Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 15 - Pabrik Bayi


__ADS_3

"Kare no nani ga mondai ni natte imasu ka? Naze kare wa tada damatte iru nodesu ka? Ima demo kare wa watashi o mite imasu. Kare wa mada kenkōdesu ka? (Ada apa dengannya? Kenapa dia hanya terdiam saja? Bahkan sekarang dia sedang menatapku. Apakah dia masih sehat?)" batin Nara sembari mengerenyitkan dahinya karena melihat suami kecilnya yang hanya terdiam saja sembari menatap ke arahnya dengan sangat lekat.


Rafa masih saja terdiam sembari menatap wajah cantik milik istrinya dengan tatapan lekatnya. Bahkan di dalam kepala Rafa, dirinya mulai membayangkan tentang yang akan terjadi pada dirinya dan istri kecilnya.


"Bagaimana rasanya melakukan hal itu bersamanya ya? Apakah rasanya sangat enak seperti yang di perlihatkan pada film terlarang itu? Dan sepertinya bibirnya sangat manis untuk di nikmati. Tubuhnya juga putih dan mulus. Lekuk tubuhnya yang indah. Apakah miliknya itu masih sempit?" batin Rafa sembari berfantasi membayangkan seperti apa rasanya jika melakukan hal itu bersama istri kecilnya.


Sementara itu di ruang makan


Raihan, Rafi, dan Raihana masih saja menunggu kedatangan Rafa dan Nara yang sekarang sedang berstatus menjadi pengantin baru.


Berbeda dengan Rania yang kini sangat santai dan sedang menikmati makan malamnya.


Raihan, Rafi, dan Raihana pun mulai merasa heran dengan sikap Rania yang sangat mencurigakan.


Karena kebiasaan keluarga Abayomi yang selalu menunggu kedatangan anggota keluarga yang belum ada di ruang makan untuk makan bersama, semakin memperkuat kecurigaan Raihan, Rafi, dan Raihana kepada Rania yang bersikap santai saja seolah sedang berlibur di pantai.


"Ma, Mama ini kok malah makan duluan? Biasanya kan Mama selalu mau nunggu anggota keluarga yang belum ada. Apakah ini sehubungan dengan tidak turunnya Rafa dan Nara ke ruang makan?" bisik Raihan kepada sang istri dengan tatapan yang menyiratkan betapa besarnya kecurigaannya kepada sang istri.


"Mama makan duluan karena Mama tahu mereka tidak akan turun. Mama sudah mengganti semua isi lemari Nara yang tadinya berisi baju santai sekarang berisikan baju seksi semua. Maka dari itu Mama sekarang akan mengantarkan makan malam mereka ke kamar. Karena Mama tahu ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka.


"Apa! Jadi Mama yang merencanakan jebakan ini untuk Rafa dan Nara? Pasti Rafa tidak bisa menahan untuk melakukannya karena tubuh Nara yang sangat mulus. Sepertinya kita aka cepat mempunyai cucu" teriak Raihan dengan agak keras.


"Maksud Papa apa sih?" tanya Raihana kepada sang Papa karena tak mengerti maksud dari perkataan sang Papa.


"Kalau mau jawab omongan Mama itu kecil-kecil aja Pa. Nggak usah pakai teriak-teriak. Anak di bawah umur yang dengar kan mau tahu apa maksud dari perkataan Papa" sindir Rafi kepada sang Papa dengan sedikit melirik ke arah adik perempuannya yang sedang duduk di sebelahnya.


"Sebenarnya Papa dan kak Rafi ini sedang bicara apa? Kenapa sangat membingungkan sekali?" batin Raihana sembari menatap ke arah wajah tampan milik sang Papa dan kakak keduanya secara bergantian.


"Huh, katakan saja bahwa kamu juga menginginkannya. Makanya, carikan Papa dan Menantu orang jepang. Udah cantik, sehat, tubuhnya mulus juga" ucap Raihan yang langsung membekap mulutnya sendiri karena tak sengaja melontarkan kata-kata itu.


"Ya Allah, datangkanlah seorang gadis untuk membuka pintu hati hamba. Papa begitu kejam sekali dengan diriku. Omongan Papa kok bisa nancep banget di hati. Nasib-nasib, jomblo harus sabar" batin Rafa sembari tersenyum getir.


Sontak saja Rania yang merasa geram dan kesal dengan sang suami pun langsung mencubit gemas perut sang suami yang berada di sebelahnya.


Raihan yang mendapatkan cubitan gemas dari sang istri pun langsung mengaduh kesakitan. Namun tak sekali pun ucapan 'Aduh' yang di katakannya di hiraukan oleh sang istri.


