
Nara yang mendengar Caroline yang sedang mengucapkan kata-kata yang kasar dengan nada bicaranya yang menggebu-gebu tersebut pun kini sedang di buat menjadi sangat bingung sekaligus kesal dengan Caroline yang dengan lancangnya berani mengatakan kata-kata yang seperti itu kepadanya. Terutama, kata-kata Caroline yang mengatakan bahwa Nara telah merebut dan mengambil Rafa yang telah di cap oleh Caroline sebagai laki-laki pujaan hatinya tersebut.
Nara pun bahkan kini sampai mengumpati Caroline di dalam hatinya sendiri karena merasa sangat kesal dengan semua kata-kata yang terlontar dari bibir merah muda milik Caroline tersebut untuk mengekspresikan rasa kekesalannya kepada Caroline walaupun hanya bisa melalui umpatan yang ada di dalam hatinya tersebut.
"Anata wa kurutte iru! Kyarorain natania robātsu, anata wa watashi ni sorera no kotoba o omoikitte iu nante aete! Anata wa hontōni utsukushiku, mirikiteki de, yūga de, atamanoī joseida to omoimashita. Shikashi, jissai, watashi wa anata o handan suru no ga machigatte imashita! Watashitachi no kon'in jōkyō wa mada dareka-ra mo himitsudesuga, anata wa mada hitobito no otto ni me o mukete iru perakōru matawa yasui josei to shite raberutsuke sa reru ni ataishimasu. Hoka no josei ga mada otto o oikakete iru toki, don'na tsuma ga okoranai no ka! (Dasar gila! Berani sekali kamu dengan lancangnya mengatakan kata-kata tersebut kepadaku, Caroline Nathania Roberts! Aku pikir tadi kamu memang benar-benar seorang perempuan yang cantik, menawan, anggun, dan juga pintar. Namun, nyatanya aku salah besar dalam menilaimu! Kamu itu sudah pantas di cap sebagai Pelakor atau perempuan murahan yang masih saja mengincar suami orang walaupun status pernikahan kami ini masih menjadi rahasia dari semua orang. Istri mana yang tidak marah jika perempuan lain masih mengejar-ngejar suaminya sendiri!)" batin Nara sembari menatap ke arah wajah cantik milik Caroline tersebut dengan tatapannya yang menyiratkan sebuah kekesalan yang sangatlah mendalam.
Walaupun Nara kini sedang merasa sangat kesal kepada Caroline, namun Nara tetap mencoba untuk mengontrol sekaligus memendam rasa kekesalannya tersebut agar nantinya tidak akan membuatnya terjebak di dalam sebuah masalah besar karena kelalaiannya yang tidak bisa mengontrol sekaligus memendam rasa kekesalannya tersebut keppada Caroline.
Meskipun hal ini sangatlah susah untuk di lakukan oleh orang yang biasa mengekspresikan atau meluapkan semua perasaannya termasuk perasaan kesal, namun bagi Nara ini merupakan hal yang sangat mudah karena dirinya yang terbiasa memendam serta mengontrol semua perasaannya sedari Nara masih kecil.
Walaupun dari sisi medis atau kesehatan memendam perasaan sendiri memiliki banyak dampak negatif bagi kesehatan, namun bagi seseorang yang sudah terbiasa memendam perasaannya sendiri akan sangat susah untuk mencoba terbuka dan menceritakan sedikit perasaannya kepada orang lain.
"Shinbōdzuyoku, Nara. Yukkuri iki o sutte kudasai. Tabun, koreha jibun no kimochi o daku koto no purasu no kōka no hitotsu kamo shiremasen. Nazenara, jissai, watashi wa jibun no kimochi no ichibu matawa zenbu o hyōgen suru no ga kantande wanai hito ni narukaradesu. Sore nimokakawarazu, arrā wa watashi o jibun no subete no mondai ni taete kaiketsu suru koto ga dekiru hito, aruiwa hokanohito no mondai ni mo taete kaiketsu suru koto ga dekiru hito ni shite kuretanode, watashi wa mada hijō ni kansha shite imasu. (Sabar, Nara. Tarik nafasmu dengan perlahan-lahan. Mungkin inilah salah satu dampak positif dari memendam perasaanku sendiri karena nyatanya aku menjadi pribadi yang tidak mudah mengungkapkan sedikit atau bahkan semua perasaanku. Walaupun begini, aku tetap merasa sangat bersyukur karena Allah telah menjadikanku sebagai pribadi yang mampu untuk menanggung dan memecahkan semua masalahku sendiri atau bahkan juga aku sampai menanggung dan memecahkan masalah orang lain juga)" batin Nara sembari menarik dan menghembuskan nafasnya sendiri secara perlahan-lahan untuk meredakan perasaan kesalnya kepada Caroline agar tidak mengungkapkan semua rasa kekesalannya kepada Caroline tersebut yang nantinya akan membawanya menuju ke dalam lubang besar yang merupakan lubang masalah tersebut.
