
Rafa yang mendengar perkataan Kenzo yang mengataknnya 'Kakak yang possessif dan bawel' pun dengan perlahan menyunggingkan senyuman yang bermakna mengejek di wajahnya yang tampan.
"Bawel, isn't that the right word to pin you, Kenzo? So, why are you pinning it to me? (Bawel, bukankah itu kata yang pas untuk di sematkan padamu, Kenzo? Lantas, kenapa kamu menyematkannya padaku?)" tanya Rafa kepada Kenzo dengan memasang sebuah senyuman yang bermakna mengejek di wajahnya yang tampan.
Sontak saja Kenzo di buat menjadi sangat sangat kesal karena perkataannya yang tadinya di tujukan kepada Rafa kini kembali lagi kepadanya.
"Tsk, you are so annoying, Rafa! I hope that if you and Nara have children, your children will not follow your character, Rafa! (Ck, kamu ini begitu menyebalkan, Rafa! Aku harap jika kamu dan Nara sudah mempunyai anak, anak kalian tidak akan mengikuti sifatmu, Rafa!)" maki Kenzo sembari menatap ke arah wajah tampan milik Rafa dengan tatapan yang menyiratkan kekesalannya pada Rafa.
Terlihatlah Raihana yang berada di samping Kenzo yang memasang ekspresi cemberut di wajahnya yang cantik dan imut.
Karena tidak terima perkataan Kenzo yang berharap bahwa anak dari kakak laki-lakinya dan kakak iparnya tidak mengikuti sifat kakak laki-lakinya, Raihana pun melayangkan beberapa kalimat protes kepada Kenzo.
"Hey brother Ken! My nephew will definitely be adorable. Because, on their bodies there will be a mixture of Indonesian and Japanese blood. The Japanese are so cute, brother Ken! (Hei kakak Ken! Keponakanku nanti pastinya akan sangat menggemaskan. Karena, pada tubuh mereka nanti terdapat darah campuran Indonesia dan Jepang. Orang Jepang itu sangat menggemaskan, kakak Ken!)" protes Raihana sembari memukul-mukul salah satu lengan Kenzo yang ada di dekatnya.
Dengan perlahan-lahan Rafa pun menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang tak bisa di lihat oleh orang lain di wajahnya yang tampan itu.
Pikiran Rafa pun mulai berfantasi membayangkan jika dirinya dan Nara telah memiliki anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Sepertinya akan sangat menggemaskan sekali jika nantinya aku dan Nara sudah memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Sepulang kerja aku akan di suguhkan oleh senyuman manis dari anak-anakku dan mereka juga akan berlari menghampiriku dengan berteriak 'Papa' kepadaku. Jika ada waktu luang, aku akan menemani mereka bermain dan bercanda tawa bersama. Jika mereka sudah tumbuh besar menjadi dewasa, pastinya aku akan merindukan mereka yang pada saat itu masih kecil" batin Rafa sembari menyunggingkan senyuman tipis yang tidak bisa di lihat oleh orang lain di wajahnya yang tampan.
"Begitu menggemaskannya mereka jika wajah mereka lebih mirip dengan orang Jepang dari pada orang Indonesia. Ah, aku rasa aku sekarang hanya bisa berfantasi tentang mereka sebelum bisa mewujudkannya" batin Rafa sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang tidak bisa di lihat oleh orang lain di wajahnya yang tampan.
"So you hope that my children will follow their mother's character? Hey, Nara and I are almost the same. We were both closed, but I was cooler and Nara was warmer. There is nothing wrong if my children and Nara will follow our characteristics. What is certain is that they will get the intelligence and good at leading the company from their father and mother (Jadi kamu berharap untuk anak-anakku nanti agar mengikuti sifat ibunya? Hei, sifatku dan Nara itu hampir sama. Kami sama-sama terturutup, namun aku lebih dingin sedangkan Nara lebih hangat. Tiada salahnya jika anak-anakku dan Nara nanti mengikuti sifat-sifat kami berdua. Yang pastinya mereka akan mendapatkan kepandaian dan jago memimpin perusahaan dari ayah dan ibunya)" ucap Rafa sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang bermakna mengejek di wajahnya yang tampan.
