Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 10 Rencana Nya. Arsy.


__ADS_3

"Tuan," panggil Asisten Azlan dengan keras.


"Iya, Maira," ujar Azlan tanpa sengaja menyebut nama Maira.


Asisten Bima, menatap bosnya dengan aneh. "Siapa Maira, Tuan?" tanyanya penasaran pasalnya ini kali pertama Azlan menyebut nama seorang perempuan lain sejak ia ikut berkerja dengan Azlan.


"Hu, tidak ada. Katakan ada apa?" ujar Azlan dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya datar.


"Anda sudah di tunggu di ruang meeting, karena meeting akan segera di mulai," ujar Bima memberitahukan jadwal sang Tuan.


"Hum. Baiklah, ayo," ujar Azlan berjalan lebih dulu keluar, sedangkan Bima mengikuti Azlan dari belakang menujuh ruangan meeting.


"Bisa-bisanya aku memikirkan istri orang. Hufh," ujar batin Azlan bingun dengan dirinya sendiri.


"Apa Anda tidak apa, Tuan?" tanya Bima, saat melihat Tuannya berjalan sambil terbengong.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Azlan balik dengan datar.


"Hari ini Anda terlihat sering kali melamun. Apa ada sesuatu yang menganggu, Tuan?" tanya Bima kembali.


"Tidak ada," sahut Azlan datar.


Bima berhenti bertanya dan membukakan pintu ruang meeting. "Silahkan, Tuan."


Azlan masuk dan langsung duduk di kursi ke besarannya, sedangkan Bima duduk di sampingnya.


......................


Nya. Aray berjalan mendekati suaminya yang duduk di kursi taman belakang rumah Arhand. "Ini kopinya, Pa," ujarnya meletakkan kopi di depan sang suami.

__ADS_1


"Huem. Terima kasih, Mam," dehem Tuan Blanco fokus pada laptopnya.


Nya. Asry mengintip layar laptop suaminya. "Papa lagi ngapain?" tanyanya sembari memakan cemilan ke sukaanya.


"Hanya memeriksa berkas yang dikirim sekretaris, Papa," ujar Tuan Blanco dengan masih terus memeriksa berkas perusahaan.


Nya. Aray mengangukkan kepalanya. "Huem."


"Oiya, Mam. Sebentar malam, Mama, bersiap lah kita akan menghadiri pesta anniversary pernikahan, Tuan Smith," ujar Tuan Blanco kembali.


Nya. Arsy mengangkat sebelah alisnya. "Pesta?"


"Iya," jawab Tuan Blanco.


"Papa," ujar Nya. Arsy bergelayut manja di lengan suaminya.


"Bagaimana kalau Arhand saja sama Maira yang pergi, biar mereka semakin dekat gitu?" ujar Nya. Arsy.


"Memangnya Arhand mau?" tanya Tuan Blanco walau dia sudah tau arah pembicaraan istrinya.


"Pasti mau, jika Papa yang ngomong. Papa mau kan ngomong sama Arhand," ujar Nya. Arsy dengan jarinya bermain di dada bidang suaminya.


"Apa, Papa bisa menolak?" tanya Tuan Blanco menangkap tangan nakal istrinya.


"Hehehe ... tidak bisa," ujar Nya. Arsy. Karena jika saja suaminya menolak maka ia akan ngambek dan tak ingin tidur seranjang dengan suaminya itu, sedangkan suaminya itu tak bisa tidur tanpa istrinya berada di dekatnya.


"Sudahlah, Papa akan bicara dengan Arhand. Tapi semua punya harga, Mam," ujar Tuan Blanco tersenyum penuh arti menatap istrinya.


Nya. Arsy yang mendengar ucapan suaminya, langsung melepas legang suaminya. "Argh. Papa mah selalu saja seperti itu," ujarnya kesal.

__ADS_1


Tuan Blanco mengangkat kedua bahunya. "Yah, sudah kalau gak mau, Papa tidak akan bicara. Ingatlah Ma, di dunia ini tidak ada yang gratis, dan Papa juga seorang pebisnis. Dimana ada ke untungan disitulah peluang bagus untuk masuk ke dalam," ujarnya kembali melanjutkan memeriksa berkas.


"Terserah, Papa, sajalah," ujar Nya Arsy mengalah, tapi masih terdengar kesal.


"Jadi Mama setujuh?" tanya Tuan Blanco melirik nakal istrinya.


"Iya, Mama setujuh."


"Gitu donk. Lagi pula bayarannya tidak berat, malah membuat Mama ke enakan," ujar Tuan Blanco mengedipkan matanya.


"Iya, enak. Jika semuanya masih Standar," ujar Nya. Arsy judes. Karena kekuatan suaminya di atas ranjang benar benar masih powerful.


"Apa Mama sekarang mengaku kalau, Papa jauh lebih unggul, Huem," goda Tuan Blanco.


"Enak saja, Mama itu jauh lebih unggul yah, Papa," ujar Nya. Arsy tak terima dengan ucapan suaminya.


Tuan Blanco menarik pinggang istrinya menarik masuk ke dalam pelukannya. "Kita akan liat nanti malam, siapa lebih dulu keluar, dan siapa lebih dulu terkapar," ujarnya menghadiahi kecupan singkat.


Dari atas balkon, seorang wanita sedang menangis melihat ke hangatan dua pasangan paruh bayah itu.


"Andai rumah tanggaku dan Mas Arhand bisa sehangat rumah tangga Mama dan Papa, pasti aku menjadi wanita yang sangat beruntung dan bahagia," ujarnya denagn air mata yang mengalir, matanya tak berhenti menatap ke mesraan mertuanya.


Di tengah lamunannya, ia dikagetkan seorang. "Hapus itu dari fikiranmu, karena itu tidak akan terjadi. Takdirmu hanya akan menjadi wanita yang bernasip buruk, bukan wanita bernasip beruntung," ujar Arhand dengan dingin dan datar.


Maira sontak berbalik, sedangkan Arhand sudah kembali ke dalam kamar. "Ma-mas," ujar Maira lalu masuk kedalam kamar, menyusul suaminya.


...#continue ......


...Hai Readers, jangan lupa tinggalkan dukungannya terusπŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚....

__ADS_1


__ADS_2