Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 41 - Keluarga Gila!


__ADS_3

Kini, Rania pun sedang memikirkan bagaimana cara agar putra pertamanya tersebut mau meniup lilin-lilin ulang tahun yang ada pada kue ulang tahunnya tersebut.


"Ah, how do I get my first son to blow out the birthday candles that are on his birthday cake? (Ah, bagaimana caranya agar putra pertamaku ini mau meniup lilin-lilin ulang tahun yang ada pada kue ulang tahunnya?)" batin Rania sembari menggerak-gerakkan jari telunjuknya tersebut pada dagunya sendiri.


Setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya sendiri agar bisa menemukan cara untuk putra pertamanya agar mau meniup lilin-lilin ulang tahun yang ada pada kue ulang tahunnya, pada akhirnya Rania pun menemukan sebuah cara yang bisa di gunakan untuk mengancam agar putra pertamanya tersebut mau meniup lilin-lilin ulang tahun yang ada pada kue ulang tahunnya tersebut.


"Hopefully this way my first son will blow out all the birthday candles that are on his birthday cake! I really hope this method will work out well! (Semoga saja dengan cara ini putra pertamaku ini mau meniup semua lilin-lilin ulang tahun yang ada di kue ulang tahunnya tersebut! Aku sangat berharap sekali cara ini bisa berhasil dengan baik!)" batin Rania sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik tersebut.


Sebelum mulai melancarkan aksinya untuk mengancam agar putra pertamanya tersebut mau meniup semua lilin-lilin ulang tahunnya yang ada di kue ulang tahun milik putra pertamanya tersebut, Rania juga terlebih dahulu memasang ekspresi wajahnya yang menyiratkan sebuah kekesalan dan kemarahan yang sangat besar kepada putra pertamanya tersebut.


"Rafa, Mama beg you to blow out all the birthday candles that are on your birthday cake. At least you do it to appreciate the hard work of your little wife who has gone to great lengths to make a birthday cake for you. Or if you don't want to obey Mama's request, then you will not hesitate to throw away all of your books! Because Mama knows you can't live without your books! (Rafa, Mama mohon kamu mau meniup semua lilin-lilin ulang tahun yang ada di kue ulang tahunmu itu. Setidaknya kamu lakukan hal itu untuk menghargai kerja keras istri kecilmu itu yang telah bersusah payah untuk membuat kue ulang tahun untukmu. Atau jika kamu tidak mau menuruti permintaan Mama ini, maka dengan sangat tak segan-segan Mama akan membuang semua buku-buku milikmu itu! Karena Mama tahu kamu itu tidak bisa hidup tanpa buku-bukumu itu!)" ucap Rania dengan menekankan setiap kata-katanya tersebut sembari menatap dengan sangat tajam ke arah wajah tampan milik putra pertamanya tersebut.


Setelah selesai berbicara kepada putra pertamanya tersebut, Rania langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya tersebut.


Tak hanya itu saja, Rania bahkan terlihat sedang mengatakan sebuah kalimat yang bisa di bilang sangatlah panjang kepada menantu kesayangannya tersebut.


"Nara, you can help your little husband to blow out all the birthday candles that are on his birthday cake. And if your little husband doesn't want to comply with your request, you can threaten him to throw away all his books. Because Mama really knows that Mama's first son really can't live without his books! (Nara, kamu bisa membantu suami kecilmu itu untuk meniup semua lilin-lilin ulang tahun yang ada di kue ulang tahunnya tersebut. Dan kalau suami kecilmu itu tidak mau menuruti permintaanmu, kamu bisa mengancamnya untuk membuang semua buku-bukunya itu. Karena Mama sangatlah tahu jika putra pertama Mama itu sangatlah tidak bisa hidup tanpa buku-bukunya!)" ucap Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya tersebut.


Rafa dan Nara yang mendengarkan perkataan seorang perempuan yang berusia kepala 4 tersebut yang merupakan sang Mama dan sang Mama mertua dari Rafa dan Nara pun hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Rafa dan Nara pun kini sedang sibuk-sibuknya untuk memikirkan perkataan seorang perempuan yang berusia kepala 4 tersebut yang merupakan sang Mama dan sang Mama mertua dari Rafa dan Nara di pikiran mereka masing-masing.


Di dalam hati kecil mereka masing-masing, Rafa dan Nara sama-sama membicarakan tentang sang Mama dan sang Mama mertua bagi mereka tersebut. Namun, kata-kata tersebut tentunya tidak sampai terucapkan oleh mulut mereka sendiri.


