teriakan-teriakan atau sorai-sorai gembira dari seorang perempuan yang berstatus menjadi Mama dan Mama mertua bagi mereka berdua, akhirnya Nara dan Rafa pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar mereka berdua.
Ceklek
Setelah membuka pintu kamar mereka, dengan segera Nara dan Rafa pun berjalan ke arah meja belajar mereka masing-masing untuk mengambil ponsel milik mereka yang terletak di atas meja belajar milik mereka masing-masing.
Sesampainya di depan meja belajar mereka masing-masing, Nara dan Rafa pun dengan segera mengambil ponsel mereka masing-masing yang bermerk I Phone yang terletak di atas meja belajar mereka masing-masing.
Kemudian, Nara dan Rafa pun berjalan ke arah tempat tidur mereka untuk merebahkan dan mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing yang sudah terasa lelah seharian sembari bermain ponsel milik mereka masing-masing.
Setelah sampai di dekat tempag tidur mereka, Nara dan Rafa pun dengan segera naik ke atas tempat tidur dengan posisi tangan kanan mereka yang membawa ponsel milik mereka masing-masing.
Dengan perlahan-lahan, Nara dan Rafa pun merebahkan tubuh mereka masing-masing di atas kasur king size tersebut dan tak lupa juga untuk menyelimuti tubuh mereka masing-masing.
Nara dan Rafa yang kini sedang berbaring di atas tempat tidur mereka pun kini hanya ada jarak sekitar 20 Cm. Dan jarak yang ada di antara Nara dan Rafa tersebut pun di isi oleh sebuah bantal guling yang memang dengan sengaja di taruh di tengah-tengah Nara dan Rafa.
Baru saja Nara akan memainkan aplikasi WhatsApp yang ada di dalam ponsel miliknya tersebut, namun ponselnya sudah terlebih dahulu berdering dengan sangat nyaring yang menandakan adanya sebuah panggilan masuk ke ponsel miliknya.
Setelah Nara lihat nama sang penelepon, rupanya itu adalah kedua sahabat barunya yang tak lain adalah Vannesha dan Anissa yang mengajaknya untuk bergabung di dalam panggilan video WhatsApp bersama Vannesha dan Anissa tersebut.
Dengan segera, Nara pun mengangkat panggilan video WhatsApp dari Vannesha dan Anissa yang notabenenya adalah kedua sahabat barunya tersebut.
Seketika setelah panggilan video WhatsApp terhubung, layar ponsel bermerk I Phone milik Nara tersebut pun kini menampilkan wajah kedua sahabat barunya yang tak lain adalah Vannesha dan Anissa yang kini sedang menyapanya melalui panggilan video WhatsApp tersebut.
Vannesha
"Hello, Nara! My beloved friend, my dearest, and also best friend! Good night. What are you doing now, Nara? You know what, that I'm currently missing you even though we met earlier at school! (Halo, Nara! Sahabat tercintaku, tersayangku, dan juga sahabat terbaik! Selamat malam. Sedang apa kamu sekarang, Nara? Kamu tahu tidak, bahwa aku itu sekarang sedang merindukanmu walaupun tadi kita sudah bertemu di sekolah!)"
Anissa
"Hello, Nara. Good night (Halo, Nara. Selamat malam)"
Anissa
"Nesha, it's normal to talk. Why should it be dramatized like that? You seem suitable to be a Korean drama player because you like to be dramatic. Uh, I mean Indonesian soap opera players (Nesha, biasa saja bicaranya. Kenapa harus di dramatisir seperti itu? Kamu sepertinya cocok menjadi artis pemain Drama Korea karena kamu suka mendramatisir. Eh, maksudnya artis pemain Sinetron Indonesia)"
Vannesha
"Hey, watch your mouth, Arabic but you don't speak Arabic! I could be a Korean Drama performer if I practice often. For example like now, I'm practicing to be a Korean Drama actor, Anissa Kyara Zahran! (Hei, jaga bicaramu, orang Arab tapi tidak bisa berbahasa Arab! Aku ini bisa saja menjadi artis pemain Drama Korea jika aku sering berlatih. Contohnya seperti sekarang, aku sedang berlatih menjadi artis pemain Drama Korea, Anissa Kyara Zahran!)"