Setelah di rasa dirinya sudah tenang dan bisa mengendalikan perasaan kesalnya kepada Caroline yang notabenenya adalah perempuan yang menyukai suami kecilnya tersebut, Nara pun kini sedang mulai mengatakan sesuatu kepada Caroline yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya tersebut.
"Umm, Caroline. What do you really mean by saying words like this? I don't know what you really mean, Caroline! (Umm, Caroline. Sebenarnya apa maksudmu dengan mengatakan kata-kata yang seperti ini? Aku tidak mengerti apa maksudmu yang sebenarnya, Caroline!)" tanya Nara kepada Caroline dengan nada bicaranya yang sangat ringan seperti tidak ada terkandung perasaan kesal dan marah yang ada di dalam kata-kata yang di katakan oleh Nara tersebut.
Caroline yang mendengarkan perkataan Nara yang menurutnya hanyalah alibi yang menjadi pura-pura tidak mengetahui maksud dari perkataannya tersebut untuk menghindari amukan kemarahan dari dirinya, pada akhirnya Caroline pun langsung membalas kata-kata Nara tersebut dengan kata-katanya yang sangatlah kasar untuk di dengarkan di telinga semua orang tersebut.
"What, huh? You are just doing an alibi pretending you don't know what my words mean! I am sure that a world champion at the International Mathematical Olympiad will not be able to understand what my words mean! (Apa, hah? Kamu ini hanya melakukan alibi yang menjadi pura-pura tidak tahu apa maksud dari perkataanku tersebut! Aku yakin bahwa seorang juara dunia Olimpiade Matematika tingkat Internasional tidak akan tidak bisa mengerti akan maksud dari perkataanku itu!)" teriak Caroline dengan nada bicaranya yang sangatlah keras tersebut sembari menatap ke arah wajah cantik milik Nara tersebut dengan tatapan sinisnya.
Kini, bukanlah Nara yang membalas ucapan Caroline yang bertujuan untuk memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri. Namun, yang membalas ucapan Caroline yang bertujuan untuk memberikan pembelaan kepada Nara adalah Vannesha.
Sedari tadi, Vannesha dan Anissa memang sudah merasa geram dengan tingkah laku Caroline yang sangatlah kasar dan menyebalkan kepada Nara yang notabenenya adalah sahabat dari Vannesha dan Anissa tersebut. Bahkan, kini kedua tangan Vannesha sedang mengepal secara sempurna karena merasa sangat geram dengan tingkah laku Caroline yang di berikan gelar Nenek Gayung oleh Vannesha dan Anissa tersebut.
"Hey, grandma tit! Don't try again to insult and scold Nara who is my best friend! Or else you will come face to face with me who will chop you with a meat knife into small pieces! Remember my message carefully, grandma tit! (Hei, nenek gayung! Jangan coba-coba lagi untuk menghina dan memarahi Nara yang merupakan sahabatku! Atau kalau tidak, kamu akan berhadapan langsung dengan aku yang akan mencincangmu dengan pisau daging menjadi remahan-remahan kecil! Ingat pesanku baik-baik, nenek gayung!)" teriak Vannesha dengan nada bicaranya yang sangat keras sembari menatap wajah cantik milik Caroline tersebut dengan tatapan tajamnya.
Caroline yang merasa tidak terima dan merasa sangat marah dengan perkataan Vannesha yang lebih memilih untuk membela Nara yang notabenenya merupakan sahabat dari Vannesha tersebut pun sedang mengepalkan kedua tangannya secara sempurna untuk mengekspresikan rasa kekesalannya tersebut kepada Vannesha yang notabenenya adalah sahabat dari Nara.
