Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 18 - Teman Dan Sahabat Baru


__ADS_3

"Sudah berapa kali aku katakan padanya agar menjaga mulut dan ucapannya ketika berbicara di depan Raihana! Dasar suami bandel, di bilangin untuk kebaikan bersama masih saja melanggar! Awas saja jika nanti malam kamu mendekat padaku nanti akan ku tendang ke stadion bung karno! Lihat saja kamu!" batin Rania sembari menatap kesal kepada sang suami.


Karena tak bisa membendung lagi rasa kekesalannya, akhirnya Rania mengekspresikan kekesalannya dengan mencubit dengan keras perut sang suami.


Sontak saja Raihan yang mendapatkan cubitan dari sang istri pun mengaduh kesakitan. Namun, Rania tetap tak memperdulikan sang suami karena amarah yang masih menyelimuti dirinya.


"Ah, what is this Mama? Why did you pinch Papa's stomach so hard? (Ah, Mama ini apa-apaan sih? Kenapa Mama justru mencubit perut Papa dengan keras?)" rintih Raihan sembari memegangi perutnya yang terkena cubitan keras dari sang istri.


"Still asking why? It should be Papa who asked that to himself! (Masih bertanya kenapa? Seharusnya Papalah yang bertanya hal itu kepada diri Papa sendiri!)" ucap Rania sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Ah, never mind Ma. Men are always wrong in the eyes of women (Ah, sudahlah Ma. Laki-laki memanglah selalu salah di mata perempuan)" ucap Raihan sembari menatap wajah cantik milik sang istri dengan tatapan jenuhnya.


"Indeed, men should be self-conscious! It's good that Papa is self-conscious (Memang seharusnya laki-laki harus sadar diri! Baguslah jika Papa sudah sadar diri)" ucap Rania sembari menatap wajah tampan milik sang suami dengan tatapan tajamnya.


Sementara itu Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana masih setia menjadi penonton dari debat panjang Rania dan Raihan tanpa memperdulikan hidangan sarapan mereka yang sudah siap untuk di santap.


Rafa pun merasa sangat jenuh dengan tingkah laku sang Mama dan sang Papa yang sangat kekanak-kanakan. Sehingga Rafa pun memilih untuk memisahkan sang Mama dan sang Papa dengan cara menegurnya.


"Never mind, Ma. If Mama and Papa were still arguing when we would eat breakfast? It's 6:15 a.m. already. This means that our time to go to school on time is only 45 minutes away (Sudahlah, Ma. Jika Mama dan Papa masih saja berdebat kapan kami akan memakan sarapannya? Ini sudah jam 6:15 pagi. Artinya waktu kami untuk berangkat ke sekolah dengan tepat waktu hanyalah 45 menit lagi)" ucap Rafa dengan nada biacaranya yang datar dan juga ekspresi wajahnya yang datar.


Seketika Rania pun langsung sadar jika ketiga anaknya dan juga menantunya tak kunjung menyantap hidangan sarapan mereka. Dan waktu mereka untuk berangkat ke sekolah dengan tepat waktu hanyalah tinggal tersisa waktu 45 menit lagi.


"Yes, you guys hurry up and eat your breakfast. After this you will go to school with your papa (Ya sudah kalian segeralah menyantap hidangan sarapan kalian. Setelah ini kalian akan berangkat ke sekolah dengan di antar Papa kalian)" ucap Rania dengan santai seperti tidak ada masalah yang sudah di timbulkan olehnya.


Rania, Raihan, Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana mulai menyantap hidangan sarapan mereka masing-masing dengan tak lupa mengucapkan doa sebelum makan dalam agama Islam.


Suasana di ruang makan sangatlah sepi dan sunyi ketika seluruh anggota keluarga Abayomi sedang menyantap hidangan sarapan mereka masing-masing.


15 menit kemudian, Raihan, Rania, Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana sudah selesai menyantap hidangan sarapan mereka masing-masing.


Raihan, Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana segera bangkit berdiri dari duduknya karena Raihan akan pergi ke kantor dan Rafa, Nara, Rafi, berserta Raihana akan pergi ke sekolah.


Sebelum berangkat ke sekolah, tak lupa untuk Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana menyalimi Rania sekaligus berpamitan untuk pergi ke sekolah.


"Mama, Nara, Rafa, Rafi, and Rai will go to school first (Mama, Nara, Rafa, Rafi, dan Rai akan pergi ke sekolah dulu ya)" ucap Nara yang mewakili suami kecilnya, dan kedua adik iparnya sembari menyalami tangan sang Mama mertua.


Rafa, Rafi, dan Raihana pun melakukan hal yang serupa dengan yang di lakukan Nara kepada sang Mama.


