Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 47 - Mewakili Olimpiade


__ADS_3

"Never mind, you two don't need to answer Papa's question, which seems very meddling in your personal affairs. Papa knows that maybe you do it all night or you just don't do it at all and stay up late to do your schoolwork. Better, we just go to school now. You guys get ready because Papa will be driving this car adding slightly above average speed so that the four of you won't be late for school! (Sudahlah, kalian berdua tidak usah menjawab pertanyaan Papa ini yang terkesan saangat mencampuri urusan pribadi kalian. Papa tahu kalau mungkin saja kalian melakukan hal itu semalaman atau kalian justru sama sekali tidak melakukannya dan begadang untuk mengerkakan tugas-tugas sekolah kalian. Lebih baik, kita sekarang segera saja berangkat ke sekolah. Kalian bersiap-siaplah karena Papa akan mengemudikan mobil ini denhan sedikit menambahkan kecepatan yang di atas rata-rata agar kalian berempat tidak terlambat berangkat ke sekolah!)" lanjut Raihan sembari menyalakan mesin mobilnya untuk segera menjalankan mobilnya tersebut menuju ke arah lingkungan Sekolah Internasional yang merupakan sekolah yang bertaraf internasional milik keluarga Abayomi yang notabenenya adalah keluarga terkaya nomor 1 di dunia.


Dengan menaikkan sedikit kecepatan mobilnya yang di atas kecepatan rata-rata agar tidak terlambat dalam mengantarkan kedua putra kembarnya, anak perempuannya, dan juga menantu kesayangannya tersebut, Raihan pun mulai mengemudikan mobil miliknya menuju ke arah Sekolah Internasional yang memakan waktu kurang lebih 15 menit.


Sontak saja Nara dan Rafa yang mendapatkan pertanyaan seperti ini dari seorang laki-laki yang berstatus menjadi Papa bagi Rafa dan juga berstatus menjadi Papa mertua bagi Nara pun langsung di buat menjadi sengat kesal, malu, marah, dan juga kikuk.


Rafa pun kini bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tersebut dengan perlahan-lahan karena sangat tidak bisa mempercayai perkataan-perkataan yang sangat menyebalkan tersebut keluar dari mulut sang Papa.


"Apa-apaan ini? Kenapa Papa bisa mengatakan perkataan-perkataan yang sangat menyebalkan seperti itu keluar dari mulut Papa? Aku benar-benar tak habis pikir dengan Papa yang dengan sangat mudah mengatakan kata-kata yang menyebalkan seperti itu!" batin Rafa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri dengan perlahan-lahan karena tidak bisa mempercayai perkataan-perkataan yang sangat menyebalkan tersebut keluar dengan mudahnya dari mulut sang Papa.


Tak berbeda jauh dengan apa yang di rasakan oleh suami kecilnya tersebut, Nara pun juga merasakan hal yang serupa seperti suami kecilnya tersebut tentang reaksi yang di berikan olehnya kepada sang Papa mertuanya tersebut.


Jika suami kecilnya juga merespon dengan gelengan-gelengan kepalanya yang secara perlahan-lahan, maka Nara juga merespon dengan menutupi wajahnya yang kini sudah berwarna sangat memerah seperti kepiting rebus tersebut dengan kedua tangannya sendiri.


"Ā, korehanandesuka? Naze watashi no gifu wa kono yōna koto o iu koto ga dekimasu ka? Ā, tashika ni watashi no gifu wa watashi to kesa osoku ni megasameta watashi no chīsana otto o gokai surunode, watashi wa hazukashīdesu. Watashi no gifu ga nani o kangae, nani o kangaete iru ka o shitte imasu! (Ah, apa-apaan ini? Kenapa Papa mertuaku bisa mengatakan perkataan yang seperti ini? Ah, kan aku menjadi malu karena pasti Papa mertuaku akan salah paham mengenai aku dan suami kecilku yang terlambat bangun tidur pada pagi hari ini. Aku tahu apa yang di pikirkan dan di kira-kira oleh Papa mertuaku tersebut!)" batin Nara sembari mencoba untuk menutupi wajahnya yang sudah berwarna merah seperti kepiting rebus tersebut dengan kedua tangannya sendiri.


