
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Dan seterusnya di habiskan untuk menonton sinetron indonesia. Mulai dari sinterton 'Suara Hati Istri' sampai ke sinetron bergenre komedi telah di tonton oleh Raihan, Rania, Rafa, Nara, Rafi, dan juga Raihana.
Kemana ibadah shalat Zuhur dan Asharnya? Tentu saja Raihan, Rania, Rafa, Nara, Rafi, dan juga Raihana tidak melupakan ibadah shalat wajib mereka. Bahkan ketika sudah selesai adzan, mereka langsung memulai kegiatan ibadah shalatnya.
Hiru pikuk perjalanan sinetron indonesia di lalui dengan banjirnya air mata, cacian dan makian, serta tertawaan yang di lontarkan oleh Rania. Karena Rania yang sangat mudah sekali terharu, maka Rania akan meneteskan air matanya ketika menonton sinetron indonesia kesukaannya yang berjudul 'Suara Hati Istri'.
"Ha ha ha. Earlier my favorite soap opera has drained my tears. Now it's the comedy soap opera turn to drain my laughter (Hahaha. Tadi sinetron kesukaanku sudah menguras air mataku. Kini giliran sinetron komedi yang menguras tawaku)" ucap Rania sembari tertawa geli ketika melihat adegan lucu yang di tampilkan di layar televisinya.
Bagaimana Rania tidak tertawa coba jika adegan tersebut adalah penolakan cinta dari seorang perempuan bernama Aluna Kyesha kepada seorang laki-laki bernama Bambang Sujono dengan menjatuhkan buah kelapa muda dari atas pohon kelapa? Jelas-jelas adegannya sudah sangat lucu sekali.
"Wooo, continue with Luna. Throw a young coconut on his head. Oh come on (Wooo, terus Luna. Lemparkan buah kelapa muda di kepalanya. Oh, ayolah)" teriak Rania kepada pemain wanita yang kerap di panggil Luna tersebut.
Sementara Rania yang terus-terusan meneriaki satu per satu pemain, justru Raihan, Rafa, Rafi, dan Raihana hanya terdiam saja karena mereka sudah memahami kebiasaan Rania. Berbeda dengan Nara yang merasa kurang nyaman karena teriakan-teriakan yang di lontarkan oleh sang Mama mertua.
"Gibo wa sakkākurabu no sapōtā no yō ni himeiwoageru koto ga dekimasu ka? Gibo ga kureta himei ni totemo igokochi ga warui (Bagaimana bisa Mama mertuaku berteriak-teriak seperti suporter klub bola? Aku merasa sangat tidak nyaman dengan teriakan-teriakan yang di lontarkan oleh Mama mertuaku)" batin Nara sembari menatap wajah sang Mama mertua dengan tatapan yang menyiratkan ketidak percayaan.
Karena lama-kelamaan Nara yang merasa tidak nyaman dengan sang Mama mertua yang terus-terusan meneriaki satu per satu pemain di dalam sinetron tersebut, akhirnya Nara pun memberanikan dirinya untuk berpamitan kepada sang Mama mertua, sang Papa mertua, kedua adik iparnya, dan juga suami kecilnya.
"Mama, Papa, Rafa, Rafi, and also Rai, Nara wants to say goodbye to the room first. Nara wanted to take a shower because it was already hot (Mama, Papa, Rafa, Rafi, dan juga Rai, Nara mau pamit ke kamar dulu ya. Nara mau mandi soalnya udah gerah)" ucap Nara sembari beranjak berdiri dari duduknya.
"Yes, dear. What time is it now? (Iya sayang. Sekarang sudah jam berapa ya?)" ucap Rania sembari masih menatap lekat pada layar televisi yang ada di depannya.
"It's 5 pm Ma (Sudah jam 5 sore Ma)" ucap Nara sembari menyunggingkan senyumannya.
Rania pun sangat terkejut dengan perkataan menantunya hingga membuatnya memalingkan pandangannya dari layar televisi ke wajah menantunya yang cantik itu.
"What! It's very late, yeah means (Apa! Sudah sangat sore ya berarti)" ucap Rania sembari menatap wajah cantik milik menantunya dengan lekat.
"Do you not remember the time we were doing Asr prayer? (Apakah Mama tak ingat jam waktu kita sedang melaksanakan shalat ashar?)" tanya Raihan kepada sang istri sembari menatap lekat wajah cantik milik sang istri.
"No, I don't remember (Tidak, aku tidak mengingatnya)" ucap Rania dengan tersenyum kikuk sembari menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
Nara yang hendak melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke anak tangga yang akan membawanya menuju ke kamarnya dan kamar suami kecilnya pun menghentikan langkahnya tatkala mendengar suara teriakan dari sang Mama mertua.
