Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 38 - Itu Kue Milik Siapa?


__ADS_3

Melihat anak perempuannya yang dengan pelahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman getir di wajahnya yang cantik dan imut tersebut pun membuat Rania kini menjadi mengetahui apa isi dari hati kecil anak perempuannya tersebut.


Kini, Rania pun di buat menjadi sangat kesal ketika mengetahui isi dari hati kecil anak perempuannya tersebut. Untuk mengekspresikan rasa marahnya, Rania bahkan kini menatap wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan sebuah kemarahan.


"Hey, Mama also knows that you ran to Bi Tiah to save yourself from Mama's tantrum! Who doesn't know those little secrets that you are used to doing, Myesha Raihana Abayomi (Hei, Mama juga tahu kalau kamu itu berlari ke Bi Tiah untuk menyelamatkan dirimu dari amukan Mama! Siapa yang tidak tahu rahasia-rahasia kecil yang sudah biasa kamu lakukan itu, Myesha Raihana Abayomi)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan sebuah kemarahan.


Namun, Rania pun kini tidak akan memanjangkan masalah perihal dirinya yang sekarang semakin marah kepada anak perempuannya tersebut.


Rania pun kini sedang berusaha untuk mengajak menantu kesayangannya dan juga anak perempuannya tersebut karena mengingat sekarang sudah pukul 16:00 WIB. Artinya, hanya ada waktu sekitar 2 jam lagi untuk mempersiapkan kue ulang tahun untuk kedua anak laki-laki kembarnya itu.


"Nara, Rai, let's just start making birthday cakes for Mama's two twin boys. We only have 2 hours left from now! Nara still memorizes the methods for making birthday cakes, right? (Nara, Rai, kita mulai saja ya membuat kue ulang tahun untuk kedua anak laki-laki kembar Mama itu. Waktu kita hanya tersisa 2 jam lagi dari sekarang! Nara masih hafal kan cara-cara untuk membuat kue ulang tahun?)" ucap Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya serta wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut.


"Yes, Ma. Of course Nara still knows how to make birthday cakes by heart (Iya, Ma. Tentu saja Nara masih hafal cara-cara membuat kue ulang tahun)" jawab Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


Kini, terlihatlah Rania yang sedang menghela nafasnya dengan sangat lega karena sudah mendengar jawaban yang melegakan dirinya dari menantu kesayangannya tersebut.


"Fortunately. Luckily I have a daughter-in-law like Nara who already has a complete package. Smart yes, good yes, can make cakes, simple and kind people, and many more. Luckily I chose a woman like Nara to be the wife of Rafa, my first son. I hope that later Rafi, my second son, can find a woman who has a complete package like Nara to become his wife later (Untung saja. Beruntung sekali aku mempunyai menantu seperti Nara yang sudah memiliki paket komplit. Cerdasnya iya, baiknya iya, bisa membuat kue, orangnya sederhana dan baik hati, dan masih banyak lagi. Beruntungnya aku memilih perempuan seperti Nara untuk menjadi istri dari Rafa, putra pertamaku. Ku harap nanti Rafi, putra keduaku bisa mendapatkan seorang perempuan yang memiliki paket komplit seperti Nara untuk menjadi istrinya nanti)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya tersebut.


"Alright. If so, you use that mixer, my daughter-in-law. Later you will be assisted by Bi Tiah in making a birthday cake for your husband (Ya sudah. Kalau begitu, kamu pakai mixer yang itu ya, menantuku. Nanti kamu akan di bantu oleh Bi Tiah dalam membuat kue ulang tahun untuk suamimu)" ucap Rania sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


Sontak saja Nara yang mendengar perkataan sang Mama mertua pun berusaha menolak tawaran dari sang Mama mertua yang mengatakan bahwa Bi Tiah akan membantunya untuk membuat kue ulang tahun untuk suami kecilnya tersebut.


