
Melihat kakak ipar kesayangannya yang hanya diam saja sedari tadi, Raihana terus saja melancarkan beberapa aksinya untuk membuat hati kakak iparnya luluh.
Dengan bermodalkan bakat akting terpendamnya, Raihana mulai memasang ekspresi wajah yang tentunya terlihat sangat memelas di mata kakak ipar kesayangannya tersebut.
Tak hanya itu saja, Raihana bahkan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk membuat aktingnya tersebut menjadi lebih dramatis seperti sinetron Indonesia.
Raihana pun kini sedang menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang cantik dan imut tersebut secara perlahan-lahan.
"Hahaha, it's okay to learn to be an actress every now and then. Who knows, maybe I really have talent to become an actress (Hahaha, sesekali belajar jadi aktris kan nggak papa. Siapa tahu aku benar-benar berbakat untuk menjadi seorang aktris)" batin Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang cantik dan imut tersebut secara perlahan-lahan.
Setelah menyiapkan dirinya untuk memulai akting yang sesungguhnya, kini Raihana pun sudah mulai mengeluarkan bakat akting terpendam yang ada di dalam dirinya.
"Oh, my dear sister-in-law. Would you like to become a partner for your sister-in-law in writing a romantic genre novel? (Oh, kakak ipar kesayanganku. Maukah kakak menjadi rekan untuk adik iparmu ini dalam menulis sebuah novel bergenre romantis?)" rengek Raihana dengan memasang ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas serta mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Melihat sang adik ipar yang kini sedang merengek-rengek dengan memasang ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas membuat Nara merasa sangat tidak tega untuk menolak permintaan sang adik ipar tersebut.
"Totemo awarena hyōjō de nakigoto o itte iru kare o mite, watashi wa kare no yōkyū o kyohi suru koto ni fukai-kan o oboemashita. Shikashi, watashi wa romanchikkuna janru no shōsetsu o kaku koto ni funarenanode, kare no mōshide o ukeireru koto ni mo mada chūcho shite imasu. Kore made no tokoro, watashi wa hoka no janru no shōsetsu o kakazu ni kodomo-muke no shōsetsu dake o kaite imashita (Melihatnya yang sedang merengek-rengek dengan memasang ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas membuatku menjadi tidak tega untuk menolak permintaannya. Tapi aku juga masih ragu untuk menerima tawarannya karena aku kan tidak berpengalaman menulis novel yang bergenre romantis. Selama ini kan aku hanya menulis novel anak-anak saja tanpa menulis novel bergenre yang lainnya)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik adik iparnya tersebut.
Melihat sang kakak ipar yang masih terdiam saja sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah Raihana yang cantik dan imut tersebut tak menyurutkan semangat Raihana untuk terus merengek kepada sang kakak ipar.
"Spirit Rai, don't give up! This is all for the sake of your closeness to your beloved sister-in-law and also for the sake of starting a career as a novelist as early as possible! Myesha Raihana Abayomi is a girl who never gives up and always tries to get what you want! (Semangat Rai, jangan menyerah! Ini semua demi kedekatanmu dengan kakak ipar kesayanganmu dan juga demi untuk merintis karir sebagai penulis novel sedini mungkin! Myesha Raihana Abayomi adalah seorang gadis yang pantang menyerah dan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu mau!)" batin Raihana sembari mencoba untuk menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.
Raihana pun mulai merengek-rengek kembali kepada kakak ipar kesayangannya agar mau menuruti permintaannya yang terbilang susah untuk di turuti oleh kakak ipar kesayangannya tersebut.
"Come on, my dear sister-in-law. Will you bear the heart to see your sister-in-law who is crying out loud because of her request that was not obeyed? (Ayolah, kakak ipar kesayanganku. Apakah kakak akan tega melihat adik iparmu yang menangis meraung-raung karena permintaannya yang tidak di turuti?)" rengek Raihana masih dengan memasang ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas dan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Nara yang mendengar permintaan dari sang adik ipar yang sangat sulit untuk dirinya kabulkan pun sekarang sedang menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Pikiran Nara pun kini masih bergulat untuk memikirkan apa jawaban yang tepat dari permintaan sang adik ipar.
Sudah berkali-kali pikiran Nara beradu argumen antara jawaban 'Ya' atau jawaban 'Tidak' yang akan di berikannya kepada sang adik ipar.
"Kore wa dō? Hai matawa īe to iubekidesu ka? `Hai' to kotaeru to, romanchikkuna janru no shōsetsu o kaku koto ga dekinaku naru node wanai ka to omoimasu. Moshi watashi ga iesu to kotaetara, tashika ni raihana wa ōgoe de sakebi, raihana mo watashi o nikumudeshou. Dewa, dono kettei o kudasu hitsuyō ga arimasu ka? (Bagaimana ini? Aku harus menjawab iya atau tidak? Kalau aku menjawab iya, aku takut aku tidak akan bisa menulis novel yang bergenre romantis. Kalau aku menjawab iya, pastilah Raihana akan menangis meraung-raung dan mungkin Raihana juga akan membenciku. Jadi, aku harus mengambil keputusan yang mana?)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik sang adik ipar tersebut.
