Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 44 - Canggung


__ADS_3

Rafa pun sekarang menggelengkan kepalanya secara perlahan-lahan karena mendengar perkataan dari ketiga sahabat istri kecilnya tersebut karena ucapan mereka yang sangatlah vulgar.


Bahkan, Rafa pun sampai berasumsi atau berpendapat sendiri tentang ketiga sahabat istri kecilnya tersebut yang lebih mengetahui hal-hal yang sangatlah vulgar seperti ini karena kebanyakan menonton film terlarang.


"Ya ampun, mereka bertiga ini sangat berani sekali untuk mengucapkan kata-kata yang sangatlah vulgar seperti itu. Aku kan jadi berasumsi bahwa mereka bertiga ini kekeringan menonton film terlarang yang membuat mereka menjadi berfikiran mesum dan kotor seperti ini. Sepertinya mereka bertiga ini cocok menjadi pasangan Kenzo dan Zayn yang merupakan raja dari film terlarang yang sering mereka tonton itu" batin Rafa sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan tersebut.


Tanpa di sadari oleh dirinya sendiri, kini tubuh Nara yang mungil tersebut pun sudah bergeser ke samping kiri yang merupakan tempat suami kecilnya tersebut sedang berbaring di sampingnya.


Tak hanya itu saja, Nara bahkan sampai menaruh kepalanya tersebut di atas dada bidang milik suami kecilnya tersebut. Kedua kaki jenjang nan mulusnya pun bertengger dengan sangat manis di atas kedua kaki suami kecilnya tersebut.


Sontak saja hal ini membuat Rafa sangat terkejut dengan perilaku istri kecilnya tersebut yang tiba-tiba menyenderkan kepalanya di atas dada bidangnya tersebut.


Tak hanya itu saja, Rafa bahkan menjadi sangat tersiksa karena kedua kaki jenjang nan mulus milik istri kecilnya tersebut sedang bertengger dengan manis di atas kedua kakinya yang tentu saja membuat benda pusaka di antara kedua kakinya pun menjadi sedikit mengeras.


Di dalam hatinya, Rafa tak henti-hentinya menggerutu dan menyayangkan perilaku dari istri kecilnya tersebut yang tentunya akan membuat dirinya menjadi sangat tersiksa karena benda pusaka miliknya yang berada di antara kedua kakinya tersebut kini sudah menjadi sedikit mengeras.


Rafa pun kini sedang mencoba menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk bisa menenangkan dan menidurkan kembali benda pusaka miliknya yang kini sedang terbangun dan menjadi sedikit mengeras tersebut.


"Aww, sakit sekali. Kenapa istri kecilku ini tiba-tiba saja berperilaku seperti ini? Dengan kepalanya yang bersender dengan manis di dadaku yang bidang ini. Dan yang lebih parahnya lagi kedua kaki jenjangnya nan mulus milik istri kecilku ini sedang bertengger dengan manis di atas kedua kakiku. Tentu saja ini membuat benda pusaka milikku yang berada di antara kedua kakiku menjadi sedikit mengeras. Setelah ini, pastinya aku akan menjadi sangat tersiksa karena benda milikku ini sudah mengeras! Tolonglah, Nara. Jangan berperilaku seperti ini lagi yang akan menyusahkan diriku karena perilakumu ini, istri kecilku!" batin Rafa sembari menarik dan menghembuskan nafasnya tersebut dengan sangat kasar untuk menenangkan benda pusaka miliknya tersebut agar bisa kembali tenang dan tertidur.


Sementara itu, Nara pun masih merasa tidak sadar dengan apa yang sekarang sedang dia lakukan kepada suami kecilnya tersebut. Alih-alih menjadi tersadar dan meminta maaf kepada suami kecilnya, Nara kini justru masih asyik melakukan panggilan video dengan ketiga sahabatnya yang tak lain adalah Aina, Vannesha, dan Anissa.


Melihat Nara yang hanya diam saja tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari mereka bertiga, Vannesha, Aina, dan Anissa langsung saja menyerbu Nara dengan pertanyaan yang sangat di hindari oleh Nara, yaitu bertanya tentang malam pertama yang di lakukan oleh Nara dan Rafa.