Raihana yang melihat kakak laki-laki pertamanya dan kakak ipar kesayangannya tersebut pun dengan segera mengambil alih untuk memecahkan keheningan dan kecanggungan yang kini semakin terasa di antara kakak laki-laki pertamanya dan kakak ipar kesayangannya dengan sang Papa tersebut.


Memecahkan keheningan dan kecanggungan yang terjadi di antara beberapa orang itu merupakan salah satu kelebihan dan keahlian yang di miliki oleh seorang Myesha Raihana Abayomi. Bagi Raihana, memecahkan keheningan dan kecanggungan yang terjadi di antara beberapa orang itu sangatlah mudah seperti ketika memecahkan celengan miliknya yang berbentuk ayam jago.


"Don't call me Myesha Raihana Abayomi if I can't break the silence and awkwardness between my first brother and my beloved sister-in-law and my own papa! Look, a Myesha Raihana Abayomi will not just give up when the ultimate goal has not been achieved! (Jangan panggil aku Myesha Raihana Abayomi jika aku tak bisa memecahkan keheningan dan kecanggungan yang terjadi di antara kakak laki-laki pertamaku dan kakak ipar kesayanganku dengan Papaku sendiri! Lihatlah, seorang Myesha Raihana Abayomi tidak akan menyerah dengan begitu saja ketika tujuan utamanya belum tercapai!)" batin Raihana sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.


"Why did you just stay quiet, Kak Rafa and Kak Nara? Instead of being silent, it is better for my two siblings to eat a breakfast of toast that Mama has previously prepared in this lunch container. (Kak Rafa dan Kak Nara kenapa hanya diam saja? Dari pada diam saja, lebih baik kedua kakak-kakakku ini menyantap hidangan sarapan roti bakar yang sebelumnya telah di siapkan oleh Mama di dalam sebuah wadah bekal ini)" ucap Raihana kepada kakak laki-laki pertamanya dan kakak ipar kesayangannya tersebut sembari menyodorkan sebuah wadah bekal kepada kakak ipar kesayangannya tersebut.


Sontak saja Nara dan Rafa yang mendengar perkataan dari seorang perempuan yang berstatus sebagai adik perempuan bagi Rafa dan juga berstatus sebagai adik ipar perempuan bagi Nara pun segera tersadar dari lamunan mereka masing-masing.


Perkataan yang di ucapkan oleh Raihana yang notabenenya adalah adik perempuan bagi Rafa dan juga adik ipar perempuan bagi Nara ini pun sepertinya benar-benar berhasil mengacaukan semua lamunan-lamunan dan fantasi-fantasi Nara dan Rafa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing.


Kedua tangan Nara pun kini dengan segera meraih wadah bekal yang merupakan hidangan sarapannya dan suami kecilnya pada pagi hari ini yang bermenukan roti bakar yang kini masih di pegang dengan sangat erat oleh kedua tangan adik iparnya tersebut.


"Um, forgive sister, Rai. Yes, you will eat your breakfast because you are feeling really hungry right now! (Emm, maafkan kakak ya, Rai. Ya, kakak akan memakan hidangan sarapan kakak karena kakak sekarang sedang merasa sangatlah lapar!)" ucap Nara dengan nada bicaranya yang menyiratkan betapa besarnya rasa bersalahnya tersebut kepada adik iparnya tersebut dengan kedua tangannya yang mengambil wadah bekal yang kini masih di pegang dengan sangat erat di kedua tangan adik iparnya tersebut.

__ADS_1


"Ah, it's okay, my dear sister-in-law. Just relax with this Rai! Please eat breakfast dishes. If necessary, my first brother and my beloved sister-in-law feed each other like any other married couple. It would be great to see the romance between my first brother and my beloved sister-in-law! I who see it later feels like I am in a Korean Drama with a romantic genre! (Ah, tidak papa, kakak ipar kesayanganku. Santai saja bersama Rai ini! Silahkan di makan hidangan sarapannya. Bila perlu, kakak laki-laki pertamaku dan kakak ipar ksayanganku ini saling bersuap-suapan seperti pasangan suami istri yang lainnya. Pasti akan sangat menyenangkan melihat keromantisan kakak laki-laki pertamaku dan kakak ipar kesayanganku ini! Aku yang melihatnya nanti seperti merasa berada di dalam sebuah Drama Korea yang bergenre romantis!)" jawab Raihana sembari secara perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.


