
Untuk sejenak, terciptalah suasana hening dan canggung di antara Nara, Rafa, Rafi, Raihana, dan juga Rania setelah Rania yang berbicara kepada anak laki-laki pertamanya dan juga untuk menantu kesayangannya.
Bagi Raihana, memecah keheningan dan
suasana canggung di antara sang Mama, kedua kakak laki-laki kembarnya, dan juga kakak ipar kesayangannya adalah hal yang sangat mudah.
Semudah membalikkan kedua telapak tangannya. Itulah tanggapan dari Raihana nengenai memecah keheningan dan kecanggungan di antara sang Mama, kedua kakak laki-laki kembarnya, dan juga kakak ipar kesayangannya.
"Get ready my beloved sister-in-law, today I will have you completely. When Kak Rafa has gone to the company, this is the perfect time for me to spend time with my beloved sister-in-law (Bersiapkah kakak ipar kesayanganku, hari ini aku akan memilikimu seutuhnya. Ketika Kak Rafa sudah pergi ke perusahaan, ini adalah waktu yang sangat tepat bagiku untuk menghabiskan waktu bersama kakak ipar kesayanganku)" batin Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut.
"Sister-in-law, after sister-in-law changes clothes come to Rai's room which is 3 rooms from sister-in-law's room and Kak Rafa (Kakak ipar, nanti sehabis kakak ipar berganti pakaian datanglah ke kamar Rai yang berjarak 3 kamar dari kamar kakak ipar dan Kak Rafa)" ucap Raihana sembari mengedipkan salah satu matanya kepada kakak ipar kesayangannya.
Rafa yang sebenarnya sudah bisa membaca rencana adik perempuannya pun di buat menjadi sangat kesal. Pasalnya, Raihana pasti akan menguasai istri kecilnya seharian ini ketika dirinya sedang berada di perusahaannya.
"Dasar adik licik! Bukannya kakak tidak tahu dengan rencanamu, ya. Kakak itu sangat paham sekali dengan sifatmu yang licik dan bisa membaca peluang yang bagus untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Andai saja aku tidak ke perusahaan dan juga istri kecilku telah mengetahui perasaanku kepadanya yang sesungguhnya, pasti aku akan seharian mengurungnya di kamar" gerutu Rafa sembari menatap wajah adik perempuannya yang cantik dan imut itu dengan tatapan tajamnya.
Raihana yang sekarang bisa membaca isi hati dari kakak laki-laki pertamanya pun kini sedang menyunggingkan senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut dengan perlahan-lahan.
"Aha, I'm sorry brother. But this is my plan to have my beloved sister-in-law completely. And I will invite him to tell stories in my room while reading the novels in my room. It's a shame if I don't invite other people to read all my novels which have now become like a mini library (Aha, maafkan aku kakak. Tapi ini memang sudah rencanaku untuk memiliki kakak ipar kesayanganku seutuhnya. Dan aku akan mengajaknya bercerita di dalam kamarku sembari membaca novel-novel yang ada di kamarku. Sayang saja jika aku tidak mengajak orang lain untuk membaca semua novel-novelku yang kini sudah menjadi seperti perpustakaan mini)" ucap Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut secara perlahan-lahan.
Nara pun awalnya merasa sangat heran dengan perkataan adik iparnya yang menyuruhnya datang ke kamarnya ketika dirinya sudah mengganti pakaiannya.
Pikiran Nara kini masih saja menerka-nerka tentang apa sebenarnya maksud dari adik iparnya yang menyuruhnya untuk datang ke kamarnya.
"Kare wa jissai ni dōiu imideshita ka? Kigaeta nochi, naze rai wa kare no heya ni kuru yō ni itta nodesu ka? (Apa sebenarnya maksud dari perkatannya? Kenapa Rai menyuruhku untuk mendatanginya di dalam kamarnya sehabis aku berganti pakaianku?)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah adik iparnya yang cantik dan imut.