Dengan menggunakan alasan klasik yang tentunya sangatlah wajar dan masuk akal jika di pikirkan, Nara pun mulai melontarkan kata-kata yang menyiratkan penolakan secara halus kepada sang Mama mertuanya.


"Ah, no, Mama. Nara can do it herself. Just leave it for Bi Tiah to enjoy his rest, Ma. While we are making birthday cakes for Rafa and Rafi, Bi Tiah can rest his tired body all day. (Ah, tidak usah, Mama. Nara bisa sendiri melakukannya. Biarkan saja untuk Bi Tiah menikmati waktu istirahatnya, Ma. Kan selagi kita membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi, Bi Tiah bisa mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini)" tolak Nara dengan halus sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah yang sudah berkeriput milik Bi Tiah tersebut.


"Watashi jishin no chīsana otto no tame ni kore o sa sete kudasai. Okāsan, dekimasu ka? (Maksudnya biarkan aku melakukan ini untuk suami kecilku sendiri. Boleh kan Ma?)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


Kini, terlihatlah wajah cantik dan imut milik Raihana dan juga wajah cantik milik Rania sekarang sedang menyunggingkan sebuah senyuman bahagia di wajah mereka masing-masing secara perlahan-lahan.


Di dalam lubuk hati yang paling dalam, Raihana dan Rania tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dan rasa bangganya atas di takdirkannya Nara untuk menjadi bagian dari anggota keluarga Abayomi.


"O Allah, I don't know what else to express my gratitude to you in what other ways. Thank you, dear Allah. We are happy that Nara is part of the Abayomi family. Make a good destiny for him, O Allah. Nara is a good girl (Ya Allah, aku tak tahu lagi harus mengungkapkan rasa syukurku kepadamu ini dengan cara yang bagaimana lagi. Terima kasih, Ya Allah. Kami bahagia dengan di takdirkannya Nara menjadi bagian dari keluarga Abayomi. Buatlah takdir yang baik untuknya, Ya Allah. Nara itu gadis yang baik)" batin Rania sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


"Mama and Papa must feel very lucky because Nara's sister is destined to become their first daughter-in-law. Brother Rafi and I felt very lucky to have a very kind and soft-hearted sister-in-law. Moreover, Brother Rafa, he will definitely feel very lucky because he is destined to be matched with a young woman who has a complete package. So lucky are the people who are my beloved sister-in-law's favorites. I hope you are always happy with us by your side who are always by your side, my dear sister-in-law! (Mama dan Papa pasti merasa sangat beruntung atas di takdirkannya kak Nara untuk menjadi menantu pertama mereka. Aku dan kak Rafi merasa sangat beruntung karena mendapatkan kakak ipar yang sangat baik dan hatinya lembut. Apalagi kak Rafa, pasti dia akan merasa sangat beruntung karena di takdirkan berjodoh dengan seorang perempuan muda yang memiliki paket komplit. Begitu beruntungnya orang-orang yang menjadi orang-orang kesayangan kakak ipar kesayanganku ini. Aku harap kakak selalu bahagia dengan adanya kami di sisimu yang selalu mendampingimu, kakak ipar kesayanganku!)" batin Raihana sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.


Jika di dalam hatinya Raihana tampak memuji dan menyanjung-nyanjung kakak ipar kesayangannya tersebut, namun kenyataannya Raihana tetap saja melontarkan kata-kata yang membuat kakak ipar kesayangannya tersebut menjadi sangat malu.

__ADS_1


"Hmm, Rai knows why sister-in-law refuses Bi Tiah's presence to help sister-in-law make cakes for my sister-in-law's husband. The answer is because my beloved sister-in-law wants to make a cake for her husband with his own work without the interference of other people. Right? (Hmm, Rai tahu kenapa kakak ipar menolak kehadiran Bi Tiah untuk membantu kakak ipar membuat kue untuk suami kakak iparku ini. Jawabannya adalah karena kakak ipar kesayanganku ini ingin membuat kue untuk suaminya sendiri dengan hasil karyanya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Benar kan?)" celetuk Raihana sembari memasang ekspresi wajah yang menyiratkan kekonyolan di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.