Kini, terlihatlah sebersit ekspresi wajah Nara yang menyiratkan sebuah keterkejutan dan ketidakpercayaan yang sangat mendalam akan perkataan yang di ucapkan oleh adik ipar perempuannya tersebut.


"Kore wa dō iu kotodesu ka? Gifu ga watashi ni hijō ni meiwakuna shitsumon o shita nochi, ima dewa giri no imōto mo hontōni meiwaku ni kikoeru nanika o iimashita! Kare to issho ni chōshoku o taberu no wa nante bakagete irudeshou. Son'na koto o sōzō suruto hontōni omoshiroku narimasu! (Apa-apaan lagi ini? Setelah Papa mertuaku yang menanyakan pertanyaan yang sangat menyebalkan, kini adik ipar perempuanku juga mengatakan perkataan yang terdengar sangatlah menyebalkan! Sungguh menggelikan sekali jika aku sampai kejadian saling bersuap-suapan hidangan sarapan dengannya! Ih, aku sangat menjadi geli sekali ketika membayangkan hal yang seperti itu!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik adik ipar perempuannya tersebut.


Berbeda 360 derajat dengan istri kecilnya yang memasang ekspresi wajah yang menyiratkan sebuah keterkejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam, Rafa justru memasang ekspresi wajah yang datar di wajahnya yang tampan tersebut.


Walaupun begitu, apa yang orang lain lihat melalui ekspresi wajahnya yang datar tersebut sangat-sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh dirinya sendiri di dalam hatinya.


Di dalam hatinya, Rafa merasa sangat bahagia karena ulah adik perempuannya yang sangatlah gemar menonton Drama Korea yang bergenre romantis tersebut kini sedang menjadi Mak Comblang untuk kelanjutan hubungannya dengan istri kecilnya tersebut.


Rafa pun tak henti-hentinya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Swt walaupun hanya di dalam hatinya saja atas Allah Swt yang telah memberinya seorang adik perempuan yang gemar menonton Drama Korea yang bergenrr romantis serta bisa menjadi seorang Mak Comblang untuk kelanjutan hubungannya dengan istri kecilnya tersebut.


"Ya Allah, Rafa sangat bersyukur dan berterima kasih kepadamu karena dirimu yang telah memberikan Rafa anugrah berupa seorang adik perempuan yang gemar menonton Drama Korea yang kini juga sedang menjadi Mak Comblang untuk kelanjutan hubunganku dengan istri kecilku ini. Rafa bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih dari Rafa kepadamu, Ya Allah" batin Rafa sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman yang terlihat sangatlah samar-samar di wajahnya yang tampan tersebut.


"Um, Rai, you don't want to bribe your brother because you still have two hands that function properly (Um, Rai, kakak tidak mau bersuap-suapan dengan kakakmu itu karena kakak masih punya dua tangan yang berfungsi dengan baik)" tolak Nara dengan sangat halus sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik adik ipar perempuannya tersebut.


Nara dan Rafa pun pada akhirnya mulai menyantap hidangan sarapan mereka yang kesiangan yang bermenukan roti bakar buatan seorang perempuan yang berstatus menjadi seorang Mama bagi Rafa dan juga berstatus menjadi seorang Mama mertua bagi Nara.


15 menit kemudian, mobil yang berwarna putih yang di kemudikan oleh Raihan tersebut pun kini sudah terparkir dengan sangat rapi di dalam parkiran mobil khusus untuk anggota keluarga Abayomi.


Nara, Rafa, Rafi, dan juga Raihana pun dengan segera berpamitan kepada Raihan yang notabenenya adalah seorang Papa bagi Rafa, Rafi, dan juga Raihana serta seorang Papa mertua bagi Nara tersebut.


"Papa, Nara, Rafa, Rafi, and Raihana went to school first. Pray for us that it will be easier for us to study subjects at school, okay Pa? (Papa, Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana pergi ke sekolah dahulu ya. Doakan kami agar di beri kemudahan dalam mempelajari mata pelajaran di sekolah, ya Pa?)" ucap Nara sembari mencium punggung tangan milik seorang laki-laki yang berstatus menjadi seorang Papa mertua baginya tersebut.


