
Untuk sejenak, Rania masih terdiam di depan pintu kamar anak perempuannya dengan kedua tangannya yang masih memengang dengan sangat erat sebuah nampan yang berisikan setoples kue kering dan juga dua gelas jus buah tersebut.
Tak henti-hentinya senyuman bahagia tersebut tersungging di wajah Rania yang cantik itu. Bahkan Rania sampai berkali-kali mengucapkan syukur atas keakraban anak perempuannya dengan menantunya tersebut walau hanya bisa terucap di dalam hatinya saja.
"Subhanallah, Mama is very happy to see Mama's daughter and Mama's daughter-in-law who are very close like siblings. I hope you can continue to be like this, Mama's daughter and Mama's daughter-in-law are beautiful and cute (Subhanallah, Mama sangat bahagia melihat anak perempuan Mama dan menantu Mama yang sangatlah akrab seperti saudara kandung. Mama harap kalian bisa seperti ini terus ya, anak perempuan Mama dan menantu Mama yang cantik dan imut)" batin Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang menyiratkan kebahagiaan di wajahnya yang cantik itu.
"Nara, it's not wrong if Mama and Papa chose you to be our favorite daughter-in-law as well as the wife of Rafa, Mama and Papa's first son. Your gentle, patient, and compassionate nature was inherited from the nature of your mother, Nara. And about intelligence, of course there is no doubt because your Mama and Papa are very intelligent like you. We are very lucky to have a daughter-in-law who is packaged like this. She is beautiful, gentle, patient, cheerful, and intelligent too (Nara, tak salah jika Mama dan Papa memilihmu untuk menjadi menantu kesayangan kami sekaligus istri dari Rafa, putra pertama Mama dan Papa. Sifatmu yang lembut, sabar, dan penyayang itu memang di wariskan dari sifat Mamamu, Nara. Dan soal kecerdasan, pastinya tidak di ragukan lagi karena Mama dan Papamu itu sangatlah cerdas seperti dirimu. Kami sangat beruntung mendapatkan menantu yang sepaket seperti ini. Sudah cantik, lembut, penyabar, periang, juga cerdas pula)" batin Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang menyiratkan kebahagiaan di wajahnya yang cantik itu.
Seiring dengan ucapan syukur yang terucap di dalam hatinya, air mata kebahagiaan Rania pun dengan perlahan turun dari pelupuk matanya yang kini sudah menggenangi kedua pipinya.
Tanpa di sadari, Rafa sudah berdiri di dekat sang Mama sedari tadi. Hanya saja Rafa membiarkan untuk tak mengejutkan sang Mama dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba tersebut.
"Ayolah, Ma. Jangan menangis lagi! Rafa sangat membenci jika orang-orang tersayang Rafa sedang meneteskan air matanya! Itu sama saja rasanya dengan di tusuk menggunakan 1000 jarum yang tidak terlihat, Mama!" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.
Rafa yang sebenarnya sangat membenci jika orang-orang tersayangnya sedang meneteskan air mata dari pelupuk mata orang tersebut pun membuat Rafa langsung mengejutkan sang Mama dengan kedatangannya yang terbilang sangat tiba-tiba.
Tak hanya mengejutkan dengan sebuah perkataan saja, Rafa juga turut mengejutkan sang Mama dengan menyeka air mata sang Mama yang sekarang sudah terjun dengan bebas di kedua pipinya.
"Mama, why are you crying? You know that Rafa really hates Rafa's loved ones who are crying? (Mama, kenapa Mama menangis? Mama tahu kan jika Rafa sangat membenci orang-orang tersayang Rafa yang sedang menangis?)" ucap Rafa sembari menyeka air mata yang masih mengalir dengan derasnya di kedua pipi sang Mama.
Sontak saja Rania merasa sangat terkejut akan kehadiran putra pertamanya yang sekarang sedang menyeka air matanya yang masih mengalir dengan derasnya di kedua pipi Rania.
Bahkan batin Rania sampai menerka-nerka sendiri kenapa putra pertamanya itu bisa berada di dalam rumah keluarga Abayomi di kala seharusnya putra pertamanya tersebut sedang bergelut dengan setumpukan berkas-berkas perusahaan.
Padahal sekarang jarum jam masih menunjukkan angka 3 dan jarum panjang menunjukkan angka 12, yang mana berarti sekarang masih pukul 15:00 WIB. Masih ada 2 jam lagi jam kerja di perusahaan RANY Coropration berakhir.
"Why is Rafa in this house again? Isn't it still working hours right now? Rafa should be wrestling with a pile of files in his company, not busy wiping my tears! (Kenapa Rafa bisa berada di rumah ini lagi? Bukankah sekarang ini masih jam kerja? Seharusnya Rafa sedang bergelut dengan setumpukan berkas-berkas di perusahaannya, bukan sibuk menyeka air mataku ini!)" batin Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik putra pertamanya tersebut.
Karena terlalu sibuk menperhatikan penampilan putra pertamanya yang sekarang tengah mengenakan stelan jas berwarna hitam, Rania pun menjadi terpana dengan aura ketampanan yang terlihat dari tubuh putra pertamanya tersebut.
"If you pay close attention to it, your appearance wearing a suit is very handsome like your father when he was young. You even look like a duplicate of your papa when he was young. There is no visible trace of the inheritance of Mama's face or traits in your body (Jika di perhatikan dengan sangat intens, penampilanmu yang mengenakan stelan jas sangatlah tampan seperti Papamu waktu masih muda dulu. Bahkan kamu terlihat seperti duplikat Papamu waktu dirinya masih muda. Tak terlihat jejak warisan dari wajah atau sifat dari Mama di dalam tubuhmu)" batin Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik putra pertamanya tersebut.
Untuk sejenak, terciptalah suasana hening di antara Ibu dan Anak ini. Rania dan Rafa pun sekarang dengan aktifitasnya masing-masing. Rania yang sibuk memperhatikan wajah tampan milik putra pertamanya. Sedangkan Rafa yang sedang sibuk menyeka air mata sang Mama yang masih mengalir dengan derasnya di kedua pipi sang Mama.
Hingga pada akhirnya, Rania pun memberanikan dirinya untuk memecah keheningan di antara dirinya dan putra pertamanya tersebut.
Rania yang tak bisa membendung rasa penasarannya lagi, kini Rania pun menanyakan kepada putra pertamanya perihal kenapa putra pertamanya sekarang bisa berada di rumah keluarga Abayomi lagi.
"Brother, why are you at home? Isn't it still working hours? (Kakak, kenapa kakak bisa berada di rumah? Bukankah ini masih jam kerja?)" tanya Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik putra pertamanya tersebut.
Kini, terlihatlah Rafa yang sedang menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar karena mendengar pertanyaan dari sang Mama yang sedari tadi memang sedang Rafa hindari.
Rafa bahkan tak yakin jika sang Mama nantinya tidak akan menertawakan penjelasannya tentang mengapa dirinya bisa berada di dalam rumah keluarga Abayomi pada saat jam kerja seperti ini.
"Hah, kenapa Mama harus menanyakan hal ini? Rafa tak yakin jika Mama tak akan menertawakan Rafa jika Mama sudah mendengar penjelasan dari Rafa mengenai mengapa Rafa bisa berada di rumah ketika sedang jam kerja seperti ini" batin Rafa sembari menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Pada akhirnya, Rafa pun tetap memutuskan untuk menceritakan alasan mengapa dirinya bisa berada di dalam rumah keluarga Abayomi pada saat jam kerja seperti ini. Tentunya dengan sebuah konsekuensi dari sang Mama yang mau tidak mau harus Rafa hadapi.
__ADS_1
"So like this____ (Jadi seperti ini____)" ucap Rafa sembari menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Flashback On
Ketika sudah sampai di depan gedung perusahaan RANY Corporation, Rafa pun di buat menjadi sangat heran dengan para karyawan perusahaan RANY Corporation yang kini sudah berhamburan keluar dari gedung perusahaan RANY Corporation.
Rafa bahkan sampai menerka-nerka di dalam pikirannya sendiri karena para karyawan perusahaan RANY Coproration kini sudah berhamburan keluar dari gedung perusahaan RANY Corporation pada jam kerja seperti ini.
"Ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka sudah berhamburan keluar dari gedung perusahaan? Bukankah ini masih jam kerja? Lantas, mengapa mereka sudah berhamburan keluar dari gendung perusahaan" batin Rafa yang kini sedang menerka-nerka di dalam pikirannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, terlihatlah sesosok laki-laki yang kira-kira masih berusia 25 tahun muncul di depan tubuh Rafa yang tinggi dan tegap tersebut.
Laki-laki tersebut di ketahui bernama Erick Richard Bramasta atau biasa di panggil dengan sebutan Pak Erick yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran di perusahaan RANY Corporation.
Dengan sigap, Rafa pun langsung menyapa sang Direktur Pemasaran di perusahaan RANY Corporation tersebut. Tak lupa juga untuk Rafa menanyakan mengapa para karyawan perusahaan RANY Corporation sudah berhamburan keluar dari gedung perusahaan RANY Corporation.
"Hello Mister Erick (Halo Pak Erick)" sapa Rafa kepada sang Direktur Pemasaran di perusahaan RANY Corporation tersebut.
"Hello too Young Master Rafa (Halo juga Tuan Muda Rafa)" jawab Erick dengan sebuah senyuman simpul yang tersungging di wajahnya yang tak kalah tampannya dengan wajah Rafa.
"Sir, why are company employees running out of the company building? Even though it's still working hours. And the time to go home should be 2 hours, not now (Pak, kenapa para karyawan perusahaan sudah berhamburan keluar dari gedung perusahaan? Padahal kan ini masih jam kerja. Dan jam pulang seharusnya 2 jam lagi, bukan sekarang)" tanya Rafa tanpa basa-basi lagi kepada sang Direktur Pemasaran di perusahaan RANY Corporation tersebut.
"Today all the employees are leaving early, Young Master Rafa. Because Mr Raihan said today is the day of the promotion of Young Master Rafa from Deputy CEO to CEO (Hari ini semua para karyawan pulang cepat, Tuan Muda Rafa. Karena kata Tuan Raihan hari ini adalah hari kenaikan jabatan Tuan Muda Rafa dari Wakil CEO menjadi CEO)" jawab Erick dengan sebuah senyuman simpul yang tersungging di wajahnya yang tak kalah tampannya dengan wajah Rafa.
Sontak saja Rafa menjadi geram kepada sang Papa ketika sudah mendengarkan penjelasan dari sang Direktur Pemasaran di perusahaan RANY Corporation tersebut.
"Papa! Kenapa Papa justru memainkanku di hari pertamaku resmi menjadi seorang CEO?" batin Rafa sembari mengepalkan kedua tangannya secara sempurna karena sudah tidak bisa memendam rasa kegeramannya kepada sang Papa.
Flashback Off
Setelah mendengarkan penjelasan dari putra pertamanya yang terbilang sangat lucu, sontak saja Rania yang tidak bisa menahan tawanya pun langsung mengeluarkan tawa dari mulutnya tersebut.
"Hahaha, it's sad that you got prank from Papa on the day you officially served as a CEO. I'm sorry, brother. Mama can no longer hold back Mama's laughter so it doesn't come out of Mama's mouth! (Hahaha, menyedihkan sekali kakak terkena prank dari Papa di hari ketika kakak resmi menjabat sebagai seorang CEO. Maafkan Mama, kakak. Mama tidak bisa lagi menahan tawa mama agar tidak keluar dari mulut Mama ini!)" ucap Rania sembari tertawa kecil ketika mengatakan hal ini kepada putra pertamanya tersebut.
"We'll talk again, brother. Mama will deliver these snacks and fruit juices for your little sister as well as your wife (Nanti kita mengobrol lagi ya kakak. Mama akan mengantarkan camilan dan jus buah ini untuk adik perempuanmu dan juga istrimu)" lanjut Rania sembari mengarahkan kedua matanya ke arah nampan yang berisikan setoples kue kering dan dua gelas jus buah yang sedang di pegang oleh kedua tangannya.
Tanpa menunggu jawaban dari putra pertamanya tersebut, Rania langsung saja membuka pintu kamar anak perempuannya tersebut untuk mengantarkan setoples kue kering dan dua gelas jus buah untuk anak perempuannya serta menantu kesayangannya.
Ceklek
Ketika pintu kamar anak perempuannya sudah terbuka secara terbuka secara sempurna, kini terlihatlah Raihana dan Nara yang sedang asyik berbincang-bincang dengan duduk di bagian tepi tempat tidur milik Raihana.
Raihana dan Nara memang terlihat sangat akrab seperti kakak dan adik kandung, bukan seperti kakak dan adik ipar. Sangkin asyiknya mengobrol, bahkan Raihana dan Nara pun sekarang tak menyadari bahwa Rania sudah berada di dalam kamar Raihana.
Rania pun melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah meja belajar milik anak perempuannya untuk menaruh nampan yang berisikan setoples kue kering dan dua gelas jus buah tersebut.
Setelah sampai di dekat meja belajar milik anak perempuannya, Rania langsung menaruh nampan yang berisikan setoples kue kering dan dua gelas jus buah tersebut di atas meja belajar milik anak perempuannya.
__ADS_1
Rania pun sekarang melangkahkan kedua kakinya untuk menuju ke arah tempat tidur milik anak perempuannya, yang mana sekarang anak perempuannya dan menantu kesayangannya sedang duduk di tepi tempat tidur anak perempuannya tersebut.
Sesampainya di tempat tidur anak perempuannya, Rania juga turut untuk mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur milik anak perempuannya.
Rania pun sekarang berniat untuk mengacaukan obrolan asyik di antara anak perempuannya dan menantu kesayangannya tersebut.
"Hey baby! Because you are too focused on chatting, you don't notice Mama's presence here! (Hei sayang! Karena terlalu fokus mengobrol, kalian jadi tidak menyadari kehadiran Mama di sini!)" ucap Rania sembari memasang ekspresi wajahnya yang terlihat sangatlah memelas di mata anak perempuannya dan juga menantu kesayangannya.
Sontak saja Nara dan Raihana pun di buat menjadi sangat terkejut karena kehadiran Rania yang notabenenya sebagai Mama dari Raihana dan juga Mama mertua dari Nara yang bisa terbilang sangatlah tiba-tiba.
Nara yang merasa dirinya terlambat mengetahui kehadiran sang Mama mertua pun akhirnya sedikit merasa bersalah karena sempat mengabaikan kehadiran sang Mama mertua.
"Nani! Watashi no giri no mama ga zutto koko ni iru koto ni kidzukanakatta no wa nazedesu ka? Ā, giri no haha no sonzai ni kidzukanai hodo, giri no kyōdai to no kaiwa ni muchū ni natte iru nodeshou ka. (Apa! Kenapa aku bisa tidak menyadari bahwa Mama mertuaku sudah berada di sini sedari tadi? Ah, apakah aku memang terlalu asyik mengobrol dengan adik iparku sehingga aku tak menyadari kehadiran Mama mertuaku sendiri?)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik Mama mertuanya tersebut.
"Mōshiwakearimasenga, anata no ibasho o shiru no ga okurete, hon'no isshun demo anata o mushi suru jikan ga arimashita, giri no mama (Maafkan aku yang terlambat mengetahui keberadaanmu dan sempat mengabaikanmu walau hanya sesaat, Mama mertua)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama mertua.
Berbeda dengan kakak ipar kesayangannya yang sedikit merasa bersalah karena terlambat mengetahui dan sempat mengabaikan sang Mama mertua walau hanya sesaat, Raihana justru merasa kesal kepada sang Mama yang menurut Raihana mengganggu obrolan asyiknya dengan kakak ipar kesayangannya tersebut.
"Ah, Mama's presence only bothered me, who was busy chatting with my beloved sister-in-law! But that's okay, because I will give you news about Nara, who is the author of my favorite novel! (Ah, kehadiran Mama ini menggangguku saja yang sedang asyik mengobrol dengan kakak ipar kesayanganku ini! Tapi tak apa-apa, karena aku akan memberikan kabar mengenai kak Nara yang merupakan penulis dari novel kesukaanku!)" batin Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama
Menyadari suasana yang mulai menjadi hening dan canggung di antara dirinya, anak perempuannya, dan juga menantu kesayangannya, Rania berusaha mencairkan susasana agar tidak menjadi hening dan canggung lagi.
"Mama had brought a jar of pastries and two glasses of fruit juice for Mama's daughter and Mama's beloved daughter-in-law. Mama put it on the study table owned by Mama's daughter. You eat and drink the cookies and fruit juices. Mama deliberately brought it to be your snack while chatting (Mama tadi membawakan setoples kue kering dan dua gelas jus buah untuk anak perempuan Mama dan juga menantu kesayangan Mama ini. Mama menaruhnya di atas meja belajar milik anak perempuan Mama. Kalian makan dan minum kue kering dan jus buahnya ya. Mama sengaja membawakannya untuk menjadi camilan kalian ketika sedang mengobrol)" ucap Rania dengan menyunggingkan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang cantik secara perlahan-lahan.
"Oh yes, what are you talking about? It seems very exciting and very fun! (Oh ya, kalian ini sedang membiacarakan apa sih? Sepertinya sangat seru dan menyenangkan sekali!)" lanjut Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang cantik secara perlahan-lahan.
"Yes, Ma. Later we will eat and drink the pastries and fruit juices (Iya, Ma. Nanti akan kami makan dan minum kue kering dan jus buahnya)" jawab Nara sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik secara perlahan-lahan.
"We are indeed talking about something very exciting and fun, Mama. Do you want to know? (Kami ini memang sedang membicarakan suatu hal yang sangat seru dan menyenangkan, Mama. Apakah Mama ingin mengetahuinya?)" goda Raihana sembari memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Kini, terlihatlah ekspresi wajah yang menyiratkan antusiasme dari wajah cantik milik Rania ketika sudah mendengarkan perkataan dari anak perempuannya.
"Yes-yes, Mama wants to know! (Iya-iya, Mama ingin mengetahuinya!)" ucap Rania sembari memasang ekspresi wajah yang menyiratkan antusiasme di wajahnya yang cantik tersebut.
"Okay. So, actually the author of my favorite novel is Narahita Hideko Yamada who is none other than my favorite brother-in-law! This world feels so small, Ma, when you already know this biggest fact! (Oke. Jadi, sebenarnya penulis dari novel kesukaanku adalah Narahita Hideko Yamada yang tak lain adalah kakak ipar kesayanganku! Dunia ini terasa begitu sempit ya Ma ketika sudah mengetahui sebuah fakta terbesar ini!)" ucap Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut secara perlahan-lahan.
Dari yang sebelumnya Rania memasang ekspresi wajah yang menyiratkan antusiasme di wajahnya yang cantik tersebut, kini Rania beralih memasang ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan.
"Is it true what your sister-in-law, my beloved daughter-in-law said earlier? (Benarkah yang di katakan oleh adik iparmu tadi, menantu kesayanganku?)" tanya Rania kepada menantu kesayangannya tersebut dengan ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan.
Nara pun hanya menjawab pertanyaan sang Mama mertua dengan sebuah anggukan kecil dari kepalanya tanpa menjawab dengan sepatah kata pun.
"This is what made Rai want to make a romantic novel in collaboration with my beloved brother-in-law who incidentally is a young and best writer in the world. (Hal ini lah yang membuat Rai ingin membuat sebuah novel romantis dengan berkolaborasi bersama kakak ipar kesayanganku yang notabenenya adalah seorang penulis novel termuda dan terbaik di dunia. Apakah kakak ipar kesayangku ini bersedia untuk menjadi rekan dari novel romantis yang akan kita rilis nanti?)" tanya Raihana kepada kakak ipar kesayangannya sembari memasang ekspresi wajah yang memelas di wajahnya yang cantik.
"Yes, Nara, how do you answer the question from your sister-in-law? (Iya Nara, bagaimana jawabanmu tentang pertanyaan dari adik iparmu itu?)" desak Rania kepada menantu kesayangannya agar segera menjawab pertanyaan dari anak perempuannya tersebut.
Dan jadilah pada pukul 15:15 WIB di sore hari ini Nara terkena boombardir dari sang Mama mertua dan juga adik iparnya tersebut.
__ADS_1