Ekor mata Rafa melirik sejenak ke arah istri kecilnya yang kini masih terdiam di tempatnya tanpa berpindah 1 centi meter pun dari tempatnya.
"Masih saja dia terdiam di tempatnya tanpa berpindah 1 centi meter pun. Katanya mau membersihkan tubuhnya dan juga mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Tapi mengapa dia masih saja berdiri di tempatnya tanpa begeser sedikit pun?" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya.
Rania yang melihat anak laki-laki pertamanya dan juga menantu kesayangannya yang hanya terdiam saja di tempatnya masing-masing pun mulai menggoda dengan ucapannya yang sengaja di buat sedikit vulgar.
"Maybe you will be surprised by what Mama said, but Mama really wants you to do this together immediately. It cannot be denied, Mama wants to be able to cuddle your own grandchild. But, if you are not ready yet, Mama can still wait for him (Mungkin kalian akan terkejut dengan perkataan Mama, tapi Mama memang menginginkan kalian untuk segera melakukan hal ini secara bersama-sama. Tak bisa di pungkiri, Mama ingin segera bisa menimang cucu Mama sendiri. Tapi, jika kalian memang belum bersedia, Mama masih bisa menunggunya)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah tampan dan cantik milik anak laki-laki pertamanya dan juga menantu kesayangannya dengan tatapannnya yang menyiratkan sebuah harapan besar yang masih terpendam.
"Honey, why are you just standing there without moving the slightest bit? They say you want to clean your body and also change your clothes with suits and household clothes. While taking a shower, you can do that in the bathroom. Rafa also still has time for you to do this together (Sayang, kenapa kalian hanya terdiam di tempat kalian saja tanpa bergerak sedikit pun? Katanya kalian mau membersihkan tubuh kalian dan juga mengganti pakaian kalian dengan stelan jas serta pakaian rumahan. Sembari mandi, kalian bisa melakukan hal itu di kamar mandi. Rafa kan juga masih punya waktu untuk kalian bisa melakukan hal itu secara bersama-sama)" ucap Rania sembari mengedipkan salah satu matanya kepada anak laki-laki pertamanya dan juga menantu kesayangannya.
Sontak saja wajah Nara di buat menjadi sangat memerah karena mendengar ucapan dari sang Mama mertua yang menurutnya sangatlah vulgar.
"Nani! Naze watashi no gibo wa korera no hijō ni gehin'na kotoba o totemo kantan ni iu koto ga dekiru nodesu ka? Giri no mama no totemo gehin'na kotoba ga kikoenai yō ni, mimi o fusagitai to omotta. Arrā yo, Nara ga gibo no yūwaku kara kaihō sa reru no o tasuketekudasai (Apa! Kenapa Mama mertuaku bisa dengan mudahnya mengatakan kata-kata yang sangat vulgar ini? Rasanya aku ingin menyumbat kedua telingaku agar aku tidak bisa mendengar ucapan Mama mertuaku yang sangat vulgar ini. Ya Allah, tolonglah Nara untuk bisa bebas dari jeratan godaan seorang Mama mertua)" batin Nara sembari menundukkan wajah dan pandangannya agar sang Mama mertua tidak bisa melihat wajahnya yang sekarang sudah sangat memerah itu.
Sedangkan Rafa, dirinya tak henti-hentinya untuk menggerutui sang Mama yang menurutnya itu sedang memberikan sinyal kepadanya untuk segera memberikan seorang cucu.