"Yes, Papa will definitely pray about this for Papa's favorite daughter-in-law, Papa's twin sons, and Papa's daughter. Papa even prayed that all of Papa's children would be selected to represent Indonesia in the International Olympics (Ya, Papa pasti akan mendoakan hal ini untuk menantu kesayangan Papa, kedua putra kembar Papa, serta anak perempuan Papa ini. Bahkan Papa juga berdoa supaya anak-anak Papa ini semuanya terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang olimpiade tingkat Internasional)" jawab Raihan sembari mengelus-elus puncak kepala dari menantu kesayangannya dan anak perempuannya tersebut dengan sangat lembut secara bergantian.


Setelah selesai berpamitan kepada Raihan yang notabenenya adalah seorang Papa bagi Rafa, Rafi, dan juga Raihana serta seorang Papa mertua bagi Nara, Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana pun segera turun dari mobil milik Raihan tersebut untuk segera menuju ke arah kelas mereka berempat masing-masing.


Belum sampai di kelas mereka berempat masing-masing, kini terlihatlah ratusan atau bahkan ribuan siswa siswi Sekolah Internasional yang kini tengah berkumpul di lapangan Sekolah Internasional tersebut.

__ADS_1


Nara yang melihat pemandangan yang tak biasa di depannya pun di buat menjadi sangat bingung dan terheran-heran mengenai ratusan atau bahkan ribuan siswa siswi yang kini tengah berkumpul di lapangan Sekolah Internasional tersebut.


Kini, Nara pun sedang menerka-nerka sendiri di dalam pikirannya tersebut mengenai para siswa siswi Sekolah Internasional yang kini tengah berkumpul di lapangan Sekolah Internasional tersebut.


"Korehanandesuka? Genzai, intānashonarusukūru no seito zen'in ga intānashonarusukūru no fīrudo ni atsumatte iru no wa nazedesu ka? Genzai, intānashonarusukūru no sensei ya intānashonarusukūru zaidan no chō ga tsutaerubeki hijō ni jūyōna koto ga aru yōdesu. (Ada apa ini? Kenapa semua siswa siswi Sekolah Internasional semuanya sekarang sedang berkumpul di lapangan Sekolah Internasional? Sepertinya saat ini ada hal yang sangat penting untuk di sampaikan oleh para guru-guru dari Sekolah Internasional atau bahkan Ketua Yayasan Sekolah Internasional?)" batin Nara sembari melangkahkan kedua kakinya tersebut menuju ke arah barisan kelas 11 IPA 1 yang mengikuti langkah kaki dari suami kecilnya dan adik ipar laki-lakinya tersebut.


Walaupun merasa sangat bingung dan terheran-heran, Nara pun akhirnya juga bergabung dengan teman-teman sekelasnya di barisan kelas 11 IPA 1. Selain itu, Nara juga tidak menanyakan mengenai hal ini kepada teman-teman sekelasnya karena Nara ingin dirinya tahu dengan sendirinya.


Vannesha dan Anissa yang berdiri tepat di samping kanan dan kini Nara pun kini dengan sigap merentangkan kedua tangan mereka masing-masing untuk memeluk tubuh Nara yang notabenenya adalah sahabat mereka dengan sangat erat.


"Hello, Nara. Good morning. Me and Nesha have been waiting for your arrival! (Halo, Nara. Selamat pagi. Aku dan Nesha sedari tadi sudah menunggu kedatanganmu!)" ucap Anissa dengan nada bicaranya yang sangatlah tenang sembari memeluk dengan sangat erat tubuh Nara yang notabenenya adalah sahabatnya tersebut.


Berbeda 360 detajat dengan Anissa yang nada bicaranya sangatlah tenang, Vannesha berbicara kepada Nara yang notabenenya adalah sahabatnya tersebut dengan menyeletuk dan nada bicaranya yang terkesan terburu-buru.


"Hey, Nara. Good morning. Why are you late for school this morning? Did you stay up all night? (Hei, Nara. Selamat pagi. Kenapa kamu terlambat berangkat ke sekolah pada pagi hari ini? Apakah kamu begadang semalaman?)" celetuk Vannesha dengan nada bicaranya yang terkesan terburu-buru sembari mengarahkan kedua bola matanya untuk menatap ke arah wajah tampan milik Rafa yang kini sedang berdiri di barisan laki-laki kelas 11 IPA 1.


Nara pun tentunya paham dengan makna dan maksud dari kata 'Begadang semalaman' yang di ucapkan oleh Vannesha yang notabenenya adalah sahabatnya yang berada di Indonesia tersebut.