"Aduh, sakit Ma" rintih Raihan sembari memegangi perutnya yang terkena cubitan gemas dari sang istri.


"Makanya kalau ngomong tuh di jaga. Rai yang nggak tahu apa-apa kan jadi mau tahu gara-gara Papa yang nggak bisa di kontrol mulutnya" bisik Rania sembari menatap ke arah wajah sang suami dengan tatapan tajamnya.


Setelah puas memcubit gemas perut sang suami, Rania langsung mengambil troli berisikan makan malam anak dan menantunya, tak lupa juga dengan air mineral yang ada di atas troli tersebut.


Rania pun langsung berjalan dengan mendorong troli yang berisikan makan malam anak dan menantunya ke arah lift yang akan membawanya menuju ke lantai dua.


Raihan yang melihat sang istri yang berjalan meninggalkannya pun langsung berteriak kepada sang istri untuk meminta pertanggung jawaban.


"Eh, Mama nggak bisa tinggalkan Papa begitu saja. Harus ada pertanggung jawaban dari Mama" teriak Raihan dengan keras kepada sang istri yang mulai berjalan menuju ke arah lift yang akan membawa sang istri ke lantai dua.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan teriakan sang suami, Rania yang sudah berada di depan pintu lift langsung berjalan memasuki lift dengan sedikit mempercepat langkahnya.


"Rasakan kamu. Salah sendiri mulutnya nggak bisa di kontrol. Rai yang nggak tahu apa-apa kan jadinya mau tahu maksud dari ucapanmu tadi. Awas saja jika kamu mendekatiku! Akan aku buang kamu di kali ciliwung" gerutu Rania di dalam hatinya ketika sudah berada di dalam lift.


Tring


Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk sampai di lantai dua. Kini Rania telah berada di lantai dua. Rania pun langsung berjalan keluar dari lift dengan mendorong troli yang berisikan makan malam anak dan menantunya menuju ke arah kamar anak dan menantunya.


Sesampainya di depan kamar anak dan menantunya, Rania langsung mengetuk pintu kamar anak dan menantunya. Tak lupa dengan meneriaki beberapa kalimat kepada anak dan menantunya yang ada di dalam kamar.


Tok


Tok


Tok


"Rafa, Nara, let's open the door, dear. Mama brought dinner for you! (Rafa, Nara, ayo buka pintunya sayang. Mama membawa makan malam untuk kalian!)" teriak Rania dengan keras sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar anak dan menantunya.


Sementara itu di dalam kamar Rafa dan Nara


Rafa dan Nara sangat terkejut mendengarkan ketukan pintu dan suara teriakan Rania dari luar kamar Rafa dan Nara.


"Naze mama wa watashi no yūshoku to kanojo no yūshoku o heya ni motte kita nodesu ka? Mama ni tsuite nani ka utagawashī yōdesu (Kenapa Mama membawa makan malamku dan makan malam dia ke kamar? Sepertinya ada yang mencurigakan dari Mama)" batin Nara sembari terdiam sejenak menatap pintu kamar yang terus di ketuk oleh sang Mama mertua.


Sementara itu, Rafa juga terus menggerutu mengenai sang Mama di dalam hatinya. Bahkan firasatnya mengatakan bahwa sang Mama akan menbawa musibah baru baginya.


"Mama ini ngapain sih pakai bawain makan malam aku sama Nara? Pasti ada rencana yang Mama sembunyikan nih" batin Rafa sembari menatap malas ke arah pintu kamarnya.


"Kore wa dō? Kon'na sugata de gibo no tobira o hirake rarenai. Konomu to konomazaru to ni kakawarazu, watashi wa giri no haha no tobira o hiraku tame ni rafa ni tasuke o motomenakereba narimasen (Bagaimana ini? Aku tidak bisa membukakan pintu untuk Mama mertuaku dengan penampilanku yang seperti ini. Mau tidak mau aku harus meminta bantuan Rafa untuk membukakan pintu untuk Mama mertuaku)" batin Nara sembari menelungkupkan wajahnya dengan selimut tebal milik suami kecilnya.


Tanpa di sadari, ketika menelungkupkan wajahnya dengan selimut wajah Nara kini sudah sangat memerah karena mengingat dirinya yang hanya mengenakan pakaian seksi yang sangat transparan.


"Rafa, mama no tobirawoakete kuremasen ka? (Rafa, bisakah kamu membukakan pintu untuk Mama?)" tanya Nara masih dengan menelungkupkan wajahnya dengan selimut tebal.


