
Rafa yang melihat istri kecilnya yang hanya terdiam saja sembari memandangi dirinya dengan tatapannya yang sangat lekat pun perlahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan.
"Aku tahu jika kamu itu sedang mengagumi dan memujiku walaupun itu hanya ada di dalam hatimu tanpa bisa di katakan langsung kepadaku, istri kecilku. Walau begitu, aku tetap saja merasa sangat senang karena sedang di kagumi dan di puji oleh istri kecilku sendiri" batin Rafa sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan dengan perlahan-lahan.
Untuk beberapa saat, Rafa membiarkan istri kecilnya yang masih terlarut di dalam lamunannya sendiri tanpa menegurnya dengan perkataan ataupun dengan sebuah sentuhan.
Hingga 5 menit pun berlalu, Rafa baru akan menegur istri kecilnya dengan sebuah perkataan agar dirinya tersadar dari lamunannya.
"Nara, nande damatteru no? Karada o kirei ni shi tari, katei-yō no fuku ni kigae tari shimasen ka? Kūsō kara nukedase, Nara. Watashi wa mata, anata ga ima, anata no kokoronouchi dake de watashi ni chokusetsu hanasa rete inakute mo, watashi o shōsan shi, shōsan shite iru koto o shitte imasu (Nara, kenapa kamu hanya diam saja? Bukankah kamu akan membersihkan tubuhmu dan juga akan mengganti pakaianmu dengan pakaian rumah? Sadarlah dari lamunanmu, Nara. Aku juga tahu kalau saat ini kamu sedang mengagumi dan memujiku walau hanya di dalam hatimu dan tidak terucap langsung kepadaku)" ucap Rafa sembari menatap ke arah wajah cantik milik istri kecilnya dengan tatapan yang sangat lekat.
Sontak saja Nara langsung tersadar dari lamunannya karena ucapan yang di lontarkan oleh suami kecilnya sendiri. Ucapan suami kecilnya pun kini sontak membuat wajah Nara menjadi sangat merah karena menahan malunya.
"Nani! Kare wa dō yatte kore o shirimashita ka? Watashi no kokoro no naka de kare o shōsan shi, shōsan shite iru watashi ni tsuite. Kare wa watashi no kokoro o yomu koto ga dekiru uranaishidesu ka? Sore ga nandeare, watashi wa kono chikyū no soko ni mi o umeru yō ni tanomimasu! Watashi wa mō kono haji ni taeru chikara ga arimasen! (Apa! Bagaimana dia bisa mengetahui tentang ini? Tentang aku yang sedang mengagumi dan memujinya di dalam hatiku. Apakah dia itu seorang peramal yang bisa membaca isi hatiku? Apapun itu, aku mohon untuk menguburkan diriku di dasar bumi ini! Aku tidak kuat lagi untuk menahan rasa maluku ini!)" batin Nara sembari menatap wajah tampan milik suami kecilnya dengan tatapannya yang sangat lekat.
Untuk mengusir rasa malunya ini, Nara berusaha untuk menjawab pertanyaan suami kecilnya dengan kata-kata yang mengelak. Nara pun mengucapknya dengan menundukkan wajah dan pandangannya agar suami kecilnya tidak bisa melihat kebohongan yang terpancar dari kedua matanya yang sangatlah indah itu.
"Iyaiya watashi wa ima, watashi no kokoro no naka de anata o shōsan shi tari shōsan shi tari shimasen! Watashi wa ima demo korera no kibishī kotoba o kokoro ni tomete anata ni chikatte imasu! (Tidak, tidak. Aku tidak mengagumi dan memujimu di dalam hatiku saat ini! Aku bahkan sekarang sedang mengumpatimu dengan kata-kata yang kasar di dalam hatiku ini!)" elak Nara sembari menundukkan wajah dan pandangannya ke arah lantai keramik yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya.
