Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 34 Keberanian Maira.


__ADS_3

"Kalian baru kembali?" tanya Ny. Arsy melihat kedatangan Maira dan Arhand.


Maira dan Arhand memang baru saja kembali karena laju mobil yang di kendari berjalan dengan sangat pelan.


Langkah Maira terhenti saat akan melangkah memaiki tangga begitupun langkah Arhand. "Eh, Mam ( berbalik ). Iya Mam kami baru kembali," ujarnya tersenyum.


"Kalian sudah makan?, kalau belum kalian makan dulu, Mama tadi sudah masak," ujar Ny. Arsy lembut.


"Maaf, Mam, Maira tadi tidak bisa membantu Mama," ujar Maira merasa tidak enak pada Mama mertuanya yang harus memasak sendiri padahal itu seharusnya menjadi tanggung jawabnya, walau ada pekerja di rumah tapi tetap itu adalah tanggung jawabnya sebagai menantu.


"Tidak masalah sayang," ujar Ny. Arsy lagi mengusap lembut kepala menantu kesayangannya, dan pergi masuk kedalam kamarnya.


"Mas, mau makan dulu?" tanya Maira menatap suaminya.


"Aku mau ganti pakaian dulu," ujar Arhand.


"Baiklah, Mas. Kalau begitu aku akan panaskan masakannya dulu," ujar Maira, dan ingin pergi ke dapur namun tangannya di cekal oleh Arhand.


"Nanti aja, kamu juga mandi dan ganti pakaian saja dulu, setelah itu kita makan," ujar Arhand, memegang tangan Maira menaiki tangga.


Hati Maira kembali berdebar kencang. Tapi sebaran itu di sebabkan dua hal, pertama karena tangannya di genggam lembut oleh Arhand, dan berdebar karena ucapan suaminya. Maira belakangan ini mulai memahami perkataan suaminya.


......................


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pintu rumah Qesya terus berbunyi karena kedoran Aditya yang baru saja datang.


"Iya, iya, iya, tunggu sebentar," teriak Qesya dari dalam.


Aditya duduk di kursi kayu, dan takk lama pintu terbuka.


Ceklek.


Mendengar pintu terbuka Aditya berdiri dengan kesal. "Kamu-" ujarnya terpotong karena pandangannya terkunci dengan kecantikan Qesya malam ini. Matanya sama sekali tak berkedip sedikitpun melihat kecantikan Qesya.


"Tuan ( melambaikan tangan kedepan wajah Aditya ) ... Tuan ... Tuan Aditya," ujarnya dengan keras.


Aditya tersadar dari lamunannya. "Ha ..." ujarnya salah tingkah dan gugup.


"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Qesya menatap Aditya.


"Kita?" tanya Aditya yang malah fokus dengan kalimat 'kita' dari ucapan Qesya.


Qesya menjadi canggung, dan segera memperbaiki kalimatnya. "Maksud aku, bisa berangkat sekarang, Tuan?" ujarnya.


Aditya yang melihat hal itu terkekeh. "Hehehe ...."


Qesya berjalan lebih dulu. "Aduh kenapa bisa seperti ini sih?, dan kenapa aku tiba-tiba jadi gugup?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Aditya membuka pintu mobil untuk Qesya, membuat Qesya semakin gugup. Setelah Qesya masuk Aditya kembali menutup pintu mobil dan berlari kecil mengelilingi body depan mobil, masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Mobil mereka melaju meninggalkan pekarangan rumah Qesya menuju lokasi pesta. Di sepanjang jalan Aditya tak henti-hentinya mencuri pandang pada Qesya.


"Dia terlihat sangat cantik," ujar Aditya dalam hati dengan senyum simpul di bibirnya.


"Dia kenapa sih melihat Aku terus?, Apa ada make-up aku yang salah yah?, atau bajuku jelek?, tapi kan ini baju darinya masa iya jelek?" celetuknya dalam hati, dia benar-benar gugup dan canggung dengan kondisi sekarang.


......................


"Hufh ...."


"Ada apa Tuan?, Anda tidak apa-apa?" tanya Bima khawatir, karena mendengar hembusan napas kasar Tuannya.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Kamu fokus saja dengan jalan," ujar Azlan tegas.


"Maaf, Tuan," ujar Bima meminta maaf.


"Oiya, Bim," ujar Azlan memanggil asistennya.


"Iya, Tuan," jawab Bima melihat menatap Tuannya melalui kaca depan.