__ADS_1
Kini, terlihatlah Caroline yang merupakan seorang perempuan yang berwajah cantik nan menawan tersebut khas orang yang berdarah campuran Indonesia dan Amerika Serikat tersebut sedang mencengkram dengan sangat keras salah satu lengan Vannesha dengan kedua tangannya tersebut.
"Oh yes, you are very brave, yes, you give a very big defense to this woman who seizes everything! You should defend me, not him! Now is the time for you to get revenge from me for all the crimes you committed to me, including about you calling me that Grandma Tit! (Oh ya, kamu sangat berani sekali ya memberikan sebuah pembelaan yang sangat besar kepada perempuan perebut segalanya ini! Seharusnya aku yang kamu bela, bukan dia! Sekarang saatnya kamu mendapatkan pembalasan dariku untuk semua kejahatan yang kamu lakukan kepadaku, termasuk tentang kamu yang menyebutku sebagai Nenek Gayung itu!)" teriak Caroline dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah kekesalan yang sangat mendalam sembari mengeratkan cengkramannya kepada salah satu bahu Vannesha tersebut.
Vannesha yang mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Caroline tersebut pun kini sedang di buat menjadi sangat kesal dengan tingkah laku Caroline yang selalu saja menyebalkan di matanya itu. Vannesha bahkan kini sampai melontarkan kata-kata yang mengandung makna pemprotesan kepada Caroline tersebut karena sudah merasa sangatlah kesal dengan tingkah laku Caroline tersebut.
"Hey, obviously I will defend him, and I will never defend you in the least in my life! I defended her because she was right, not because of her best friend status! You understand that, grandma tit! (Hei, jelas-jelas aku akan membelanya, dan aku tidak akan pernah membelamu sedikitpun di dalam hidupku ini! Aku membelanya karena dia benar, bukan karena statusnya yang menjadi sahabatku! Kamu paham itu, nenek gayung!)" protes Vannesha kepada Caroline sembari menatap wajah cantik khas orang berdarah campuran Indonesia dan Amerika Serikat yang terdapat pada wajah milik Caroline tersebut dengan tatapannya yang menyiratkan sebuah kekesalan yang mendalam.
Caroline yang mendengar perkataan dari Vannesha yang notabenenya adalah sahabat dari Nara tersebut pun langsung di buat menjadi sangat kesal sekaligus geram karena perkataan yang di ucapkan oleh Vannesha tersebut.
Sangkin merasa kesal sekaligus geram kepada Vannesha, Caroline yang merupakan orang yang tidak bisa mengontrol emosinya pun langsung mengangkat tangan kanannya untuk bersiap-siap menampar wajah cantik milik Vannesha tersebut.
"You really are really annoying, huh, Vannesha Mikhayle Faresta! (Kamu ini memang benar-benar menyebalkan sekali ya, Vannesha Mikhayle Faresta!)" teriak Caroline dengan nada bicaranya yang menyiratkan perasaan kesal sekaligus geramnya kepada Vannesha tersebut sembari memposisikan tangannya untuk menampar pipi putih nan mulus milik Vannesha tersebut.
...Plak...
Plak
Tanpa di sadari oleh Nara, Vannesha, Anissa, maupun Caroline, ada seorang guru perempuan yang mengajar di Sekolah Internasional tersebut yang menyaksikan adegan Caroline ketika sedang menampar kedua pipi putih nan mulus milik Vannesha tersebut.
Dengan kedua langkah kaki yang di cepatkan secepat mungkin, guru perempuan yang menyaksikan adegan tampar-menampar yang di lakukan oleh Caroline kepada Vannesha pun dengan segera menghampiri Nara, Vannesha, Anissa, dan juga Caroline agar menghentikan aksi kekerasan fisik yang di lakukan oleh Caroline kepada Vannesha tersebut.
