
Rania pun kini di buat menjadi sangat geram dan kesal oleh perkataan anak perempuannya tersebut yang mengatakan bahwa anak perempuannya tersebut sanggup untuk menghancurkan dapur kesayangannya.
Sangkin kesalnya, Rania bahkan tak dapat menghitung lagi berapa kali Rania telah mengumpati anak perempuannya tersebut walaupun hanya di dalam hatinya saja.
"Ah, shit. How could my own daughter say if she could destroy my favorite kitchen! Don't hope I can forgive you if you destroy my favorite kitchen! (Ah, sial. Bisa-bisanya anak perempuanku sendiri yang mengatakan jika sanggup untuk menghancurkan dapur kesayanganku itu! Jangan harap bisa ku ampuni kamu jika kamu sampai menghancurkan dapur kesayanganku!)" batin Rania sembari menatap dengan tatapan yang menyiratkan kemarahan ke arah wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut.
Raihana yang pada dasarnya pandai untuk mengartikan tatapan dari seseorang pun kini sedang bersusah payah menelan salivanya sendiri ketika mengetahui arti dari tatapan yang di berikan oleh sang Mama kepadanya.
"Um, I'm sorry Raihana, Mama. Rai accidentally said those words earlier. If Rai could take back Rai's words that Rai had said earlier, surely now Rai has taken those words back, Mama! Rai please, don't Mama look at Rai's beautiful and cute face with a look like that! Rai feels that this Mama is a predator and I am a prey (Emh, maafakan Raihana, Mama. Rai tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu tadi. Andaikan Rai bisa menarik kembali kata-kata Rai yang telah Rai ucapkan tadi, pastinya sekarang kata-kata itu sudah Rai tarik kembali, Mama! Rai mohon, janganlah Mama menatap wajah Rai yang cantik dan imut ini dengan tatapan yang seperti itu! Rai merasa jika Mama ini adalah seekor predator dan aku ini adalah seekor mangsanya)" batin Raihana sembari bersusah payah untuk mencoba menelan salivanya sendiri.
Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara detak dari jam dinding yang terpasang di dalam kamar Raihana tanpa ada satu pun dari Nara, Raihana, dan Rania yang mengeluarkan satu patah kata pun.
Nara, Raihana, dan Rania pun sekarang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Nara yang sibuk memikirkan cara memecahkan keheningan di antara dirinya, adik iparnya, dan Mama mertuanya. Raihana yang masih sibuk ketakutan akan tatapan yang di berikan oleh sang Mama kepadanya. Dan Rania yang sekarang masih marah kepada anak perempuannya tersebut karena anak perempuannya mengatakan bahwa dirinya sanggup untuk menghancurkan dapur kesayangannya.
Rania yang kini masih tersulut amarah karena perkataan anak perempuannya yang mengatakan bahwa dirinya sanggup untuk menghancurkan dapur kesayangannya pun kini semakin mengancam anak perempuannya tersebut walaupun hanya di dalam hatinya saja.
"If you still dare to say that you can destroy Mama's favorite kitchen, then Mama will send you to North Korea to torture you in a country closed to the outside world! You'll see if you really want to destroy Mama's favorite kitchen, Myesha Raihana Abayomi! (Jika masih berani kamu mengatakan bahwa kamu sanggup menghancurkan dapur kesayangan Mama, maka Mama akan mengirimmu ke Korea Utara agar kamu tersiksa di negara yang tertutup dengan dunia luar! Lihat saja nanti jika kamu memang benar-benar akan menghancurkan dapur kesayangan Mama, Myesha Raihana Abayomi!)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan kemarahan.
Raihana yang bisa mengartikan tatapan yang di berikan oleh sang Mama dan isi hati serta pikiran sang Mama pun kini di buat menjadi sangat ketakutan dengan ancaman yang di berikan oleh sang Mama.
"Ah, not Mama! Don't let Mama send Rai to North Korea! Rai doesn't want to stay in North Korea! In South Korea, Raihana wanted to live there! (Ah, jangan Mama! Jangan sampai Mama mengirim Rai ke Korea Utara! Rai tidak mau tinggal di Korea Utara! Kalau di Korea Selatan, Raihana baru mau tinggal di sana!)" batin Raihana sembari bersusah payah untuk mencoba menelan salivanya sendiri.