Rafa yang melihat tingkah laku istri kecilnya pun menjadi gemas sendiri. Karena Rafa tahu Nara pasti malu dengan penampilannya yang hanya mengenakan pakaian seksi yang sangat transparan.


"Tingkah lakumu saat sedang malu sangatlah menggemaskan, Nara. Apakah aku termasuk laki-laki yang beruntung dapat memiliki istri yang berasal dari negeri sakura?" batin Rafa sembari menatap ke arah istri kecilnya dengan tatapan lekatnya.


Rafa pun langsung beranjak berdiri dari posisi dirinya yang semula sedang duduk. Rafa tidak langsung berjalan membukakan pintu untuk sang Mama, melainkan berdiri terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan istri kecilnya.


"Mochiron mama no tobira o hirakimasu. Sekushī de tōmeina fuku dake o kite iru sugata ni hazukashī to omoimasu (Tentu saja aku yang akan membukan pintu untuk Mama. Aku tahu kamu malu dengan penampilanmu yang hanya mengenakan pakaian seksi yang sangat transparan itu)" ucap Rafa dengan sedikit tertawa kecil di akhir kalimatnya.


Wajah Nara yang sudah memerah di balik selimut tebal tersebut kini makin memerah karena mendengarkan ucapan dari suami kecilnya yang sangat membuatnya malu.


"Ā, hazukashī. Tsumari, kono atsui mōfu ga tarunda toki ni, kono hijō ni tōmeina sekushīna fuku dake o kiteita watashi o mita nodesu. (Ah, malunya aku. Berarti dia tadi melihat diriku yang hanya mengenakan pakaian seksi yang sangat transparan ini ketika selimut tebal ini melorot)" batin Nara sembari memegang kedua pipinya yang terasa panas di balik selimut tebal.


Rafa pun diam-diam menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan karena sepertinya dia berhasil membuat wajah istrinya memerah.

__ADS_1


"Sayang sekali di wajahmu ada selimut tebal tersebut. Cobalah jika tidak ada selimut tebal tersebut di wajahmu, pasti aku sudah melihat wajahmu yang memerah" batin Rafa sembari menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan dengan perlahan.


Rafa pun dengan perlahan berjalan mendekati pintu kamarnya untuk membukakan pintu untuk sang Mama yang sedang mengantarkan makan malamnya dan makan malam istri kecilnya.


Ceklek


Sesampainya di depan pintu kamarnya, Rafa langsung membukakan pintu kamarnya. Sehingga terlihatlah wajah sang Mama yang sedang menyunggingkan senyuman bahagia di wajahnya yang cantik.


"Have you fought so that what comes out is you? (Apakah kalian sudah bertempur sehingga yang keluar adalah kamu?)" ucap Rania dengan sedikit keras dengan harapan menantunya bisa mendengarkan ucapannya.


Sementara itu di balik selimut tebal, wajah Nara makin memerah karena ucapan sang Mama mertua yang menurutnya sangat vulgar.


"Ā, gibo to wa? Gibo no hanashi ga gehin sugiru no wa nazedesu ka? Jibun o chitei ni shizumetakatta yōna ki ga shita (Ah, apa-apaan Mama mertuaku ini? Mengapa Mama mertuaku berbicara terlalu vulgar? Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku ke dasar bumi)" batin Nara sembari semakin menelungkupkan wajahnya dengan selimut tebal.


Sementara itu, Rafa merespon ucapan sang Mama dengan tatapan tajamnya serta ekspresi wajahnya yang datar. Hal ini menandakan bahwa Rafa tidak menyukai hal yang sang Mama tanyakan kepadanya.


"Why did Mama ask like that? Is Mama the mastermind of all this? (Kenapa Mama bertanya seperti itu? Apakah Mama dalang dari semua ini?)" ucap Rafa dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tatapan tajamnya serta nada bicaranya yang datar.


"Ah, you can guess that Mama is the mastermind behind all this. Uh, what about Nara's body? Is it beautiful, smooth, and delicious? (Ah, kamu bisa menebak kalau Mama lah dalang dari semua ini. Eh, bagaiamana dengan tubuhnya Nara? Apakah indah, mulus, dan enak?)" ucap Rania dengan nada bicara yang di buat semenggoda mungkin.


"Never mind Ma. I haven't done that with Nara. So Mama don't talk about things related to it (Sudahlah Ma. Aku belum melakukan hal itu dengan Nara. Jadi Mama jangan berbicara hal-hal yang berhubungan dengan itu)" ucap Rafa dengan ekspresi wajahnya yang datar dan menatap wajah sang Mama dengan tatapan jengahnya.