"Come on, my dear sister-in-law. Just confess to your very beautiful and cute sister-in-law! (Ayolah, kakak ipar kesayanganku. Mengaku sajalah pada adik iparmu yang sangat cantik dan imut ini!)" batin Raihana sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.


Sontak saja Nara pun kini di buat menjadi sangat gelagapan sekaligus merasa sangat malu karena ucapan yang di ucapkan oleh adik iparnya tersebut.


Menurut Nara, perkataan yang di ucapkan oleh adik iparnya tersebut memanglah benar adanya. Tetapi, memang tak bisa di pungkiri jika wajah Nara akan berubah menjadi berwarna sangat merah seperti kepiting rebus jika adik iparnya tersebut yang mengucapkan kata-kata yang memang sangat benar adanya.


Karena Nara merasakan jika wajahnya sekarang sudah berubah menjadi sangat memerah seperti kepiting rebus, maka dengan sigap Nara langsung menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah seperti kepiting rebus itu dengan kedua tangannya sendiri.


"Hai, anata no giri no kyōdai ga sonoyōni ganbatte iru to iu kotodesu, raihana. Sore dakedesuga, naze anata no giri no kyōdai ga kore made kanōnakagiri sakete kita kotoba o iwanakereba naranai nodesu ka? Ē to, anata wa giri no kyōdai no kimochi o hikisaku no ga tokuidesu, raihana! (Iya, maksud kakak iparmu ini memaang seperti itu, Raihana. Hanya saja, kenapa kamu harus mengucapkan kata-kata yang sedang kakak iparmu ini hindari sebisa mungkin sedari tadi? Huh, kamu ini memang ahlinya dalam mengobrak-abrik perasaan kakak iparmu ini, Raihana!)" batin Nara sembari mencoba untuk menutupi wajahnya yang kini sudah menjafi sangat memerah seperti kepiting rebus dengan kedua tangannya.


Rania yang melihat anak perempuannya yang mencoba untuk mengulur-ulur waktu agar tidak segera membuat kue untuk kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut pun dengan sigap langsung memerintahkan kepada menantu kesayangannya serta anak perempuannya tersebut agar segera membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi.


"Never mind, Nara, Rai. Let's start making birthday cakes for Mama's twins! Let's get to grips with all these kitchen utensils! (Sudahlah, Nara, Rai. Ayo kita mulai membuat kue ulang tahun untuk kedua putra kembarnya Mama! Mari kita berkutat dengan semua alat-alat dapur ini!)" teriak Rania sembari mulai mengambil sebuah mixer berserta mangkuk pengaduknya untuk mulai membuat kue ulang tahun untuk kedua anak laki-laki kembarnya tersebut.


Karena melihat sang Mama mertua yang kini sedang akan membuat kue ulang tahun untuk kedua anak laki-laki kembarnya tersebut, akhirnya Nara pun juga mulai untuk membuat kue ulang tahun untuk suami kecilnya.


Raihana pun juga melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh kakak ipar kesayangannya tersebut. Raihana juga mulai membantu sang Mama untuk berkutat dengan semua alat-alat dapur yang sedang di gunakan kali ini.


Setelah itu, Nara, Rania, dan Raihana pun mencampurkan beberapa gram tepung terigu dan beberapa gram susu bubuk ke dalam campuran gula, telur ayam, dan pengembang yang telah tercampur dengan sempurna dan teksturnya menjadi mengental.


Kemudian, Nara, Rania, dan Raihana pun mencampurkan margarin cair ke dalam adonan kue ulang tahun tersebut. Nara, Rania, dan Raihana pun memutar-mutar mixer agar adonan kue ulang tahun tersebut bisa tercampur dengan rata.


Setelah adonan kue ulang tahun tercampur dengan rata, Nara, Rania, dan Raihana pun memindahkan adonan kue ulang tahun tersebut ke dalam dua buah loyang yang berdiameter 20 cm.