"Ok. Hopefully Nara is happy with her new school. And also you have to study hard so you can take part in the Olympics and make achievements, okay? (Baiklah. Semoga Nara senang dengan sekolah barunya. Dan juga kalian harus berlajar dengan giat supaya bisa mengikuti olimpiade dan menorehkan prestasi, oke?)" ucap Rania sembari memberikan kedua jempolnya kepada ketiga anaknya dan juga menantunya.


"Alright Ma (Baiklah Ma)" ucap Nara dan Raihana secara bersamaan dengan memberikan kedua jempol mereka kepada Rania.


"Alright, let's go now kids! (Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang anak-anak!)" ucap Raihan sembari melangkahkan kakinya dari ruang makan menuju ke arah garasi mobil yang terletak di samping rumah keluarga Abayomi.


Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana segera mengikuti langkah Raihan dari ruang makan menuju ke arah teras rumah keluarga Abayomi.

__ADS_1


Setelah sampai di depam teras keluarga Abayomi, terlihatlah sebuah mobil berwarna putih milik Raihan sudah terparkir di halaman depan rumah keluarga Abayomi.


Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana pun segera berjalan menuju ke arah mobil putih tersebut berada.


Sesudah sampai di dekat mobil putih tersebut, Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana langsung membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil. Dengan Rafi yang duduk di kursi penumpang depan, berserta Rafa, Nara, dan Raihana duduk di kursi penumpang bagian tengah.


Melihat ketiga anaknya dan juga menantunya sudah ada di dalam mobil, Raihan langsung menyalakan mesin mobilnya dan mejalankan mobilnya menuju ke arah sekolah Internasional School yang merupakan tempat ketiga anaknya dan juga menantunya bersekolah. Dengan Rafa, Nara, dan Rafi yang bersekolah di Internasional Senior High School atau setara dengan Sekolah Menengah atas, dan Raihana yang bersekolah di Internasional Junior High School atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama.


Di dalam mobil terdapat suasana ramai karena Raihana yang tak henti-hentinya untuk mengajak kakak iparnya bercerita selagi masih di perjalanan menuju ke arah sekolah.


"My very beautiful sister-in-law, how does it feel to study in Japan? (Kakak iparku yang sangat cantik, bagaimana rasanya bersekolah di Jepang?)" tanya Raihana sembari bergelayut manja di lengan kakak iparnya.


"It feels so good. There, students are taught to be disciplined and independent from childhood. That's what makes me amazed by the school system in Japan. But unfortunately there are no religious lessons in public schools, because the Japanese government has banned it. You can get Islamic religious lessons because you attend private international schools (Rasanya sangat menyenangkan. Di sana pelajar sangat di ajari untuk disiplin dan mandiri sedari kecil. Itu yang membuatku menjadi kagum dengan sistem sekolah yang ada di Jepang. Tapi sayangnya di sekolah negeri tidak ada pelajaran agama, karena pemerintah Jepang sudah melarangnya. Kakak bisa mendapatkan pelajaran agama Islam karena kakak bersekolah di sekolah swasta bertaraf internasional)" ucap Nara dengan panjang lebar sembari mengelus lembut kepala sang adik ipar.


"Oh, yes? It feels very unfair to not have religious lessons in public schools in Japan (Oh ya? Rasanya sangat tidak adil sekali dengan di tidak adakannya pelajaran agama di sekolah negeri di Jepang)" ucap Raihana dengan nada bicaranya yang menyiratkan kekecewaan sembari menatap wajah sang kakak ipar dengan tatapannya yang lekat.


"Yes, that's how Rai is. How does it feel to study in Indonesia? Are the school hours as long as in Japan? In Japan, school one day is 10 hours from 7 am to 5 pm, and this is only done for 5 days a week (Ya, begitulah adanya Rai. Bagaimana rasanya bersekolah di Indonesia? Apakah jam sekolahnya sepanjang di Jepang? Kalau di Jepang sekolah satu hari itu 10 jam dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, dan hal ini hanya di lakukan selama 5 hari saja dalam seminggu)" tanya Nara dengan nada bicaranya yang terdengar sangat bersemangat.


"It feels good because I can make friends from abroad who are doing student exchanges. I feel this because I go to an international school. In Indonesia, school is only 7 hours a day from 7 am to 2 pm and this is done 5 days a week. The time is quite short when compared to schools in Japan or Korea (Rasanya menyenangkan karena bisa mendapatkan teman dari luar negeri yang sedang melakukan pertukaran pelajar. Hal ini aku rasakan karena aku bersekolah di sekolah yang bertaraf internasional. Di Indonesia sekolah hanya 7 jam dalam sehari mulai dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang dan ini di lakukan selama 5 hari dalam seminggu. Waktu yang cukup singkat jika di bandingkan dengan sekolah di Jepang atau di Korea)" ucap Raihana sembari menyunggingkan senyuman bahagia di wajahnya yang cantik.


