Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 9 - Pindah Rumah


__ADS_3

"Ā, naze sore ga futatabi okotta nodesu ka? Sā, watashi to watashi no kuchibiru mo orite kudasai. Kore o 3-kai-me ni shitaku arimasen.-Saki no toirede no jiken no ato, ima anata no futago no imōto wa gokaiwomaneku chōsen o shite imasu (Ah, kenapa bisa terulang lagi sih? Ayolah, lepaskan diriku dan juga bibirku. Aku tidak mau hal ini terulang untuk ketiga kalinya. Setelah insiden di kamar mandi tadi, kini adik kembarmu memberikan tantangan yang menyesatkan)" batin Nara sembari memukul-mukul dada bidang milik suami kecilnya.


Dan Rafa pun segera menyudahi ciuman singkat yang terjadi di antara dia dan istri kecilnya. Setelah itu Rafa langsung memperbaiki posisi duduknya seperti semula. Diam-diam Rafa menyunggingkan sedikit senyumannya di wajahnya yang tampan.


"Hah, kamu sangat lucu sekali Nara. Kini aku bisa merasakan bersama dirimu dengan waktu yang lama. Karena kamu dulu ketika melihatku pasti kamu akan segera menjahuiku karena sifat dan wajahku yang sangat dingin. Lagi pula kamu kan menganggapku sebagai rival di olimpiade sains tingkat internasional" batin Rafa sembari sedikit menyunggingkan senyumannya di wajahnya yang tampan.


Setelah menyaksikan secara langsung adegan romantis antara Nara dan Rafa, Nandito dan Rafi masih terbengong karena tak menyangka dengan pemandangan yang akan di lihat mereka secara langsung. Tentu saja dengan tangan kiri Rafi yang menutup mata suci adik perempuannya agar tidak melihat adegan romantis yang di lakukan antara Nara dan Rafa.


"Kapan aku bisa merasakannya secara langsung? Melihat kak Rafa dengan kak Nara melakukannya saja sudah sangat membuatku menginginkannya. Ya Allah, kapankah jodohku datang?" batin Rafi sembari menyunggingkan senyuman getir di wajahnya yang tampan.


"Oishī. Itsu kanjimasu ka? Watashiniha gārufurendo sae inaishi, senzai-tekina tsuma wa iumademonaiga, watashi no giri no ani to imōto ni yotte nashitoge rareru koto o nozonde iru. O arrā, sore o kanjiru koto ga dekizu ni sōzō suru koto shika dekinai mada dokushin no shimo be no kokoro o tsuyoku shite kudasai (Enaknya. Kapan aku bisa merasannya? Pacar saja aku tidak punya apalagi calon istri, tapi aku malah menginginkan hal yang di lakukan oleh adik dan adik iparku. Ya Allah, kuatkanlah hati hamba yang masih menjadi jomblo yang hanya bisa mengkhayal saja tanpa bisa merasakannya)" batin Nandito masih dengan diamnya dan hampir saja meneteskan air liurnya karena menginginkan hal yang di lakukan oleh adik dan adik iparnya.


"Kak Rafi ini lagi ngapain sih? Kenapa pakai tutup kedua matanya Rai segala sih? Ngeselin banget jadi kakak. Rasanya ingin Rai buang kak Rafi ke sungai ciliwung atau Rai suruh Mama buat kutuk kak Rafi jadi batu kayak Malin kundang" gerutu Raihana di dalam hatinya sembari mencoba beberapa upaya untuk melepaskan tangan kakak keduanya dari kedua matanya.


Sementara itu Raihana sibuk menyingkirkan tangan kakak keduanya dari kedua matanya. Namun Rafi malah lagi-lagi menaikkan kembali tangannya ke kedua mata suci milik adik perempuannya.


Karena kelakuan kakak keduanya yang sangat membuat Raihana sangat kesal, pada akhirnya Raihana mencubit tangan kakak keduanya dengan kukunya yang sedikit panjang.


Sontak saja Rafi langsung mengaduh kesakitan karena cubitan dari adik perempuannya yang menggunakan kukunya yang sedikit panjang untuk mencubit salah satu tangannya.


"Ah, why are you pinching your brother's hand with your slightly long nails? Don't you know what it feels like? (Ah, kenapa kamu mencubit tangan kakak dengan kukumu yang sedikit panjang? Apakah kamu tidak tahu rasanya seperti apa?)" ringis Rafi sembari memegangi salah satu tangannya yang terkena cubitan dari kuku adik perempuannya yang sedikit panjang.