Nara pun di buat menjadi sangat bingung karena kedua sahabat barunya ini justru saling bertengkar melalui adu mulut di depan dirinya. Nara pun merasa jika sekarang dirinya sedang menjadi Wasit sekaligus Juri untuk kontes adu mulut di antara Vannesha dan Anissa.
"Korehanandesuka? Naze futari wa jissai ni watashi no mae de tatakatta nodesu ka? Giron suru koto ni yotte tatakau ta no basho ga nai ka no yō ni. Karera ga watashi no mae de giron suru koto ni yotte tatakaunaraba, watashi wa nesha to nissa no ma no kono kōtō no kontesuto no shinpandeari, baishin-indearu to kanjimasu. Ē to, kore wa watashi ni totte hontōni hijō ni konran shite imasu! (Apa-apaan ini? Kenapa mereka berdua justru bertengkar di depanku? Seperti tidak ada tempat lain saja untuk bertengkar dengan cara adu mulut. Kalau mereka bertengkar dengan cara adu mulut di depanku ini kan aku merasa menjadi Wasit sekaligus Juri untuk kontes adu mulut di antara Nesha dan Nissa ini. Huh, ini sungguh sangat membingungkan bagiku!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah layar ponsel miliknya yang kini sedang menampilkan adegan pertengkaran dengan cara adu mulut yang di lakukan oleh kedua sahabatnya tersebut.
Seakan tahu isi hati dari hati Nara, Anissa pun menyetop adu mulut yang kini sedang di lakukannya dengan Vannesha, sahabatnya yang gila tersebut. Anissa kini seakan-akan mengetahui isi hati dari Nara yang sebenarnya menginginkan Vannesha dan Anissa untuk berhenti beradu mulut. Tentunya hal ini tidak dapat di ketahui oleh Vannesha yang merupakan penyebab dari adu mulut dengan Anissa ini.
__ADS_1
Anissa
"Nesha, never mind! Don't babble anymore! The Nara is now feeling confused because we are arguing with arguments in front of him! You should be quiet and let Nara answer our questions and suggestions! You understand, Vannesha Mikhayle Faresta (Nesha, sudahlah! Jangan mengoceh lagi! Nara itu sekarang sedang merasa kebingungan karena kita sedang bertengkar dengan adu mulut di depannya! Seharusnya kamu diam dan membiarkan Nara untuk menjawab pertanyaan dan saapan dari kita! Kamu mengerti, Vannesha Mikhayle Faresta)"
Vannesha
"Yes yes, Arabs and Indonesians! (Iya iya, orang Arab dan Indonesia!)"
Narahita
"Hello too, Nesha, Nissa. Good evening to you. I'm now laying my body on the bed. What are you doing now? You guys look really cute when you're sitting around like this! It's not like before when you were fighting by way of arguing! (Halo juga, Nesha, Nissa. Selamat malam untuk kalian. Aku sekarang sedang merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kalau kalian sedang apa sekarang? Kalian terlihat sangat manis ketika sedang berdiam-diaman seperti ini! Tidak seperti tadi ketika kalian sedang bertengkar dengan cara adu mulut!)"
Vannesha
"Is it true that we now look cute? As usual, I'm currently watching Korean dramas with a romantic genre. Uh, this time Lee Min Ho looks really handsome in this Korean Drama! You have to see it right now! (Benarkah kami sekarang terlihat sang manis? Seperti biasanya, aku sekarang sedang menonton Drama Korea yang bergenre romantis. Uh, kali ini Lee Min Ho terlihat sangat tampan sekali di Drama Korea ini! Kalian harus melihatnya sekarang juga!)"
Anissa
"Hey, Korean Drama lovers! Looks like I have to create a vaccine to get rid of those K Drama viruses that are still stuck in you! I will also inject this vaccine into people who are infected with the K Drama virus! (Hei, pecinta Drama Korea! Sepertinya aku harus menciptakan sebuah vaksin untuk menghilangkan virus-virus K Drama yang masih menempel di dalam dirimu itu! Vaksin ini nantinya juga akan aku suntikkan kepada orang-orang yang terkena virus K Drama!)"
