
Sebelum bisa menjawab pertanyaan dari sang suami, Rania sudah lebih dahulu tertawa dengan terbahak-bahak karena mendengar pertanyaan yang menurutnya sangatlah lucu dari sang suami.
Raihan yang melihat sang istri yang sedang tertawa dengan terbahak-bahak pun kini mulai menerka-nerka sendiri di dalam pikirannya tersebut.
Sangkin herannya dengan tingkah sang istri yang tiba-tiba saja tertawa dengan terbahak-bahak tanpa penyebab yang jelas, Raihan bahkan sampai menyamakan tingkah laku sang istri dengan seorang hantu kuntilanak yang sedang tertawa di malam hari.
"What's wrong with my wife? Why was he laughing so hard for no apparent reason? Strange, he looks like a kuntilanak who is laughing at night (Ada apa dengan istriku ini? Kenapa dia tertawa dengan terbahak-bahak tanpa sebuah penyebab yang jelas? Aneh, dia terlihat seperti kuntilanak yang sedang tertawa di malam hari)" batin Raihan sembari menatap ke arah wajah cantik milik sang istri dengan tatapan yang menyiratkan keheranan.
Raihan pun bahkan sempat di buat menjadi kebingungan untuk menanyakan perihal kenapa istrinya bertingkah aneh seperti ini kepada sang istrinya tersebut.
Setelah beberapa saat memikirkan untuk mengambil keputusan yang tepat, pada akhirnya Raihan pun memutuskan untuk tetap menanyakan hal ini kepada sang istrinya tersebut.
"Ah, instead of me continuing to guess in my own mind that has not been proven true, I better ask this directly to my strange wife! (Ah, daripada aku terus menerka-nerka di dalam pikirannku sendiri yang belum terbukti kebenarannya, lebih baik aku menanyakan hal ini secara langsung kepada istriku yang aneh ini!)" batin Raihan sembari menyiapkan dirinya untuk mulai menanyakan perihal ini kepada sang istri yang tingkah lakunya kali ini terbilang sangatlah aneh.
Baru saja Raihan akan membuka suaranya, namun sang istri sudah memotong ucapannya tersebut. Seakan-akan tak mengizinkan Raihan untuk mengatakan satu patah kata pun.
"Our daughter is not having a birthday now. Our daughter will celebrate her 13th birthday on March 7th. This is Mama, our daughter, and our beloved daughter-in-law, who deliberately made birthday cakes like this for our twins. Mama gets bored every year the colors of their birthday cakes are just blue and white and black and white. Every now and then it's okay to make a cake with rainbow tones and pink and white shades, right? (Anak perempuan kita memang sekarang tidak sedang berulang tahun. Anak perempuan kita akan merayakan ulang tahunnya yang ke 13 tahun pada tanggal 7 Maret. Ini Mama, anak perempuan kita, berserta menantu kesayangan kita memang sengaja membuat kue ulang tahun seperti ini untuk kedua putra kembar kita. Mama bosan setiap tahun warna kue ulang tahun mereka hanyalah biru dan putih, serta hitam dan putih. Sesekali tidak apa-apa membuat kue yang bernuansakan warna pelangi berserta bernuansa warna pink putih, kan?)" ucap Rania sembari tertawa dengan terbahak-bahak ketika mengingat perbuatannya yang melibatkan anak perempuannya berserta menantu kesayangannya tersebut untuk membuat kue ulang tahun bernuansakan warna pelangi untuk putra keduanya serta kue ulang tahun bernuansakan warna pink putih untuk putra pertamanya tersebut.
Ketika sudah mendengarkan penjelasan dari sang istri, sontak saja Raihan langsung mengeleng-gelengkan kepalanya karena merasa tak percaya jika alasan sang istri untuk melakukan hal semacam ini adalah alasan yang sangatlah sepele.
Raihan sendiri kini di buat menjadi ragu-ragu akan sang istri yang bisa atau tidaknya menghadapi kedua putra kembar mereka tang terkenal kejam ketika dirinya merasa sedang di usik.
"Can my wife face the anger of our twin sons? Ah, I feel unsure if my wife will be able to face the anger of our twins! (Apakah istriku ini bisa menghadapi kemarahan dari kedua putra kembar kami ini? Ah, aku merasa tidak yakin jika istriku ini bisa menghadapi kemarahan dari kedua putra kembar kami!)" batin Raihan sembari menatap ke arah wajah cantik milik sang istri dengan tatapan yang menyiratkan sebuah keraguan yang terdapat di dalamnya.