"But believe me, my children and Nara will be very intelligent, leadership spirit, closed and calm, and they will look very charming because they are a mixture of Indonesian and Japanese. You need to trust this with me. If you want to find a wife, just find a Japanese girl so your kids will look really charming (Tapi percayalah, anak-anakku dan Nara nanti akan sangat cerdas, berjiwa kepemimpinan, tetutup dan tenang, serta mereka akan terlihat sangat menawan karena mereka campuran Indonesia dan Jepang. Kamu perlu mempercayai hal ini kepadaku. Jika kamu mau mencari istri, cari saja gadis Jepang agar anak-anakmu nanti akan terlihat sangat menawan)" ucap Rafa sembari menatap ke arah wajah tampan milik Kenzo dengan tatapan lekatnya.
Kenzo pun mulai berusaha mencerna ucapan Rafa yang di tujukan kepadanya. Apalagi yang bagian 'Cari saja gadis Jepang agar anak-anakmu nanti akan terlihat sangat menawan'.
Pikiran Kenzo pun mulai berputar-putar untuk bisa mencerna dan memahami semua maksud dari perkataan sahabatnya. Bahkan, Kenzo pun sampai membayangkan rasanya mempunyai istri yang berkewarganegaraan Jepang.
"How does it feel to have a wife who is a Japanese national? Already her face is beautiful and cute, independent and closed, and her body is white and smooth. Ah, I can't imagine it anymore! (Bagaimana rasanya memiliki istri yang berkewarganegaraaan Jepang? Sudah wajahnya yang cantik dan imut, bersifat mandiri dan tertutup, serta tubuhnya yang putih dan mulus. Ah, aku tidak bisa lagi membayangkannya!)" batin Kenzo sembari menaruh kedua tangannya di tulang rahangnya.
Setelah puas berbicara kepada Kenzo yang kini sedang mengincar adik perempuannya, Rafa pun segera mengalihkan pandangannya ke arah tirai bilik kamar istri kecilnya.
Dengan perlahan-lahan, Rafa pun melangkahkan kedua kakinya untuk memasuki bilik kamar istri kecilnya.
Srek
Suara tirai bilik kamar Nara yang di buka oleh Rafa. Setelah tirai bilik kamar istri kecilnya sudah terbuka, dengan segera Rafa berjalan menghampiri istri kecilnya.
Setelah sampai di dekat ranjang istri kecilnya, Rafa langsung menduduki sebuah kursi kosong yang berada tepat di sebelah ranjang istri kecilnya.
__ADS_1
Dengan perlahahan-lahan, Rafa pun mulai menggenggam erat salah satu tangan istri kecilnya yang ada di dekatnya.
Perlahan-lahan, Rafa pun mulai menitikkan air matanya ketika sudah berhasil menggenggam erat salah satu tangan istri kecilnya.
"Hachimitsu, naze kon'na kaze ni natte iru no? Gomen'nasai. Sā, okite, hanī. Koko de anata o matteimasu (Sayang, kenapa kamu menjadi seperti ini? Apa kamu tidak merasa kasihan kepadaku? Ayolah sadar, sayang. Aku menunggumu di sini)" ucap Rafa dengan lirih sembari menguatkan genggamannya pada salah satu tangan istri kecilnya yang berada di dekatnya.
Sementara itu di luar bilik kamar Nara
Raihana yang pada dasarnya memang bersifat sangat ingin tahu pun kini mulai merengek pada kakak laki-lakinya agar mau menguping bersamanya.
"Brother, come on, accompany me by eavesdropping on the words of brother and sister-in-law from here. Come on, please, brother! (Kakak, ayolah temani aku menguping ucapan kakak dan kakak ipar dari sini. Ayolah, ku mohon kakak!)" rengek Raihana kepada Rafi dengan menarik-narik salah satu lengan Rafi yang ada di dekatnya.
Rafi yang sebenarnya sudah merasa sangat kesal dengan kelakuan adik perempuannya yang sangat manja pun hanya bisa menegarkan hatinya tanpa bisa memarahi adik perempuannya itu.
"Want to be angry, but brother can't bear to you, Rai. You really are just like a spoiled, cheerful, and undeniable Mama. Even so, you admit that you love you with all your heart (Mau marah, tapi kakak tidak tega sama kamu, Rai. Kamu ini benar-benar persis seperti Mama yang manja, periang, dan tidak bisa di bantah. Walau begitu, kakak akui bahwa kakak menyayangi kamu sepenuh hati kakak)" batin Rafi sembari menatap wajah cantik dan imut milik adik perempuannya dengan tatapan lekatnya.
