
"Hello Nara. Pleased to meet you. I hope you like school here (Halo Nara. Senang bisa berkenalan denganmu. Semoga kamu betah sekolah di sini ya)" jawab semua siswa-siswi sekolah Internasional dengan serentak.
Tak jarang ada beberapa siswa sekolah Internasional yang menatap wajah cantik Nara dengan sangat lekat karena Nara itu sangatlah cantik dan juga menggemaskan.
Jika ada yang memuji, pastilah ada yang menghina karena merasa iri dengan kecantikan yang di miliki oleh Nara. Siswi-siswi yang bersekolah di sekolah Internasional sangatlah iri pada Nara.
"Uh, that's beautiful Nara. I want to be your boyfriend! (Uh, cantik sekali Nara. Aku jadi ingin menjadi pacarmu!)" teriak beberapa siswa yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap wajah cantik Nara dengan sangat lekat.
"Nara's beauty can definitely beat the beauty of Caroline who is now a queen in our international school (Kecantikan Nara pasti bisa mengalahkan kecantikan Caroline yang sekarang sedang menjadi ratu di sekolah Internasional kita)" ucap seorang siswa yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap ke arah wajah cantik milik Nara dengan tatapan yang menyiratkan kekaguman.
Kedua telinga Rafa mendadak menjadi panas karena mendengar para siswa-siswa yang bersekolah di sekolah Internasional sedang memuji kecantikan yang di miliki oleh istri kecilnya.
Ingin rasanya Rafa berteriak mengatakan bahwa Nara itu hanya miliknya dan telah menjadi istri kecilnya. Namun, untuk mengatakan hal itu rasanya sangatlah tidak mungkin.
"Apakah kalian bisa berhenti memuji istri kecilku? Kedua telingaku terasa panas ketika mendengar kalian memuji kecantikan milik istri kecilku. Jangan berharap kalian bisa mendapatkannya, karena dia telah menjadi milikku" batin Rafa sembari menatap jengah ke arah teman-teman laki-lakinya yang sedang sibuk memuji kecantikan milik istri kecilnya.
"Why is she so beautiful? Did he do plastic surgery? (Kenapa dia bisa cantik sekali? Apakah dia melakukan operasi plastk?)" ucap seorang siswi yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap wajah cantik milik Nara dengan tatapan yang menyiratkan keiriannya pada Nara.
"Nara, I really want to be very beautiful like you. Your beauty has beat the beauty of Queen Caroline in this international school! (Nara, aku jadi ingin menjadi sangat cantik sepertimu. Kecantikanmu itu sudah mengalahkan kecantikan Caroline ratu di sekolah Internasional ini!)" ucap seorang siswi yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap wajah cantik milik Nara dengan tatapan yang menyiratkan keiriannya pada Nara.
Menyadari suasana mulai ricuh dan tak terkendali, guru-guru yang ada di sekolah Internasional mencoba untuk kembali menenangkan siswa-siswi yang bersekolah di sekolah Internasional.
"Childern, can you be quiet for a moment? Do you want to know the hidden facts of Nara? (Anak-anak, bisakah kalian diam sebentar? Apakah kalian ingin mengetahui fakta terpendam dari Nara?)" ucap seorang guru perempuan yang ada di sekolah Internasional sembari mencoba untuk menenangkan para siswa-siswi yang bersekolah di sekolah Internasional.
"Of course we want to know, ma'am (Tentu saja kami mau mengetahuinya, bu)" ucap semua siswa-siswi yang bersekolah di sekolah Internasional dengan serentak.
"Okay. So Nara is the first winner or the main winner of the national Olympics in Japan, the East Asian Olympics, the Asian Olympics, and also the International Olympics in the mathematics and foreign language categories. In the Science Olympiad, Nara won second place after Rafa from our school (Oke. Jadi Nara ini adalah juara 1 atau pemenang utama dari olimpiade nasional di Jepang, olimpiade tingkat asia timur, olimpiade tingkat asia, dan juga olimpiade tingkat internasional dalam kategori matematika dan bahasa asing. Dalam olimpiade Sains Nara mendapatkan juara 2 setelah Rafa dari sekolah Kita)" ucap seorang guru perempuan yang ada di sekolah Internasional sembari memberikan tepuk tangannya untuk Nara.