Rafa kini yang sedang merasa sangat kesal karena ancaman sang Mama yang sangatlah klasik dan juga ancaman tersebut telah di gunakan oleh sang Mama untuk mengancamnya bahkan mungkin sudah sebanyak ribuan kali.


"Ah, Mama ini memang paling bisa mengancamku dengan ancaman yang sangatlah klasik. Yaitu, dengan membuang semua buku-buku milikku. Karena Mama memang sangatlah tahu jika aku ini seorang kutu buku yang sangat menyukai atau bahkan mencintai setiap buku-buku milikku itu. Tak akan aku biarkan Mama membuang semua buku-buku milikku itu! Dengan hati yang sangatlah terpaksa, berarti aku harus menuruti permintaan Mama yang satu ini agar aku bisa menyelamatkan semua buku-buku milikku itu!" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.


Sangat berbeda 360 derajat dengan apa yang di rasakan oleh suami kecilnya tersebut, Nara justru sedang merasa sangatlah senang seperti ketika dirinya mendapatkan posisi podium ke 1 pada olimpiade matematika karena mengetahui kelemahan dari suami kecilnya tersebut melalui sang Mama mertuanya sendiri.


"Ā, soreha jakutendesu ka? Sore wa kare no hon ni aru dakedesu ka? U ̄ n, kare wa tashika ni watashi no yōna hontō no hon no mushideari, kare no nichijō seikatsu ni fuzui shinai hon ga nakereba ikiru koto ga dekinai koto ga wakarimashita. Ā, jibun no gibo kara kanojo no yowa-sa o shitte totemo tanoshīdesu! Watashi no jakuten to jakuten wa onajidearu koto ga hanmei shimashita (Ah, jadi itu kelemahannya? Hanya terletak pada buku-buku miliknya saja? Umm, ternyata dia memanglah seorang kutu buku sejati seperti aku yang tak bisa hidup jika tak ada buku-buku yang tak menemani kesehariannya. Ah, aku merasa sangat senang sekali bisa mengetahui kelemahannya dari Mama mertuaku sendiri! Ternyata kelemahanku dan kelemahannya itu sama)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.

__ADS_1


Raihana yang mendengar perkataan sang Mama yang mengatakan bahwa kakak laki-laki pertamanya tersebut tidak bisa hidup tanpa adanya buku-buku miliknya tersebut pun kini secara tak sengaja mengatakan bahwa kakak ipar kesayangannya tersebut merupakan penulis dari novel kesukaannya.


"Not only was my first brother unable to live without his books, I also couldn't live without my favorite novels written by my beloved sister-in-law! (Bukan hanya kakak laki-laki pertamaku ini yang tidak bisa hidup tanpa ada buku-buku miliknya, aku juga tak bisa hidup tanpa novel-novel kesukaanku yang di tulis oleh kakak ipar kesayanganku itu!)" ucap Raihana dengan lirih serta tanpa di sadari oleh dirinya sendiri ketika mengucapkan kata-katanya tersebut.


Sontak saja Rafa, Rafi, dan Raihan yang baru saja mengetahui hal ini dari Raihana pun di buat menjadi sangat terkejut dengan salah satu fakta yang mengejutkan tentang sesosok Narahita Hideko Yamada yang kini telah menjadi bagian dari keluarga Abayomi, menjadi menantu kesayangan dari Rania dan Raihan, menjadi kakak ipar kesayangan dari Rafi dan Raihana, serta telah menjadi istri yang sah secara hukum dan agama bagi Muhammad Rafardhan Abayomi.


Untuk beberapa saat, tatapan Rafa, Rafi, dan Raihan pun kini sedang saling beradu pandang satu sama lain. Rafa, Rafi, dan Raihan pun kini masih merasa tak percaya dengan sebuah fakta yang mengejutkan dari Nara yang di ucapkan oleh Raihana tersebut.


Ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi yang tak lain adalah Rafa, Rafi, dan Raihan pun bahkan kini sedang menerka-nerka di dalam pikiran mereka masing-masing.


Tak hanya itu saja, ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi ini pun bahkan memiliki sebuah asumsi atau pendapat tersendiri mengenai sebuah fakta yang mengejutkan tentang Nara tersebut.


Meskipun memiliki sebuah asumsi atau pendapat tersendiri, tetap saja akan ada sebuah kesamaan kecil di antara ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi tersebut. Yaitu, mereka bertiga sama-sama memuji Nara di dalam hati kecil mereka masing-masing tanpa bisa mengucapkannya secara langsung dengan mulut mereka masing-masing.