Vannesha


"Hey, Nara! Why are you silent? Come on, tell me about your first night with your little husband! We are here waiting for your story, Nara! We are here very curious about your story, Nara! (Hei, Nara! Kenapa kamu diam saja? Ayolah, ceritakanlah tentang malam pertamamu dengan suami kecilmu itu! Kami di sini sedang menunggu ceritamu, Nara! Kami di sini sedang merasa sangat penasaran dengan ceritamu itu, Nara!"


Aina


"Yes, Nara. We are here very curious about the story of your first night with your husband! How does it feel? Is it sick or is it feeling good? Umm, looks like I'll get this nephew of you guys soon! (Ya, Nara. Kami di sini sangat penasaran dengan cerita malam pertamamu dengan suamimu itu! Bagaimana rasanya? Apakah sakit atau justru enak? Umm, sepertinya aku akan segera mendapatkan keponakan dari kalian ini!)"


Anissa


"I don't force you to tell confidential and private things like this. It's just that if you please, you can tell the three of us. Remember, that is if you only please! If you don't like it, then you don't have to tell the three of us, Nara! (Aku tidak memaksamu untuk menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia dan pribadi seperti ini. Hanya saja jika kamu berkenan, kamu bisa menceritakannya kepada kami bertiga. Ingat, itu jika kamu hanya berkenan saja! Jika kamu tidak berkenan, maka kamu tidak usah menceritakannya kepada kami bertiga, Nara!)"


Nara yang mendapatkan serangan pertanyaan beruntun yang merupakan pertanyaan yang sangat di hindari olehnya pun langsung terpaku diam di tempatnya sendiri tanpa bisa mengucapkan satu patah kata pun.


Di dalam hatinya, Nara pun di buat menjadi merasa sangat kesal sekaligus merasa malu karena pertanyaan ketiga sahabatnya tersebut yang bisa terbilang sangatlah menyebalkan sekaligus sangat vulgar tersebut.


"Nē, korehanandesuka? Naze karera wa kono yōna yakkaina shitsumon de watashi ni shin'nyū suru nodesu ka? Watashi no 3-ri no shin'yū kara kono yōna shitsumon ga sattō suru no wa, nanto meiwakuna kotodeshou. Ā, watashi wa korera no 3ttsu no shitsumon ni hontōni hara o tatete hazukashī omoi o shimasu! (Hei, apa-apaan ini? Kenapa mereka justru menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan seperti ini? Menyebalkan sekali rasanya mendapatkan serbuan pertanyaan seperti ini dari ketiga sahabatku sendiri! Ah, aku merasa menjadi sangat kesal sekaligus merasa malu karena pertanyaan mereka bertiga ini!)" batin Nara sembari menarik dan menghembuskan nafasnya tersebut dengan sangat kasar.


Setelah beberapa saat, Nara hanya terdiam saja tanpa bisa mengatakan satu patah kata pun untuk menjawab pertanyaan seputar malam pertama dari ketiga sahabatnya yang terbilang gila tersebut.

__ADS_1


Suasana hening pun kini sedang terjadi melalui sambungan panggilan video yang beranggotakan yang tak lain adalah Nara, Vannesha, Anissa, dan Aina karena tidak ada satu pun di antara mereka berempat yang kunjung mengeluarkan satu patah kata pun dari mulut mereka masing-masing.


Hingga pada akhirnya, suara rintihan yang terucap dari mulut Rafa pun memecah keheningan yang terjadi di antara istri kecilnya dengan ketiga sahabatnya tersebut.


Rintihan Rafa merupakan rintihan yang menandakan kesakitan yang tidak bisa dia tahan lagi karena sekarang benda pusaka miliknya yang berada di antara kedua kakinya tersebut pun sudah sangat mengeras sehingga membuatnya menjadi sangat kesakitan untuk menahan rintihan tersebut agar tidak keluar dari mulutnya tersebut.