Semua siswa-siswi yang bersekolah fi sekolah Internasional berserta guru-guru yang ada di sekolah Internasional memberikan tepuk tangannya sebagai bentuk apresiasi kepada prestasi yang telah di torehkan oleh Nara.
"Wow, what an extraordinary achievement, Nara. Caroline hasn't even won the international mathematics Olympiad. Now I never thought that I could meet and see firsthand who has become the world champion in math Olympiad! (Wow, prestasi yang sangat luar biasa sekali Nara. Caroline bahkan belum bisa menjuarai olimpiade matematika tingkat Internasional. Kini aku tak menyangka bisa bertemu dan melihat secara langsung siapa yang telah menjadi juara dunia olimpiade matematika!)" ucap seorang siswi yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap wajah cantik milik Nara dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman kepada Nara.
Sementara itu di barisan kelas 11 IPA 1, seorang siswi sekolah Internasional yang di ketahui bernama Caroline mendengus kesal ketika para teman-temannya memuji kecantikan dan kecerdasan yang di miliki oleh Nara yang merupakan siswi baru di sekolah Internasional.
Caroline yang sebenarnya mempunyai sifat pendendam dan berambisi untuk bisa memiliki semua yang dia inginkan pun merencanakan sebuah rencana untuk menjatuhkan Nara.
"It is only when you set foot in this international school that you have already received a lot of praise for your beauty as well as your intelligence. I'm Caroline Nathania Roberts I won't just let the person who has snatched all the compliments right is mine! Just see what I'll do to you, little girl! (Baru beberapa saat kamu menginjakkan kakimu di sekolah Internasional ini kamu sudah mendapatkan banyak pujian karena kecantikanmu dan juga kecerdasanmu. Aku Caroline Nathania Roberts tak akan membiarkan begitu saja orang yang sudah merebut semua pujian yang seharusnya menjadi milikku! Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu, gadis kecil!)" batin Caroline sembari menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik.
"It's pretty, smart too. My ideal type! (Sudah cantik, cerdas juga. Tipe idamanku sekali!)" teriak salah satu siswa yang bersekolah di sekolah Internasional sembari menatap wajah cantik milik Nara dengan tatapan yang menyiratkan betapa besarnya kekagumannya pada Nara.
__ADS_1
Matahari yang sudah mulai terik walau waktu masih menujukkan pukul 07:45 WIB membuat guru-guru yang ada di sekolah Internasional segera menyuruh siswa-siswi yang bersekolah di sekolah Internasional agar segera memasuki kelas masing-masing karena jam pelajaran akan segera di mulai.
"This is all the teachers want to say. So you can now enter your class because soon the class will start! (Hanya ini saja yang ingin guru-guru sampaikan. Jadi kalian sekarang bisa memasuki kelas kalian karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai!)" ucap seorang guru perempuan yang ada di sekolah Internasional sembari berjalan ke arah kantor yang ada di sekolah Internasional.
Setelah mendengarkan perkataan dari seorang guru yang ada di sekolah Internasional, semua siswa-siswi langsung berjalan menuju ke arah kelasnya masing-masing.
Berbeda dengan Nara yang masih menunggu Anissa dan Vannesha untuk datang menghampirinya. Kini Nara masih memperhatikan Anissa dan Vannesha yang sedang berjalan ke arahnya.
Beberapa saat kemudian, Anissa dan Vannesha sudah berada di samping Nara. Tentunya dengan sedikit berlarian kecil membuat Anissa dan Vannesha dengan cepat berada di samping Nara.
"Uh, Nara. I really did not think that you are the world champion in international mathematics olympiad (Uh, Nara. Aku sangat tidak menyangka kamulah juara dunia olimpiade matematika tingkat Internasional)" ucap Vannesha sembari memegang erat salah satu tangan Nara yang ada di dekatnya.
