
Hening
Satu kata itulah yang kini sedang menggambarkan sebuah suasana yang tengah terjadi di antara Nara dan Rafa yang notabenenya adalah pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama tersebut.
Untuk beberapa saat, Nara dan Rafa pun kini sedang terlarut di dalam pikiran dan lamunan mereka masing-masing. Seakan-akan pasangan suami istri tak menghiraukan sedikit pun bahwa kini mereka hanya memiliki waktu sebanyak 40 menit lagi untuk pergi ke sekolah mereka dengan tepat waktu.
Jika di tanya waktu tersebut cukup atau tidak untuk berangkat ke sekolah mereka dengan tepat waktu, maka jawabannya adalah 'Tidak'. Kenapa? Karena waktu 40 menit tidaklah cukup untuk mereka membersihkan tubuh mereka masing-masing selama 15 menit, menyantap sarapan mereka masing-masing selama 15 menit, serta berangkat ke sekolah mereka dengan tepat waktu selama 15 menit.
Kurang lebih, Nara dan Rafa membutuhkan waktu 45 menit untuk melakukan semua aktifitas mereka pada pagi hari. Mulai dari membersihkan tubuh, menyantap hidangan sarapan, serta berangkat ke sekolah dengan tepat waktu yang masing-masing memerlukan waktu 15 menit. 15 di kalikan dengan 3 hasilnya sudah menjadi 45, bukan?
Rafa yang melirik istri kecilnya yang kini sedang terlihat terdiam di tempatnya berdiri pada saat ini dengan otak yang masih berfikir dengan keras untuk mencerna ucapan yang di ucapkan oleh Rafa pun segera menegur istri kecilnya tersebut agar segera tersadar dari lamunannya dan segera membersihkan dirinya karena waktu akan terus bertambah seiring dengan kegiatan yang sedang pasangan suami istri ini lakukan.
"Anata wa sokode nani o shite iru nodesu ka? Watashitachi ga jikandōrini gakkō ni iku jikan wa watashitachi ga shite iru katsudō to issho ni shōmō surunode, anata wa tada anata no karada o kirei ni suru kata ga yoidesu. Dakara, mō kangaenaide kudasai! Sugu ni anata wa jibun jishin o kirei ni shimasu. Anata ga jibun jishin o kirei ni shite iru ma, watashi mo anata ni se o mukete jibun jishin o kirei ni shimasu. Dakara, watashi wa anata no hadaka no karada o Ippon no ito nashide wa miru koto ga dekinainode, anata wa sore o raku ni shimasu. Sarani, anata o osou koto wa zettai ni fukanōdesu! Anata wa watashi no kotoba o nigitte shinjiru koto ga dekimasu! (Untuk apa kamu berdiam diri saja di sana? Lebih baik kamu langsung saja membersihkan tubuhmu karena waktu untuk kita berangkat ke sekolah dengan tepat waktu akan terkuras habis seiring dengan kegiatan yang sedang kita lakukan. Jadi, tidak usah berfikir lagi! Langsung saja kamu membersihkan dirimu. Selagi kamu membersihkan dirimu, aku juga akan membersihkan diriku dengan posisiku yang membelakangimu. Jadi, kamu tenang saja karena aku tidak akan melihat tubuhmu yang telanjang tanpa sehelai benang pun. Apalagi untuk menerkammu, itu sangatlah tidak mungkin! Kamu bisa memegang dan mempercayai ucapanku!)" ucap Rafa sembari menggosokkan spons mandi yang telah di berikan sabun mandi cair di atasnya ke arah tubuhnya yang kekar dan mempesona tersebut.
Sontak saja Nara langsung di buat menjadi tersadar dari lamunannya ketika mendengar suami kecilnya tersebut yang sedang berbicara kepadanya untuk mengatakan bahwa dirinya harus segera membersihkan tubuhnya sekarang juga.
"Emu, gakkō ni chikoku shitakunainode, imasugu-*** o kirei ni shimasu. Shikashi, watashi wa anata ga izen ni watashi ni ataeta anata no yakusoku o hoji shi, shinrai suru koto ga dekimasu ka? (Em, aku akan membersihkan tubuhku sekarang juga karena aku tidak mau diriku terlambat berangkat ke sekolah. Tapi, apakah bisa aku pegang dan percayai janjimu yang kamu berikan kepadaku tadi?)" tanya Nara kepada suami kecilnya tersebut dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah keraguan besar yang terdapat di dalamnya.