"Em, kenapa Rai bisa mengetahui hal ini? Dan apa benar tentang mengenai hal ini? Jika memang benar adanya, berarti istri kecilku ini telah berhasil untuk membuat Rai menjadi salah satu penggemar berat dari semua novel-novel karyanya. Kalau Rai sampai menjadikan istri kecilku sebagai penulis dari novel kesukaannya, berarti istri kecilku ini merupakan penulis yang berbakat dalam membuat tulisan-tulisan karya novelnya menjadi sangat bagus!" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik sang Papa dan adik kembarnya tersebut.


"Wow, how amazing is my sister-in-law to be the author of my little sister's favorite novel! I really know that kid's taste is always very high in everything. Many of the novels have even gone global, but they couldn't attract my little sister's heart to make it her favorite novel (Wah, hebat sekali kakak iparku ini yang bisa menjadi penulis dari novel kesukaan dari adik perempuanku ini! Aku sangat tahu sekali selera anak itu selalu tinggi sekali di dalam segala hal. Banyak bahkan novel-novel yang sudah mendunia, tapi tidak bisa menarik hati adik perempuanku ini untuk menjadikannya sebagai novel kesukaannya)" batin Rafi sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik sang Papa dan kakak kembarnya tersebut.


"My beloved daughter-in-law is really great! I never made the wrong choice to be the wife of my first son, to be a favorite daughter-in-law for me and my wife, and also to be a favorite sister-in-law for my second son and third daughter. Beautiful, kind hearted, very smart, a talented novelist, and many more. My beloved daughter-in-law really is the perfect girl among the 1 million girls in this world! (Menantu kesayanganku ini memang hebat sekali! Aku memang tak pernah salah memilihnya untuk menjadi istri dari putra pertamaku, menjadi menantu kesayangan untukku dan istriku, dan juga menjadi kakak ipar kesayangan untuk putra keduaku dan putri ketigaku. Sudah cantik, hatinya baik, sangat cerdas, seorang penulis novel yang berbakat, dan masih banyak lagi. Menantu kesayanganku ini memang benar-benar menjadi perempuan sempurna di antara 1 juta perempuan di dunia ini!)" batin Raihan sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan yang merupakan duplikat dari wajahnya milik kedua putra kembarnya tersebut.


"While these women are waiting for my twins to immediately blow out all the birthday candles that are on their respective birthday cakes, the three of you are just silent while looking at each other. Three annoying duplicate boys! Not his face, not his nature, the point is that they both become duplicates. You three, Papa and kid are both annoying! (Di kala para perempuan ini sedang menunggu untuk kedua putra kembarku agar segera meniup semua lilin-lilin ulang tahun yang ada di kue ulang tahun mereka-masing, kalian bertiga justru hanya terdiam saja sembari beradu pandang satu sama lain. Dasar 3 laki-laki duplikat yang menyebalkan! Tidak wajahnya, tidak sifatnya, intinya sama-sama menjadi duplikat. Kalian bertiga ini Papa dan anak sama-sama menyebalkan!)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah tampan milik sang suami serta kedua putra kembarnya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan sebuah rasa marah, kesal, dan juga geram yang sudah tercampur aduk dengan rata menjadi satu.


Tak ingin membuang banyak-banyak waktunya lagi, Rania pun langsung mengeluarkan ponsel miliknya dari saku roknya tersebut untuk bersiap-siap memotret semua anggota keluarga Abayomi yang ada di rumah keluarga Abayomi, terutama Rafa dan Rafi yang sedang merayakan ulang tahun mereka yang ke 17 tahun.


"Hey, Mama's favorite 3 duplicate boys, don't just keep quiet! Come on, be aware of each of your daydreams! Mama wants to take pictures of all the Abayomi family members here, especially Rafa and Rafi who are celebrating their 17th birthday! (Hei 3 laki-laki duplikat kesayangan Mama, jangan hanya diam saja! Ayo, sadarlah dari lamunan kalian masing-masing! Mama ingin segera memotret semua anggota keluarga Abayomi yang ada di sini, terutama Rafa dan Rafi yang sedang merayakan ulang tahun mereka yang ke 17 tahun!)" ucap Rania sembari menyiapkan kamera ponselnya tersebut yang bermerek I Phone tersebut untuk memotret seluruh anggota keluarga Abayomi, terutama Rafa dan Rafi yang sedang merayakan ulang tahun mereka yang ke 17 tahun.


Sontak saja Rafa, Rafi, dan Raihan pun langsung menjadi tersadar dari lamunan mereka masing-masing ketika mendengarkan ucapan dari Rania yang mengatakan bahwa mereka harus segera tersadar dari lamunannya tersebut.