Nara yang menyadari suasana yang semakin memanas di antara sang Mama mertua dan adik iparnya pun mencoba untuk mencari cara agar bisa meredakan suasana yang kini semakin memanas di antara sang Mama mertua dan adik iparnya tersebut.
"Kore wa dō? Giri no mama to giri no imōto no ma no danbō no fun'iki o yawarageru ni wa, do no yōna hōhō ga arimasu ka? Arrā yo, Nara ga giri no mama to giri no shimai no Nara no ma no atsukunaru fun'iki o shizumeru hōhō o mitsukeru no o tetsudattekudasai! (Bagaimana ini? Apa cara yang akan aku ambil untuk meredakan suasana yang semakin memanas di antara Mama mertuaku dan adik iparku ini? Ya Allah, tolonglah Nara untuk menemukan cara agar bisa meredakan suasana yang semakin memanas di antara Mama mertua dan adik iparnya Nara!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama mertua serta wajah cantik dan imut milik adik iparnya tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat memikirkan cara untuk meredakan suasana yang kini semakin memanas di antara sang Mama mertua dan adik iparnya, kini Nara pun sudah menemukan sebuah cara untuk meredakan suasana yang sekarang semakin memanas di antara sang Mama mertua dan adik iparnya tersebut.
"Ō arrā, giri no mama to giri no shimai Nara no ma de ima atsuku natte iru fun'iki o ochitsuka seru hōhō o teikyō shite kurete arigatō. Nara wa anata ni totemo kansha shite imasu, arrā yo! (Ya Allah, terima kasih sudah memberikan cara untuk meredakan suasana yang sekarang semakin memanas di antara Mama mertua dan adik iparnya Nara. Nara sangat berterima kasih padamu, Ya Allah!)" batin Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
Keheningan, kecanggungan, dan suasana di antara Nara, Raihana, dan juga Rania yang kini semakin memanas pun seakan terpecah belah menjadi bekeping-keping ketika Nara yang kini sudah memulai membuka suaranya.
"Emm, Mama, Raihana. Can we start making birthday cakes for Rafa and Rafi? Now it's 15:45 WIB. If we make it later, then we won't have enough time to serve birthday cakes for Rafa and Rafi (Emm, Mama, Raihana. Bisakah kita mulai membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi? Sekarang sudah jam 15:45 WIB. Jika kita membuatnya nanti, maka waktu kita tidak akan cukup untuk menghidangkan kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi)" ucap Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut secara perlahan-lahan.
Ekspresi wajah Raihana pun kini sudah berubah drastis sebanyak 360 derajat. Dari ekspresi wajah Raihana yang menyiratkan kecemasan dan ketakutab tersendiri, kini ekspresi wajah Raihana menyiratkan kebahagiaan yang tidak bisa di ungkitkan dengan serangkaian kata-kata.
Sangkin bahagianya, bahkan kini senyuman lebar yang tersungging di wajah cantik dan imut milik Raihana tersebut tidak pernah memudar, bahkan senyumannya itu semakin mengembang di wajahnya yang cantik tersebut hingga membuat kedua pipinya terlihat sangat menggembung.
Di dalam hatinya, Raihana terus mengungkapkan rasa terima kasihnya dan rasa kasih sayangnya kepada kakak ipar kesayangannya tersebut. Walaupun hanya bisa terucap di dalam hatinya, Raihana bahkan sampai berjanji akan mengungkapkan rasa terima kasihnya dan rasa kasih sayangnya kepada kakak ipar kesayangannya tersebut dengan perbuatan, bukan dengan serangkaian kata-kata.
"Thank you, sister-in-law. Thank you very much, my dear sister-in-law! I don't know how to express my gratitude and affection for you, my beloved sister-in-law. What is certain is that I am very grateful to you for saving me from Mama's tantrums, and also I love you more than I love myself. I am Myesha Raihana Abayomi, will promise to express my gratitude and love to my beloved sister-in-law with deeds, not with a series of words! (Terima kasih, kakak iparku. Terima kasih banyak, kakak ipar kesayanganku! Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihku dan rasa kasih sayangku kepadamu, kakak ipar kesayanganku. Yang pastinya aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku dari amukan Mama, dan juga aku sangat menyayangimu lebih dari menyayangi diriku sendiri. Aku Myesha Raihana Abayomi, akan berjanji untuk mengungkapkan rasa terima kasihku dan rasa sayangku kepada kakak ipar kesayanganku dengan perbuatan, bukan dengan serangkaian kata-kata!)" batin Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik kakak ipar kesayangannya tersebut.