Lalu, Nara, Rania, dan Raihana pun menaruh adonan kue ulang tahun yang sudah berada di dua buah loyang yang berdiameter 20 cm tersebut di dalam sebuah oven.


Kemudian, Rania pun mengatur timer yang tepat untuk memanggang bolu ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya tersebut, yaitu kita-kira sekitar 25 menit.


Raihana yang merasa sangat lelah karena sehabis membuat adonan kue ulang tahun untuk kedua kakak kembarnya tadi pun lamgsung mendudukkan pantatnya di atas salah satu kursi yang ada di dekatnya.


"Huh, finally after struggling to make the dough now I can relax for a moment for 25 minutes while waiting for the birthday cakes of my twins to ripen. (Huh, akhirnya setelah perjuangan membuat adonan kini aku bisa bersantai sejenak selama 25 menit sembari menunggu kue ulang tahun milik kedua kakak kembarku matang)" dengus Raihana sembari mendudukkan pantatnya tersebut di atas salah satu kursi yang ada di dekatnya.


Melihat anak perempuannya yang sudah mendudukkan pantatnya tersebut di atas salah satu kursi, membuat Rania juga mengikuti kelakuan anak perempuannya tersebut.


Tak berbeda jauh dengan Nara, dirinya pun mengikuti langkah adik iparnya dan sang Mama mertua yang kini sudah mendudukkan pantatnya di atas kursi mereka masing-masing.

__ADS_1


"Rai, you really don't have the talent to be a baker. Look, you've just made birthday cake dough, you're already feeling tired. Huh, what a naughty and lousy Mama's daughter! (Rai, kamu ini memang sangat tidak berbakat sekali menjadi pembuat roti. Lihatlah, baru saja kamu membuat adonan kue ulang tahun, kamu saja sudah merasa lelah. Huh, dasar anak perempuannya Mama yang nakal dan payah!)" ejek Rania kepada anak perempuannya tersebut sembari tertawa dengan sangat keras seakan diringa sedang menjadi pemenang lomba lari dari kenyataan.


Mendengar sang Mama yang mengejeknya tepat di titik kelemahannya, Raihana pun segera melayangkan beberapa kalimat-kalimat protes kepada sang Mama agar sang Mama tidak mengejeknya lagi tepat di titik kelemahannya.


"Uh, I don't want to be a baker anyways. I want to be the female lead in Korean dramas, Mama! Mama too, why do you love to mock Rai right at the point of weakness that Rai has! (Ih, lagian aku juga tidak mau menjadi seorang pembuat roti. Aku ingin menjadi pemain utama perempuan dalam drama korea, Mama! Mama juga sih, kenapa suka sekali mengejek Rai tepat di titik kelemahan yang Rai punya!)" protes Raihana kepada sang Mama sembari memukul-mukul salah satu lengan milik sang Mama yang ada di dekatnya.


"You ask why? The answer is because Mama really likes to mock you right at the point of weakness of this naughty and annoying Mama's daughter! (Kamu bertanya kenapa? Jawabannya adalah karena Mama memang suka sekali mengejek kamu tepat di titik kelemahan anak perempuannya Mama yang nakal dan menyebalkan ini!)" jawab Rania sembari mencubit hidung mancung milik anak perempuannya tersebut dengan cubitan gemasnya.


Nara yang kini sedang menyaksikan adegan kemesraan di antara sang Mama mertua dan adik iparnya tersebut pun diam-diam menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


Nara yang menyaksikan adegan kemesraan di antara sang Mama mertua dan adik iparnya tersebut pun kini di buat menjadi sangat bahagia. Walau tak bisa di pungkiri, jika menyaksikan adegan kemesraan di antara sang Mama mertua dan adik iparnya tersebut membuatnya mengingat akan sang Mama yang sudah sehari ini tidak dia temui.