Setelah beberapa saat beradu argumen di dalam pikirannya sendiri, Nara pun akhirnya menemukan jawaban yang tepat untuk di berikan kepada adik iparnya tersebut.
__ADS_1
Namun, sebelum Nara menjawab pertanyaan dari sang adik ipar, Nara akan menarik dan menghembuskan nafasnya dahulu secara bergantian.
"Sister accept, Rai. But___ (Kakak terima, Rai. Tapi___)" ucap Nara yang begitu saja terpotong karena adik iparnya yang sudah memotong ucapannya tersebut.
"But why, sis? Why? Are you forced to accept it because you don't want to make Rai cry and hate you? Hmm, don't you think so, sis? (Tapi kenapa, kak? Kenapa? Kakak terpaksa menerimanya karena kakak tidak mau membuat Rai menangis dan membenci kakak? Hmm, bukankah begitu, kak?)" potong Raihana dengan berteriak-teriak dengan nada yang agak di tinggikan olehnya kepada kakak ipar kesayangannya tersebut.
Melihat sang adik ipar yang kini sedang berteriak-teriak dengan nada yang agak di tinggikan yang di tujukan kepadanya, membuat Nara kembali bimbang untuk memberi tahu kepada adik iparnya perihal alasan di balik Nara menerima permintaan dari sang adik ipar tersebut.
"U ̄ n, kore wa dōdesu ka? Raihana no irai o uketa riyū o oshietekudasai. Shikashi, atode watashi ga kare ni iu to, raihana wa hontō no riyū o mitsukereba sarani okorimasu (Hmm, bagaimana ini? Apakah aku harus memberitahukannya mengenai alasan aku menerima permintaan dari Raihana? Tapi, nanti jika aku memberitahukannya Raihana akan semakin marah jika mengetahui alasan yang sebenarnya)" batin Nara sembari menundukkan wajah dan pandangannya ke arah lantai keramik yang ada di kamar adik iparnya tersebut.
Setelah memikirkan untuk memberi tahu atau tidak alasan di balik dirinya yang menerima permintaan dari sang adik ipar dengan sangat matang-matang, akhirnya Nara memutuskan untuk tetap memeberitahukan alasan yang sebenarnya kepada adik iparnya tersebut.
"Atode okoranai to wa hontōni kitai dekimasen. Shikashi, kore ga anata ga anata no yōkyū o ukeireta hontō no riyūdesu, rai. Umaku ikeba, anata ga anata no yōkyū o ukeireru koto ga dekiru riyū o umaku ukeireru koto ga dekimasu, Raihana (Kakak memang tidak bisa mengharapkan bahwa nantinya kamu tidak akan marah kepada kakak. Tapi, inilah alasan sebenarnya di balik kenapa kakak menerima permintaan kamu, Rai. Semoga saja kamu bisa menerima dengan baik alasan kenapa kakak bisa menerima permintaanmu tersebut, Raihana)" batin Nara sembari memberanikan dirinya kembali untuk menatap dengan sangat ke arah wajah cantik dan imut milik sang adik ipar tersebut.
"That's not it, Rai. It's just that this brother has no experience writing novels with a romantic genre. So far, you have only written children's novels, and you have never written novels with a romantic genre (Bukan begitu, Rai. Hanya saja kakak ini belum berpengalaman untuk menulis novel yang bergenre romantis. Selama ini kakak hanya menulis novel anak-anak saja, dan kakak tidak pernah menulis novel yang bergenre romantis)" ucap Nara sembari mencoba untuk menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
"But, the real reason why you can accept your request is because you really love you like your own sibling, not as sister-in-law. Therefore, my brother tried not to make Raihana cry because it was the same as scratching a deep wound on Raihana's heart. Can Raihana understand the reason why you accepted your request? (Tapi, alasan sebenarnya kenapa kakak bisa menerima permintaanmu ini adalah karena kakak sangat menyayangi kamu seperti adik kandung kakak sendiri, bukan sebagai adik ipar kakak. Maka dari itu, kakak berusaha untuk tidak membuat Raihana menangis karena itu sama saja kakak menggoreskan sebuah luka yang dalam di hati Raihana. Apakah Raihana bisa mengerti alasan kenapa kakak bisa menerima permintaanmu ini?)" lanjut Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik sang adik ipar tersebut.
Kini, terlihatlah Raihana yang sudah kembali memasang ekspresi wajahnya yang menyiratkan kebahagiaan. Raihana juga menyunggingkan sebuah senyuman bahagia di wajahnya yang cantik dan imut tersebut secara perlahan-lahan.
Nara yang menerima pelukan hangat secara tiba-tiba dari adik iparnya tersebut hanya bisa pasrah sembari membalas pelukan hangat dari adik iparnya tersebut.
Bahkan, kini terlihat Raihana yang sedang menangis haru di pelukan kakak ipar kesayangannya tersebut.
Nara yang melihat adik iparnya yang sedang menangis haru pun membantu menangkan adik iparnya tersebut dengan cara mengusap-usap punggung adik iparnya dengan sangat lembut.
"Thank you, sis. Thank you for loving Raihana like your own siblings. Even though her brother's reason was like that, Raihana still would not be angry with her brother because Raihana also loved brother more than Raihana himself (Terima kasih, kak. Terima kasih sudah menyayangi Raihana seperti adik kandung kakak sendiri. Walaupun alasan kakak sebenarnya seperti itu, Raihana tetap tidak akan marah kepada kakak karena Raihana juga menyayangi kakak lebih dari menyayangi diri Raihana sendiri)" ucap Raihana sembari menangis haru di pelukan kakak ipar kesayangannya.
Kini, terlihatlah ekspresi wajah yang menyiratkan kebahagiaan dan juga keharuan yang terpancar dari wajah cantik milik Rania.
Kedua mata Rania bahkan sampai berkaca-kaca karena sangat bahagia dan terharu dengan pemandangan yang ada di depan matanya sendiri pada saat ini.
Rania tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur, walaupun kata-kata tersebut hanya bisa terucap di dalam hatinya tanpa bisa terucapkan secara langsung melalui mulutnya sendiri.
"Thank God. I am very happy and touched by the closeness that exists between my daughter and my beloved daughter-in-law. I incessantly say words of gratitude to you, O Allah. Keep warm the bonds between sister and sister-in-law that exist between my daughter and my beloved daughter-in-law, O Allah (Alhamdulillah, Ya Allah. Hamba sangat bahagia dan terharu dengan kedekatan yang terjalin di antara anak perempuan hamba dan menantu kesayangannya hamba. Tak henti-hentinya hamba mengucapkan kata-kata syukur padamu, Ya Allah. Tetaplah hangatkan ikatan antara kakak dan adik ipar yang terjalin di antara anak perepmuan hamba dengan menantu kesayangan hamba ini, Ya Allah)" batin Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah tubuh anak perempuannya dan menantu kesayangannya yang kini sedang berpelukan satu sama lain dengan sangat erat.
__ADS_1
Untuk sesaat, Nara dan Raihana pun saling berpelukan satu sama lain. Sesekali, Raihana pun mempererat pelukan di antara dirinya dan juga kakak ipar kesayangannya tersebut.
Hingga pada akhirnya, Raihana lah yang melepaskan pelukan hangat di antara dirinya dan kakak ipar kesayangannya tersebut karena sudah merasa puas dengan memeluk tubuh kakak ipar kesayangannya tersebut dengan sangat erat selama beberapa saat.
"As for experience, you don't need to worry about this. Even though Rai has never dated, but Rai has often watched romantic genre films such as Korean dramas. After all, Rai also knows exactly what kind of kiss scene that had happened between sister and brother Rafa (Kalau untuk masalah pengalaman, kakak tak usah mengkhawatirkan soal hal ini. Walaupun Rai belum pernah berpacaran, tapi kan Rai sudah sering menonton film bergenre romantis seperti drama korea. Lagi pula, Rai juga tahu pasti seperti apa adegan ciuman yang pernah terjadi di antara kakak dan kak Rafa)" goda Raihana sembari memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan kedua alisnya tersebut.
Sontak saja Nara di buat menjadi sangat malu dan salah tingkah karena perkataan yang di ucapkan oleh adik iparnya tersebut. Bahkan, kini wajah Nara sudah berwarna merah seperti kepiting rebus karena berusaha menahan malunya.
Karena sudah merasa sangat malu dan wajahnya yang tadinya berwarna putih kini telah berubah menjadi berwarna merah seperti kepiting rebus pun membuat Nara dengan sigap menutupi wajahnya yang kini sudah memerah dengan kedua tangannya sendiri.
"Sā, rai. Anata wa katsute anata no kyōdai o hijō ni hazukashiku sa se, kono yō ni furumawa seru koto ga dekimasu. Nande kon'na hazukashī koto o itteru no? Jissai, watashi to rafa no kekkonshiki no hi ni, watashitachi ni 2-kai kisu o sa seta jiken ga atta koto o omoidasu to, watashi wa hijō ni hazukashikute iraira shimasu. (Ayolah, Rai. Kamu ini bisa sekali membuat kakak menjadi sangat malu dan salah tingkah seperti ini. Kenapa kamu mengatakan hal yang memalukan seperti ini? Bahkan aku merasa sangat malu dan kesal ketika mengingat di hari pernikahanku dan Rafa telah terjadi insiden yang membuat kami menjadi berciuman sebanyak dua kali!)" batin Nara sembari berusaha untuk menutupi wajahnya yang kini sudah memerah seperti kepiting rebus dengan kedua tangannya.
