Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 45 - Mandi Bersama?


__ADS_3

Tak


Tak


Tak


Untuk sesaat, hanya ada bunyi dari detakan jarum jam yang terdengar di kedua telinga milik Nara dan Rafa karena mereka berdua masih berdiam saja di dalam pikiran mereka masing-masing tanpa mengucapkan satu patah kata pun dari mulut mereka masing-masing yang membuat suasana semakin menjadi hening dan canggung di antara pasangan suami istri ini.


Hingga pada akhirnya, Nara yang kini sedang menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya tersebut pun membuka suaranya untuk berbicara kepada suami kecilnya yang kini masih terlarut di dalam pikirannya sendiri.


"Emu, anata wa atode neru tsumoridesu ka, soretomo saisho ni rirakkusu shitaidesu ka? (Em, kamu setelah ini mau tidur atau masih mau bersantai dulu?)" tanya Nara dengan polosnya sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya tersebut.


Dengan tergesa-gesa, Nara pun segera membekap mulutnya sendiri karena merasa sangatlah bodoh kenapa dirinya bisa melontarkan pertanyaan yang bisa terbilang sangatlah bodoh seperti itu.


Sekarang sudah pukul 20:00 WIB. Di jam seperti ini tentu saja orang akan memilih untuk hanya sekedar bersantai atau langsung terlelap menuju ke alam mimpi.


Nara kini pun di buat menjadi tak habis pikir dengan dirinya yang dengan spontannya menanyakan pertanyaan yang bodoh seperti ini kepada suami kecilnya tersebut.


Di dalam hati kecilnya, tak henti-hentinya Nara menggerutu tentang mengapa dirinya bisa melontarkan pertanyaan yang terbilang sangatlah bodoh kepada suami kecilnya tersebut.


"Otoko, naze watashi wa kare ni tadashī kotoba o iu hodo orokadearu nodesu ka? Kon'na bakageta shitsumon ga dekiru to wa hontōni omotte imasendeshita! (Aduh, kenapa aku menjadi sangat bodoh sih untuk mengucapkan kata-kata yang benar kepada dia? Aku benar-benar tak menyangka bahwa aku ini bisa melontarkan pertanyaan yang bodoh seperti ini!)" batin Nara sembari menguatkan bekapan tangannya yang kini sedang membekap mulutnya sendiri.


Rafa yang melihat gerak-gerik istri kecilnya tersebut yang terlihat sangatlah menggemaskan tentunya membuat Rafa menjadi sangat gemas sendiri kepada istri kecilnya tersebut.


Dengan perlahan-lahan, Rafa pun menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut sebagai bentuk ekspresi kegemasannya kepada istri kecilnya tersebut.


"Kamu ini kalau lagi salah bicara bisa lucu sekali ya. Kamu dengan spontan langsung membekap mulutmu sendiri karena merasa bodoh telah menanyakan pertanyaan seperti itu tadi. Di dalam hati kecilmu, kamu pasti sekarang sedang memaki-maki dirimu sendiri kan karena kamu merasa menjadi sangat bodoh karena menanyakan pertanyaan seperti itu tadi? Kamu ini benar-benar menggemaskan seperti anak kecil, istri kecilku, Narahita Hideko Yamada!" batin Rafa sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut.


"Ichinichijū totemo tsukarete itanode, neru dake no yōdesu. Anata wa dō? Anata no kotae wa watashi no mono to onajidesu ka? (Sepertinya aku akan langsung tidur saja karena aku seharian ini sudah merasa sangat lelah. Bagaimana denganmu? Apakah jawabanmu sama dengan jawabanku?)" ucap Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya tersebut.


"E ̄ to, neru dake no yōdesu. Watashi mo ichi nitchūkatsudō shite irunode tsukare o kanjimasu. Watashi no katsudō wa Nihon ni ita toki hodo isogashiku wa arimasenga, soredemo tsukare o kanjimasu, rafa (Emm, sepertinya aku akan langsung tidur saja. Aku juga merasa lelah karena seharian ini sudah beraktifitas. Walaupun aktifitasku tidak sepadat ketika aku berada di Jepang, tetapi tetap saja aku merasa lelah, Rafa)" jawab Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya yang cantik tersebut.