Sementara itu Raihana justru semakin kesal karena mendengar rutukan kakak keduanya yang di tujukan untuknya. Karena rasa kekesalan yang sudah memuncak, akhirnya Raihana mencubit salah satu tangan kakak keduanya yang tadinya belum terkena cubitan dari Raihana dengan kuku Raihana yang sedikit panjang.


Rafi pun semakin mengaduh kesakitan karena kedua tangannya sudah terkena cubitan maut dari kuku adik perempuannya yang sedikit panjang.


"I should be the one asking why you closed my eyes. Even though I wanted to see my brother and sister-in-law doing it. So I don't have to imagine it from the description that the novel author explains in the novel he makes (Harusnya aku yang bertanya kenapa kakak menutup kedua mataku. Padahal aku ingin meliht kakak dan kakak ipar melakukannya. Jadi aku tidak harus membayangkannya dari deskripsi yang di jelaskan penulis novel di dalam novel yang di buatnya)" ucap Raihana sembari menaruh kedua tangannya di depan dadanya.


Sementara itu Nara yang mendengar perkataan adik iparnya pun merasa sangat terkejut. Bagaimana tidak, anak yang masih berusia 12 tahun itu masih berstatus di bawah umur dan sudah membaca novel yang di tujukan untuk orang yang sudah berumur 17 tahun ke atas. Nara juga sebenarnya masih di bawah umur karena usianya yang belum genap 17 tahun.


"Genzai, ōku no miseinen-sha ga 17-sai ijō o taishō to shita shōsetsu o yonde imasu. Watashi wa mada 17-saide wanainode, jissai ni wa mada miseinendesu. Shikashi, koreha, 17 saiijō-muke no shōsetsu o yonda 12-sai-miman no kodomo ni totte wa saraniwaruikotodesu. (Anak-anak di bawah umur sekarang sudah banyak yang membaca novel yang di tujukan untuk usia 17 ke atas. Aku sebenarnya juga masih di bawah umur karena usiaku yang belum genap 17 tahun. Tapi ini lebih parah lagi anak yang baru berusia 12 tahun sudah membaca novel yang di peruntukkan untuk yang sudah berusia 17 tahun ke atas)" batin Nara sembari menatap wajah adik iparnya dengan tatapan yang menyiratkan ketidak percayaan.

__ADS_1


Rafi langsung menjewer dengan sedikit kencang telinga kanan adik perempuannya karena mendengar perkataan yang di lontarkan oleh adik perempuannya sangat membuat semua orang sangat terkejut.


"What the hell are you reading a novel that is intended for people aged 17 years and over. You just read novels that are intended for children (Kamu ini apa-apaan membaca novel yang di peruntukkan untuk orang yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Kamu itu baca saja novel yang di peruntukkan untuk anak-anak)" ucap Rafi sembari menjewer telinga kanan adik perempuannya dengan sedikit keras.


"Ah, it hurts. I have collected a lot of novels for children in my room sis. I even collect novels for children in various languages ​​such as Indonesian, Korean, Japanese, Chinese, French, Spanish, and English. (Ah, sakit. Aku sudah banyak mengkoleksi novel untuk anak-anak di kamarku kak. Aku bahkan mengkoleksi novel untuk anak-anak dalam berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia, Korea, Jepang, China, Prancis, Spanyol, dan Inggris)" ucap Raihana sembari menyingkirkan tangan kakak keduanya yang masih menempel di telinga kanannya.


"It's better if you just read novels for children than novels for people aged 17 years and over (Lebih baik kamu baca saja novel untuk anak-anak dari pada novel untuk orang yang sudah berusia 17 tahun ke atas)" ucap Rafa dengan tiba-tiba sembari menatap wajah adik perempuannya dengan tatapan tajamnya.


"Aduh, selamatkan Rai ya Allah. Kak Rafa sudah terlihat seperti seorang polisi yang sangat membenci para penjahat yang sukanya kabur untuk menghindar dari kejaran polisi" batin Raihana sembari menatap wajah kakak pertamanya dengan tatapan penuh harap.