Sementara itu Raihan, Rafa, dan Rafi yang menjadi pendengar setia dari obrolan antara Nara dan Raihana pun diam-diam menyunggingkan senyuman kecil di wajah mereka yang tampan.


Rafa dan Rafi sebenarnya merasa sangat terganggu dengan Raihana yang terus-terusan mengajak Nara untuk bercerita sepanjang perjalanan ke arah sekolah.


Namun berbeda dengan apa yang di rasakan oleh kedua putra kembarnya, Raihan justru merasa sangat bahagia karena Raihana mendapatkan teman untuk berbagi cerita.


Rafi yang sudah muak mendengar semua obrolan antara adik perempuannya dengan kakak iparnya pun langsung berusaha menghentikan adik perempuannya agar tidak berbicara lagi dengan cara apa pun.


"Raihana, brother Rafi's younger sister, can you be quiet for a moment? Brother's ears are so hot listening to all your babbling! (Raihana, adik perempuannya kak Rafi, apakah kamu bisa diam untuk sejenak? Telinga kakak sangat panas mendengarkan semua ocehanmu!)" ucap Rafi sembari menatap jengah ke arah wajah cantik milik adik perempuannya.


"Shut up? Even I don't know the word. I really can't stay still, because to me it's like being at a funeral, my annoying older brother! (Diam? Bahkan aku tidak mengenal kata itu. Aku sangat tidak bisa diam, karena bagiku itu seperti berada di pemakaman, kakak laki-laki ku yang menyebalkan!)" ucap Raihana sembari memasang ekspresi wajahnya yang konyol untuk membuat kakak laki-laki keduanya berhenti mengatakannya untuk diam.


"Whatever you say (Terserah kamu saja)" ucap Rafi sembari mulai mengalihkan wajah dan pandangannya untuk menatap ke arah jalanan yang ada di depannya.


Setelah 15 menit sudah berkendara dari rumah keluarga Abayomi menuju ke Internasional School milik keluarga Abayomi, kini mobil sudah berhenti di parkiran sekolah yang khusus di buat untuk keluarga Abayomi.


"Rafa, Nara, Rafi, and Rai, now you have arrived at school. Come on, hurry up and get down because the ceremony will surely start soon (Rafa, Nara, Rafi, dan Rai, sekarang kalian sudah sampai di sekolah. Ayo segeralah turun karena upacara pastinya akan segera di mulai nanti)" ucap Raihan sembari mengarahkan wajah dan pandangannya ke arah kursi penumpang yang ada di tengah.


Sebelum keluar dari mobil, Nara berjalan ke depan sedikit untuk menyalami sekaligus pamit kepada sang Papa mertua untuk bersekolah.


"Papa, Nara went to school first. Assalamualaikum (Papa, Nara sekolah dulu. Assalamualaikum)" ucap Nara sembari menyalami tengan sang Papa mertua.


"Waalaikumsalam (Waalaikumsalam)" jawab Raihan sembari memberikan senyuman terbaiknya kepada menantunya.


Rafa, Rafi, dan Raihana pun melakukan hal yang sama dengan hal yang di lakukan oleh Nara kepada sang Papa tadi.

__ADS_1


Setelah itu Rafa, Nara, Rafi, dan Raihana langsung keluar dari mobil berwarna putih tersebut. Dan terlihatlah banyak siswa-siswi sekolah Internasional yang sudah berada di sekolah.


"My brothers are beautiful and handsome, Rai went to school first. Hopefully the day of my beautiful and handsome sisters will be good and there will be no problems at all (Kakak-kakakku yang cantik dan tampan, Rai sekolah dulu ya. Semoga hari kakak-kakakku yang cantik dan tampan ini baik dan tidak ada masalah sedikit pun)" ucap Raihana sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya yang cantik.


"Alright Rai. Have a nice day. Don't forget to be passionate about learning! (Baiklah Rai. Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa semangat dalam belajar ya!)" ucap Nara sembari memberikan senyuman terbaiknya kepada sang adik ipar.


Raihana segera berjalan menuju ke arah gedung Internasional Junior High School. Sedangkan Rafa, Nara, dan Rafi segera berjalan menuju ke arah gedung Internasional Senior High School.


Sesampainya di gedung Internasional Senior High School, banyak yang menatap Nara dengan tatapan bingung lantaran Nara sedang berjalan dengan dua orang putra dari pemilik sekolah Internasional Ini.