"Hai. Demo, yūshoku wa tabetakunaidesu ka? Watashi wa anata ga chōshoku no jikan, hōkago no chūshoku, soshite anata ga tabete inai yūshoku dake o taberu koto o shitte imasu (Oke. Tapi, apakah kamu tidak mau menyantap makan malam milikmu? Aku tahu kamu itu hanya makan waktu sarapan, makan siang sepulang sekolah, dan makan malamnya kamu belum memakannya)" tanya Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya tersebut.


Nara pun menjawab pertanyaan dari suami kecilnya tersebut dengan sebuah gelengan kecil dari kepalanya. Nara pun memang tak menjawab pertanyaan dari suami kecilnya tersebut dengan sebuah rangkaian kata-kata karena sudah merasa mengantuk.


"Sate, koko ni anata no geitaidenwa o kudasai! Benkyō-dai ni okimasu. Mata, geitaidenwa o benkyō-dai no ue ni okimasu. Dakara, anata wa watashi ni anata no geitaidenwa o ataeru dakedesu! (Ya sudah, sini berikan ponsel milikmu! Aku akan menaruhnya di atas meja belajarmu. Aku juga akan menaruh ponsel milikku di atas meja belajarku. Jadi, kamu berikan saja ponsel milikmu kepadaku!)" ucap Rafa sembari mengulurkan tangan kanannya kepada istri kecilnya tersebut agar istri kecilnya tersebut memberikan ponsel miliknya tersebut kepadanya dengan menaruhnya di atas tangan kanannya.


Dengan segera, Nara pun memberikan ponsel miliknya tersebut kepada suami kecilnya dengan menaruh ponsel miliknya di atas tangan kanan suami kecilnya tersebut.


Setelah selesai memberikan ponsel miliknya tersebut kepada suami kecilnya dengan menaruh ponsel miliknya di atas tangan kanan suami kecilnya tersebut, Nara pun langsung membenahi selimut tebal berwarna abu-abu tersebut agar menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya.

__ADS_1


Sebelum benar-benar tertidur untuk memasuki alam mimpinya, tak lupa untuk Nara membaca doa sebelum tidur di dalam agama Islam karena Nara memanglah seorang yang beragama Islam.


Sementara itu, Rafa pun menaruh ponsel miliknya dan ponsel milik istri kecilnya di atas meja belajar milik mereka masing-masing yang bernuanskan pink putih dan abu-abu tersebut.


Setelah menaruh ponsel miliknya dan milik istri kecilnya tersebut di atas meja belajar milik mereka masing-masing, Rafa pun langsung mengambil sebuah HandyTalkie dari atas meja belajarnya yang tersambung dengan Bi Tiah, yang tak lain merupakan ART atau Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah Abayomi sedari dirinya masih bayi.


"Bi, bibi sekarang tidak usah mengantarkan makan malam Rafa dan Nara ke kamar kami karena kami malam ini tidak berniat untuk menyantap hidangan makan malam kami" ucap Rafa kepada Bi Tiah melalui HandyTalkie yang selalu tersambung kepada Bi Tiah yang merupakan ART atau Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Abayomi sedari dirinya masih bayi.


"Oke, Mas Rafa" jawab Bi Tiah kepada Rafa yang notabenenya adalah putra pertama dari majikannya tersebut.


Setelah selesai mengatakan bahwa dirinya dan istri kecilnya tidak akan menyantap hidangan makan malam mereka, dengan segera Rafa pun segera menaruh kembali HandyTalkie tersebut di atas meja belajar miliknya tersebut.


Hoam


Rafa pun menguap karena dirinya kini sudah merasa sangat kelelahan dan membutuhkan tidur malam yang berkualitas. Maka dari itu, Rafa pun segera kembali ke tempat tidurnya dengan istri kecilnya tersebut untuk bisa memulai kegiatan tidur malamnya.