"Haish, you can eavesdrop yourself, Rai. Why do you have to invite brother? (Haish, kamu kan bisa menguping sendiri, Rai. Kenapa kamu harus mengajak kakak?)" ucap Rafi sembari menatap ke arah wajah cantik dan manis milik adik perempuannya.
Raihana yang mendengar penolakan secara halus dari kakak laki-lakinya pun langsung menarik-narik salah satu lengan kakak laki-lakinya dengan sangat kencang.
"Come on my handsome brother! It feels bad if you just eavesdrop on alone. Therefore, Rai asked his older brother to accompany Rai to eavesdrop on Kak Rafa and Kak Nara (Ayolah kakakku yang tampan! Tidak enak rasanya jika menguping hanya sendirian saja. Maka dari itu, Rai mengajak kakak untuk menemani Rai menguping Kak Rafa dan Kak Nara)" ucap Raihana sembari membelai lembut wajah kakak laki-lakinya yang tampan.
Rafi yang sudah merasa sangat gemas dengan tingkah laku adik perempuannya yang mengatakan bahwa dirinya itu tampan pun langsung mencubit gemas kedua pipi adik perempuannya yang sangat chubby itu.
Walau sebenarnya Rafi sudah hafal jika adik perempuannya itu memujinya tampan, maka ada sesuatu yang sangat dia inginkan, tapi Rafi juga merasa bahagia ketika adik perempuannya memujinya tampan.
"Is this the name of being handsome but not considered by others? (Apakah ini yang namanya menjadi tampan namun tidak di anggap oleh orang lain?)" batin Rafi sembari menyunggingkan senyuman getir di wajahnya yang tampan.
"Oh, so you praise that brother handsome when you have something to do? (Oh, jadi kamu puji kakak itu tampan kalau kamu lagi ada maunya?)" ucap Rafi sembari mencubit gemas kedua pipi adik perempuannya yang sangat chubby itu.
Raihana yang pada dasarnya tidak suka jika orang mencubit kedua pipinya yang chubby pun langsung memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri dengan mencoba melepaskan tangan kakak laki-lakinya yang sedang mencubit gemas kedua pipinya uang chubby.
"Not my brother. You always be handsome even though I don't praise me (Tidak kakaku. Kamu selalu menjadi tampan walaupun aku tidak memujiku)" ucap Raihana sembari mencoba melepaskan tangan kakak laki-lakinya yang masih mencubit gemas kedua pipinya yang chubby.
"Oh yeah, so is it true that you are still handsome even though you don't praise you? (Oh ya, jadi benar kalau kakak tetap tampan walaupun kamu tidak memuji kakak?)" tanya Rafi kepada adik perempuannya sembari memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Raihana yang mulai jengah dengan kelakuan kakak laki-lakinya pun segera mencari cara agar kakak laki-lakinya segera menghentikan kelakuannya.
"Already my handsome brother, let's start eavesdropping! (Udah kakakku yang tampan, ayo kita mulau menguping!)" ucap Raihana sembari membuka tirai bilik kamar kakak iparnya yang ada di sampingnya.
Ketika tirai bilik kamar kakak iparnya sudah terbuka sedikit, Rafi dan Raihana sangat terkejut dengan pemandangan romantis yang ada di depan mata mereka sendiri.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Rafi dan Raihana melihat dengan mata kepala sendiri kakak laki-laki mereka sedang menggenggam erat salah satu tangan kakak ipar mereka. Dan sesekali Rafa pun melantunkan gigauan dalam bahasa Jepang.
"Shin'ainaru mama ni shinaide kudasai. Watashi wa hontōni itoshite ite, kokoro kara anata o aishiteimasu (Jangan tinggalkan aku, sayang. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu dengan sepenuh hatiku)" gigau Rafa sembari mengeratkan genggamannya dengan salah satu tangan istri kecilnya.
Diam-diam Raihana menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut. Raihana juga merasa sangat bahagia dengan pemandangan yang ada di depan matanya sendiri.
Tanpa satu orang pun tahu, Raihana sedari tadi sudah menyalakan perekam suara dari ponsel miliknya. Raihana berfikir jika merekam menggunakan video akan membawa masalah besar untuknya.