"Same with Nesha, I never thought that you would be the world champion in international mathematics Olympiad. What is your secret to being that smart? Come on, share the secret with me so I can be like you (Sama dengan Nesha, aku pun tak menyangka jika kamulah juara dunia olimpiade matematika tingkat Internasional. Apa rahasaiamu bisa menjadi secerdas itu? Ayolah, bagikan rahasianya padaku agar aku bisa menjadi sepertimu)" pinta Anissa sembari memegang erat salah satu tangan Nara yang ada di dekatnya dengan tatapan memohon kepada Nara.
"The only secret is study, study and study. Let's go to class immediately! The lesson will start soon! (Rahasianya hanya belajar, belajar, dan belajar. Ayo kita segera masuk ke kelas! Pelajaran akan segera di mulai!)" ucap Nara sembari berjalan ke arah kelas 11 IPA 1 sembari memegang salah satu tangan Anissa dan Vannesha di kedua tangannya.
Anissa dan Vannesha pun mengikuti langkah Nara untuk menuju ke arah kelas 11 IPA 1 dengan mempercepat langkah kaki mereka agar bisa berjalan di samping Nara.
Sesampainya di kelas 11 IPA 1, Nara, Anissa, dan Vannesha langsung menduduki tempat duduknya. Nara langsung duduk di tempat duduknya yang berada di samping Nara. Sedangkan Anissa dan Vannesha duduk sebangku yang letaknya hanya berseberangan saja dengan bangku Nara dan Rafa.
Ketika Nara melihat ke arah wajah suami kecilnya, Nara sangat terkejut mendapati suami kecilnya yang memasang sebuah senyuman di wajahnya yang tampan. Tak hanya itu, suami kecilnya pun melihat ke arah wajah cantik milik Nara dengan sangat lekat.
"Kare no nani ga mondai ni natte imasu ka? Naze kare wa hitori de totsuzen waratte iru nodesu ka? Koko ni totsuzen kare o warawaseru yūrei wa imasu ka? (Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba tersenyum sendirian? Apakah di sini ada hantu yang bisa membuatnya tiba-tiba tersenyum?)" batin Nara sembari mengerenyitkan dahinya karena melihat suami kecilnya yang sedang menatapnya sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba mengerenyitkan dahinya seperti ada suatu hal yang membuatnya menjadi sangat bingung?" batin Rafa sembari menatap lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya.
Rafa pun akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada istri kecilnya tentang hal yang bisa membuatnya mengerenyitkan dahinya dengan tiba-tiba. Namun, Rafa sengaja bertanya kepada istri kecilnya dengan bahasa Jepang karena teman-teman sekelasnya banyak yang tidak mengerti bahasa Jepang.
"Dō shita no? Dōshite anata wa totsuzen anata o son'nani konran sa seru nanika ga aru ka no yō ni totsuzen mayu o hisometa nodesu ka? Hayaku watashi ni oshiete yo! Nanika mondai ga arimasu ka? (Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba mengernyitkan dahimu dengan tiba-tiba seakan ada suatu hal yang membuatmu menjadi sangat bingung? Ayo, katakan padaku! Apa ada yang salah?)" tanya Rafa dengan lirih sembari menatap ke arah wajah cantik milik istri kecilnya dengan lekat.
"Nande totsuzen kureijīna egao ni natteru no? Sore de gaku ni shiwa ga dekita (Harusnya aku yang bertanya kepadamu kenapa kamu tiba-tiba tersenyum seperti orang gila? Itulah yang membuatku mengerenyitkan dahiku)" jawab Nara dengan lirih sembari menatap ke arah wajah cantik milik istri kecilnya dengan lekat.
Sementara itu Rafa yang mendengar perkataan istri kecilnya pun menjadi sangat terkejut. Pasalnya istri kecilnya mengatakannya yang tiba-tiba tersenyum seperti orang gila. Tentu saja hal itu membuat Rafa sedikit malu karena terpergok oleh istri kecilnya ketika dirinya sedang tersenyum.