"Sumimasen, rafa. Watashi no mama to papa wa watashi ni usowotsuku-yō ni oshiemasendeshita. Shikashi, konkai wa hontōni yaranakereba naranakatta. Kanashī, gakkari shita, okotta nado, jibun no kimochi o tanin ni uso o tsuite imashitaga, konkai wa zenzen chigaimashita! Rafa, watashi wa anata ni sukoshi usowotsuku enerugī o motte inai yōdesu! (Maafkan aku, Rafa. Aku memang tidak di ajarkan untuk berbohong oleh Mama dan Papaku. Tapi, kali ini aku memang sangat terdesak untuk melakukannya. Walau aku sudah biasa berbohong kepada orang lain mengenai perasaanku entah itu yang sedang sedih, kecewa, ataupun marah, tapi kali ini rasanya sangatlah berbeda! Aku seperti tidak mempunyai tenaga untuk melakukan sebuah kebohongan kecil kepadamu, Rafa!)" batin Nara sembari mencoba untuk menyatukan semua jari-jari tangannya dalam sebuah kepalan tangan.
Berdasarkan ucapan dan gerak-gerik istri kecilnya, Rafa sudah bisa menyimpulkan bahwa istri kecilnya itu sedang mengelak dari pertanyaannya dan tidak mau untuk mengakui apa yang sebenarnya memang terjadi.
Tidak ada satu pun orang yang bisa membohongi seorang Muhammad Rafardhan Abayomi karena kepandaiannya untuk membaca gerak-gerik seseorang. Bahkan, Nara saja yang sudah terbiasa untuk berbohong mengenai perasaannya saja masih tidak bisa untuk membohongi suami kecilnya sendiri.
"Aku tahu jika dirimu sekarang sedang mengelak dan berbohong mengenai kenyataan yang sebenarnya memang terjadi, Nara. Aku bisa menebak jika dirimu memang biasa berbohong untuk menyembunyikan perasaan hatimu yang sedang sedih, kecewa, ataupun marah. Tapi, kamu akan kesulitan untuk membohongiku, Nara. Aku ini sangatlah pandai untuk membaca gerak-gerik seseorang" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah istri kecilnya yang kini sedang menundukkan wajah dan pandangannya ke arah lantai keramik yang ada di kamarnya dan juga kamar istri kecilnya.
Nara yang teringat akan janjinya yang akan menemui adik iparnya di kamarnya yang berjarak 3 kamar dari kamarnya dan juga kamar suami kecilnya pun langsung beranjak berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk di atas kursi belajarnya.
"Kinishinaide, rafa. Ima isoide kaisha ni ikanai to chikoku shimasu. Chikoku shinai yō ni isoide kaisha ni itta kata ga īdesu! (Sudahlah, Rafa. Kamu akan terlambat jika kamu sekarang tidak bergegas pergi ke perusahaan. Lebih baik kamu cepatlah berangkat ke perusahaan agar kamu tidak terlambat!)" ucap Nara sembari beranjak untuk berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk di atas kursi belajarnya.
Rafa pun berfikir bahwa ucapan yang di lontarkan oleh istri kecilnya sangatlah benar. Rafa bahkan sampai hampir saja melupakan dirinya yang akan pergi ke perusahaan RANY Corporation karena melihat gerak-gerik istri kecilnya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Huh, hampir saja aku melupakan hal yang penting di dalam hidupku hanya karena melihat gerak-gerik istri kecilku yang terlihat sangat menggemaskan. Nara, kamu sangat sukses sekali untuk mengobrak-abrik semua pikiranku dan juga hatiku untuk saat ini" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah istri kecilnya yang kini sedang menatap wajah tampan miliknya dengan tatapannya yang sangat lekat.
"Ē to, anata ga itte iru koto, Nara. Ima kara 10-bu shika nai koto o wasure-sō ni narimashita. Sono-jikan wa tashika ni watashi ga tatta 10-bu shika kakaranakatta kaisha ni iku no ni jūbundeshita. Jissai, sore wa kanpeki ni fitto shi, mō 1-byō mo kakarimasen (Emm, benar sekali ucapanmu, Nara. Aku bahkan hampir saja melupakan jika aku hanya mempunyai waktu 10 menit dari sekarang. Waktu itu tentu sangat cukup untukku pergi ke perusahaan yang hanya memakan waktu 10 menit saja. Bahkan itu sangat pas sekali dan tidak ada lebih satu detik pun)" ucap Rafa sembari menatap wajah cantik milik istri kecilnya dengan tatapannya yang sangat lekat.
Nara yang mendengar perkataan dari suami kecilnya pun dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik.