Anissa
"Now I'm reading an Arabic dictionary To be more precise, learn Arabic in depth. Hikss, this really tortures my brain because the writing can be said to be different from the existing writing like in the Qur'an (Kalau aku sekarang sedang membaca kamus bahasa Arab. Lebih tepatnya sih belajar bahasa Arab secara mendalam. Hikss, ini sangat menyiksa otakku karena tulisannya bisa di bilang beda dengan tulisan yang ada seperti di dalam Al-Qur'an)"
Vannesha
"Hey, Arabs! Watch your talking! I really am a Korean Drama fan! Unlike you who have Arabic blood but cannot speak Arabic. It would be great if your father told you to study Arabic in depth. Because it will definitely be very useful when you visit your grandparents in Arabia. Damn it! (Hei, orang Arab! Jaga bicaramu! Aku ini memang penggemar Drama Korea! Tidak seperti dirimu yang punya darah Arab tetapi tidak bisa berbahsa Arab. Baguslah jika Ayahmu menyuruhmu untuk belajar bahasa Arab secara mendalam. Karena itu pasti akan sangat berguna ketika kamu mengunjungi nenek dan kakekmu di Arab. Dasar payah!)"
Di dalam diamnya, Nara memikirkan cara untuk meredakan suasana mencekam di antara dirinya dan kedua sahabat barunya tersebut yang di akibatkan oleh ulah kedua sahabat barunya tersebut yang saling beradu mulut satu sama lain.
"Kore wa dō? Nande kon'na kanji ni natta no? 2-Ri no atarashī tomodachi ga otagai ni kōron shite iru toki ni shōjiru kinchō o yawarageru ni wa, do no yōna hōhō o shiyō sureba yoidesu ka? Arrā yo, imasugu Nara ni kotaete kudasai! (Bagaimana ini? Kenapa bisa menjadi seperti ini? Aku harus memakai cara apa untuk meredakan ketegangan yang tercipta di kala kedua sahabat baruku ini sedang beradu mulut satu sama lain? Ya Allah, tolomg berikanlah jawabannya untuk Nara sekarang juga!)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan memejamkan kedua matanya tersebut.
Setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Nara pun menemukan cara untuk meredakan ketegangan yang terjadi ketika Vannesha dan Anissa sedang beradu mulut.
Dengan segera, Nara pun menyampaikan rencananya untuk meredekan ketegangan yang terjadi ketika kedua sahabat barunya tersebut sedang beradu mulut kepada Vannesha dan Anissa.
"Kono yō ni shite, watashitachi 3-ri no ma no kinchō ga kaishō sa re, minasan ga izen to onajiyōni futatabi atsumaru koto o negatte imasu. Umaku ikeba! (Aku harap dengan cara ini ketegangan di antara kita bertiga akan mencair dan kalian kembali akur lagi seperti semula. Semoga saja!)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut**.
Narahita
"Em, Nesha, Nissa, may I add my best friend who is in Japan to join us in the video call with the three of us? I would love to introduce him to both of you! And also I hope you can be his best friend as well as you become my best friend! (Em, Nesha, Nissa, bolehkah aku menambahkan sahabatku yang ada di Jepang untuk ikut dalam panggilan video bersama kita bertiga? Aku ingin sekali mengenalkannya kepada kalian berdua! Dan juga aku berharap kalian bisa menjadi sahabatnya juga seperti kalian menjadi sahabat aku!)"
Anissa
"Of course you can, Nara. Why do we forbid you to add your friend who is in Japan for that to join the WhatsApp video call with the three of us? (Tentu saja boleh, Nara. Untuk apa kami melarangmu untuk menambahkan sahabatmu yang ada di Jepang itu untuk itu bergabung dalam panggilan video WhatsApp bersama kita bertiga?)"