"Uh, my handsome brother can be so romantic with sister-in-law. If sister-in-law hears this voice recording, sister-in-law will definitely feel like being the happiest woman in this world. The word 'I really love and love you with all my heart' in Japan is only used for someone who will continue his relationship with his partner to a more serious level. (Uh, kakakku yang tampan ini bisa menjadi sangat romantis sekali jika bersama kakak ipar. Jika kakak ipar mendengar rekaman suara ini, kakak ipar pasti akan merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini. Kata 'Aku sangat menyayangi dan mencintaimu sepenuh hatiku' di Jepang hanya di gunakan untuk seseorang yang akan melanjutkan hubungannya dengan pasangannya ke jenjang yang lebih serius)" batin Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik dan imut itu.
Beberapa saat kemudian
Teng
Teng
"Attention! Attention! The break time is over. Please return to your respective classes because the lesson hours will start soon (Perhatian-perhatian! Waktu istirahat sudah selesai. Silahkan kembali ke kelas masing-masing karena sebentar lagi jam pelajaran akan segera di mulai)"
Suara bell yang menandakan waktu istirahat sudah berakhir dan jam pelajaran akan segera di mulai pun berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah Internasional.
Rafi pun bergegas menghampiri kakak kembarnya yang sedang tertidur dengan menggenggam erat tangan kakak iparnya untuk mengajaknya kembali ke kelas 11 IPA 1.
Sesampainya di dekat tubuh kakak kembarnya, Rafi langsung membangunkan kakak kembarnya dengan berbicara dan mengguncang tubuh kakak kembarnya dengan lembut.
"Brother, let's go back to class. Class will start soon! (Kakak, ayo kita kembali ke kelas. Jam pelajaran akan segera di mulai!)" ucap Rafi dengan suara pelannya sembari menggoncang tubuh kakak kembarnya dengan lembut.
Karena merasa ada seseorang yang berbicara padanya dan juga menggoncangkan tubuhnya dengan lembut, akhirnya Rafa pun menjadi terbangun dari tidurnya.
"Um, I'm just here with Nara. I want to accompany him. Just tell the teacher who teaches our class that you feel a little unwell (Emh, aku di sini saja bersama dengan Nara. Aku ingin menemaninya. Katakan saja pada guru yang mengajar di kelas kita bahwa kakak sedikit merasa kurang sehat)" ucap Rafa dengan setengah sadar sembari kembali ke posisi tidurnya yang semula.
Karena sudah mendengar jawaban dari kakak iparnya, Rafi pun pergi meninggalkan ruang UKS yang ada di Internasional Senior High School bersama dengan Raihana, Kenzo, Zayn, Vannesha, dan juga Anissa untuk menuju ke kelas masing-masing.
Beberapa jam kemudian
Nara pun akhirnya membuka kedua matanya secara pelahan-lahan setelah tersadar dari pingsannya.
Setelah kedua matahya terbuka secara keseluruhan, pandangan Nara langsung menyapu ke seluruh penjuru bilik kamarnya.
Nara pun merasa sangat asing dengan ruang UKS yang ada di Internasional Senior High School dan bingung mengapa dirinya bisa berada di dalam ruangan yang bernuansa putih ini.
"Ē to, watashi wa doko ni imasu ka? Watashi ga kono gakkō no UKS ni iru yō ni kanjiru no wa nazedesu ka? Kono shiroi heya ni hairu koto ga dekiru no wa dō shita no? (Emh, aku ini sedang di mana? Kenapa rasanya aku sedang berada di UKS sekolah ini? Ada apa denganku sehingga aku bisa masuk ke dalam ruangan berwarna putih ini?)" batin Nara sembari menyapu pandangannya ke seluruh penjuru bilik kamarnya.
__ADS_1
Ketika menyapu pandangannya ke samping kanan tubuhnya, Nara sangat terkejut ketika mendapati suami kecilnya yang sedang tertidur dengan pulas di atas sebuah kursi dengan menggenggam erat salah satu tangannya.
"Ē to, naze kare wa koko ni iru nodesu ka? Kanojo wa kyōshitsu ni ite ressun o ukerubekide wa arimasen ka? Kare ga ima watashi no mendō o mite kurete iru yō ni kanjiru no wa nazedesu ka? (Eh, kenapa dia bisa berada di sini? Bukankah seharusnya dia berada di dalam ruang kelas dan mengikuti pelajaran? Mengapa aku merasa seolah-olah sekarang dia sedang menjagaku?)" batin Nara sembari menatap lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya.