
"Demo, seikaku mo seikaku mo Aina to vu~an'nesha ni nite iru futari o mitsuketara, sugoku omoshiroidesu. Kangaete miru to, watashitachi 4-ri wa hijō ni gokansei ga arimasu. Dōshite? Kotaeha, Aina to nesha ga gaikō-tekina seikaku ni kōfun shite ite, watashi to nissa ga naikō-tekina seikaku to ryō kōsei no seikaku ni ochitsuite irukaradesu. Kore wa totemo omoshiroidesu yo ne? (Tapi rasanya benar-benar lucu sekali ya ketika menemukan dua orang yang dari segi sifat dan kepribadiannya mirip seperti Aina dan Vannesha ini. Kalau di pikir-pikir kami berempat ini sangatlah serasi. Kenapa? Jawabannya adalah karena Aina dan Nesha yang bersifat heboh dengan berkepribadian Ekstrovert, serta aku dan Nissa yang bersifat kalem dengan kepribadian Introvert dan Ambivert. Ini sangatlah lucu, bukan?)" batin Nara yang di tujukan kepada Aina, Vannesha, dan juga Anissa yang notabenenya merupakan ketiga sahabat sejatinya tersebut sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman yang bermakna sebuah kebahagiaan tersebut di wajahnya yang cantik tersebut.
Seketika, lamunan Nara pun menjadi terpecah belah menjadi berkeping-keping tatkala mendengarkan sang Mama yang kini sudah membuka suaranya untuk berbicara kepadanya dan juga ketiga sahabat sejatinya tersebut.
"Honey, come on, bring Aina, Nesha, and Nissa to the living room. There you are free to do whatever you want. Whether it's singing, or making a new novel like the one you planned with Raihana, your sister-in-law. Later at 11 noon we will go to Tokyo Disneyland, okay? Therefore, you can take advantage of the remaining 3 hours of time to rest and do what you want to do when you are gathered like this! (Sayang, ayolah bawa Aina, Nesha, dan juga Nissa ke ruang keluarga. Di sana nanti kalian bebas mau melakukan apa saja. Entah itu mau bernyanyi, atau membuat novel baru seperti yang sudah kamu rencanakan dengan Raihana, adik iparmu. Nanti pada jam 11 siang kita akan pergi ke Disneyland Tokyo, oke? Maka dari itu, kalian manfaatkanlah 3 jam waktu yang tersisa untuk beristirahat serta melakukan apa yang kalian ingin lakukan ketika kalian sudah berkumpul seperti ini!)" ucap Amaya yang di tujukan kepada Nara yang notabenenya merupakan putri bungsunya tersebut yang bertujuan untuk putri bungsunya tersebut agar mengajak ketiga sahabat sejatinya tersebut untuk menuju ke arah ruang keluarga, tempat di mana putri bungsuya bersama ketiga sahabatnya tersebut bisa melakukan hal-hal yang mereka masing-masing sukai.
Nara yang mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh sang Mama tersebut pun kini tengah berkutat dengan pikirannya sendiri untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dia lakukan dengan ketiga sahabat sejatinya tersebut.
"Konkai wa Aina, nesha, nissa de nani ga dekimasu ka? U ̄ n, watashi wa kore ni tsuite jibun de kangaeru no ni konran shimashita. E ̄ to, haha ga itta atarashī shōsetsu o utatte kaite mimasen ka? U ̄ n, tabun Aina, nesha, soshite nissa to issho ni utau no ga kono jiten de no watashi no sairyō no sentakudesu. Shikashi, watashi wa korera no 3-ri no hontō no tomodachi to dono kyoku o utaimasu ka? U ̄ n? (Apa yang bisa aku lakukan bersama Aina, Nesha, dan juga Nissa pada kali ini? Humm, aku jadi bingung sendiri memikirkan akan hak ini. Emm, bagaimana dengan bernyanyi dan menulis sebuah novel baru yang di katakan oleh Mamaku? Umm, mungkin jika bernyanyi bersama Aina, Nesha, dan juga Nissa adalah pilihan terbaikku pada saat ini. Namun, lagu apa yang akan aku nyanyikan bersama ketiga sahabat sejatiku ini? Hmmm?)" batin Nara yang kini tengah berkutat dengan pikirannya sendiri untuk menemukan sebuah kegiatan yang bisa di lakukan bersama dengan ketiga sahabat sejatinya tersebut sembari mengetuk-ngetukkan salah satu jari telunjuknya pada dagunya sendiri.
Berbeda dengan kakak ipar perempuan kesayangannya tersebut yang kini sedang berkutat dengan pikirannya sendiri untuk menemukan sebiah kegiatan yang bisa di lakukan bersama ketiga sahabat sejatinya tersebut, Raihana justru merespon dengan sangat antusias ucapan Amaya yang notabenenya merupakan sahabat dari sang Mama serta merupakan Mama kandung dari kakak ipar perempuan kesayangannya tersebut.
"Ah, can Rai go to the family room with Rai's favorite sister-in-law and his three true friends, Mama? If possible, then Rai will also invite kak Rafa and kak Rafi to also join forces with Rai's favorite sister-in-law and his three true friends. (Ah, bolehkah Rai ikut pergi ke ruang keluarga bersama kakak ipar kesayangan Rai dan ketiga sahabat sejatinya, Mama? Jika boleh, maka Rai juga akan mengajak kak Rafa dan kak Rafi untuk bergabung juga bersama kakak ipar kesayangan Rai serta ketiga sahabat sejatinya itu)" tanya Raihana kepada Amaya yang notabenenya merupakan sahabat dari sang Mama serta merupakan Mama kandung dari kakak ipar perempuan kesayangannya tersebut dengan ekspresi wajahnya serta nada bicaranya tersebut yang di buat seimut dan sememelas mungkin di mata Amaya.
Amaya yang melihat peraku dari Raihana yang notabenenya merupakan anak perempuan dari sahabat karibnya yang terlihat sangatlah menggemaskan tersebut pun sontak saja langsung mencubit dengan sangat gemas ke kedua pipi chubby milik anak perempuan dari sahabat karibnya tersebut.
"Uh, I'm really excited about you, Mama. Of course you and your two twin brothers may join your favorite sister-in-law along with her three true friends. The seven of you can do the things you love in the family room. Have fun dear. Mama Maya and the other mothers will go inside first. If you look for our whereabouts, then the answer is we will be in the kitchen, okay? (Uh, gemes banget sih Mama sama kamu, sayang. Tentu saja kamu berserta kedua kakak kembar laki-lakimu itu boleh bergabung dengan kakak ipar perempuan kesayanganmu itu berserta ketiga sahabat sejatinya. Kalian bertujuh bisa melakukan hal-hal yang kalian sukai di dalam ruang keluarga. Selamat bersenang-senang sayang. Mama Maya dan para Mama-Mama yang lainnya akan masuk dulu ya ke dalam. Jika kalian mencari keberadaan kami, maka jawabannya kami akan berada di dapur, oke?)" ucap Amaya yang di tujukan kepada Raihana yang notabenenya merupakan anak perempuan dari sahabat karibnya tersebut sembari mencubit dengan sangat gemas ke kedua pipi chubby milik anak perempuan dari sahabat karibnya tersebut.
Selesai mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Raihana yang notabenenya merupakan anak perempuan dari sahabat karibnya tersebut, Amaya bersama Rania, Naura, dan juga Ayesha pun langsung melangkahkan kedua kaki mereka masing-masing untuk menuju ke arah dapur yang berada di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang ini.
__ADS_1
Nandito dan Ayunindya juga melangkahkan kedua kaki mereka masing-masing untuk menuju ke arah taman yang ada di bagian belakang dari rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang ini untuk menikmati udara dan atmosfer yang ada di kota Tokyo, Jepang ini.
Selepas kepeninggalan sang Mama berserta sang Mama mertua dan kedua Mama dari Vannesha dan Anissa tersebut, Nara pun langsung berinisiatif untuk mengajak suami kecilnya, kedua adik iparnya, serta ketiga sahabat sejatinya tersebut untuk menuju ke arah ruang keluarga yang ada di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang ini.
"Um, let's go to the living room right away. I plan to invite all of you to sing together in the family room in my family's house. There are also a few mics for karaoke if you want (Ehm, ayo kita segera ke ruang keluarga. Aku berencana untuk mengajak kalian semua bernyanyi bersama di dalam ruang keluarga yang ada di rumah keluargaku ini. Di sana juga ada beberapa mic untuk berkaroke ria jika kalian ingin)" ucap Nara yang di tujukan kepada suami kecilnya, kedua adik iparnya, serta ketiga sahabat sejatinya tersebut sembari melangkahkan kedua kakinya tersebut untuk berjalan ke arah ruang keluarga yang ada di rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang ada di kota Tokyo, Jepang ini.
Mendengar perkataan dari Nara yang seakan-akan membawa angin segar nan sepoi-sepoi untuk mereka bertiga, Raihana, Aina, dan juga Vannesha pun sontak saja langsung membalas perkataan Nara tersebut dengan nada bicara mereka masing-masing yang menyiratkan sebuah antusiasme yang sangatlah mendalam tersebut.
"Wow, are we really going to sing together, my dear sister-in-law? Is it true? If so, I want all of us to sing 10 romantic songs non-stop! (Wah, kita benar-benar akan bernyanyi bersama, kakak ipar perempuan kesayanganku? Benarkah? Jika benar, aku ingin kita semua bernyanyi 10 lagu yang bergenre romantis tanpa henti!)" cerocos Raihana yang di tujukan kepada Nara yang notabenenya merupakan kakak ipar perempuan kesayangannya tersebut dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah antusiasme yang sangatlah mendalam tersebut sembari melangkahkan kedua kakinya untuk menyusul langkah kedua kaki dari kakak ipar perempuan kesayangannya tersebut yang kini sedang berjalan menuju ke arah ruang keluarga yang ada di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada
"Yes, I also want the same thing that your sister-in-law, Nara said! It's been a long time since we sang together, especially in a choir like this! (Ya, aku juga ingin hal yang sama seperti yang di katakan oleh adik iparmu, Nara! Sudah lama sekali kita tidak bernyanyi secara bersama-sama, apalagi dengan paduan suara seperti ini!)" cerocos Aina kepada Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah antusiasme yang sangat mendalam tersebut sembari melangkahkan kedua kakinya untuk menyusul langkah kedua kaki dari sahabat sejatinya tersebut yang kini sedang berjalan menuju ke arah ruang keluarga yang di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang ini.
"Yes, you must listen and obey all of our aspirations, Nara. We really hope that this can be done very well thanks to you, Nara. If you absolutely cannot listen and comply with all the aspirations of the three of us, then the three of us will not hesitate to take to the road to carry out demonstrations demanding and seeking justice and the rights of the three of us which we must accept at this time! (Ya, kamu harus mendengar dan menuruti semua aspirasi dari kami, Nara. Kami sangat berharap jika hal ini bisa terlaksana dengan sangat baik berkat dirimu, Nara. Jika kamu sama sekali tidak bisa mendengarkan dan menuruti semua aspirasi dari kami bertiga, maka kami bertiga akan tak segan-segan untuk turun ke jalan raya untuk melakukan aksi demo menuntut dan mencari keadilan dan hak kami bertiga yang sebenarnya harus kami terima pada saat ini!)" cerocos Vannesha kepada Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut dengan nada bicaranya yang terdengar sangatlah antusias sekaligus mengancam sahabat sejatinya tersebut sembari melangkahkan kedua kakinya untuk menyusul langkah kedua kaki dari sahabat sejatinya tersebut yang kini sedang berjalan menuju ke arah ruang keluarga yang ada di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang ada di kota Tokyo, Jepang ini.
Anissa yang sedari tadi sudah berjalan bersama dengan Rafa dan Rafi di belakang Vannesha pun kini langsung berdecak kesal ketika mendengarkan perkataan yang terdengar sangatlah aneh dan nyeleneh yang di ucapkan oleh sahabat gilanya tersebut
"Tsk, you crazy! You really watch a lot of news that tells about political activities in Indonesia. Hmm, it looks like your healthy brain has all been damaged because you watch Korean dramas with romantic genres too often! (Ck, dasar gila! Kamu ini memang banyak sekali ya menonton berita yang menceritakan tentang aktivitas politik di Indonesia. Hmm, sepertinya otak sehatmu ini sudah rusak semua karena terlalu sering menonton Drama Korea yang bergenre romantis!)" decak Anissa yang di tujukan kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat gilanya tersebut sembari mempercepat langkah kedua kakinya tersebut agar bisa dengan lebih cepat tiba di ruang keluarga yang ada di dalam rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang ada di kota Tokyo, Jepang ini.