"A,na nara. Kon'nafūni shinaide kudasai! Anata ga kono yō ni natte iru toki, watashi wa totemo kurushinde imasu! Ima sugu watashi no karada no ichi o shūsei shite kudasai.-Sa mo nai to watashi wa anata ni osoi gakarimasu! (Ah, Na nara. Tolong, ja jangan seperti ini! A aku sangat tersiksa ke ketika kamu seperti ini! Be benahilah posisi tu tubuhku itu sekarang ju juga atau a aku akan menerkam ka kamu!)" rintih Rafa sembari berbicara dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tidak terjadi hal-hal yang seperti di katakan olehnya tersebut.


"Hah, ini rasanya sangat menyakitkan sekali! Sepertinya aku harus cepat-cepat ke kamar mandi untuk mengendalikan diriku ini agar tidak terjadi hal-hal seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak ingin melakukan hal ini kepadanya ketika kami belum mengetahui perasaan kami yang sebenarn**ya!" batin Rafa sembari menyibakkan sedikit selimut tebal yang masih membalut kedua t**elapak kakinya tersebut dengan perlahan-lahan.


Sontak saja Nara yang sedari tadi sedang berdiam dan berselancar di dalam pikirannya sendiri pun di buat menjadi sangat terkejut karena mendengarkan rintihan-rintihan yang keluar dari mulut suami kecilnya tersebut.


Dengan segera, Nara pun langsung menoleh ke arah suami kecilnya tersebut untuk memastikan apakah suami kecilnya tersebut sedang baik-baik saja atau justru sebaliknya.


"Ē to, naze? Dochira ga itaidesu ka? Nande kon'na ni itai no? Ā, anata wa watashi o panikku ni sa semasu, rafa! (Eh, kenapa? Yang mana yang sakit? Kenapa bisa sakit seperti ini? Ah, kamu ini membuatku panik saja, Rafa!)" tanya Nara sembari menatap ke arah wajah tampan milik suami kecilnya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan sebuah kekhawatiran mendalam yang ada di dalamnya.


"Kore, kore ga itai, Nara! Hora, watashi wa (Ini, ini yang sakit, Nara! Coba kamu lihat, aku merasa sangat kesakitan dengan kondisiku yang seperti ini!)" ringis Rafa sembari menunjuk ke arah benda pusaka miliknya yang berada di antara kedua kakinya tersebut.


Ketika sudah menoleh ke arah yang di tunjuk oleh suami kecilnya tersebut, Nara pun di buat menjadi sangat terkejut ketika melihat ke arah titik yang berada di antara kedua kaki suami kecilnya tersebut. Nara pun dengan segera memalingkan wajah dan pandangannya tersebut ketika sudah melihat benda keramat milik suami kecilnya tersebut yang sudah terlihat sangat mengeras.


Bahkan, Nara pun kini sampai menggerutu habis-habisan di dalam hatinya sendiri karena begitu ceroboh dirinya tersebut yang dengan sigap melihat ke arah daerah terlarang milik suami kecilnya tersebut yang merupakan tempat terdapatnya benda pusaka milik suami kecilnya tersebut.


"Heishu, naze watashi wa kare no karada no seigen sa reta ryōiki o fuchūi ni mite iru nodesu ka? Ā, kare no karada no kindan no bubun o ukkari mitanode, iraira shite hazukashī omoi o shite iru yōna ki ga shimasu! Watashi ga kekkon shite ite mo kienai bukiyōna taido o toru no wa totemo iraira shimasu! (Haish, kenapa aku sangat ceroboh sekali melihat ke arah area terlarang yang ada di tubuhnya itu? Ah, rasanya aku sekarang sedang di buat menjadi sangat kesal sekaligus malu karena aku dengan sangat ceroboh melihat ke arah area terlarang yang ada di tubuhnya itu! Rasanya sangat mengesalkan sekali mempunyai sifat ceroboh yang tidak hilang walaupun aku sudah menikah!)" batin Nara sembari memijit-mijit pelipisnya sendiri dengan perlahan-lahan.


Aina yang notabenenya adalah orang Jepang asli pastilah sangat paham dengan apa yang kini sedang di bicarakan oleh sahabatnya dan suaminya tersebut.