"The dressing room is next to the bathroom honey. When you are about to enter the changing room there is a door that will lead you to the changing room. All your clothes are already there (Ruang ganti ada di sebelah kamar mandi sayang. Ketika kamu mau masuk ke ruang ganti di sana ada sebuah pintu yang akan membawamu menuju ke ruang ganti. Semua bajumu telah ada di sana)" ucap Rania sembari menyunggingkan senyuman lembutnya kepada menantunya.
"Okay Ma (Oke Ma)" jawab Nara sembari melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke anak tangga yang akan membawanya menuju ke kamarnya dan kamar suami kecilnya yang ada di lantai dua.
"Nara, take your husband also to take a shower. You can take a bath together. You're already lawful (Nara, ajak suamimu juga untuk mandi. Kalian bisa mandi bersama. Kan kalian sudah halal)" ucap Rania dengan nada bicaranya yang sengaja di buat semenggoda mungkin.
"Dasar Mama aneh. Ada-ada aja nyuruh aku sama Nara buat mandi bersama. Yang ada nanti bukannya mandi malah merembet ke hal yang lain" gerutu Rafa sembari menatap wajah sang Mama dengan tatapan yang menyiratkan betapa besarnya kekesalannya kepada sang Mama.
"Hahaha, pasti kamu sedang mengumpati Mama dan di dalam hatimu kamu berkata 'bukannya mandi malah jadi hal yang lain' benar kan? Rupanya kamu sudah mengerti hal-hal yang berkaitan dengan orang dewasa" batin Rania sembari menatap wajah tampan milik putra pertamanya dengan sangat lekat.
Sementara itu, Nara yang tadinya sedang berjalan dengan santai bagaikan tidak ada beban hidup yang menghantuinya pun kini masih melanjutkan langkah kakinya dengan pipinya yang terasa karena saat ini pipinya sedang bersemu merah.
"Ā, gibo wa nani o itteru no? Nante hazukashī! Chikyū no soko ni oborete mitai (Ah, Mama mertuaku ini berbicara apa? Sangat memalukan sekali! Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku di dasar bumi)" batin Nara sembari menaiki anak tangga dengan wajahnya yang sudah memerah.
"Ah, apakah dia sekarang sedang tersipu malu? Kenapa rasaya aku sangat ingin untuk melihatnya ketika dia sedang tersipu malu? Ah, apa yang kamu pikirkan Rafa?" batin Rafa sembari menatap lekat ke arah tubuh istri kecilnya yang sekarang sedang menaiki anak tangga satu per satu.
Nara menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju ke kamarnya dan kamar suami kecilnya yang berada di lantai dua dengan perlahan-lahan.
Setelah beberapa menit berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan-lahan, kini akhirnya Nara sampai juga di depan pintu kamarnya dan kamar suami kecilnya.
Ceklek
Nara pun segera berjalan memasuki kamarnya dan juga kamar suami kecilnya untuk segera menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya.
Dan ketika Nara sudah sampai di depan pintu kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya, Nara pun segera bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sekarang sudah terasa sangat lengket karena keringatnya.
Sesudah memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya, Nara pun langsung memulai ritual mandinya.
Setelah 15 menit kemudian, Nara sudah selesai dengan ritual mandinya namun belum menggunakan pakaiannya.
Maka dari itu Nara langsung bergegas menuju salah satu pintu untuk memasuki ruang ganti sesuai dengan perkataan sang Mama mertua.
Sesampainya di ruang ganti, terlihatlah 5 buah lemari besar yang ada di dalam ruang ganti tersebut. Terdiri dari 3 lemari berwarna abu-abu yang sepertinya milik suami kecilnya serta 2 lemari berwarna pink putih yang sepertinya milik Nara.
Nara langsung membuka salah satu dari lemari yang berwarna pink putih tersebut. Dan hasilnya terlihatlah pakaian sekolah Nara yang baru.
Nara pun menutup lemari tersebut kembali dan mencoba untuk membuka lemari berwarna pink putih yang ada di sebelahnya.
Hasilnya sangat mengejutkan Nara. Bagaimana tidak? Lemari tersebut semuanya berisi baju seksi yang sangat transparan.
Nara yang melihat isi lemari tersebut pun mendadak menjadi ragu dan bingung untuk memutuskan memakai baju-baju seksi yang ada di dalam lemari tersebut.
"Kore wa dō? Kazoku no ie kara doresshingu o motte inakatta. Ippō, korera no fuku o chakuyō shinai baai, do no yōna fuku o kimasu ka? Kon'ya wa nani mo kinaide sekushīna fuku o kise rarete (Bagaimana ini? aku tidak membawa baju gantiku dari rumah keluargaku. Sedangkan jika aku tidak memakai baju ini aku akan memakai baju apa? Sepertinya untuk malam ini aku terpaksa untuk memakai baju seksi ini daripada tidak memakai baju sama sekali)" batin Nara sembari mengambil salah satu baju seksi yang menurutnya tidak terlalu seksi dan juga tidak terlalu transparan.
Nara pun segera memakai baju seksi tersebut dengan amat sangat terpaksa. Ya, mau bagaimana lagi jika isinya baju seksi semua. Dari pada tidak memakai baju sama sekali masih mending memakai baju walaupun terkesan seksi.