"Kamu tolong cari tau ada apa dengan Kakakku," ujar Azlan.


"Memangnya Nona Clarisa kenapa, Tuan?" tanya Bima.


"Aku juga tidak tau, tapi sikapnya sangat berbeda dari biasanya. Kamu bisakan mencari tau tentang Kakakku?" tanya Azlan lagi menatap asistennya.


Buka mengangukkan kepalanya. "Bisa Tuan."


"Bagus," ujar Azlan lalu kembali menatap lurus kedepan.


......................


"Kamu diam saja, biar aku yang lakukan," kekeh Arhand menatap tajam istrinya.


Maira tak lagi membantah, dan membiarkan Arhand mengeringkan rambutnya. Maira menatap pantulan Arhand di cermin yang membuatnya tersenyum, dan itu membuatnya selalu terlihat sangat cantik setiap kali tersenyum malu.


"Kamu mengodaku lagi?" tanya Arhand mentap istrinya di cermin dengan satu alis yang terangkat ke atas.


Dengan senyum malu dan kepala tertunduk, Maira mengelengkan kepalanya. "Tidak, Mas."


Arhand kembali di buat tersenyum dengan sikap istrinya yangg sangat pemalu. "Aku sangat suka wangi rambut mu ini," ujarnya lagi menciumi rambut Maira dengan tatapan menggoda.


"Mas ..." rengek manja Maira.


Arhand kembali terkekh. "Hehehe ... kamu tegang banget," ujarnya dengan tangannya menguat garis di pundak Maira.


"Mas ..." rengek Maira kembali karena suaminya yang terus menggodanya.


"Hahaha ... baiklah, baiklah," ujarnya dengan tertawa lepas, dan itu membuat Maira tercengang.


Cup.


Kecupan itu membuat Maira kembali tersadar dari rasa tercengangnya.


POV Author: "Suaminya sangat tampan yah, sampai tercengang seperti itu?"

__ADS_1


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?, Aku tampan yah?" tanya Arhand menatap istrinya yang terus saja memandangnya tanpa berkedip.


"Sangat," sahut Maira dengan senyum manis.


Seketika Arhand di buat malu oleh istrinya, di bibirnya ada senyum yang tertahan. "Apa kamu sedang mengodaku?" tanya Arhand mendekatkan wajahnya.


Maira berdiri dan mengalungkan tangannya ke leher Arhand. "Kenapa?๐Ÿคจ, Tidak bisa kah?๐Ÿ˜‰." ujarnya dengan kedipan mata.


Arhand menarik pinggang ramping istrinra. "Kamu sudah berani ternyata," ujarnya dengan tatapan yang terahlih dari mata cantik Maira.


"Harus donk," ujarnya dengan senyum seksi.


......................


"Selamat, Tuan Winata atas anniversary perusahaannya," ujar Aditya memberikan selamat pada Tuan Winata sebagai tuan dari pesta.


"Terima kasih, Tuan Aditya. Ha iya, Tuan Blanco gak datang?" ujar Tuan Winata menanyakan Arhand.


Aditya tersenyum. "Ha iya, soal itu maaf sekali, tapi CEO kami sedang sangat sibuk sekarang," ujar Aditya.


POV Author: "Maksudnya sibuk bucin dengan istrinya kali, Aditya."


"Ha iya, tidak masalah. Aku bisa memahami hal itu sebagai seorang macan bisnis," ujar Tuan Winata.


Aditya terkekeh ringan menanggapi ucapan Tuan Winata.


"Kalau seperti itu saya menyambut tamu yang lainnya dulu," ujar Tuan Winata pada Ahirnya setelah lama berbincang.


"Ha iya, silahkan Tuan," ujar Aditya deretan sopan.


"Permisi," ujar Tuan Winata lalu pergi meninggalkan Aditya dan Qesya.


"Shh, auuhh," rintih Qesya saat tangannya di tarik paksa oleh Aditya.


......................


"Hahaha .. Mas, hahaha, Mas geli, Mas, hahahahha," tawa Maira saat Arhand mengesek-gesekkan dagunya yang di tumbuh bulu halus di dada Maira.


"Masih mau menggodaku," ujar Arhand masih terus menggelitik menggunakan janggut yang mulai tumbuh.


"Hahaha ... ampun, Mas, hahahaha .... Mas ampus."


...#continue .......


...Enjoy your Read, and see you the next episode....


...Jangan lupa:...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments. ...


...Favorite. ...

__ADS_1


__ADS_2