"Ā, watashi no gibo to watashi no giri no imōto wa nante shinmitsuna nodeshou. Karera wa watashi ga watashinohaha ni dorehodo chikai ka o watashi ni omoidasa semasu! Ā, mama. Tatta ichi-nichi demo aenakute mo sabishīdesu! (Ah, mesra sekali Mama mertuaku dan adik iparku ini! Mereka jadi mengingatkanku pada kedekatanku dengan Mamaku! Ah, Mama. Aku merindukanmu walaupun hanya sehari kita tidak bertemu!)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


25 menit kemudian, bunyi alarm dari oven pun terbunyi sangat nyaring. Hal itu pun menandakan bahwa kue ulang tahun milik Rafa dan Rafi sudah selesai di panggang di dalam oven tersebut.


Dengan bergerak sangat sigap, kedia tangan Rania yang di bantu dengan sarung tangan khusus untuk mengangkat loyang dari dalam oven pun segera mengeluarkan dua buah loyang yang berdiameter 20 cm tersebut dari dalam oven elektrik miliknya tersebut.


Setelah mengelurkan dua buah loyang yang beriameter 20 cm yang merupakan kue ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya tersebut, Rania pun segera melepaskan kue ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya tersebut dari dalam loyang ke atas wadah kue agar bisa mendinginkan kedua kue ulang tahun tersebut.


Ketika sudah di rasa kue ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya tersebut sudah agak dingin dan tidak panas lagi, Rania langsung memanggil menantu kesayangannya serta anak perempuannya tersebut agar membantunya menghias kedua kue ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya tersebut.


"Nara, Rai, let's start decorating the birthday cakes belonging to Mama's two twin boys! The birthday cake is cold and not hot anymore! (Nara, Rai, ayo kita mulai menghias kue ulang tahun milik kedua anak laki-laki kembarnya Mama ini! Kue ulang tahunnya sudah agak dingin dan tidak panas lagi!)" teriak Rania kepada menantu kesayangannya serta anak perempuannya tersebut sembari menyiapkan beberapa butter cream sudah yang berada di dalam beberapa plastik segitiga yang tentunya sudah di beri perwarna makanan bermacam-macam warna.


Nara dan Raihana pun segera berjalan kembali mendekati sang Mama mertua atau sang Mama yang kini sudah mulai menghias kue ulang tahun milik Rafi, anak laki-laki keduanya.


Nara pun kini mulai menghias kue ulang tahun milik suami kecilnya tersebut dengan butter cream yang berada di dalam plastik segitiga yang telah di beri perwarna makanan berwarna pink cerah. Sedangkan Raihana, dirinya pun kini sedang membantu sang Mama untuk menghias kue milik Rafi, kakak laki-laki keduanya.


Beberapa jam kemudian, Nara, Rania, dan Raihana pun kini telah selesai dengan kegiatan menghias kue ulang tahun milik Rafa dan Rafi dengan warna yang telah di tentukan.


Kini, terlihatlah Rania yang sedang meletakkan kue ulang tahun milik anak laki-laki keduanya yang berwarna nuansa pelangi dengan hiasan karakter My Little Pony di atas meja makan.


Sedangkan Nara, dirinya kini terlihat sedang meletakkan kue ulang tahun milik suami kecilnya yang berwarna nuansa pink pitih dengan hiasan Hello Kitty di atas meja makan.


Tanpa di sadari, kini sesosok laki-laki yang tentunya sangat familiar di mata Nara dan Rania kini sedang berdiri dengan tegak di hadapan Nara dan Rania.


"Hmm, whose cake is that? Feelings of our daughter's birthday on March 7, not February 4. So, how come there are girls' cakes on the dining table (Hmm, itu kue milik siapa? Perasaan anak perempuan kita berulang tahun pada tanggal 7 Maret bukan tanggal 4 Februari. Lantas, kenapa bisa ada kue anak perempuan di atas meja makan)" tanya Raihan sembari menatap dengan sangat lekat ke arah kue ulang tahun milik Rafa dan Rafi.

__ADS_1


__ADS_2