"Tersenyum seperti orang gila? Kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini dan juga bisa tertangkap oleh pandangannya? Apakah aku ini tersenyum olehnya? Jika aku tersenyum karenanya berarti dia berhasil menakhlukan hatiku" batin Rafa sembari menatap lekat ke arah bola mata Nara yang berwarna coklat khas orang Asia.
Rafa yang sebenarnya sekarang sudah merasa malu kini berusaha mencari cara untuk membalikkan keadaan dengan membuat istri kecilnya yang merasa malu, bukan dirinya.
"Hontōdesuka? Dakara watashi no egao wa dōdesu ka? Sore wa anata no kokoro o tokasu no ni jūbundesu ka? (Benarkah? Jadi bagaimana dengan senyumanku? Apakah itu sudah cukup untuk melelehkan hatimu?)" ucap Rafa sembari menaikkan kedua alisnya dengan maksud untuk menggoda istri kecilnya.
__ADS_1
Nara yang mendengar perkataan dari suami kecilnya pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu dengan apa yang di katakan oleh suami kecilnya.
"Ē to, naze kare wa watashi o kore hodo hazukashī mono ni dekiru nodeshou ka ā, hazukashī. Chikyū no purēto no ushiro ni kakureru koto wa dekimasu ka? (Hah, kenapa dia bisa membuatku menjadi semalu ini? Ah, malunya aku. Bolehkah aku bersembunyi di balik lempeng bumi?)" batin Nara sembari menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya.
Sementara itu Rafa merasa sangat senang karena berhasil menggoda istri kecilnya dan membuatnya menjadi sangat malu. Rafa membayangkan jika wajah istri kecilnya yang seputih salju bisa menjadi semerah kepiting rebus.
Ah, aku berhasil menggodamu membuatmu menjadi sangat malu. Begitu menyenangkannya menggoda dirimu, Nara. Aku jadi membayangkan jika wajahmu yang tadinya seputih salju sekarang bisa menjadi semerah kepiting rebus" batin Rafa sembari menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan.
Nara yang sadar akan kedekatannya dengan suami kecilnya di lingkungan sekolah yang sangat dekat pun langsung berusaha mengingatkan Rafa agar menjaga sikapnya ketika berada di lingkungan sekolah.
"Kinishinaide, anata no taido wa rafa ni shite kudasai. Darenimo watashitachi no sutētasu o shirasenaide kudasai! Moshi darekaga kidzuitara, watashitachiha ryōhō tomo shinkokuna mondai o kakaete irudeshou! Watashi no kotoba o rikai shite kudasai! (Sudahlah, jaga sikapmu Rafa. Jangan sampai ada yang tahu status kita! Jika ada yang tahu kita berdua akan berada di dalam masalah besar! Tolong mengertilah perkataanku!)" ucap Nara dengan lirih sembari menyingkirkan kedua tangannya yang tadi sedang menutupi wajahnya.
"Narada ne. Kore ni tsuite shinpai suru hitsuyō wa arimasen. Shinjite! (Aku tahu itu Nara. Tidak perlu kamu khawatirkan tentang hal ini. Percaya saja padaku!)" jawab Rafa dengan lirih sembari mengalihkan pandangannya dan juga tatapannya ke arah papan tulis yang berada di depannya.
Sementara itu Anissa dan Vannesha di buat menjadi sangat bingung karena tak sengaja mendengar percakapan di antara Rafa dan Nara yang menggunakan bahasa Jepang. Anissa dan Vannesha yang tidak mengerti dengan bahasa Jepang pun di buat menjadi sangat bingung dan penasaran dengan arti kalimat yang di katakan oleh Nara dan juga Rafa.
"What are Nara and Rafa talking about? Why are they speaking in a language I don't understand? They really make me curious about the meaning of the words said by Rafa and Nara (Nara dan Rafa ini sedang berbicara apa sih? Kenapa mereka berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti? Mereka ini sungguh membuatku penasaran dengan arti dari kalimat yang di katakan oleh Rafa dan juga Nara)" batin Vannesha sembari menatap ke arah wajah cantik dan tampan milik Nara dan Rafa secara bergantian.