Rania pun dengan segera menyetel mode kamera depan untuk memotret secara selfie wajah tampan serta cantik milik Rania, Raihan, Rafa, Nara, Rafi, dan juga Raihana tersebut.


Tak lupa untuk Rania mengarahkan kamera depan ponselnya tersebut ke arah wajahnya, wajah sang suami, wajah kedua putra kembarnya, wajah menantu kesayangannya, serta wajah anak perempuannya tersebut agar terbawa di dalam fotonya nanti.

__ADS_1


Selayaknya fotografer profesional, Rania pun juga mengatur gaya yang harus di lakukan olehnya, sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayanganya, serta anak perempuannya tersebut.


"Papa, Rafa, Nara, Rafi, and Rai, don't forget to smile! For Papa and Rafa, put your hands on Mama and Nara's shoulders. If necessary, also sink your head in Mama and Nara's shoulders. For Mama, Nara, Rafi, and Rai, we can style as we like! (Papa, Rafa, Nara, Rafi, dan Rai jangan lupa untuk tersenyum ya! Untuk Papa dan Rafa, taruhlah kedua tangan kalian di bahu Mama dan Nara. Bila perlu tenggelamkan juga kepala kalian di bahu Mama dan Nara. Untuk Mama, Nara, Rafi, dan Rai, kita boleh bergaya sesuka hati kita!)" ucap Rania sembari mengarahkan kamera bagian depan dari ponselnya untuk memotret secara selfie wajah dirinya, sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, serta anak perempuannya tersebut.


Raihan, Nara, Rafi, dan Raihana pun kini sedang menampakkan ekspresi wajah mereka masing-masing yang menyiratkan sebuah kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan oleh sebuah kata-kata.


Tentunya hal ini berbeda 360 derajat dengan Rafa yang di berikan perintah oleh sang Mama untuk menaruh kedua tangannya di kedua bahu milik istri kecilnya tersebut.


Karena merasa dirinya sedang berada di tanah yang paling ujung dan di belakangnya berada sebuah jurang dengan kedalaman 10 Km, pada akhirnya Rafa pun mau tak mau melakukan hal yang menurutnya sangatlah aneh yang di perintahkan oleh sang Mama tersebut.


"Hanya karena aku sudah merasa sangat terpaksa saja. Semua ini gara-gara Mama yang memintaku untuk melakukan hal yang menurutku aneh semacam hal ini!" batin Rafa sembari menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.


Karena dirinya yang sudah tak sabar lagi untuk memotret foto orang-orang yang sangat berarti di dalam hidupnya, Rania pun kini dengan segera memberikan aba-aba kepada sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, serta anak perempuannya tersebut.


"Yes, ready. One two Three...! (Siap ya. Satu...Dua...Tiga...!)" teriak Rania sembari bersiap-siap untuk memencet tombol volume tambah dan kurang di ponsel miliknya tersebut untuk memotret sebuah foto dengan sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, serta anak perempuannya tersebut.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Kini, tak terhitung lagi sudah berapa kali Rania mengambil foto selfie dengan sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, serta anak perempuannya tersebut.


Hingga pada saat ada pose yang sangat gila yang di lakukaan oleh adik perempuannya dan adik kembarnya tersebut, membuat Rafa menjadi menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.


Bagaimana Rafa tidak menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar? Jika dengan mata kepalanya sendiri Rafa melihat adik kembarnya dan adik perempuannya tersebut sedang berpose dengan kedua matanya yang melotot dengan sempurna, bibir yang di manyunkan ke bawah, serta jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk simbol V atau peace.

__ADS_1


Menurut Rafa pribadi, ini adalah satu-satunya pose yang paling membingungkan yang Rafa lihat dengan mata kepalanya sendiri. Perpaduan ekspresi wajah yang menyeramkan, ekspresi wajah yang memelas, serta ekspresi wajah yang imut membut Rafa menjadi pusing sendiri ketika melihat pose adik kembarnya dan adik perempuannya tersebut.


"Huh, ini adalah ekspresi wajah yang paling membingungkan yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Perpaduan ekspresi wajah yang menyeramkan, ekspresi wajah yang memelas, serta ekspresi wajah yang imut membuatku menjadi sangat bingung dengan adik kembarku dan adik perempuanku ini. Lama-kelamaan nanti keluarga ini bukan bernama keluarga Abayomi lagi, namun nanti akan bernama keluarga gila!" batin Rafa sembari menghembuskan nafasnya tersebut dengan sangat kasar.


__ADS_2