"Umm, I know why my beloved sister-in-law said that we should start making birthday cakes for my two twin brothers. The answer is, because my beloved sister-in-law wants to hurry up so that Rafa can eat the birthday cake made by sister-in-law right? (Umm, aku tahu kenapa kakak ipar kesayanganku ini mengatakan bahwa kita harus mulai membuat kue ulang tahun untuk kedua kakak laki-laki kembarku ini. Jawabannya adalah, karena kakak ipar kesayanganku ini ingin cepat-cepat agar kak Rafa bisa menyantap kue ulang tahun buatan kakak ipar bukan?)" goda Raihana sembari mengedipkan salah satu matanya kepada kakak ipar kesayangannya tersebut.
Sontak saja Nara di buat menjadi sangat malu sekaligus kesal oleh adik iparnya tersebut. Kedua pipi Nara yang chubby itu pun kini terasa sangat panas karena wajahnya yang sudah sangat memerah. Untuk menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah seperti kepiting rebus, Nara menggunakan kedua tangannya untuk menutupi seluruh wajahnya yang sudah sangat memerah tersebut.
"Īe, rai. Sore wa anata no giri no kyōdai ga imi shita kotode wa arimasen! Ani wa watashitachi ga rafa to rafi no tanjōbi kēki o jikandōrini teikyō dekiru koto o imi shita dakedeshita. Sore wa anata ga kyōdai o imi suru subetedesu, hoka ni wa nani mo arimasen! Giri no kyōdai ga itta koto o naze gokai shite iru nodesu ka? (Bukan, Rai. Bukan itu maksud kakak iparmu itu! Maksud kakak itu hanya ingin kita bisa menghidangkan kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi dengan tepat waktu. Hanya itu saja maksud kakak, tidak ada yang lain! Kenapa kamu justru menyalah artikan maksud dari perkataan kakak iparmu ini?)" batin Nara sembari menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.
Baru saja Nara akan memberikan jawaban kepada adik iparnya tersebut, namun sang Mama mertua sudah lebih dahulu memotong ucapannya sebelum dirinya bisa memberikan jawaban kepada adik iparnya tersebut.
"Um, Mama really agrees with what Mama's favorite daughter-in-law says. If we make birthday cakes for Mama's twin sons not now, then later we will be too late to serve birthday cakes for Mama's twins. (Emm, Mama sangat setuju sekali dengan ucapan menantu kesayangan Mama ini. Jika kita membuat kue ulang tahun untuk kedua putra kembar Mama itu bukan sekarang, maka nanti kita bisa terlambat untuk menghidangkan kue ulang tahun untuk kedua putra kembarnya Mama)" ucap Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya tersebut.
__ADS_1
"Oh yes, can Mama's favorite daughter-in-law make a birthday cake? (Oh ya, apakah menantu kesayangan Mama ini bisa membuat sebuah kue ulang tahun?)" lanjut Rania sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang cantik tersebut.
"Of course, Ma. Nara has often helped her mother Nara to make a birthday cake if it is Papa, Nandito, or our relatives if someone has a birthday (Tentu saja, Ma. Nara sudah sering membantu Mamanya Nara untuk membuat sebuah kue ulang tahun jika Papa, kak Nandito, ataupun kerabat kami jika ada yang sedang berulang tahun)" jawab Nara sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
"Oh yes, Mama. What kind of birthday cake are we going to make for Rafa and Rafi this time? (Oh ya, Mama. Kita akan membuat kue ulang tahun yang seperti apa untuk Rafa dan Rafi kali ini?)" tanya Nara kepada sang Mama mertua sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama mertua tersebut.
Raihana yang melihat dan mendengar sendiri percakapan di antara sang Mama dan kakak ipar kesayangannya tersebut pun kini merasa terabaikan karena tidak di ajak untuk bergabung di dalam percakapan di antara sang Mama dan kakak ipar kesayangannya tersebut.