__ADS_1
"Ya Allah, Ma. Rafa ini tahu kalau Mama itu sudah sangat menginginkan seorang cucu. Tapi, Mama masih bisa kan di pending dulu permintannya? Ingat Ma, masa depan Rafa dan Nara itu masih panjang. Rafa dan Nara mulai sekarang masih fokus buat menyusun rencana-rencana hidup kami selanjutnya. Lagi pula Rafa tidak akan melakukan hal itu sebelum Nara mengetahui perasaan Rafa yang sesungguhnya. Dan Rafa juga akan melakukan hal itu ketika Rafa dan Nara memang sudah saling mencintai. Jadi, Mama jangan pernah bisa berharap bisa mendapatkan seorang cucu dari Rafa dan Nara dalam waktu dekat ini! " gerutu Rafa sembari menatap ke arah wajah cantik milik sang Mama dengan tatapan tajamnya.
Rafa yang masih merasa sangat kesal karena perkataan sang Mama yang di tujukan padanya dan istri kecilnya yang memberi tanda bahwa sang Mama sudah menginginkan seorang cucu darinya dan juga istri kecilnya pun berusaha untuk mengajak istri kecilnya agar pergi menjauh dari sang Mama.
"Sorry Ma, Rafi, Rai, Rafa and Nara will go up to the room to clean the body and also change our clothes with suits or household clothes. It's 2:30 pm now. Rafa only has 30 minutes left, Ma (Maaf Ma, Rafi, Rai, Rafa dan Nara akan naik ke kamar untuk membersihkan tubuh dan juga mengganti pakaian kami dengan stelan jas atau pakaian rumahan. Sekarang sudah jam 14:30. Waktu Rafa hanya tersisa 30 menit lagi, Ma)" ucap Rafa sembari mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah anak tangga yang akan membawanya menuju ke kamarnya dan kamar istri kecilnya.
Rania yang mengerti maksud tersembunyi dari perkataan anak laki-laki pertamanya pun hanya bisa mengiyakan perkataan anak laki-laki pertamanya tersebut.
"Just tell me you're avoiding Mama, son. Mama is very familiar with your nature that cannot be teased or touched on. Even though you just want to say Mama's hidden desire in a word that has a hidden meaning. But if you don't like it, Mama will still accept whatever response from you, son (Katakan saja jika kamu sedang menghindari Mama, Nak. Mama sangat hafal dengan sifatmu yang tidak bisa di ledek atau di singgung itu. Padahal kan Mama hanya ingin mengatakan keinginan terpendam Mama di dalam sebuah perkataan yang mengandung makna tersembunyi. Tapi jika kamu tidak menyukainya, Mama akan tetap menerima apa pun respon darimu, Nak)" batin Rania sembari menatap ke arah punggung anak laki-laki pertamanya itu dengan tatapan yang sangat lekat.
"Yes, son. Mama knows that you have to show up on time on your first day as CEO of your own company. Likewise with Nara, Mama really knows if Nara is very tired today. Even though Nara had been unconscious earlier, but still feeling tired was inside Nara (Iya, Nak. Mama tahu kalau kamu harus datang tepat waktu di hari pertamamu menjadi CEO di perusahaanmu sendiri. Begitu juga dengan Nara, Mama sangat tahu jika Nara itu sangat lelah hari ini. Walau Nara tadi sempat tak sadarkan diri, namun tetap saja rasa lelah itu ada di dalam diri Nara)" ucap Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang cantik untuk menutupi kekecewaannya di dalam dirinya.
Karena sudah mendengar ucapan dari sang Mama mertua yang sudah memperbolehkannya untuk menuju membersihkan dirinya sekaligus mengganti pakaiannya, Nara akhirnya pun mengikuti langkah suami kecilnya yang kini sudah berada di atas anak tangga untuk menuju ke arah kamarnya dan juga kamar suami kecilnya yang berada di lantai 2.
Sesampainya di dalam kamarnya dan juga kamar suami kecilnya, Nara langsung menaruh tas miliknya di atas meja belajarnya yang bernuansakan warna pink putih.
Sangkin lelahnya, Nara bahkan sampai mendudukkan dirinya sendiri di atas kursi belajarnya yang ada di depan meja belajar miliknya.