"Mochiron, konkai wa watashi no yakusoku to kotoba o mamori, shinrai suru koto ga dekimasu! Konkai wa watashi no yakusoku to kotoba o mamotte shinjite itadakeru to kakushin shite imasu! (Tentu saja, kamu bisa memegang dan mempercayai janji dan ucapanku yang kali ini! Aku sangat yakin bahwa kamu bisa memegang dan mempercayai janji dan ucapanku yang kali ini!)" jawab Rafa dengan sedikit keras dan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah keyakinan yang sangat mendalam yang terdapat di dalamnya tersebut.
Nara yang mendengar pengakuan dari suami kecilnya tersebut yang sangat yakin bahwa dirinya akan bisa memegang dan mempercayai janji dan ucapannya yang di berikan oleh suami kecilnya pun hanya bisa pasrah dan menerima bahwa dirinya harus bisa memegang dan mempercayai janji dan ucapan yang di berikan oleh suami kecilnya tersebut.
"Emu, daijōbu. Kondo wa anata no yakusoku to kotoba o mamori, shinjimasu. Jōken-tsuki de, anata wa mata anata ga anata ga ataeru yakusoku o hatasu koto ga dekiru yō ni anata no subete no yakusoku o hatasanakereba narimasen. Yakusoku wa shakkindeari, shakkin wa shiharawanakereba naranai koto o wasurenaide kudasai! (Em, baiklah. Sekarang aku akan memegang dan mempercayai janji dan ucapanmu yang kali ini. Dengan syarat, kamu juga harus memenuhi semua janjimu agar janji yang kamu berikan itu bisa kamu penuhi. Ingat, janji adalah hutang dan hutang harus di bayar!)" jawab Nara dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegas kepada suami kecilnya tersebut.
"Ōkēōkē konkai wa anata e no yakusoku o hatashimasu! (Oke, baiklah. Aku akan memenuhi janjiku kepadamu pada kali ini!)" jawab Rafa sembari membilas busa sabun mandi cair yang masih menempel di tubuhnya yang kekar dan mempesona tersebut dengan air yang keluar dari lubang-lubang shower yang kini sedang terpasang di atas kepalanya.
Untuk soal janji yang di berikan dan di ucapkan oleh suami kecilnya tersebut kepadanya, Nara pun kini merasa ragu-ragu untuk bisa memegang dan mempercayai janji yang di berikan dan di ucapkan oleh suami kecilnya tersebut kepadanya.
"Watashi no chīsana otto kara watashi ni iwa re, ataerareta yakusoku no tame ni, watashi wa watashi no chīsana otto ni yotte atae rare, iwareta yakusoku o hoji shi, shinjiru koto ga dekiru koto ni chūcho shimasu. Watashi wa watashi no chīsana otto no yakusoku o shinjite mamoru hitsuyō ga arimasu ka? (Untuk janjinya yang di ucapkan dan di berikan kepadaku dari suami kecilku ini, aku merasa ragu-ragu untuk bisa memegang dan mempercayai janji yang di berikan dan di ucapkan oleh suami kecilku ini. Apakah aku perlu mempercayai dan mememgang janji suami kecilku ini?)" batin Nara sembari menatap ke arah tubuh kekar dan mempesona milik suami kecilnya tersebut dengan tatapannya yang menyiratkan sebuah keraguan besar yang terdapat di dalamnya.
Kini, Nara juga di buat menjadi sangat bingung sekaligus malu karena ucapan yang di ucapkan oleh suami kecilnya tersebut. Ah, sepertinya Nara sekarang merasa jika suami kecilnya tersebut sangatlah pandai untuk mencampur adukkan beberapa perasaan sekaligus di dalam hatinya tersebut.