"Anata no jinsei de hijō ni jūyōna koto o wasurenai yō ni anata ni omoidasa seru no wa watashi no gimudesu, rafa (Itu memang sudah menjadi tugasku untuk mengingatkanmu agar tidak melupakan sesuatu yang sangat penting di dalam hidupmu, Rafa)" jawab Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik.
Karena mendengar ucapan istri kecilnya yang ada benarnya juga, Rafa pun dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan.
__ADS_1
"Ada benarnya juga sih perkataannya itu. Saling mengingatkan agar tidak melupakan sesuatu yang sangat penting di dalam hidup kita masing-masing" batin Rafa sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang tampan secara perlahan-lahan.
Nara yang sudah merasakan gerah pada tubuhnya pun langsung melangkahkan kedua kakinya untuk menuju ke arah kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya dan juga kamar suami kecilnya.
Sementara itu, Rafa yang merasa waktunya untuk pergi ke perusahaan sudah tidak banyak lagi pun segera berjalan menuju ke arah garasi mobil yang ada di rumah keluarga Abayomi.
Sesampainya di dalam kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya, Nara pun langsung memulai ritual membersihkan tubuhnya sendiri.
15 menit kemudian, Nara pun akhirnya sudah selesai dengan ritual membersihkan tubuhnya sendiri.
Nara pun melangkahkan kedua kakinya untuk berjalan menuju ke arah ruang ganti yang masih terhubung dengan kamar mandi yang ada di kamarnya dan juga kamar suami kecilnya.
Sesampainya di dalam ruang ganti, kedua tangan Nara pun langsung membuka sebuah lemari yang berisikan baju-baju untuk dirinya ketika sedang di rumah.
Ketika pintu lemari tersebut sudah terbuka dengan sangat lebar, Nara di buat sangat terkejut dengan isi yang ada di dalam lemari yang bernuansakan warna pink putih tersebut.
Pasalnya, isi dari lemari yang bernuansakan warna pink putih tersebut berisikan banyak baju-baju seksi yang terlihat lebih transparan dari baju seksi yang semalam Nara kenakan. Di dalam lemari yang bernuansakan warna pink putih tersebut juga terdapat sebuah gaun rumahan yang berwarna hijau toska.
"Ā, arrā, naze kono wādorōbu ni wa, sakuya kiteita sekushīna fuku yori mo tōmeina sekushīna fuku ga takusan fukuma rete iru nodesu ka? Dare ga kore o shita nodesu ka? Watashi no gibo ga kore o subete shita nodeshou ka? (Ya Allah, kenapa di dalam lemari ini beriskan banyak baju-baju seksi yang lebih transparan dari pada baju seksi yang aku kenakan semalam?Siapakah yang melakukan hal ini?Apakah mungkin Mama mertuaku yang melakukan semua ini?)" ucap Nara sembari memandangi baju-baju seksi yang ada di dalam lemari bernuansakan warna pink putih itu dengan tatapan yang sangat lekat.
Kedua tangan Nara pun tergerak untuk mengambil sebuah gaun rumahan yang berwarna hijau toska tersebut untuk Nara kenakan kali ini.
Setelah selesai mengambil gaun rumahan yang berwarna hijau toska tersebut, Nara langsung menggunakan gaun rumahan tersebut di tubuhnya.
Nara pun menyempatkan dirinya untuk mengecek penampilannya dengan bercermin di depan sebuah cermin yang ada di dalam ruang ganti ini.
Nara bahkan sampai di buat sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya dari pantulan cermin besar tersebut. Nara yang tak menyangka jika dirinya bisa menjadi secantik dan seanggun ini pun memuji dirinya sendiri di dalam hatinya.
"Shōnen, kore wa hontōni watashidesu ka? Watashi wa ima totemo utsukushiku, totemo ereganto ni miemasu. Tsūjō, watashi no gaiken wa mā mādesuga (Wah, apakah benar ini adalah aku? Aku sekarang terlihat sangat cantik dan anggun sekali. Padahal biasanya kan penampilanku biasa-biasa saja)" batin Nara sembari menatap pantulan dirinya di sebuah cermin besar tersebut dengan tatapan yang menyiratkan kekaguman terhadap dirinya sendiri.
Setelah puas memandangi pantulan dirinya sendiri pada cermin besar tersebut, Nara pun segera melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari ruang ganti dan menuju ke arah kamar Raihana yang berjarak 3 kamar dari kamarnya dan juga kamar suami kecilnya.