Nara sebenarnya sangat tahu adik iparnya yang satu ini sedang sangat tertekan karena ocehan kedua kakak kembarnya tentang dirinya yang berbicara tentang novel untuk orang yang sudah berumur 17 tahun tadi.


Sebenarnya Nara tahu kedua kakak kembar dari Raihana begitu possesif kepada adik perempuannya karena mereka ingin melindungi adik perempuannya.


Nara pun berusaha mencari cara untuk menghilangkan tekanan yang di alami oleh Raihana dengan cara yang sederhana namun bisa membuatnya kembali ceria dan bahagia.


"Raihana, do you have a game that is more exciting? Who knows playing together will make your mood better (Raihana, apakah kamu mempunyai permainan yang lebih seru lagi? Siapa tahu dengan bermain bersama akan membuat suasana hatimu membaik)" tanya Nara kepada adik iparnya dengan menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya.


"Is that? (Apakah itu?)" ucap Nandito yang kini sudah membuka suaranya.


"Rai wants to hear what love is according to my beautiful and handsome brothers. And also if my pretty and handsome brothers would choose love or career? Rai is very curious about my brothers' views on love (Rai mau mendengarkan apa itu cinta menurut kakak-kakakku yang cantik dan tampan. Dan juga jika kakak-kakakku yang cantik dan tampan ini akan memilih cinta atau karir? Rai sangat penasaran dengan pandangan kakak-kakakku tentang cinta)" ucap Raihana sembari tertawa kecil di akhir kalimatnya.


"And this starts with my beautiful brother-in-law, then my first brother who is handsome but cold like in Antarctica, continues to my handsome brother-in-law, then ends up in my second brother who is ugly and warm like fire (Dan ini di mulai dari kakak iparku yang cantik, kemudian kakak pertamaku yang tampan namun dingin seperti di antartika, lanjut ke kakak dari kakak iparku yang tampan, kemudian berakhir di kakak keduaku yang jelek dan hangat seperti api)" lanjut Raihana sembari menjulurkan lidahnya kepada kakak keduanya yang ada di samping kanannya.


"Okay. According to Nara, love is a feeling of love that can arise between two members of the opposite sex. Love, if managed properly, can be a motivation for people who are feeling it. And if it is not managed properly, love will plunge someone into a very deep hole. Love can eliminate all the glorious achievements that have been carved by someone and it can make someone lose their mind. So Nara actually focused more on career. But Nara also needs love because without love we will be cruel and heartless. If so according to Nara (Oke. Menurut Nara cinta itu adalah perasaan suka yang bisa timbul di antara dua lawan jenis. Cinta itu jika di kelola dengan baik bisa menjadi motivasi bagi orang yang sedang merasakannya. Dan jika tidak bisa di kelola dengan baik cinta akan menjerumuskan seseorang ke dalam lubang yang sangat dalam. Cinta bisa menghilangkan semua prestasi gemilang yang telah di ukir oleh seseorang dan bisa saja membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Jadi Nara sebenarnya lebih memfokuskan kepada karir. Tapi Nara juga perlu cinta karena tanpa cinta kita akan menjadi pribadi yang kejam dan tanpa hati. Sekiranya begitu menurut Nara)" ucap Nara yang menjelaskan pandangannya tentang cinta dengan panjang lebar.


"Okay, a very deep look at my brother-in-law. What about Kak Rafa, kak Nandito, and kak Rafi? (Oke, pandangan yang sangat dalam sekali kakak iparku. Bagaimana dengan kak Rafa, kak Nandito, dan kak Rafi?)" tanya Raihana kepada kedua kakak kembarnya dan juga kakak dari kakak iparnya.


"I agree with what was said by Nara (Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nara)" ucap Rafa dengan singkat, padat, dan jelas.


"Me too (Aku juga)" ucap Rafi sembari menatap lekat ke arah kakak iparnya yang sedang tersenyum manis.

__ADS_1


"And me too (Dan aku juga)" jawab Nandito sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.


"Mama really agreed with what was said by Mama's very beautiful daughter-in-law. Especially if you were not dating in your teenage years. Dating is okay, actually, but you also have to know the limits and also keep the achievements that were carved when you were not dating (Mama sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh menantu Mama yang sangat cantik. Apalagi jika di masa-masa remaja kalian tidak berpacaran. Berpacaran itu boleh saja sebenarnya, tapi juga harus tahu batasannya dan juga tetap pertahankan prestasi yang di ukir ketika kalian belum berpacaran)" ucap Rania yang tiba-tiba datang menghampiri Nara, Rafa, Rafi, Raihana, dan juga Nandito yang sedang duduk di lantai pinggiran kolam renang di rumah keluarga Yamada.