"Why haven't you done that with Nara? Come on tonight and hurry up and open your baby making factory. Mama and Papa already want a grandson from you. With Nara wearing sexy clothes that are very transparent, then you will not be able to refuse not to do that with Nara. As an encouragement, Mama brought you dinner. Happy fighting and opening your baby factory (Untuk apa kamu belum melakukan hal itu bersama Nara? Ayo lakukanlah malam ini dan segeralah buka pabrik pembuatan bayi kalian. Mama dan Papa sudah menginginkan seorang cucu dari kalian. Dengan Nara yang menggunakan pakaian seksi yang sangat transparan, maka kamu tidak akan bisa menolak untuk tidak melakukan hal itu dengan Nara. Sebagai penambah semangat, Mama bawakan makan malam untuk kalian. Selamat bertempur dan membuka pabrik bayi kalian)" ucap Rania sembari membungkukan tubuhnya yang terlihat seperti pelayan yang sedang mengantarkan makanan untuk pelanggannya.


"Ah, never mind Ma. Thank you for delivering our dinner. We will eat it soon (Ah, sudahlah Ma. Terima kasih telah mengantarkan makan malam kami. Kami akan segera memakannya)" ucap Rafa sembari berjalan mendorong troli yang berisi makan malamnya dan makan malam istri kecilnya masuk ke kadalam kamarnya.


Rafa berhenti berjalan sejenak untuk menutup pintu kamarnya kembali. Dengan harapan sang Mama bisa segera pergi dari kamarnya.


Ceklek


"Ayolah Ma, segeralah pergi. Ini permintaan sederhana putramu. Tolong di penuhi permintaan putramu ini" batin Rafa sembari menutup kembali pintu kamarnya.


Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Rafa langsung berjalan kembali sembari mendorong troli yang berisi makan malamnya dan makan malam istri kecilnya menuju ke samping tempat tidurnya dan tempat tidur istri kecilnya.


Setelah sampai di sampai di samping tempat tidurnya dan tempat tidur istrinya, Rafa langsung mengehentikan langkahnya dan juga mengehentikan laju troli yang berisi makana malamnya dan juga makan malam istri kecilnya.


Rafa langsung sigap memanggil istri kecilnya untuk segera menyantap hidangan makan malamnya. Karena jika hidangan makan malamnya tidak hangat lagi, akan kurang enak rasanya ketika di santap.


"Nara, sā, yūshoku o tabe nasai. Mō atatakakunai to,-go de aji ga waruku narimasu (Nara, ayo segera di santap makan malammu. Jika tidak hangat lagi, rasanya nanti akan kurang enak)" ucap Rafa sembari mengambil sebuah piring yang sudah berisi nasi berserta lauk pauknya, lalu Rafa langsung memberikannya kepada istri kecilnya.


Nara pun dengan sigap langsung menerima sebuah piring yang sudah berisi nasi berserta lauk pauknya dari suami kecilnya.


"Yūshoku o tabemasu. Shikashi, watashi ga taberu toki, watashi o miru koto wa dekimasen ka? Anata wa watashi ni se o muketa to iu imi de (Aku akan menyantap hidangan makan malamku. Tapi bisakah kamu tidak menatapku ketika aku makan? Dalam artian kamu membelakangiku)" ucap Nara sembari mulai memposisikan dirinya untuk menatap dinding kamar suami kecilnya. Dengan harapan suami kecilnya tidak melihat tubuh bagian depannya ketika dirinya sedang makan.


"Yoshi, yoshi. Watashi wa anata no negai ni shitagaimasu (Oke, baiklah. Akan aku turuti kemauanmu)" ucap Rafa sembari mengambil sebuah piring yang sudah berisi nasi berserta lauk pauknya.


Rafa pun segera berjalan menuju bagian ujung tempat tidurnya. Kemudian Rafa pun langsung duduk di bagian ujung tempat tidurnya.

__ADS_1


Baik Rafa maupun Nara sekarang sudah mulai menyantap hidangan makan malam mereka. Tentu saja dengan tak lupa membaca doa sebelum makan dalam agama Islam.


"Bagaimana ya rasanya ketika aku dan Nara mulai membuka pabrik bayi nanti? Apakah rasanya sangatlah menyenangkan? Ah, Rafa. Kamu ini sedang memikirkan apa? Sepertinya kamu sudah terpengaruh oleh ucapan Mamamu sendiri" batin Rafa yang berfantasi sembari menyendokkan nasi berserta lauk pauk ke dalam mulutnya.


__ADS_2