Sesampainya di depan kamar Raihana, Nara langsung mengetuk-ngetuk kamar adik iparnya tersebut. Tak lupa untuk Nara sertai kata-kata panggilan kepada adik iparnya tersebut.
"Rai, open the door. This is Ms. Nara, honey (Rai, bukalah pintunya. Ini Kak Nara, sayang)" teriak Nara dari luar kamar adik iparnya sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar adik iparnya.
Tak butuh waktu lama untuk Nara menunggu adik iparnya agar membukakan pintu kamarnya untuknya, kini Raihana pun sudah membukakan pintu kamarnya untuk kakak ipar kesayangannya.
Ceklek
"Hello my beloved sister-in-law, let's go to Rai's room! (Halo kakak ipar kesayanganku, ayo masuk ke kamarnya Rai!)" ucap Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman bahagia di wajahnya yang cantik dan imut itu.
__ADS_1
"Hello too dear Rai. Okay, Kak Nara will go into Rai's room (Halo juga Rai sayang. Oke, Kak Nara akan masuk ke dalam kamarnya Rai)" ucap Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raihana langsung meraih salah satu tangan kakak ipar kesayangannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar Raihana, Nara di buat menjadi terkagum-kagum dengan warna dinding kamar dan juga dekorasi kamar milik adik iparnya tersebut. Ada satu hal yang tidak bisa membuat Nara berhenti untuk menatapnya, yaitu dua buah rak buku berukuran besar yang terdapat pada sudut kamar milik adik iparnya.
Dinding kamar Raihana yang bernuansakan warna pink putih dengan sedikit stiker karakter film Disney, serta dua buah rak buku berukuran besar yang terdapat pada sudut kamar Raihana menjadikan ruangan ini seperti sebuah kamar sekaligus perpustakaan mini.
"Uwa ̄ , raihana no heya wa subarashikatta. Heya no kabe wa pinku to shiro de, dizunī no eiga no kyarakutā no sutekkā ga hara rete ori, heya no sumi ni 2tsu no ōkina hondana ga arimasu. Kono heya wa, heya to shite dakedenaku, kono yōna heya o motsu koto wa daremoga yumemiru miniraiburarīdesu. Raihana no heya wa, Nihon no jikka no furui heya to kanzen ni nite imashita. (Wah, kamar Raihana bagus sekali. Dinding kamarnya yang bernuansakan warna pink putih dengan stiker karakter film Disney, serta dua buah rak buku berukuran besar yang berada di sudut kamar menjadikan ruangan ini sebagai kamar sekaligus perpustakaan mini yang tentunya akan menjadi impian semua orang untuk memiliki kamar yang seperti ini. Kamar Raihana sama sekali mirip dengan kamar lamaku yang ada di rumah keluargaku yang berada di Jepang)" batin Nara sembari menatap ke arah seluruh kamar milik adik iparnya dengan tatapan yang menyiratkan kekaguman terhadap kamar milik adik iparnya tersebut.
Raihana yang melihat kakak ipar kesayangannya yang hanya diam saja di tempatnya tanpa mengatakan suatu hal kepada Raihana pun membuat Raihana segera menegur kakak ipar kesayangannya untuk tersadar dari lamunannya.
"Sis, is Sis Nara okay? Why did Nara stay silent where Nara stood without making the slightest movement? (Kak, apakah kak Nara baik-baik saja? Kenapa kak Nara hanya terdiam saja di tempat kak Nara berdiri tanpa melakukan pergerakan sedikit pun?)" tanya Raihana kepada kakak ipar kesayangannya dengan nada bicaranya yang menyiratkan kekhawatiran kepada kakak ipar kesayangannya.
Sontak saja Nara pun langsung di buat menjadi tersadar oleh adik iparnya dari lamunannya ketika adik iparnya menanyakan keadaannya.
"Calm down, Rai. Kak Nara just feels very impressed with your room which is very similar to Nara's room in Kak Nara's house in Japan. A room like this is everyone's dream room because it combines the concept of a room and a mini library (Tenanglah, Rai. Kak Nara hanya merasa sangat kagum dengan kamarmu yang mirip sekali dengan kamar kak Nara yang ada di rumah kak Nara yang berada di Jepang. Kamar seperti ini menjadi kamar idaman bagi semua orang karena memadukan konsep antara sebuah kamar dan sebuah perpustakaan mini)" ucap Nara sembari menatap ke arah wajah cantik dan imut milik adik iparnya dengan tatapannya yang sangat lekat.