Hal yang serupa juga di lakukan oleh Rafa. Namun, bedanya Rafa tidak sampai mendudukkan dirinya sendiri di atas kursi belajarnya yang ada di depan meja belajar miliknya.
Rafa terlebih dahulu akan meminta izin kepada istri kecilnya agar dia bisa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Karena waktu Rafa yang hanya 30 menit dari sekarang, di pastikan Rafa akan terlambat jika dirinya tidak sesegera mungkin membersihkan tubuhnya.
"Watashi wa saisho ni jibun jishin o kirei ni shimasu ne anata no mae ni saisho ni jibun jishin o kirei ni shita watashi de daijōbudesuka? (Aku membersihkan diriku dahulu ya? Apakah kamu tidak papa aku yang membersihkan diriku terlebih dahulu sebelum kamu?)" tanya Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah istri kecilnya yang cantik itu.
Rafa pun akhirnya melangkah menuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan juga kamar istri kecilnya untuk mulai membersihkan tubuhnya sendiri.
Sepeninggalan Rafa yang memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya, Nara mengisi waktu menunggunya untuk berkirim pesan dengan Vannesha dan Anissa melalui aplikasi WhatsApp yang ada di ponsel miliknya.
Kebetulan saja, tadi Vannesha sudah iseng-iseng membuat sebuah grup chat WhatsApp yang beranggotakan Nara, Vannesha, dan Anissa ketika Nara tadi sedang tak sadarkan diri.
Tentu saja kehadiran grup chat WhatsApp ini memudahkan Nara untuk berkirim pesan dengan kedua sahabatnya secara sekaligus. Tanpa harus mengirim pesan ke chat pribadi kedua sahabatnya.
Narahita
"Hello Nesha, Nissa, what are you doing now? (Halo Nesha, Nissa, kalian sekarang sedang apa?)"
Vannesha
"Hello too Nara. Now I'm watching Korean drama romantic genre played by Korean oppa-oppa who are very handsome. Ah, I even thought that I would marry a South Korean citizen (Halo juga Nara. Kalau aku sekarang sedang menonton drama korea bergenre romantis yang di perankan oleh oppa-oppa korea yang sangat tampan itu. Ah, bahkan aku sampai membayangkan jika diriku sampai menikah dengan seorang warga negara Korea Selatan)"
Anissa
__ADS_1
"Hello too Nara. Now, as usual, I'm reading light articles about the world of medicine. I really aspire to become a doctor who can save the lives of many people (Halo juga Nara. Kalau aku sekarang seperti biasa sedang membaca artikel-artikel ringan seputar dunia kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang dapat menyelamatkan nyawa banyak orang)"
Narahita
"Hopefully all of your dreams will be granted by Allah. Don't ever stop to pray and try to make all your dreams come true, yes! (Semoga saja semua impian kalian berdua di kabulkan oleh Allah. Jangan pernah berhenti untuk berdoa dan berusaha untuk mewujudkan semua impan kalian, ya!)"