"What are Nara and Rafa talking about? (Nara dan Rafa sedang berbicara apa ya?)" batin Anissa sembari menatap ke arah wajah cantik dan tampan milik Nara dan Rafa secara bergantian.
Sementara itu Caroline yang mendengarkan percakapan di antara Nara dan Rafa dari tempat duduknya yang berseberangan dengan tempat duduk Nara dan Rafa pun merasa sangat kesal sendiri karena ketika Caroline mendekati Rafa, maka Rafa akan langsung mengusirnya dengan tegas. Dan hal ini sangat berbeda dengan respon yang Nara terima dari Rafa.
"Why didn't Rafa kick him out? Why was the response he received from Rafa so different? Why could he talk to Rafa for a long time? I won't let you take Rafa away from me after you've snatched all the compliments on beauty and intelligence that should be mine! (Kenapa Rafa tidak mengusirnya? Kenapa respon yang dia terima dari Rafa sangatlah berbeda? Kenapa dia bisa berbicara lama dengan Rafa? Tak akan aku biarkan kamu merebut Rafa dariku setelah kamu merebut semua pujian tentang kecantikan dan kecerdasan yang seharusnya menjadi milikku!)" batin Caroline sembari mengepalkan tangannya dengan perasaan hati yang sedang merasa sangat kesal dengan Nara.
Nara yang sebenarnya sekarang masih merasa malu kepada suami kecilnya pun memutuskan untuk menemui kedua sahabat barunya yang bertempat duduk di seberang tempat duduknya dan juga tempat duduk suami kecilnya.
Beberapa saat kemudian, Nara pun sampai di depan meja kedua sahabatnya yang tak lain adalah Anissa dan Vannesha.
Caroline yang melihat Nara sudah berada di depan meja Anissa dan Vannesha pun segera berjalan menghampiri Nara yang sekarang sudah berada di depan meja Anissa dan Vannesha.
Sesampainya di depan meja Anissa dan Vannesha, Caroline langsung menjambak sedikit rambut Nara yang pastinya akan membuat Nara merasa sangat kesakitan.
Anissa dan Vannesha yang melihat rambut sahabatnya yang sedang di jambak oleh Caroline pun langsung berusaha memisahkan Caroline yang masih menjambak rambut Nara hingga akhirnya Caroline sendiri yang melepaskan jambakannya pada rambut Nara.
Caroline pun melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap wajah Nara, Anissa, dan Vannesha dengan tatapan tajam karena sudah di buat kesal oleh Nara, Anissa, dan Vannesha.
"Hey Japanese girl Narahita Hideko Yamada. Are you still dissatisfied after taking all the compliments about the beauty and intelligence that I ought to have? Why are you now approaching Rafa, who is the man I love so much! (Hei gadis Jepang Narahita Hideko Yamada. Apakah kamu masih tidak puas setelah mengambil semua pujian tentang kencantikan dan kecerdasan yang harusnya aku miliki? Kenapa kini kamu justru mendekati Rafa yang merupakan laki-laki yang sangat aku cintai!)" ucap Caroline sembari menatap wajah cantik milik Nara dengan tatapan sinisnya.
Nara hanya diam saja dan tidak menjawab ucapan Caroline dengan perkataan. Melainkan Nara menjawabnya dengan sebuah senyuman yang tersungging di wajahnya yang cantik.
__ADS_1
Vannesha yang kini sedang merasa sangat kesal dengan kelakuan Caroline kepada sahabatnya pun berusaha melakukan pembelaan kepada sahabatnya.
"You scoundrel grandma! What do you want, huh? Can't you not bother my best friend? You old and ugly dipper granny! (Dasar nenek gayung! Apa maumu, hah? Tidak bisakah kamu jangan mengganggu sahabatku? Dasar nenek gayung yang tua dan jelek!)" teriak Vannesha sembari menatap ke arah wajah Caroline dengan tatapan tajamnya.