"Caroline, why did you commit physical violence by slapping Vannesha ?! You should know that this school does not allow physical or verbal abuse from anyone to anyone! Caroline, you are going to find Mrs. Rachel in the guidance counseling room right now! As for Vannesha, Anissa, and Nara go straight to class because Mom will be teaching your class right now! (Caroline, kenapa kamu melakukan kekerasan fisik dengan melakukan penamparan kepada Vannesha?! Seharusnya kamu tahu bahwa di sekolah ini tidak di perkenankan adanya kekerasan fisik maupun verbal dari siapapun ke siapapun! Caroline, kamu segera temui Bu Rachel di ruang bimbingan konseling sekarang juga! Sedangkan untuk Vannesha, Anissa, dan Nara langsung masuk ke kelas karena Ibu akan segera mengajar di kelas kalian sekarang juga!)" teriak seorang guru perempuan yang mengajar di Sekolah Internasional tersebut sembari menatap ke arah wajah cantik khas orang berdarah campuran Indonesia dan Amerika Serikat milik Caroline tersebut dengan tatapan tajamnya yang bisa menghunus hingga ke jantung milik Caroline tersebut.
Guru perempuan yang mengajar di Sekolah Internasional tersebut di ketahui bernama Bu Zifannya Clementary Lim yang merupakan guru Matematika yang mengajar di Internasional Senior High School tersebut.
Nara, Vannesha, Anissa, dan juga Caroline yang merasa takut akan amarah yang keluar dari dalam diri Bu Zifannya pun langsung membubarkan diri mereka masing-masing tanpa mengucapkan satu patah kata pun kepada Bu Zifannya tersebut.
Nara, Vannesha, dan juga Anissa yang akan menuju ke arah kelas 11 IPA 1 untuk memulai kegiatan belajar mengajar di kelas 11 IPA 1, sedangkan Caroline yang akan menuju ke arah ruang Bimbingan Konseling atau ruang BK untuk menemui Bu Rachel yang merupakan guru Bimbingan Konseling atau BK untuk mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya yang melakukan kekerasan fisik kepada Vannesha tersebut.
__ADS_1
Satu bulan kemudian
Setelah belajar dan menghafal semua rumus-rumus Matematika yang di pelajari di bangku Senior High School atau sederajat dengan Sekolah Menengah Atas yang biasa di singkat dengan singkatan SMA tersebut, akhirnya pada hari ini Nara pun akan terbang ke kota Tokyo, Jepang karena Olimpiade Matematika tingkat Internasional untuk tingkatan Sekolah Menengah Atas akan di laksanakan pada tanggal 5 Maret atau tepatnya besok.
Di halaman belakang rumah keluarga Abayomi, terlihatlah di sana sudah ada Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Vannesha, Anissa, Rania, Amaya, Nandito, dan juga kedua wali dari Vannesha dan Anissa yang bernama Naura dan Ayesha yang merupakan para Mama-Mama dari Vannesha dan Anissa. Di sana juga terdapat Ayunindya yang merupakan kakak perempuan dari Vannesha yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade tingkat Internasional untuk tingkatan perguruan tinggi atau yang biasa di kenal dengan jenjang perkuliahan, sama seperti Nandito yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade tingkat Internasional untuk tingkatan perguruan tinggi atau yang biasa di kenal dengan jenjang perkuliahan tersebut.
Para Papa-Papa tidak ikut mendampingi anak-anaknya yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade tingkat Internasional karena mereka di haruskan untuk bekerja di Perusahaan serta jadwal mereka yang sangatlah padat yang tentu saja tak akan memungkinkan untuk para Papa-Papa mendampingi anak-anaknya yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade tingkat Internasional di kota Tokyo, Jepang.
Nara pun sebelumnya telah berhasil membujuk dan meluluhkan hati Naoki dan Amaya yang notabenenya adalah Papa dan Mama kandung dari Nara serta Raihan dan Rania yang notabenenya adalah Papa dan Mama mertua dari Nara tersebut untuk mengizinkannya membawa Vannesha, Anissa, berserta kedua wali mereka untuk ikut menginap di rumah keluarga Yamada yang ada di kota Tokyo, Jepang.
Untung saja di dalam rumah keluarga Yamada yang ada di kota Tokyo, Jepang memiliki kurang lebih 10 kamar yang terdiri dari kamar utama, kamar tamu, kamar Nara dan Nandito, serta kamar Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Yamada tersebut. Jadi, baik Naoki maupun Amaya sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini karena tidak ada yang perlu di permasalahkan sama sekali.
Semua orang yang sudah berkumpul di halaman belakang rumah keluarga Abayomi tersebut akan berangkat ke kota Tokyo, Jepang dengan pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi.