__ADS_1
"Sore wa dōiu imidesu ka? Watashi ni osoi gakaru? Ā, sore ga jūyōna koto wa, jikandōrini gakkō ni iku jikan ga amarinainode, sugu ni karada o kirei ni shinakereba naranai to iu kotodesu. Shikashi, naze kare wa watashi no kokoro no naka de ichido ni ikutsu ka no kanjō o mazeawa seru no ga totemo kashikoi to kanjiru nodesu ka? (Apa sebenarnya maksud dari perkataannya itu? Menerkamku? Ah, apapun itu artinya yang penting aku sekarang harus segera membersihkan tubuhku karena waktu yang aku miliki untuk berangkat ke sekolah dengan tepat waktu tidak banyak lagi. Tapi, kenapa aku merasa bahwa dirinya sangatlah pandai untuk mencampur adukkan beberapa perasaan sekaligus di dalam hatiku ini?)" batin Nara sembari melangkahkan kedua kakinya secara perlahan-lahan menuju ke arah shower kedua yang terpasang di kamar mandi yang ada di kamarnya dan kamar suami kecilnya tersebut.
Walaupun kini dirinya kini sedang merasa sedang menjadi sangat bingung sekaligus malu dengan ucapan yang di ucapkan oleh suami kecilnya tersebut, Nara pun pada akhirnya tetap melucuti satu per satu pakaiannya untuk memulai kegiatan membersihkan tubuhnya yang putih, mulus, dan mempesona tersebut yang mememerlukan waktu kurang lebih 15 menit.
15 menit kemudian, Nara dan Rafa pun kini telah selesai dengan kegiatan membersihkan tubuh mereka masing-masing.
Karena sudah selesai dengan kegiatan membersihkan tubuh mereka masing-masing, pada akhirnya Nara dan Rafa pun melangkahkan kedua kaki mereka menuju ke arah ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka dengan seragam sekolah Internasional Senior High School.
Nara dan Rafa yang kini sudah berada di dalam ruang ganti pun dengan segera mengganti pakaian mereka masing-masing dengan pakaian seragam sekolah Internasional Senior High School.
Setelah selesai berganti pakaian mereka masing-masing dengan pakaian seragam sekolah Internasional Senior High School, Nara dan Rafa pun kini melangkahkan kedua kaki mereka untuk keluar dari ruang ganti dengan tujuan ingin mengambil tas sekolah mereka yang sudah berisi buku-buku pelajaran serta ponsel milik mereka yang kini sedang terletak di atas meja belajar milik mereka masing-masing.
Sesampainya di depan meja belajar milik mereka masing-masing, kedua tangan Nara dan Rafa pun dengan segera mengambil tas sekolah mereka yang kini sedang terletak di atas meja belajar milik mereka masing-masing.
Tak lupa untuk Nara dan Rafa memakaikan tas sekolah milik mereka masing-masing di kedua bahu mereka masing-masing. Nara dengan tas sekolahnya yang berwarna nuansa pink putih. Serta Rafa dengan tas sekolah yang berwarna nuansa abu-abu.
Tentunya dengan tas sekolah milik merrka masing-masing yang bertengger dengan manis di kedua bahu mereka masing-masing ini semakin menambah kesan anggun, cantik, dan menawan pada diri Nara serta semakin menambah kesan maskulin, tampan, dan menawan pada diri Rafa.
Setelah selesai memasangkan tas sekolah milik mereka masing-masing di kedua bahu mereka masing-masing, Nara dan Rafa pun langsung membuka pintu kamar mereka untuk berjalan keluar dari kamar mereka tersebut.
Ceklek
Beberapa saat kemudia, Nara dan Rafa yang kini sedang berada di atas anak tangga pun terlihat sedikit tergesa-gesa dalam menuruni anak tangga secara satu per satu karena merasa waktu mereka untuk berangkat ke sekolah dengan tepat waktu hanya tersisa sedikit waktu saja.
Tentunya gerak-gerik dari tubuh Nara dan Rafa ini yang menyiratkan sebuah kekhawatiran ini pun tak luput dari pengelihatan Rania yang notabenenya adalah Mama bagi Rafa serta Mama mertua bagi Nara.
"Nara, Rafa, you guys just ran to the car which is currently parked in our front yard. There your Papa, Rafi, and Rai are waiting for your arrival. Mama has prepared a box of breakfast lunches containing toast for Mama's first son and Mama's favorite daughter-in-law. Hurry up, you have only 20 minutes left for you to arrive at the school on time! (Nara, Rafa, kalian langsung saja berlari menuju ke mobil yang kini sedang terparkir di halaman depan rumah kita. Di sana Papa kalian, Rafi, dan Rai yang menunggu kedatangan kalian. Mama sudah menyiapkan sekotak bekal sarapan yang berisi roti bakar untuk putra pertama Mama dan menantu kesayangan Mama ini. Cepatlah, waktu kalian hanya tersisa 20 menit lagi untuk kalian bisa tiba di sekolah dengan tepat waktu!)" ucap Rania kepada putra pertamanya dan menantu kesayangannya tersebut ketika putra pertamanya dan menantu kesayangannya tersebut sudah berada di lantai 1 atau lantai dasar.