Vannesha
"Of course I totally agree with your request, Nara. I am just now very curious about what his figure looks like? Is he loud, loud, a little crazy, and smart like me? (Tentu saja aku sangat-sangat menyetujui permintaanmu itu, Nara. Aku justru sekarang menjadi sangat penasaran dengan sosoknya itu seperti apa? Apakah dia itu berisik, ramai, agak gila, dan pintar seperti aku?)"
Narahita
__ADS_1
"Um, more or less it can be said like that. I'll add the person first (Emm, kurang lebih bisa di bilang seperti itu. Aku tambahkan dulu ya orangnya)"
Dengan segera, Nara pun mengklik ikon tambahkan orang atau peserta panggilan video yang ada di atas bagian pojok kanan layar ponselnya tersebut.
Setelah mengklik ikon tambahkan orang atau peserta panggilan video, Nara pun langsung mengklik kontak Aina, sahabatnya yang ada di Jepang agar ikut dalam panggilan video bersama Vannesha dan Anissa yang merupakan sahabat barunya tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk Nara menunggu sambungan panggilan video tersambung dengan Aina, kini Aina pun sudah bergabung di dalam panggilan video WhatsApp yang beranggotakan Nara, Vannesha, dan Anissa tersebut.
****Aina****
"Ā, kon'nichiwa Nara! Watashi wa izen, dare ga watashi ni bideo setsuzoku ni sanka suru yō ni tanonda ka o kangaemashita. Ē to, Nara, anatadearu koto ga wakarimashita. Ima nani o shi teru no? Sudeni Indoneshia ni ite, otto to kekkon shite iru toki wa dōdesu ka? Soshite, 2-ri no utsukushī on'nanoko wa daredesu ka? Kare wa mata, Indoneshia no Nara de anata no shin'yūdesu ka? (Oh, halo Nara! Aku pikir tadi siapa yang mengajakku bergabung di dalam sambungan video. Eh, ternyata itu adalah kamu, Nara. Kamu sedang apa sekarang? Bagaimana kabarmu ketika kamu sudah berada di Indonesia dan menikah dengan suamimu? Dan, siapa dua gadis yang cantik itu? Apakah dia juga sahabatmu yang ada di Indonesia, Nara?)"
Nara pun sontak saja kini di buat menjadi sangat terkekeh ketika mendengarkan sahabat sejatinya yang sedang berada di Jepang tersebut bertanya kepadanya tanpa ada jeda sedikitpun di antara setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabat sejatinya tersebut.
"Aina, watashi ga Indoneshia ni hikkoshita no ni, anata wa mada kawatte inai nodesu ka? Anata wa mada totemo oshaberi de, jitto shite iru koto wa dekimasen! Shikamo, Yoshida Mana-san, shitsumon no aima ni sukoshi mo yasumazu ni onegai shimashita! (Aina, kamu masih saja tidak berubah ya walaupun aku sudah pindah di Indonesia? Kamu masih saja sangat cerewet dan tidak bisa diam! Terlebih lagi, kamu itu bertanya tanpa ada jeda sedikitpun di antara pertanyaanmu itu, Aina Yoshida!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah ponsel miliknya tersebut yang menampilkan wajah cantik milik sahabat sejatinya tersebut.
Narahita
"Kon'nichiwa, Aina. Ichido ni 1tsu dake shitsumon dekimasu. Sate, Aina, anata no shitsumon ni kotaemasu. Watashi wa ima beddo ni yokotawatte imasu. Watashi wa genkidesu. Soshite, karera wa tashika ni Indoneshia no watashi no atarashī tomodachidesu. Namida o nagashite ita no wa VanneshaMikhayleFaresta to yoba rete imashita. Sonoaida, mewotojite ita no wa anissa kyara zāran to nadzuke raremashita. Anata wa sorera o nesha to nissa to yobu koto ga dekimasu. Nesha, nissa, kore wa watashi no shin'yū, Yoshida Manadesu! (Halo juga, Aina. Kamu boleh bertanya tapi satu-satu saja ya. Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu, Aina. Aku sekarang sedang membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Kabarku baik-baik saja. Dan mereka ini memanglah sahabat baruku yang ada di Indonesia. Yang sedang menetesjan air matanya itu namanya Vannesha Mikhayle Faresta. Sedangkan yang sedang memejamkan matanya itu bernama Anissa Kyara Zahran. Kamu bisa memanggil mereka dengan sebutan Nesha dan Nissa. Nesha, Nissa, perkenalkan ini Aina Yoshida, sahabatku yang ada di Jepang!)"