Aina


"Emm, Nara, Nesha, Nissa, looks like we have to end this video call right away. In Japan it is already 10 in the evening. Now it's time for me to sleep because tomorrow I'm going to school too. Dadah Nara, Nesha, and also Nissa. Good night and good night to the three of you. See you tomorrow! (Emm, Nara, Nesha, Nissa, sepertinya kita harus segera mengakhiri panggian video ini ya. Di Jepang sekarang sudah jam 10 malam. Sekarang sudah waktunya aku untuk tidur karena besok aku kan juga akan sekolah. Dadah Nara, Nesha, dan juga Nissa. Selamat malam dan selamat tidur untuk kalian bertiga. Sampai jumpa besok lagi ya!)"


Narahita


"Good night, Aina. Good sweet dreams! Don't forget to dream of me in your dreams tonight! (Selamat tidur, Aina. Semoga mimpi indah! Jangan lupa mimpikan aku ya di dalam mimpimu malam ini!)"


Vannesha


"Sweet dreams, Aina. Don't forget to include this Vannesha Mikhayle Faresta in your dreams tonight, Aina! Dream of my beautiful face! (Mimpi yang indah, Aina. Jangan lupa ikut sertakan Vannesha Mikhayle Faresta ini di dalam mimpimu malam ini, Aina! Mimpikan wajahku yang cantik ini!)"


Anissa


""Good evening, Aina. Have a good sleep and sweet dreams tonight. Don't forget to pray before bed! (Selamat malam, Aina. Semoga tidurmu nyenyak dan mimpimu indah pada malam ini. Jangan lupa berdoa sebelum tidur ya!)"


Vannesha

__ADS_1


"Yes yes yes, Mrs. Ustazah has already spoken! How religious, ma'am. I even got dazzled by hearing that Mrs. Ustazah remind something like this to Aina! (Ya ya ya, Bu Ustazah sudah berbicara rupanya! Agamis sekali, Bu. Aku bahkan sampai kesilauan mendengar si Bu Ustazah yang mengingatkan hal seperti ini kepada Aina!)"


Anissa


"Hey, Korean Drama fans! What do you want this? I've been avoiding any quarrels between us, eh but you actually ignited the flames of anger that caused us to fight like this! You crazy friend! (Hei, penggemar Drama Korea! Apa maumu ini? Aku sudah menghindar agar tidak terjadi pertengkaran di antara kita, eh tapi kamu justru menyulut api-api kemarahan yang menyebabkan kita bertengkar seperti ini! Dasar sahabat gila!)"


Nara yang mendengarkan pertengkaran dengan cara adu mulut oleh kedua sahabatnya tersebut pun di buat menjadi pusing sendiri karena kedua sahabatnya tersebut mulai bertengkar lagi dengan cara adu mulut tersebut.


"Nē, korera no 2tsu wa sukoshi ochitsuku no o tasukeru koto ga dekimasen ka? Tattaima tsukuriageta, ē, shikashi karera wa jissai ni kono giron no shikata de futatabi tatakau! Ē to, karera wa futari no ma no kono kenka o mokugeki shita subete no hito ni totte hontōni meiwakude, konran shi, soshite konran shite imasu! (Haduh, mereka berdua ini tidak bisa apa untuk tenang sedikit saja? Baru saja berbaikan, eh tapi mereka justru bertengkar lagi dengan cara adu mulut seperti ini! Huh, mereka ini sungguh mengesalkan, membingungkan, dan memusingkan semua orang yang menyaksikan pertengkaran dengan cara adu mulut di antara mereka berdua ini!)" batin Nara sembari memijit-mijit pelipisnya sendiri dengan pelahan-lahan.


Seperti memdengarkan suara yang terucapkan dari hati Nara, Aina pun dengan segera menenangkan Vannesha dan Anissa yang kini sudah merasa menegang karena pertangkaran mereka dengan cara adu mulut seperti sekarang ini.