"Yes, it is only natural for Mama to feel bored if the color of their birthday cake is only blue and white and black and white. But, is Mama ready to face the consequences of our two notorious twins? (Ya, wajar saja jika Mama merasa bosan jika warna kue ulang tahun mereka hanyalah bernuansakan biru putih serta hitam putih. Tapi, apakah Mama siap menghadapi konsekuensi dari kedua putra kembar kita yang terkenal kejam itu?)" ucap Raihan dengan ragu-ragu sembari menatap wajah cantik milik sang istri dengan tatapan yang menyiratkan sebuah keraguan yang terdapat di dalamnya.
Rania yang mendengarkan ucapan dari sang suami pun di buat menjadi sangat kesal sekaligus marah dengan perkataan yang di ucapkan oleh sang suami tersebut.
Untuk menyiratkan rasa kekesalan dan kemarahannya tersebut, Rania pun menatap wajah tampan milik sang suami dengan tatapan tajamnya yang akan menghunus hingga ke jantung milik sang suami tersebut.
__ADS_1
Tak puas dengan menatap wajah tampan milik sang suami dengan tatapan tajamnya yang dapat menghunus hingga ke jantung milik sang suami, Rania bahkan sekarang sedang mengumpati sang suami di dalam hatinya tersebut.
"Crazy boy! Our two twins who acted cruel down from yours, not mine! I'm sorry why I was able to marry you and my twin sons can inherit all of your traits! Luckily my anger can be covered up because of our daughter who inherits my nature! Do you understand, land crocodile? (Dasar laki-laki gila! Kedua putra kembar kita yang bersikap kejam itu turun dari sifatmu, bukan sifatku! Aku menyesal kenapa aku bisa menikah denganmu dan kedua putra kembarku bisa menuruni dan mewariskan semua sifatmu itu! Untung saja kemarahanku ini bisa tertutupi karena anak perempuan kita yang sifatnya menuruni dan mewarisi sifatku! Apa kamu mengerti, buaya darat?)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah tampan milik sang suami tersebut dengan tatapan tajamnya yang dapat menghunus hingga ke jantung milik sang suami.
Raihan yang mendapatkan tatapan tajam dari sang istri pun kini hanya bisa pasrah saja dengan takdirnya tersebut. Raihan kini hanya bisa pasrah saja dengan takdirnya dan berdoa kepada Allah SWT agar semua ini cepat berlalu.
Bahkan, Raihan pun sampai menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar karena dirinya merasa sangat frustasi sendiri dengan takdir yang di berikan oleh Allah SWT.
Ya, walaupun di beberapa ayat di dalam Al-Quran mengatakan bahwa di setiap kesusahan pasti akan ada kemudahan, tapi tetap saja Raihan merasa frustrasi akan takdirnya sendiri.
"O Allah, this servant can only surrender and surrender to you about the destiny that I am experiencing at this time. However, I beg you to hurry all of this so that I can do other things. O Allah, please grant your servant's request! (Ya Allah, hamba ini memang hanya bisa pasrah dan berserah diri kepadamu akan takdir yang hamba alami pada saat ini. Namun, hamba mohon kepadamu agar semua ini cepatlah berlalu agar hamba bisa melakukan hal-hal yang lain. Ya Allah, tolong kabulkanlah permintaan hambamu ini!)" batin Raihan sembari menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.
Rania yang merasa masih marah kepada sang suami pun dengan sigap menyuruh sang suami untuk memanggil kedua putra kembarnya agar bisa mengubah suasana dari yang tadinya saling bermarah-marahan, nantinya akan menjadi saling menyayangi.
Walaupun Rania masih mau berbicara dengan sang suami, namun nada bicara Rania pun kini sangatlah terdengar ketus karena Rania masih merasa marah kepada sang suami.
Tak hanya itu saja, Rania bahkan memalingkan wajah dan pandangannya dari yang semula menatap wajah tampan milik sang suami, kini Rania menatap dinding berwarna hijau tosca yang ada di sampingnya tersebut.
Baru saja Raihan akan menjawab ucapan sang istri sekaligus memanggil kedua putra kembarnya tersebut, namun Rafi, putra keduanya sudah terlebih dahulu memotong ucapannya sebelum dirinya bisa mengucapkan satu patah kata pun.
"No need to tell Papa to call us, Mama. We're here! (Tidak usah menyuruh Papa untuk memanggil kami, Mama. Kami sudah berada di sini!)" celetuk Rafi kepada sang Mama sembari melambai-lambaikan kedua tangannya tersebut kepada sang Mama.
Karena mendengar putra keduanya yang sedang berbicara kepadanya, Rania pun akhirnya memalingkan wajah dan pandangannya dari yang semula sedang menatap dinding berwarna hijau tosca tersebut, kini Rania beralih untuk menatap wajah tampan milik kedua putra kembarnya tersebut.
Tak hanya Rania saja yang memalingkan wajah dan pandangannya untuk menatap ke arah wajah tampan milik Rafa dan Rafi, Nara, Raihana, dan Raihan juga memalingkan wajah dan pandangan mereka masing-masing untuk menatap wajah tampan milik Rafa dan Rafi tersebut.
Nara bahkan sampai di buat menjadi melongo dan takjub dengan penampilan suami kecilnya dan adik iparnya tersebut. Namun, Nara di buat menjadi lebih takjub dengan penampilan suami kecilnya tersebut.
Bagaimana Nara tidak di buat menjadi melogo dan takjub dengan penampilan suami kecilnya dan adik iparnya tersebut? Jika kini suami kecilnya dan adik iparnya sedang berjalan menuju ke arah dapur dengan mengenakan kaos oblong yang mencetak jelas perut mereka yang sixpack dan celana boxer yang tentunya membuat suami kecilnya dan adik iparnya tersebut semakin menjadi sangat tampan dan menawan.
__ADS_1
Tak hanya itu saja, suami kecilnya dan adik iparnya tersebut berjalan menuju ke arah dapur dengan rambut yang masih basah dengan tetesan-tetesan air yang jatuh di dahi suami kecilnya dan adik iparnya tersebut. Tentu saja penampilan suami kecilnya dan adik iparnya tersebut akan terlihat semakin sexy dengan rambut mereka yang masih basah tersebut.
Di dalam hatinya, tak henti-hentinya Nara pun memuji ketampanan suami kecilnya dan adik iparnya tersebut. Walaupun sebenarnya di dalam hati kecil Nara yang paling dalam, Nara lebih memuji ketampanan milik suami kecilnya tersebut.
"Ā, watashi no kami. Karera wa totemo hansamu de, mirikiteki de, totemo sekushī ni miemasu. Hai, hansamu de mirikiteki de sekushīna watashi no chīsana ottodesuga. A, ano tīshatsu mite! Hijō ni 6-pakkudearu karera no fukkin o hakkiri to insatsu shimashita! Ā, pan ga yabureta hodo kin'nikushitsuna i ni fureru no wa dōdesu ka? Ā, watashi no chīsana otto ya giri no kyōdai no yōna hansamu de mirikiteki de sekushīna dansei ni kakoma rete totemo shiawasedesu! Ā, rakkīna watashi! (Ah, Ya Allah. Mereka ini terlihat sangat tampan, menawan, dan sexy sekali. Ya, walaupun tampanlah, menawanlah, dan sexylah suami kecilku itu. Ah, lihat kaos oblong itu! Tercetak jelas perut mereka yang sangatlah sixpack! Ah, bagaimana rasanya menyentuh perut yang sangat berotot seperti roti sobek itu? Ah, rasanya aku sangat bahagia sekali di kelilingi oleh laki-laki yang tampan, menawan, dan sexy seperti suami kecilku dan adik iparku in! Ah, beruntungnya aku!)" batin Nara sembari menatap ke arah wajah tampan milik suami kecilnya tersebut dengan sangat lekat.
Tak hanya Nara saja yang di buat menjadi melongo dan jakjub dengan penampilan Rafa dan Rafi yang terlihat sangatlah tampan, menawan, dan juga sexy tersebut. Namun, Raihana juga di buat menjadi melongo dan takjub dengan penampilan kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut yang terlihat sangatlah tampan, menawan, dan juga sexy tersebut.
Di dalam hatinya yang paling dalam, Raihana bahkan sampai memuji ketampanan dari kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut tanpa di ketahui oleh satu orang pun.
"Oh Allah, these are my twin brothers or Korean Oppa-Oppa huh? Ah, my twin brother! You look very handsome, charming, and also sexy! How lucky the woman is to be your life companion! I wish I could get a handsome boy like you two, both my twin brothers! (Ya Allah, ini kedua kakak laki-laki kembarku atau Oppa-Oppa Korea ya? Ah, kakak laki-laki kembarku! Kalian terihat sangatlah tampan, menawan, dan juga sexy! Beruntung sekali perempuan yang menjadi pendamping hidup kalian! Aku harap aku bisa mendapatkan seorang laki-laki yang tampan seperti kalian berdua, kedia kakak laki-laki kembarku!)" batin Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut.
Tanpa di sadari oleh Nara dan Raihana, kini Rafa dan juga Rafi telah sampai di dapur. Dan juga, kini Rafa dan Rafi tengah berdiri di depan Nara dan Raihana yang masih terdiam mematung di tempatnya masing-masing karena terpesona oleh ketampanan, kemenawanan, dan juga kesexyan yang di miliki oleh Rafa dan juga Rafi.
Setelah puas memuji ketampanan yang di miliki oleh kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut, Raihana pun cepat-cepat menyadarkan dirinya dari lamunannya tersebut agar tidak terlihat mencurigakan di mata sang Papa, sang Mama, kedua kakak laki-laki kembarnya, serta kakak ipar kesayangannya tersebut.
Melihat kakak ipar kesayangannya tersebut yang masih terdiam di tempatnya sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah kakak laki-laki pertamanya tersebut, pun membuat Raihana langsung menyeletuk untuk menyadarkan kakak ipar kesayangannya tersebut dari lamunannya sekaligus cara untuk membuat kakak ipar kesayangannya tersebut menjadi sangat malu.
"Sister-in-law, let's be aware of your daydream. Rai knows that sister-in-law is now praising and admiring the good looks of your husband's own brother, right? Ah, sister-in-law doesn't have to answer it because Rai already knows the answer! (Kakak ipar, ayo sadarlah dari lamunanmu itu. Rai tahu jika kakak ipar sekarang sedang memuji dan mengagumi ketampanan milik suami kakak sendiri, bukan? Ah, kakak ipar tidak usah menjawabnya karena Rai sudah tahu jawabannya!)" celetuk Raihana sembari mengerlingkan kedua matanya yang berwarna cokelat tersebut kepada kakak ipar kesayangannya tersebut.
Nara yang mendengar ucapan dari adik iparnya tersebut pun sontak saja langsung tersadar dari lamunannya yang sedang mengagumi dan memuji ketampanan milik suami kecilnya tersebut.
Tak hanya itu saja, kini wajah Nara pun berubah dari wajahnya yang berwarna putih kini menjadi wajahnya yang berwarna merah seperti kepiting rebus karena merasa sangat malu dengan perkataan adik iparnya tersebut.
Nara pun kini sedang berusaha untuk menutupi wajahnya yang kini sudah berwarna merah seperti kepiting rebus tersebut dengan kedua tangannya sendiri.
"Ā, korehanandesuka? Naze watashi no giri no kyōdai wa watashi no kokoro no shinjitsu o shiru koto ga dekimasu ka? Ā, giri no imōto ga kō iu koto o itte, hontōni hazukashī omoi o shimasu! Chikyū no soko ni kakureru koto wa dekimasu ka? (Ah, apa-apaan ini? Kenapa adik iparku bisa mengetahui isi hatiku yang sebenarnya? Ah, aku merasa sangat malu ketika adik iparku mengatakan hal seperti ini yang sebenarnya memang benar adanya! Bolehkah aku bersembunyi di dalam dasar bumi?)" batin Nara sembari mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah dengan kedua tangannya sendiri.
Berbeda dengan istri kecilnya yang sekarang sedang merasa malu karena mendengar ucapan dari Raihana, kini hati Rafa sedang merasa berbunga-bunga karena mendengar ucapan dari adik perempuannya tersebut.
__ADS_1
Sangkin bahagianya karena mendengar ucapan dari adik perempuannya tersebut, Rafa pun kini sedang menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut secara perlahan-lahan.
"Ah, benarkah dia menujiku? Benarkah dia mengagumiku? Apakah benar semua yang telah di katakan oleh adik perempuanku ini? Jika memang terbukti benar adanya, aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini karena perempuan yang aku cintai sekarang sedang memuji dan mengagumiku!" batin Rafa sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut secara perlahan-lahan.