Setelah itu Nara langsung keluar dari ruang gantinya menuju ke arah meja belajarnya untuk Nara mengambil laptop miliknya yang berada di atas meja belajar miliknya.
__ADS_1
Sesampainya di depan meja belajar, Nara langsung membuka tas laptopnya untuk mengambil laptop miliknya yang berada di dalam tas laptopnya.
Namun siapa sangka, selain mendapatkan sebuah laptop dari dalam tas laptop tersebut Nara juga mendapatkan sepasang headset miliknya.
"Heddo setto ga 2tsu arimasuga, heddo setto no 1tsu o jibun no rapputoppubaggu ni irete mo kidzukanakatta no wa nazedesu ka. (Aku kan mempunyai dua headset, namun kenapa aku tidak menyadarinya jika salah satu dari headset milikku aku letakkan di dalam tas laptopku sendiri?)" batin Nara sembari berjalan dengan membawa laptop dan sepasang headset di tangannya.
Nara langsung berjalan mendekati kasur king size yang sekarang telah menjadi kasurnya dan kasur suami kecilnya.
Setelah itu Nara langsung membuka selimut tebal yang ada di atas kasur tersebut, lalu Nara langsung naik ke atas kasur dengan melilitkan selimut tebal di tubuhnya dengan harapan suami kecilnya tidak melihatnya yang sedang berpakaian seperti ini.
"Etto, watashi ga kon'na fuku o kite iru no o minaide hoshī (Hah, semoga saja dia tidak melihatku yang sedang menggunakan pakaian seperti ini)" batin Nara sembari mulai menyalakan laptopnya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya laptop milik Nara pun kini telah hidup. Nara pun membuka emailnya untuk mengecek adanya dokumen yang di kirim oleh sekertarisnya.
Setelah menemukan beberapa dokumen yang harus di kerjakannya, Nara pun berniat untuk mengerjakannya sembari mendengarkan musik agar menjadi lebih konsentrasi.
Nara pun langsung menyambungkan headset miliknya dengan laptopnya dengan koneksi bluetooth. Kemudian Nara langsung memilih sebuah lagu barat kesukaannya dari playsit musiknya yang berjudul If I Let You Go yang di nyanyikan oleh Westlife.
Day after day
Hari demi hari
Time pass away
Waktu berlalu
And I just can't get you off my mind
Dan aku tidak bisa melepaskanmu dari pikiranku
Nobody knows
Tidak ada yang tahu
I hide it inside
Saya menyembunyikannya di dalam
I keep on searching, but I can't find
Saya terus mencari, tetapi tidak dapat menemukan
The courage to show to letting you know
Keberanian untuk menunjukkan kepada Anda
Saya belum pernah merasakan begitu banyak cinta sebelumnya
And once again I'm thinking about
Dan sekali lagi aku memikirkannya
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
But if I let you go, I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
Night after night I hear my self say
Malam demi malam aku mendengar diriku berkata
Why can't this feeling just fade away?
Mengapa perasaan ini tidak bisa hilang begitu saja?
There's no one like you, you speak to my heart
Tidak ada orang sepertimu, kamu berbicara ke hatiku
It's such a shame we're worlds apart
Sayang sekali kita terpisah jauh
__ADS_1
I'm too shy to ask, I'm to proud to lose
Saya terlalu malu untuk bertanya, saya bangga kalah
But sooner or later I've got to choose
Tapi cepat atau lambat aku harus memilih
And once again I'm thinking about
Dan sekali lagi aku memikirkannya
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
If I let you go, ooh baby
Jika aku membiarkanmu pergi, ooh sayang
Ohh, whoa
Ohh, whoa
Once again I'm thinking about
Sekali lagi saya memikirkan
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me (close to me, yeah)
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya (dekat dengan saya, ya)
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
Oh baby
Oh sayang
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know
(Oh ya) bagaimana saya bisa tahu
If I let you go
Jika aku membiarkanmu pergi?
Karena sangat fokus dengan berkas-berkasp yang sedang di kerjakannya lewat laptop dan juga terbawa suasana dari lagu If I Let You Go yang sangat romantis membuat Nara tak sadar bahwa kini selimut yang sedang di pakaian di tubuhnya kini telah melorot hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya.
Sementara itu Rafa yang baru saja memasuki kamarnya dan juga kamar istri kecilnya harus melihat pemandangan yang indah dan sangat menggiurkan yang kini sedang menguji kesabarannya.
__ADS_1
"Sungguh indahnya ciptaan dirimu ya Allah. Tapi lama-lama melihat pemandangan seperti ini bisa membuat diriku tersiksa. Uh, Mama pasti yang melakukan ini. Kenapa Mama harus memberikanku jebakan di malam pertama?" batin Rafa sembari bersusah payah menelan salivanya sendiri karena sudah tergoda oleh tubuh Nara yang putih dan mulus.