Walaupun Raihana sekarang merasa bahwa dirinya tengah di abaikan oleh sang Mama dan kakak ipar kesayangannya, namun Raihana tak seberani itu untuk mengungkapkan perasaan marah dan kecewa kepada sang Mama dan kakak ipar kesayangannya tersebut yang di nilainya sebagai dua orang perempuan yang sangat berarti baginya.
"Sob, I now feel that I am being neglected by my own beloved Mama and sister-in-law. Even so, I felt that I really didn't have the courage to express this feeling of anger and disappointment to my beloved Mama and sister-in-law. I feel that you are two women who are very meaningful in my life. Therefore, I don't want my beloved Mama and sister-in-law to know feelings of anger and disappointment towards you two, my beloved Mama and sister-in-law! (Hiks, aku sekarang merasa bahwa diriku sekarang sedang di abaikan oleh Mama dan kakak ipar kesayanganku sendiri. Walaupun begitu, aku merasa sangat tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan marah dan kecewa ini kepada Mama dan kakak ipar kesayanganku ini. Aku merasa bahwa kalian ini adalah dua orang perempuan yang sangat berarti dalam hidupku. Maka dari itu, aku tidak ingin Mama dan kakak ipar kesayanganku ini tahu perasaan marah dan kecewa kepada kalian berdua, Mama dan kakak ipar kesayanganku!)" batin Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama dan kakak ipar kesayangannya tersebut.
"Mama's favorite daughter-in-law, you make a pink and white birthday cake with a hello kitty decoration on it for your husband. Meanwhile, Mama and Raihana will make a rainbow-colored birthday cake decorated with the My Little Pony character for Rafi, okay? (Menatu kesayangan Mama, kamu membuat kue ulang tahun yang berwarna pink putih dengan hiasan hello kitty di atasnya ya untuk suamimu itu. Sedangkan Mama dan Raihana akan membuat kue ulang tahun berwarna pelangi yang berhiaskan karakter My Little Pony untuk Rafi, oke?)" ucap Rania sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang cantik tersebut.
Kini, terlihatlah ekspresi wajah Nara yang menyiratkan sedikit keraguan untuk menjawab pertanyaan dari sang Mama mertua yang bisa di bilang sangatlah aneh dan tidak masuk akal.
Berkali-kali, Nara pun berpikir untuk mengiyakan atau tidak atas pertanyaan dari sang Mama mertuanya tersebut yang bisa di bilang sangatlah aneh dan tidak masuk akal tersebut.
"Kore wa dō? Hijō ni kimyōde bakagete iru to kangae rarete iru giri no mama kara no shitsumon ni hai' matawaīe' de kotaerubekidesu ka? Watashi wa gibo ni totemo odoroite imasu, naze anata wa kono yōna kimyōna koto o kangaeru nodesu ka? (Bagaimana ini? Apakah aku harus menjawab iya atau tidak pertanyaan dari Mama mertuaku yang terbilang sangatlah aneh dan tidak masuk akal itu? Aku sangatlah heran dengan Mama mertuaku ini kenapa bisa terpikirkan hal-hal yang aneh seperti ini?)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama mertua tersebut.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang keputusannya, pada akhirnya Nara pun memutuskan untuk mengiyakan atas pertanyaan sang Mama mertuanya tersebut.
"Okay, Mama. Nara is willing! (Oke, Mama. Nara bersedia!)" ucap Nara sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
Perasaan marah dan kecewa yang bersarang di dalam hati Raihana pun seketika sirna ketika mendengar perkataan sang Mama yang terbilang sangatlah aneh dan tidak masuk akal tersebut.
__ADS_1
Raihana pun kini di buat menjadi tertawa dengan terbahak-bahak karena mendengar perkataan sang Mama yang terbilang sangatlah aneh dan tidak masuk akal tersebut.
"Ha ha ha. A pink and white birthday cake decorated with hello kitty and a rainbow birthday cake decorated with My Little Pony characters is ridiculous if the cake is made into a birthday cake for a boy! (Hahaha. Kue ulang tahun bernuansa pink putih dengan hiasan hello kitty serta kue ulang tahun bernuansakan pelangi dengan hiasan karakter My Little Pony sangatlah menggelikan jika kue tersebut di jadikan kue ulang tahun untuk seorang laki-laki!)" ucap Raihana sembari tertawa dengan terbahak-bahak.