"Yes Ma. Thank you for preparing breakfast for both of us! (Iya Ma. Terima kasih sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua!)" jawab Nara dan Rafa secara bersamaan sembari mendekatkan diri mereka masing-masing kepada seorang perempuan yang berstatus menjadi seorang Mama bagi Rafa dan seorang Mama mertua bagi Nara tersebut.
Nara dan Rafa pun kini sedang bersiap-siap untuk berpamitan untuk berangkat ke sekolah kepada seorang perempuan yang berstatus menjadi seorang Mama bagi Rafa dan juga seorang Mama mertua bagi Nara tersebut.
__ADS_1
"Mama, Nara and Rafa go to school first with Rafa and Rai. Mama is doing well at home. Assalamualaikum, Mama (Mama, Nara dan Rafa berangkat ke sekolah dulu ya bersama Rafa dan juga Rai. Mama baik-baik di rumah ya. Assalamualaikum, Mama)" ucap Nara yang mewakili dirinya dan juga suami kecilnya tersebut untuk berpamitan kepada sang Mama mertua dengan bibirnya yang mencium tangan kanan mulus nan wangi milik sang Mama mertua tersebut.
"Waalaikumsalam. Those of you who are passionate about learning it! Mama will always pray for both of you and your two younger siblings so that they will be given convenience in learning at school (Waalaikumsalam. Kalian yang semangat ya belajarnya! Mama akan selalu mendoakan kalian berdua dan kedua adik-adik kalian agar di berikan kemudahan dalam belajar di sekolah)" ucap Rania dengan nada bicaranya yang lembut sembari mengelus-elus dengan lembut puncak kepala dari menantu kesayangannya tersebut.
"Of course, Mama. In fact, here Nara, Rafa, Rafi, and also Rai who thanked Mama because Mama had prayed for us to be given ease in learning at school. Nara really believed that a mother's prayer really worked! (Pasti dong, Mama. Justru di sini Nara, Rafa, Rafi, dan juga Rai yang berterima kasih kepada Mama karena Mama telah mendoakan kami untuk di berikan kemudahan dalam belajar di sekolah. Nara sangat percaya kalau doa seorang ibu itu memang benar-benar mujarab!)" ucap Nara kepada sang Mama mertua sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
Karena merasa waktu untuk berangkat ke sekolah dengan tepat waktu hanya tinggal sedikit lagi, Nara dan Rafa pun akhirnya berlarian kecil menuju ke arah halaman depan rumah keluarga Abayomi untuk menghampiri Raihan, Rafi, dan juga Raihana yang kini sedang menunggu kedatangan Nara dan Rafa dengan berada di dalam mobil.
Sesampainya di samping sebuah mobil yang berwarna putih yang merupakan tempat di mana Raihan, Rafi, dan juga Raihana yang sudah menunggu kedatangan pasangan suami istri ini, Nara dan Rafa pun segera membuka pintu kursi penumpang di bagian tengah mobil yang berwarna putih tersebut.
Ketika pintu kursi mobil penumpang di bagian tengah mobil yang berwarna putih tersebut sudah terbuka, dengan segera Nara dan Rafa pun segera masuk ke dalam mobil yang berwarna putih tersebut karena mengingat waktu untuk mereka sampai dengan tepat waktu di sekolah hanya tinggal 15 menit lagi.
Bisa di bilang mereka nanti akan datang ke sekolah sangat tepat dengan ketika bell masuk kelas di Internasional Senior High School berbunyi dengan nyaring.
Walaupun Rafa dan Nara yang notabenenya masih keluarga, putra pertama, dan menantu kesayangan dari pemilik Sekolah Internasional, namun tetap saja mereka haris memenuhi kewajiban mereka sebagai siswa atau siswi, yaitu dengan datang ke sekolah dengan tepat waktu.