Setelah sampai di dekat tempat tidurnya, dengan segera Rafa pun naik ke atas tempat tidurnya untuk memulai kegiatan tidur malamnya tersebut.


Ketika di lihatnya istri kecilnya tersebut sudah terlelap dengan sangat nyenyak di alam mimpinya, Rafa pun segera mengelus-elus kedua pipi chubby milik istri kecilnya tersebut.


Tak hanya itu saja, Rafa bahkan mendaratkan sebuah kecupan selamat malam di dahi istri kecilnya tersebut. Tak lupa juga untuk Rafa mengucapkan selamat malam dan semoga bermimpi indah kepada istri kecilnya yang kini sedang terlelap di alam mimpinya tersebut.


Cup


Setelah puas mengucapkan selamat malam dan mengucapkan semoga mimpi indah kepada istri kecilnya, mengelus-elus pipi chubby milik istri kecilnya, serta memberikan kecupan selamat malam di dahi istri kecilnya tersebut, Rafa pun dengan segera membenahi selimut tebal miliknya yang berwarna abu-abu tersebut agar menutupi tubuh bagian bawahnya.


Sebelum memulai kegiatan tidur malamnya tersebut, tak lupa untuk Rafa mengucapkan doa sebelum tidur di dalam agama Islam karena notabenenya Rafa adalah seorang yang beragama Islam.


Beberapa saat kemudian, Rafa pun telah menyusul istri kecilnya tersebut untuk berkelana dan berpetualang di dalam alam mimpinya yang merupakan alam bawah sadarnya tersebut.


Keesokan paginya


Nara pun kini sudah terbangun dari tidur nyeyaknya pada pagi harinya. Sebelum benar-benar bisa melihat dengan sangat jelas, Nara pun mengucek-ngucek kedua matanya tersebut untuk memulihkan pengelihatannya.


"U ̄ n, imananji? (Umm, jam berapakah sekarang?)" tanya Nara dengan lirih sembari mengucek-ngucek kedua matanya tersebut.


Kedua mata yang berwarna cokelat milik Nara tersebut pun kini sedang menatap dengan sangat lekat ke arah jam dinding yang terpasang di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut.


Ketika sudah melihat dengan sangat jelas ke arah jam dinding yang terpasang di dslam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut, kedua bola mata Nara pun berhasil membulat dengan sangat sempurna.


Bagaimana kedua bola mata Nara tidak membulat? Jika sekarang jarum jam dan jarum panjang telah menunjukkan angka 06:15 WIB. Yang berarti dirinya sudah terlambat untuk bangun dari tidurnya sebanyak 15 menit.

__ADS_1


Tangan kanan Nara pun dengan refleks menepuk dahinya sendiri dengan agak keras karena merasa sekarang jika di hari biasanya adalah waktu di mana dirinya sudah selesai membersihkan tubuhnya, bukan justru baru bangun tidur seperti ini.


"Itai, kore wa dōdesu ka? Mezameru no ni 15-bu okuremashita! Jikandōrini gakkō ni iku jikan wa ato 45-budesu! Kono yōna toki wa, tada nemurikarasameru node wa naku,-*** no sōji o oerubekidatta nodesu! Nara, Nara! (Aduh, bagaimana ini? Aku sudah terlambat untuk bangun tidur sebanyak 15 menit! Waktuku untuk ke sekolah dengan tepat waktu kini hanya tinggal 45 menit lagi! Seharusnya di jam seperti ini aku sudah selesai membersihkan tubuhku, bukannya justru baru bangun dari tidurku! Nara, Nara!)" batin Nara sembari menepuk dahinya sendiri dengan tangan kanannya dengan agak keras.


Dengan sangat cepat, Nara pun merapikan selimut tebal berwarna abu-abu dan bed cover berwarna abu-abu yang terdapat di tempat tidurnya dengan suami kecilnya tersebut yang kini sudah terlihat agak berantakan karena kegiatan tidur malam mereka.