Aina


"Husst, you guys shut up and don't fight anymore! We are very dizzy here to listen to your arguments that are going on by mouth like this! I will dream of the three of you in my dreams tonight. So, there is no more reason to refuse my words so that you can stop fighting in this way of arguing, okay? Okay, I'll turn off the video call connection first. See you next time, Nara, Nesha, and Nissa. I will really miss you three, my dear friend! (Husst, kalian diamlah dan tidak usah bertengkar lagi! Kami di sini sangatlah pusing mendengarkan pertengkaran kalian yang terjadi secara adu mulut seperti ini! Aku akan memimpikan kalian bertiga di dalam mimpiku pada malam ini. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolak ucapanku agar kalian bisa berhenti bertengkar dengan cara adu mulut seperti ini, oke? Ya sudah, aku matikan dulu ya sambungan panggilan video ini. Sampai jumpa di lain waktu, Nara, Nesha, dan Nissa. Aku akan sangat merindukan kalian bertiga, sahabatku!)"


Setelah mengucapkan kata-kata yang menandakan adanya perpisahan tersebut dengan Nara, Vannesha, dan juga Anissa, Aina pun dengan sangat terburu-buru pun keluar dari panggilan video yang beranggotakan Nara, Vannesha, Anissa, dan juga Aina tersebut.


Tuut


Vannesha dan Anissa pun juga mengucapkan kata-kata yang menandakan adanya perpisahan di antara Nara, Vannesha, dan juga Anissa untuk keluar dan mengakhiri panggilan video yang beranggotakan kini hanya beranggotakan 3 orang, yaitu Nara, Vannesha, dan juga Anissa tersebut.


Vannesha


"Um, Nara, Nissa. Until here, our video call. My mom is calling me out for dinner now. Good night and good rest, Nara, Nissa. See you tomorrow at school! (Um, Nara, Nissa. Sampai di sini dulu ya panggilan video kita. Mamiku sekarang sedang memanggil-manggilku untuk makan malam. Selamat malam dan selamat beristirahat, Nara, Nissa. Sampai jumpa besok di sekolah!)"


Anissa


"Hmm, Nara, Nesha. I also have to turn off our video calling connection right now because at this hour is my study time. Good evening Nara, Nesha. See you tomorrow at school! I will miss both of you! (Hmm, Nara, Nesha. Aku juga harus mematikan sambungan panggilan video kita sekarang juga karena di jam seperti ini merupakan jam untukku belajar. Selamat malam Nara, Nesha. Sampai jumpa besok di sekolah! Aku akan merindukan kalian berdua!)"


Narahita


"Well, turn off the video call connection for the three of us. Good evening, have a nice meal, and have a nice study for both of you, Nesha and Nissa. See you tomorrow at school! (Ya sudah, matikanlah sambungan panggilan video kita bertiga ini. Selamat malam, selamat makan, dan selamat belajar untuk kalian berdua, Nesha dan Nissa. Sampai jumpa besok di sekolah!)"


Setelah mendengarkan persetujuan dari Nara yang menyetuji agar panggilan video yang beranggotakan Nara, Vannesha, dan Anissa tersebur di matikan di karenakan Vannesha akan makan malam dan juga Anissa akan belajar, Vannesha dan Anissa dengan segera memutuskan panggilan video di antara Nara, Vannesha, dan juga Anissa.


Tuut


Sepeninggalan Vannesha dan Anissa yang telah mengakhiri panggilan video yang terjadi di antara mereka bertiga, Nara pun juga mematikan panggilan video yang kini hanya ada dirinya yang menjadi perserta dalam panggilan video tersebut.


Tuut


Suasana yang tadinya sangat ramai karena adanya Vannesha, Anissa, dan juga Aina yang meramaikan suasana pun kini mendadak berubah menjadi 360 derajat ketika sudah tidak ada lagi Vannesha, Anissa, dan juga Aina yang meramaikan suasana walaupun hanya melalui sambungan panggilan video.

__ADS_1


Canggung


Satu kata itulah yang menggambarkan suasana yang kini sedang terjadi di antara Nara dan Rafa yang merupakan pasangan suami istri tersebut yang kini sedang duduk di atas tempat tidur mereka dengan saling berdiam diri di dalam pikiran mereka masing-masing tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulut mereka masing-masing.


__ADS_2