Anissa
"Aamiin. Thank you for praying, Nara. But, is Nesha's dream not that high? Nesha has dreamed of being able to marry a man who is a South Korean citizen (Aamiin. Terima kasih doanya, Nara. Tapi, apakah impian Nesha tidak terlalu ketinggian? Nesha sampai memimpikan bisa menikah dengan laki-laki yang berkewarganegaraan Korea Selatan)"
Vannesha
"Aamiin. Thank you for the prayer, my dear. Let my dreams be high, Nissa. While I can still dream, I will never stop doing it. This is indeed my biggest dream, Nara, Nissa (Aamiin. Terima kasih doanya, sayangku. Biarlah impianku ini ketinggian, Nissa. Selagi aku masih bisa untuk bermimpi, aku tak akan pernah berhenti melakukannya. Ini memang impian terbesarku, Nara, Nissa)"
Anissa
"It's up to you, Nesha. People who have KPOP fever cannot be stopped. I hope you don't get sick if you can't reach your biggest dream (Terserah kamu sajalah, Nesha. Orang yang sedang demam KPOP memang tidak bisa di hentikan. Aku harap kamu tak sakit jika kamu tak bisa menggapai impian terbesarmu itu)"
Vannesha
"Hopefully, Nissa. Oh yeah, what are you doing now, Nara. Forgive us for not inviting you to join this chat (Semoga saja, Nissa. Oh ya, kamu sekarang sedang apa, Nara. Maafkan kami yang tadi tidak mengajakmu bergabung dalam obrolan ini)"
Narahita
"It's okay, Nesha, Nissa. I'm just relaxing now. I'm currently enjoying my leisure time doing nothing but texting the two of you (Tidak papa, Nesha, Nissa. Sekarang aku sedang bersantai saja. Aku sekarang sedang menikmati waktu bersantaiku tanpa melakukan apa-apa selain berkirim pesan dengan kalian berdua)"
Vannesha
"The three of us both have our respective activities. I was watching Korean drama romantic genre, Nissa who was reading light articles about medicine, and Nara who was enjoying her leisure time doing nothing but texting the two of us. The three of us are unique. We have different tastes. However, we all remain friends who complement each other (Kita bertiga sama-sama mempunyai kesibukan masing-masing. Aku yang sedang menonton drama korea bergenre romantis, Nissa yang sedang membaca artikel ringan tentang kedokteran, dan Nara yang menikmati waktu santainya dengan tidak melakukan apa-apa selain berkirim pesan dengan kami berdua. Kita bertiga ini memang unik ya. Kita mempunyai selera yang berbeda. Namun, kita semua tetaplah menjadi sahabat yang saling melengkapi)"
Begitulah sekiranya isi dari obrolan yang ada di grup chat WhatsApp yang beranggotakan Nara, Vannesha, dan juga Anissa.
Nara yang sedang menikmati waktu bersantainya dengan berkirim pesan dengan kedua sahabatnya, Vannesha yang sangat menyukai drama korea yang bergenre romantis, dan juga Anissa yang sangat menyukai artikel ringan tentang kedokteran membuat mereka bertiga menjadi unik karena mempunyai selera yang berbeda-beda.
15 menit kemudian, Rafa yang sudah selesai membersihkan tubuhnya pun keluar dari ruang ganti dengan penampilannya yang sudah sangat tampan.
Terlihatlah Rafa yang sedang mengenakan stelan jas berwarna hitam dengan kemeja dalaman berwarna putih. Penampilan Rafa ini membuat aura ketampanan Rafa semakin memancar dari dirinya.
Semua perempuan pastinya akan terpana dengan aura ketampanan Rafa yang semakin memancar ketika dirinya sedang mengenakan stelan jas.
Nara adalah salah satu dari para perempuan yang terpana dengan aura ketampanan Rafa yang semakin memancar ketika dirinya sedsng mengenakan stelan jas.
__ADS_1
Bahkan Nara sampai memuji ketampanan suami kecilnya. Walaupun sebenarnya Nara hanya berani memuji ketampanan suami kecilnya di dalam hatinya.
"Uwa ̄ , sūtsu o kite iru toki, kare wa totemo hansamudesu! Sōdesu, hotondo no hito wa, dansei ga sūtsu o kite irunara, kare wa machigainaku totemo hansamu ni mierudarou to iimasu. Kare ga sūtsu o kite ita toki, kare ga kore hodo hansamu ni naru to wa omoimasendeshita! (Wah, dia sangat tampan sekali ketika dia sedang mengenakan setelan jas! Betul sekali kata kebanyakan orang, jika laki-laki sedang memakai stelan jas pasti akan terlihat sangat tampan sekali. Aku tak menyangka jika dirinya bisa menjadi setampan ini ketika dirinya sedang menggunakan stelan jas!)" batin Nara sembari menatap ke arah tubuh suami kecilnya dengan tatapan yang menyiratkan kekaguman yang mendalam.