Ketika sudah melihat kakak ipar kesayangannya yang sudah masuk ke dalam mobil, ekspresi wajah Raihana pun berubah 360 derajat dari ekspresi wajahnya yang semua menyiratkan sebuah kesedihan, kini ekspresi wajah Raihana sudah berubah menjadi sebuah ekspresi wajah yang menyiratkan sebuah kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh Raihana tersebut.
"Sister-in-law, finally sister-in-law also got into the car and approached Rai, who had been waiting for my beloved sister-in-law. However, Rai never found the nose bridge of my beloved siater-in-law. Why is my beloved sister-in-law waking up late, hmm? (Kakak ipar, akhirnya kakak ipar juga masuk ke dalam mobil dan menghampiri Rai yang sudah menunggu kakak ipar kesayanganku ini sedari tadi. Namun, Rai tak kunjung menemukan batang hidung kakak ipar kesayanganku ini. Kenapa kakak ipar kesayanganku ini terlambat bangun tidurnya, hmm?)" celetuk Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik kakak ipar kesayangannya tersebut.
Mendengarkan perkataan adik iparnya tersebut yang menanyakan bahwa mengapa dia terlambat untuk bangun tidur semakin membuat rasa bersalah Nara kepada kedua adik iparnya dan sang Papa mertua tersebut semakin membesar.
"U ̄ n, kesa no mezame ga okurete, 2-ri no giri no imōto to giri no chichi ga watashi no tōchaku o matsu no ni jikan ga kakattanode, watashi wa hontōni kibun ga waruku, 2-ri no giri no chichi ni hijō ni zaiaku-kan o kanjite imasu! Arrā yo, dōsureba kono aku to tsumi no sokubaku kara jibun o kaihō suru koto ga dekimasu ka? (Umm, aku sangat merasa tidak enak dan merasa sangat bersalah kepada kedua adik iparku dan Papa mertuaku ini atas keterlambatanku dalam bangun tidur pada pagi hari ini yang membuat kedua adik iparku dan Papa mertuaku ini menjadi lama untuk menunggu kedatanganku! Bagaimana caraku untuk melepaskan diriku dari jeratan rasa tidak enak dan rasa bersalah ini, Ya Allah?)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik dan imut milik adik iparnya tersebut.
"Um, forgive brother for making you wait for your arrival for so long. And forgive Nara and Rafa too, Pa, Rafi because Nara and Rafa have made you wait for Nara and Rafa's arrival for a very long time (Um, maafkan kakak yang membuatmu menunggu kedatangan kakak dengan begitu lama. Dan maafkan Nara dan Rafa juga ya Pa, Rafi karena Nara dan Rafa sudah membuat kalian menunggu kedatangan Nara dan Rafa dengan sangat lama)" ucap Nara kepada kedua adik iparnya dan sang Papa mertua tersebut dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah rasa ketidakenakan dan rasa bersalah yang besar yang terdapat di dalamnya.
"It's okay, sister-in-law. Naturally, my beloved sister-in-law wakes up late because my beloved sister-in-law is tired because of my beloved sister-in-law's activities for the whole day. Rai really understands this because Rai also often gets up late! (Tidak papa, kakak ipar. Wajar saja jika kakak ipar kesayanganku ini terlambat dalam bangun tidur karena kakak ipar kesayanganku ini kelelahan karena aktifitas kakak ipar kesayanganku ini selama seharian. Rai sangat memaklumi hal ini karena Rai juga sering bangun kesiangan!)" jawab Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang seperti kuda di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.
"Yes, that's all what he said Rai! (Ya, benar itu semua kata-katanya Rai!)" celetuk Rafi yang kini membenarkan seluruh perkataan adik perempuannya tersebut.
Berbeda dengan respon kedua adik iparnya yang memberinya respon yang biasa saja kepadanya, respon yang di berikan oleh sang Papa mertua justru merupakan respon yang sangat di luar dugaan oleh Nara.
__ADS_1
"Why did you two wake up late this morning? What did you do last night? (Kenapa kalian berdua bisa bangun kesiangan pada pagi hari ini? Memangnya semalam kalian melakukan apa saja?)" tanya Raihan dengan nada bicaranya yang terdengar sangatlah tegas tersebut kepada putra pertamanya dan menantu kesayangannya tersebut sembari melihat wajah tampan dan cantik milik putra pertamanya dan menantu kesayangannya tersebut melalui kaca spion yang terdapat di bagian depan mobil miliknya tersebut.