Berbeda dengan Nara yang di buat menjadi sangat malu dan salah tingkah dengan perkataan yang di ucapkan oleh Raihana, Rania justru membulatkan kedua matanya karena merasa sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar dari mulut anak perempuan sendiri.
Bahkan Rania pun sampai memasang ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan yang mendalam di wajahnya yang cantik tersebut.
"What! Is it true that this really happened between my first son and my beloved daughter-in-law? Why do I still feel so disbelief at the words spoken from the mouth of my own daughter? (Apa! Benarkah ini benar-benar terjadi di antara anak laki-laki pertamaku dan menantu kesayanganku? Mengapa aku masih saja merasa sangat tidak percaya dengan ucapan yang di ucapkan dari mulut anak perempuanku sendiri?)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya serta ke arah wajah cantik dan imut milik anak perempuanya.
Setelah beberapa saat menerka-nerka di dalam pikirannya sendiri, akhirnya pun Rania memutuskan untuk bertanya kepada menantu kesayangannya untuk memastikan kebenaran dari ucapan anak perempuannya tersebut.
"Nara, is it true what your sister-in-law said? (Nara, apakah benar apa yang di ucapkan oleh adik iparmu itu?)" tanya Rania kepada menantu kesayangannya sembari menatap dengan sangat lekat ke arah tubuh menantu kesayangannya tersebut.
Dengan perasaan yang masih malu-malu, Nara pun menjawab pertanyaan dari sang Mama mertua dengan sebuah anggukan kecil dari kepalanya.
Hanya sebuah anggukan kecil yang dapat Nara berikan kepada sang Mama mertua karena Nara masih merasa sangat malu untuk menjawab dengan suaranya.
Melihat kakak ipar kesayangannya yang hanya memberikan sebuah anggukan kecil dari kepalanya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Raihana berniat untuk menjelaskan secara lebih rinci kepada sang Mama mengenai kejadian ciuman di antara kakak laki-laki pertamanya dan juga kakak ipar kesayangannya tersebut.
"The incident happened yesterday morning, around 10:30 am at Yamada family's house, Ma. At that time, Rai, Kak Rafa, Kak Rafi, Kak Nara, and also Kak Nandi were playing truth or dare. Kak Rafa, who was pointed at by the used plastic bottle, chose the truth and finally Kak Rafa and Kak Nara kissed in front of us after getting a challenge from Kak Rafi. Raihana could not clearly see the incident of the kiss between Kak Rafa and Kak Nara because Raihana's eyes were closed by Kak Rafi's hands. (Kejadian itu terjadi pada kemarin pagi, sekitar jam 10:30 pagi di rumah keluarga Yamada, Ma. Kala itu, Rai, Kak Rafa, Kak Rafi, Kak Nara, dan juga Kak Nandi sedang bermain truth or dare. Kak Rafa yang di tunjuk oleh botol plastik bekas pun memilih truth dan akhirnya Kak Rafa dan Kak Nara berciuman di depan kami setelah mendapatkan tantangan dari Kak Rafi. Raihana tidak bisa melihat dengan jelas kejadian ciuman antara Kak Rafa dan Kak Nara karena kedua mata Raihana di tutup oleh tangan Kak Rafi)" jelas Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama.
Rania yang mendengarkan penjelasan dari anak perempuannya tersebut dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman bahagia di wajahnya yang cantik.
Rania merasa sangat bahagia karena mengira jika anak laki-laki pertamanya dan menantu kesayangannya sudah berciuman itu merupakan pertanda lampu hijau untuk segera mendapatkan seorang cucu dari Rafa dan Nara.
"Hooray, if my first son and my beloved daughter-in-law have kissed, this must be a green light sign for me so that in the near future I can get a grandson from Rafa and Nara. Hopefully I will soon get a grandson from my first son and my beloved daughter-in-law. Because I have been looking forward to the day when I will rock my own grandson (Horee, jika anak laki-laki pertamaku dan menantu kesayanganku sudah berciuman pastilah ini pertanda lampu hijau untukku agar dalam waktu dekat ini bisa mendapat seorang cucu dari Rafa dan Nara. Semoga saja aku segera mendapatkan seorang cucu dari anak laki-laki pertamaku dan menantu kesayanganku. Karena sudah lama aku menantikan hari di mana aku akan menimang-nimang cucuku sendiri)" batin Rania sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman bahagia di wajahnya yang cantik tersebut.
__ADS_1