Untuk yang lain, akan di lakukan penerbangan dengan maskapai penerbangan umum yang tak lain adalah maskapai penerbangan Garuda Indonesia kelas bisnis untuk semua para peserta Olimpiade tingkat Internasional dari Primary School atau Elementary School yang setingkat dengan Sekolah Dasar, Junior High School atau setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama, dan Senior High School atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas dengan para wali dari masing-masing peserta Olimpiade tingkat Internasional tersebut.
"Uh, uh, apparently there are 2 hits here who are just like me. I did not think that Mrs. Naura and Mrs. Ayesha would accompany their children at the International Olympics which will be held in Tokyo, Japan. (Eh, eh, rupanya di sini juga ada 2 Mama-Mama hits yang sama seperti saya. Saya tidak menyangka bahwa Nyonya Naura dan Nyonya Ayesha akan mendampingi anak-anaknya di Olimpiade tingkat Internasional yang akan di laksanakan di kota Tokyo, Jepang)" ucap Rania sembari secara perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
"Eh, I also did not expect to meet Mrs. Rania and Mrs. Amaya here. I still really didn't expect to be able to meet Mrs. Rania and Mrs. Amaya in person here! (Eh, saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan Nyonya Rania dan juga Nyonya Amaya di sini. Saya masih benar-benar tidak menyangka bisa bertemu secara langsung dengan Nyonya Rania dan juga Nyonya Amaya di sini!)" ucap Naura dan Ayesha secara bersamaan sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajah mereka yang cantik tersebut.
"Ah, take it easy Madame Naura and Madame Ayesha. Do not like that! I am embarrassed that Madame Naura and Mrs. Ayesha are like that! (Ah, di bawa santai saja Nyonya Naura dan Nyonya Ayesha. Jangan seperti itu! Saya menjadi malu kalau Nyonya Naura dan Nyonya Ayesha bersifat seperti itu!)" ucap Amaya sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik khas orang Jepang tersebut.
"Ah, do Mrs. Naura and Mrs. Ayesha have any new gossip that is raging at the moment? (Ah, apakah Nyonya Naura dan Nyonya Ayesha mempunyai sebuah gosip baru yang sedang hangat-hangatnya pada saat ini?)" tanya Rania kepada Naura dan Ayesha sembari tertawa dengan sangat renyah di akhir kalimatnya tersebut.
"Ah, I really don't have a gossip at the moment. But, can I ask Mrs. Rania's first son to become my son-in-law from Vannesha later? (Ah, saya pada saat ini memang tidak mempunyai sebuah gosip yang sedang hangat-hangatnya pada saat ini. Tapi, apakah saya boleh meminta putra pertama Nyonya Rania untuk menjadi menantu saya dari Vannesha nantinya?)" tanya Naura sembari menunjuk ke arah Rafa yang kini sedang terlihat mengobrol dengan kakak iparnya yang tak lain adalah Nandito.
Amaya yang mendengar perkataan Naura yang menginginkan Rafa menjadi menantunya dari Vannesha pun dengan segera langsung menyebutkan kalimat-kalimat penolakan dengan menyebutkan kenyataan yang sebenarnya bahwa Rafa adalah menantu Amaya dari Nara.
"No, you can't! Rafa has become my son-in-law from Rafa! I hope Madame Naura and Mrs Ayesha can keep this secret very well! (Tidak, tidak boleh! Rafa itu sudah menjadi menantuku dari Rafa! Saya harap Nyonya Naura dan Nyonya Ayesha bisa menjaga rahasia ini dengan sangat baik!)" tolak Amaya dengan halus sembari berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar sangatlah tegas di kedua telinga Naura tersebut.
__ADS_1
"OK, I can keep this secret very well, Mrs. Amaya. But, can I make Mrs. Amaya's first son become my daughter-in-law from Ayu? I hope I can make him my son-in-law so we can become in-laws! (Oke, saya bisa menjaga rahasia ini dengan sangat baik, Nyonya Amaya. Tapi, apakah saya boleh menjadikan putra pertama dari Nyonya Amaya untuk menjadi menantu saya dari Ayu? Saya harap saya bisa menjadikannya sebagai menantu saya agar kita bisa menjadi seorang besan!)" tanya Naura kepada Amaya dengan ekspresi wajahnya yang di buat sememelas mungkin untuk meluluhkan hati dari nyonya keluarga Yamada tersebut.