Mungkin, bisa di katakan jika Nara terjebak dalam lingkaran pergaulan yang sudah bisa di pastikan otak dan akal sehat dari para anggota dari lingkaran pergaulan itu sedikit miring. Karena lingkaran pergaulan itulah Nara juga terkena dampaknya seperti pada saat ini.


"Nē, nesha. Naze anata no kokoro wa sono yōna subete no hen'na kangae de mitasa rete iru nodesu ka? Aina no kyarakutā no fukuseidearu anata no kyarakutā ni tsuite kangaeru no o yame rarenai (Hei, Nesha. Kenapa pikiranmu itu di isi oleh semua pikiran mesum seperti itu? Aku tak habis pikir dengan sifatmu yang merupakan duplikat dari sifatnya Aina)" batin Nara sembari menatap dengan tatapan yang bermakna ketidakpercayaan yang mendalam ke arah wajah cantik milik Vannesha tersebut.


"Hello, Nissa and Nesha. Good morning to both of you too. Sorry for making you wait a long time for my arrival. I slept too little that night. It's just because I was exhausted because of my activities that faced the three of you last night, I felt very tired (Halo, Nissa dan Nesha. Selamat pagi juga untuk kalian berdua. Maaf telah membuat kalian menunggu lama kedatanganku ya. Aku tidur tidak terlalu malam pada semalam. Hanya saja karena aku kelelahan karena aktifitasku yang menghadapi kalian bertiga pada semalam, jadinya aku merasa sangat kelelahan)" sindir Nara dengan halus sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik kedua sahabatnya tersebut.


Beberapa saat kemudian, ada sebuah suara yang berat khas suara laki-laki yang di perbesar menggunakan mikrofon yang menarik perhatian semua siswa siswi Sekolah Internasional tersebut.


"Good morning all International School students. As usual, on March 5, the school will announce outstanding students to represent Indonesia in the International Olympics (Selamat pagi semua siswa-siswi Sekolah Internasional. Seperti biasanya, pada tanggal 5 Maret pihak sekolah akan mengumumkan siswa-siswi yang berprestasi untuk mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade tingkat Internasional)" ucap Pak Harun yang di ketahui menjabat sebagai Kepala Yayasan Sekolah Internasional tersebut.


"Good morning, sir (Selamat pagi, Pak)" jawab semua siswa-siswi Sekolah Internasional secara bersamaan.


"Well, you will start first mentioning the international high school students who will represent Indonesia in the International Olympics. They are Narahita Hideko Yamada from grade 11 IPA 1 who will represent Indonesia in the International Mathematics Olympiad, Muhammad Rafardhan Abayomi from grade 11 IPA 1 who will represent Indonesia in the International Science Olympiad, Muhammad Rafirdhan Abayomi and Vannesha Mikhayle Faresta from grade 11 IPA 1 who will represent Indonesia in the Badminton Olympiad at the Indonesian level, Anissa Kyara Zahran from class 11 IPA 1 who will represent Indonesia in the International English Debate Olympiad, Alexandria Lovelycia from class 11 IPS 1 who will represent Indonesia in the International Swimming Olympics, and Michelia Querencia Lovandra from class 11 Language 1who will represent Indonesia in the Japanese Language Debate Olympiad (Baiklah, Bapak akan mulai terlebih dahulu menyebutkan siswa-siswi SMA Internasional yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade tingkat Internasional. Mereka adalah Narahita Hideko Yamada dari kelas 11 IPA 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Matematika tingkat Internasional, Muhammad Rafardhan Abayomi dari kelas 11 IPA 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Sains tingkat Internasional, Muhammad Rafirdhan Abayomi dan Vannesha Mikhayle Faresta dari kelas 11 IPA 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Badminton tingkat Indonesia, Anissa Kyara Zahran dari kelas 11 IPA 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Debat Bahasa Inggris tingkat Internasional, Alexandria Lovelycia dari kelas 11 IPS 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Renang tingkat Internasional, serta Michelia Querencia Lovandra dari kelas 11 Bahasa 1 yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Debat Bahasa Jepang)" ucap Pak Harun dengan nada bicaranya yang terdengar sangatlah tegas di telinga para siswa-siswi Sekolah Internasional.

__ADS_1


__ADS_2