"Who is the woman who walks with the sons of this school owner? (Siapakah seorang wanita yang berjalan dengan kedua putra dari pemilik sekolah ini?)" ucap salah satu siswi sembari menatap lekat ke arah Nara.


"Maybe he was Rafa's or Rafi's girlfriend (Mungkin saja dia pacar dari Rafa atau Rafi)" ucap salah satu siswi sembari menatap lekat ke arah Nara.


"She looks like a real Japanese (Kelihatannya dia seperti orang Jepang asli)" ucap salah satu siswi sembari menatap lekat ke arah Nara.


Rafa, Nara, dan Rafi masih tak menghiraukan para siswi-siswi yang masih bingung dengan adanya Nara yang berjalan bersama Rafa dan Rafi.


Rafa, Nara, dan Rafi terus berjalan menuju ke arah kelas 11 IPA 1 yang merupakan kelas yang berisikan orang-orang dengan IQ yang tinggi.


Sesampainya di kelas 11 IPA 1, Rafa, Nara, dan Rafi langsung menaruh tas mereka masing-masing di atas bangku mereka.


Dengan Rafi dan Nara yang duduk sebangku di bangku tengah paling depan. Sementara Rafi duduk di bangku nomor 2 atau bangku di belakang bangku Rafa dan Nara.


Rafa dan Rafi langsung pergi begitu saja setelah menaruh tas mereka di atas bangku mereka masing-masing.


Tentu saja hal ini membuat Nara bingung karena Nara merupakan siswi baru di sekolah Internasional ini. Bukannya di kenalkan dengan lingkungan sekolah, Rafa dan Rafi justru meninggalkan Nara di dalam ruang kelas 11 IPA 1.


Dari kejauhan ada dua orang siswi yang masih berada di kelas 11 IPA 1 yang melihat gerak-gerik Nara yang sekarang sedang merasa kebingungan.


Karena berniat ingin membantu Nara yang merupakan siswi baru di sekolah Internasional ini agar tidak merasa bingung lagi, akhirnya kedua siswi tersebut memutuskan untuk menemui Nara.


"Hello, are you a new student who feels confused? (Halo, apakah kamu siswi baru yang merasa kebingungan?)" tanya salah satu siswi tersebut kepada Nara.


Sontak saja Nara merasa sangat terkejut karena ada yang mengajaknya berbicara. Kedua siswi tersebut sekarang sudah berada di depan meja Rafa dan Nara.


"Hello. I am a new student who is feeling confused. Oh yes, what are your names? My name is Narahita Hideko Yamada, you can call me Nara. I'm a transfer student from Japan (Halo juga. Aku memang siswi baru yang sedang merasa kebingungan. Oh ya, siapa nama kalian? Namaku Narahita Hideko Yamada, kalian bisa memanggilku Nara. Aku sisiwi pindahan dari Jepang)" ucap Nara sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya yang cantik.


"No wonder you are very beautiful, because you really come from Japan. Oh yes, my name is Vannesha Mikhayle Faresta, you can call me Vannes or Nesha too (Pantas saja kamu sangat cantik, karena kamu memang berasal dari Jepang. Oh ya, perkenalkan namaku Vannesha Mikhayle Faresta, kamu bisa memanggilku Vannes atau Nesha juga boleh kok)" ucap Vannesha sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya.


"Hello Nara. My name is Anissa Kyara Zahran, you can call me Nissa (Halo Nara. Perkenalkan namaku Anissa Kyara Zahran, kamu bisa memanggilku Nissa)" ucap Anissa sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya.


"We hope you can become our friend as well as our best friend, Nara (Kami harap kamu bisa menjadi teman sekaligus sahabat kami, Nara)" ucap Vannesha dan Anissa secara bersamaaan sembari tersenyum lembut kepada Nara.


"Greetings to Nesha and Nissa. I will call you like this so that our nicknames are the same, which starts with N. I would be very happy if I could be your friend as well as your best friend (Salam kenal Nesha dan Nissa. Aku akan memanggil kalian seperti ini agar nama panggilan kita sama, yaitu berawalan N. Aku akan sangat senang jika bisa menjadi teman sekaligus sahabat kalian)" ucap Nara sembari tersenyum kepada Vannesha dan Anissa.

__ADS_1


"Of course now you are officially our friend and best friend, Nara (Tentu saja sekarang kamu sudah resmi menjadi teman dan sahabat kami, Nara)" jawab Vannesha dan Anissa secara bersamaan sembari menatap wajah cantik Nara dengan sangat lekat.


__ADS_2