Nara yang mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh Vannesha dan juga Anissa yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya yang berasal dari Indonesia tersebut pun merasa agak sedikit geli karena mengenai perkataan Vannesha yang mengatakan bahwa dirinya tak akan segan-segan turun ke jalan raya hanya untuk menuntut keadilan dan hak yang seharusnya di terima olehnya dari dirinya tersebut
__ADS_1
"U ̄ n, darekaga tokidoki hontōni omoshiroi koto ga hanmei suru koto ga arimasu. Tokuni kono yōna toki. Nesha wa watashi kara uketorubekida to kanojo ga itta seigi to kenri o eru tame dake ni kōzokudōro o oriru to omoimasu.U ̄ n, kono nesha wa hontōni henda! (Hmm, seseorang memang bisa berubah menjadi sangat lucu sekali di saat-saat tertentu. Terutama pada saat-saat seperti ini. Masa iya Nesha akan turun berdemo ke jalan raya hanya untuk mendapatkan sebuah keadilan dan sebuah hak yang katanya harus dia terima dari diriku. Hmm, benar-benar aneh sekali Nesha ini!)" batin Nara yang di tujukan kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya yang berasal dari Indonesia tersebut sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri secara perlahan-lahan karena merasa sangat tidak bisa memercayai setiap kata-kata yang keluar dari mulut sahabat sejatinya tersebut.
Walaupun dirinya sekarang merasa tidak bisa mempercayai setiap kata-kata yang keluar dari mulut Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya yang berasal dari Indonesia tersebut, namun lagi dan lagi Nara tidak sampai mencetuskan apa yang ada di dalam isi pikiran dan hatinya kepada Vannesha melalui mulutnya sendiri.
Kenapa Nara mengambil keputusan untuk tidak mencetuskan apa yang ada di dalam isi pikiran dan hatinya kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya yang berasal dari Indonesia tersebut? Jawabannya sangatlah simple. Itu semua karena Nara tidak ingin menggores perasaan sahabat sejatinya yang berasal dari Indonesia tersebut dengan kata-kata yang dirinya cetuskan melalui mulutnya sendiri. Karena Nara percaya, 'jika mulutmu adalah harimaumu'.
Berbeda dengan Nara yang masih memegang teguh prinsip mulutmu adalah harimaumu, prinsip Anissa justru berkebalikan dengan prinsip yang di pegang teguh oleh sahabat sejatinya yang berasal dari Jepang tersebut. Prinsip yang di pegang oleh Anissa adalah 'Jujurlah dengan perasaan yang sedang di rasakan olehmu, walaupun hanya sedikit dari apa yang sedang kamu rasakan'.
Memang terdengar sangatlah aneh, bukan? Namun, kenyataannya seorang Anissa Kyara Zahran tetaplah memegang teguh prinsip uniknya tersebut. Prinsip inilah juga yang membuat Anissa tak segan-segan untuk mencetuskan apa yang kini tengah di rasakannya kepada seseorang, termasuk kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat gilanya tersebut.
"Honestly, Nesha. You are very strange and also very crazy! This is the first time I have met a friend who is so weird and crazy like you, Vannesha Mikhayle Faresta! (Jujur saja, Nesha. Kamu itu sangatlah aneh dan juga sangatlah gila! Baru kali inilah aku menemukan seorang sahabat yang sangatlah aneh dan gila seperti dirimu ini, Vannesha Mikhayle Faresta!)" decak Anissa yang di tujukan kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabat gilanya tersebut sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sahabat gilanya tersebut.
Sontak saja ucapan Anissa yang tidak menggunakan berlapis-lapis kain filter itu pun seperti membuat Vannesha sakit hatinya karena tertancap oleh 1000 belati yang sangatlah tajam karena perkataan yang di ucapkan oleh Anissa yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut.
Jlebb
Untuk mengekspresikan rasa sakit hatinya yang seperti tertancap 1000 belati tang sangatlah tajam karena perkataan yang di ucapkan oleh Anissa yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut, Vannesha pun memulai untuk membuat dramanya lagi pada kali ini yang di tujukan kepada Anissa tersebut.
"Yuhuu, there is someone here who ignites the flames of ignorance and the flames of friendship. So, don't blame me if I start making dramas again this time. Okay, Nesha. Spirit! (Yuhuu, di sini ada yang menyulutkan api-api kejahilan dan api-api kedramaan. Maka, jangan salahkan aku jika aku mulai membuat drama lagi pada kali ini. Oke, Nesha. Semangat!)" batin Vannesha yang mencoba untuk menyemangati atau memotivasi dirinya sendiri agar bisa memulai dramanya lagi pada kali ini dengan sangat lancar.
__ADS_1
"Huuu, I'm crying, imagining. How cruel you are to me. You two this love, you go with him, hooo. I cry, imagine. How cruel you are to me. You two love this, you go with him (Huuu, ku menangis, membayangkan. Betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya, huuuu. Ku menangis, membayangkan. Betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya)" ucap Vannesha yang di tujukan kepada Anissa yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut dengan nada-nada lagu dari sountrack sinetron Suara Hati Istri ini.