Setelah selesai merapikan selimut tebal berwarna abu-abu dan bed cover berwarna abu-abu yang terdapat di tempat tidurnya dengan suami kecilnya tersebut, dengan sangat cepat Nara pun berlari menuju ke arah kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut, kedua tangan Nara pun dengan segera membuka handle pintu kamar mandi tersebut dengan perlahan-lahan.


Ceklek


Ketika sudah selesai membuka handle pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut, dengan tanpa ada sedikit pun rasa curiga yang bersarang di dalam hatinya, Nara pun langsung melangkahkan kedua kakinya untuk memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut.


Ketika sudah melihat ke arah shower yang terpasang di dalam kamar mandi tersebut, tubuh Nara pun mendadak di buat menjadi kaku dan membeku di tempatnya berdiri pada saat ini.


Bagaimana Nara tidak di buat menjadi mendadak kaku dan membeku di tempatnya berdiri pada saat ini? Jika dengan mata kepalanya sendiri sekarang Nara sedang menyaksikan suami kecilnya yang tengah telanjang bulat tanpa satu helai benang pun di bawah shower yang terpasang di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut.


Kedua tangan Nara pun dengan refleks menutup kedua matanya agar tidak bisa lagi melihat pemandangan terlarang yang tidak seharusnya dia lihat pada pagi hari ini.


Dan juga jangan lupakan kedua pipi chubby milik Nara yang kini sudah menjadi berwarna sangat memerah seperti kepiting rebus yang siap di hidangkan dengan tambahan saus karena sudah merasa sangat malu dengan pemandangan terlarang yang baru saja dirinya lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Di dalam hati kecilnya, Nara pun kini tak henti-hentinya sedang memaki-maki dirinya sendiri mengenai kecerobohannya yang sedang dirnya lakukan pada pagi hari ini.


"Ē to, kyō wa nante orokade fuchūidatta nodeshou. Megasameru ni wa oso sugitanode, toire ni hairuto kon'na keshiki ga miete kimashita. Shōjiki ni iu to, ima wa dōyō shi, ikari, hazukashi-sa o kanji, mazari atte imasu. Mezameru no ni okureru koto ni taisuru iradachi to ikari no kanjō. Mita hazu no nai shīn o mitanode hazukashī omoi o shimashita. Chīsana otto no gaiken wa dōdatta no ka to kika retara,`totemo kanpekida!' To iu kotoba de kotaemasu. Dōshite? Surudoi hana to shizen'na akai kuchibiru, hiroi mune, kin'nikushitsu no karada, 6 pakku to kin'nikushitsu no i o motsu kare no hansamuna kao no tame ni, sore ga mondaidearunaraba, sore wa hontōni ōkīdesu. Ā, kinishinaide kudasai. Watashi wa kanojo no sōzoku ni tsuite hanasu tsumori wa arimasen! Kore o watashitachi futari no ma no himitsu ni shimashou (Uh, betapa bodoh dan cerobohnya aku pada hari ini! Menyebalkan sekali rasanya sudah terlambat untuk bangun tidur, ketika masuk kamar mandi aku justru di suguhkan dengan pemandangan yang seperti ini. Jika boleh jujur, perasaanku sekarang sedang kesal, marah, dan malu yang kini sedang tercampur menjadi satu. Perasaan kesal dan marah atas keterlambatan untuk bangun tidur. Serta merasa malu karena melihat pemandangan yang tidak seharusnya aku lihat. Jika aku di tanya bagaimana penampilan fisik dari suami kecilku, maka aku akan menjawabnya dengan kata 'Sangat sempurna!'. Kenapa? karena wajahnya yang tampan dengan hidungnya yang mancung dan bibirnya yang berwarna merah alami, dadanya yang bidang, badannya yang kekar, perutnya yang sixpack dan berotot, kalau masalah itunya memang sangatlah besar. Ah, sudahlah. Aku tak akan membahas mengenai benda pusaka miliknya itu! Biarlah ini menjadi rahasia di antara kami berdua)" batin Nara sembari menutup kedua matanya dengan kedua tangannya sendiri agar tidak bisa lagi melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat pada pagi hari ini.