"Ah Mama this. The surprise came all of a sudden (Ah Mama ini. Mengejutkan saja datang dengan tiba-tiba)" ucap Raihana sembari memanyunkan bibirnya karena terkejut dengan sang Mama yang datang dengan tiba-tiba.


"Rafa, Rafi, this is your company flashdisk and your identity card (Rafa, Rafi, ini flashdisk perusahaan milik kalian dan juga kartu tanda penduduk milik kalian)" ucap Rania sembari memberikan sebuah flashdisk berwarna abu-abu dan sebuah KTP ke tangan Rafa serta memberikan sebuah flashdisk berwarna biru dan sebuah KTP ke tangan Rafi.


"Rafa, Rafi, Rai, and Nara, let's get ready. We're going home right now (Rafa, Rafi, Rai, dan Nara ayo segera bersiap. Kita akan pulang sekarang juga)" lanjut Rania kepada kedua putra kembarnya, putri bungsunya, serta menantunya.


"Before Nara moved to Nara's new house, Nara would take Nara's laptop and cellphone first, Ma. Nara will also meet Mayu briefly before Nara moves later (Sebelum Nara pindah ke rumah baru Nara, Nara akan mengambil laptop dan ponsel milik Nara dahulu ya Ma. Nara juga akan menemui Mayu sebentar sebelum Nara pindah nanti)" ucap Nara sembari berdiri dari duduknya.


"Allright darling. Rafa, accompany your wife there (Baiklah sayang. Rafa, temani istrimu sana)" ucap Rania sembari menunjuk putra pertamanya dengan jarinya.


Tanpa berkata-kata, Rafa langsung menggandeng tangan Nara untuk segera berjalan menuju ke kamar Nara yang berada di lantai dua.


Rafa dan Nara pun berjalan dari kolam renang yang ada di belakang rumah keluarga Yamada menuju ke kamar Nara yang ada di lantai dua dengan jarak yang agak jauh karena rumah keluarga Yamada juga sangatlah luas.


Sekiranya perlu waktu 10 menit untuk sampai di kamar Nara, tentunya dengan melalui perjalanan yang sedikit melelahkan. Kini Rafa dan Nara sudah berada di depan pintu kamar Nara.


Ceklek


Rafa dan Nara pun segera berjalan memasuki kamar Nara untuk mengambil ponsel dan laptop milik Nara yang berada di dalam kamarnya.


Nara pun segera mengambil ponsel dan laptopnya yang sudah berada di dalam sebuah tas laptop yang sebelumnya telah di letakkan di atas meja dekat tempat tidur Nara.


Setelah itu Nara langsung berjalan menuju ke arah sudut kamarnya di mana terdapat Mayu yang sedang tertidur dengan ranjang kecil miliknya.


Nara segera mengelus-elus lembut puncak kepala dari kucing kesayangannya. Sebenarnya Nara sangat sedih berpisah dengan orang tua, kakak, dan juga kucing kesayangannya, namun Nara masih bisa membendung air matanya agar tidak keluar dari pelupuk matanya.


"Kon'nichiwa mayu. Mama, papa, burazā to issho ni ie de daijōbu. Kyō, Nara wa hikkoshi surunode, Nara mo mayu to wakaremasu. Nara ni jikan ga areba, Nara wa machigainaku mayu o futatabi issho ni asobi ni izanaudeshou (Halo Mayu. Baik-baik ya berada di rumah bersama Mama, Papa, dan Kakak. Nara hari ini akan pindah rumah, jadi Nara juga akan berpisah dengan Mayu. Jika Nara ada waktu pasti Nara akan mengajak Mayu bermain bersama lagi)" ucap Nara sembari menahan air matanya agar tidak keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Anata no sukina nekodearu neko ni wakare o tsugeru no wa kanashī kotodesu ka? (Apakah sesedih itu berpisah dengan seekor kucing yang menjadi kucing kesayanganmu?)" tanya Rafa sembari menatap lekat ke arah istri kecilnya yang sedang mengelus-elus puncak kepala kucing kesayangannya.


__ADS_2