"Ah, that's right, said Sis Nara. Actually, this room design was created accidentally because Rai really likes reading short stories and novels. At that time Rai nagged Papa to build a library in Rai's room. And finally, Rai's room design looks like this (Ah, benar sekali kata kak Nara. Sebenarnya, desain kamar ini tercipta secara tidak sengaja karena Rai yang memang suka sekali membaca cerita pendek dan juga Novel. Kala itu Rai merengek kepada Papa agar membuat perpustakaan di dalam kamar Rai. Dan akhirnya terciptalah desain kamar Rai yang seperti ini)" ucap Raihana sembari tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Oh yeah, would you like to read one of my favorite novels? Rai guarantees that this novel will be very much like you, sis, when Nara has started reading it! I really like novels by my favorite author. And I read the original novel in Japanese, not a novel whose language has been translated (Oh ya, apa kak Nara mau membaca salah satu novel favoritku? Rai jamin novel ini akan sangat kak Nara sukai ketika kak Nara sudah mulai membacanya! Aku sangat suka sekali novel-novel karya dari penulis favoritku ini. Dan aku membaca novelnya yang asli pakai bahasa Jepang, bukan novel yang bahasanya telah di terjemahkan)" lanjut Raihana sembari menatap wajah cantik milik kakak ipar kesayangannya dengan tatapannya yang sangat lekat.
Terlihatlah Nara yang sedang menimbang-nimbang tawaran dari adik iparnya mengenai tawaran untuk Nara membaca salah satu novel favorit adik iparnya.
"Raihana no sukina shōsetsu o yonde mo daijōbu kamo shiremasen. Watashi wa jissai, tokuni shōsetsu o yomu toki, yomu no ga hontōni sukinahitode mo arimasu (Mungkin tidak ada salahnya untuk membaca salah satu novel favorit Raihana. Aku kan sebenarnya juga orang yang sangat menyukai kegiatan membaca, apalagi jika membaca novel)" batin Nara sembari menatap ke arah wajah cantik dan imut milik adik iparnya.
Setelah menimbang-nimbang tawaran dari adik iparnya selama beberapa saat, kini Nara temukan jawaban untuk menerima tawaran dari adik iparnya.
"Yes, Sis Nara wants to read it. Ms. Nara is a person who likes reading, let alone reading novels. Since Nara hasn't bought a new novel yet, then Nara will borrow Rai's novel first (Boleh, kak Nara mau membacanya. Kak Nara itu termasuk orang yang suka kegiatan membaca, apalagi membaca novel. Berhubung kak Nara belum membeli novel baru, jadi kak Nara akan meminjam novel miliknya Rai dahulu)" ucap Nara sembari memberikan sebuah senyuman hangat kepada adik iparnya.
Setelah mendengar jawaban dari kakak ipar kesayangannya, Raihana segera bergegas untuk mengambil salah satu novel favoritnya yang di tulis menggunakan huruf kanji atau bahasa Jepang.
Ketika sudah menemukan salah satu novel favoritnya, Raihana langsung memberikan novel tersebut kepada kakak ipar kesayangannya.
"This is the novel, sis (Ini novelnya, kak)" ucap Raihana sembari memberikan sebuah novel favoritnya kepada kakak ipar kesayangannya.
Nara pun menerima sebuah novel dari adik iparnya tersebut dengan tangan kanannya yang menggenggam sebuah novel yang berukuran 14,8 cm x 21 cm tersebut.
Novel favorit Raihana tersebut dalam bahasa Jepang berjudul 'Watashinojinsei no niji' atau jika di terjemahkan ke bahasa Indonesia adalah 'Pelangi dalam hidupku'.
Ketika kedua mata Nara membaca judul novel tersebut, kedua mata Nara langsung membulat dengan sempurna. Karena novel tersebut adalah salah satu dari novel-novel yang sudah Nara ciptakan.
__ADS_1
"Ē to, kore wa watashi no shōsetsudesu! (Hah, ini adalah novelku!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah novel tersebut.