Aina
"Kon'nichiwa ne sha to nissa. Nara no Nihon de no shin'yū, Yoshida Mana to mōshimasu. Nara to tomodachi no yō ni, watashitachi mo tomodachi ni naretara ī na to omoimasu (Halo Nesha dan juga Nissa. Perkenalkan namaku Aina Yoshida, sahabat Nara yang ada di Jepang. Aku harap kita juga bisa bersahabat ya, seperti kita bersahabat dengan Nara)"
Vannesha
"Everywhere? Please speak English! We don't understand at all about the Japanese that you speak. Uh, what was your name? Where's Yoshida? (Mana-mana? Tolong berbicara dengan bahasa Inggris! Kami tidak mengerti sama sekali tentang bahasa Jepang yang kalian ucapkan itu. Eh, tadi siapa namamu? Yoshida Mana?)"
Anissa
"Ah, what a Korean Drama fan said! (Ah, benar sekali kata penggemar Drama Korea itu!)"
Aina
"Um, sorry. I just let go and used Japanese that you don't understand. Introducing, my name is Aina Yoshida. Nice to meet you, Nesha and Nissa. I hope we can become friends, like we are friends with Nara! (Um, maaf. Aku tadi kelepasan dan menggunakan bahasa Jepang yang tidak kalian mengerti. Perkenalkan, namaku Aina Yoshida. Senang berkenalan dengan kalian, Nesha dan Nissa. Aku harap kita bisa menjadi sahabat, seperti kita bersahabat dengan Nara!)"
Vannesha dan Anissa
"Yes, hello Aina. Pleased to meet you! (Ya, halo Aina. Senang bisa berkenalan denganmu!)"
Aina
"Oh yes, Nara. Have you and your husband done that? How did it feel for the first time? You say it hurts a lot? And what about his body and his weapons? Is it big, long, and mighty? (Oh ya, Nara. Apakah kamu dan suamimu itu sudah melakukan hal itu? Bagaimana rasanya untuk yang pertama kali? Katanya rasanya itu sangat sakit? Dan bagaimana dengan tubuhnya dan senjata miliknya itu? Apakah besar, panjang, dan sangat perkasa?)"
Vannesha dan Anissa
"Yes, Nara. How about that? Come on, tell us! We are very curious about your story! It sure feels great to see Rafa and little Nara running around in your house! (Ya, Nara. Bagaimana dengan hal itu? Ayolah, beri tahu kami! Kami ini merasa sangat penasaran sekali dengan cerita darimu itu! Pasti rasanya akan sangat senang melihat Rafa dan Nara kecil yang belarian di rumah kalian!)"
Sontak saja kedua mata Nara langsung membulat dengan sempurna ketika mendengarkan perkataan dari ketiga sahabatnya yang terbilang sangatlah vulgar tersebut.
Tak hanya itu saja, warna wajah Nara pun berubah dari yang semula berwarna putih, kini menjadi berwarna merah seperti kepiting rebus yang siap di hidangkan bersama saosnya.
__ADS_1
"Korehanandesuka? Naze 3-ri wa aete sono yōna gehin'na kotoba o hasshita nodesu ka? Ē to, kore wa totemo meiwakudesu! Dōshite karera wa korera no gehin'na kotoba o kon'nani kantan ni iu koto ga dekirudeshou! (Apa-apaan ini? Kenapa mereka bertiga ini berani sekali mengucapkan perkataan yang vulgar ini? Huh, ini sangat menyebalkan sekali! Bisa-bisanya mereka mengatakan kata-kata yang vulgar ini dengan sangat mudah!)" batin Nara sembari mencoba untuk menutupi wajahnya yang kini sudah berwarna merah seperti kepiting rebus tersebut dengan kedua tangannya sendiri.