Rafa yang baru saja menyadari akan kehadiran istri kecilnya yang ada di dekatnya tersebut pun kini di buat menjadi sangat terkejut. Apalagi ketika mendapati kedua pipi chubby milik istri kecilnya tersebut kini sedang berwarna sangat memerah seperti kepiting rebus yang siap di hidangkan dengan tambahan saus.


Tak hanya itu saja, Rafa juga di buat menjadi sangat terkejut ketika melihat kedua tangan istri kecilnya tersebut sedang menutup kedua mata milik istri kecilnya tersebut.


Maka dari itu, Rafa sekarang bisa mengambil kesimpulan bahwa istri kecilnya sekarang sudah di buat menjadi sangat malu karena mengingat dirinya yang kini sedang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya yang kekar dan mempesona tersebut.


Dengan perlahan-lahan, Rafa pun menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut karena melihat istri kecilnya yang begitu cantik, mempesona, dan menggemaskan ketika dirinya sedang merasa sangat malu dengan wajahnya yang sudah menjadi berwarna sangat merah seperti kepiting rebus yang siap di hidangkan dengan tambahan saus.


"Hmm, rupanya di sini ada istri kecilku yang sedang di buat menjadi sangat malu ya karena mengingat sekarang diriku yang sedang telanjang bulat tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku yang kekar dan mempesona. Sepertinya mengerjainya dengan cara yang seperti ini akan sangat menyenangkan karena istri kecilku ini akan terlihat sangat cantik, menawan, dan menggemaskan ketika ditinya sedang merasa sangat malu dengan wajahnya yang sudah menjadi berwarna merah seperti kepiting rebus yang siap di hidangkan dengan tambahan saus" batin Rafa sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut.


Karena istri kecilnya sekarang sedang di buat menjadi sangat malu karena mengingat dirinya yang kini sedang telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai benang pun, pada akhirnya Rafa pun membalikkan tubuhnya dengan posisi yang membelakangi istri kecilnya tersebut dengan tujuan agar istri kecilnya tersebut tidak merasa malu lagi dengan penampilannya yang kini sedang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun itu.


"Nara, sā, isoide shawā! Watashitachiha issho ni nyūyoku suru dakedesu, watashitachiha hararunanode daijōbudesu. Sono Ue, ima shawā o abitakunainara watashitachi wa gakkō ni okurerunode, ima jōtai wa hijō ni fuanteidesu. Shawā o abiru no ni 15-bu, chōshoku o toru no ni 15-bu, soshite gakkō ni iku no ni 15-bu kakarimasu. Jikandōrini gakkō ni ki kuni wa 45-bu de jūbundesu! (Nara, ayolah, segeralah mandi! Kita mandi bersama saja tidak papa karena kita kan sudah halal. Lagian juga sekarang kondisinya sudah sangat genting karena jika kamu tidak mau mandi sekarang kita akan terlambat sampai di sekolah. Kita itu membutuhkan waktu 15 menit untuk mandi, 15 menit untuk sarapan, dan 15 menit untuk berangkat ke sekolah. Waktu 45 menit sudah sangat cukup untuk kita bisa tepat waktu sampai di sekolah!)" ucap Rafa dengan sedikit keras sembari membelakangi tubuh istri kecilnya tersebut.


Nara yang mendengar perkataan dari suami kecilnya tersebut pun sontak saja langsung membulatkan kedua matanya tersebut dengan sangat sempurna karena mendengar perkataan dari suami kecilnya tersebut yang menurutnya akan merugikannya tersebut.

__ADS_1


"Shinken ni, watashi wa kare to issho ni ofuronihairubekidesu ka? Hihi, kore wa hontōni bakagete iru yō ni kikoemasu! (Yang benar saja, aku harus mandi bersama dengannya? Hihi, ini terdengar sangatlah menggelikan!)" batin Nara sembari menatap ke arah tubuh kekar dan mempesona milik suami kecilnya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan ketidakpercayaan yang mendalam.


__ADS_2