Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 06 Nyonya Arhand Blanco.


__ADS_3

Nya. Arsy dan Maira terlihat duduk santai dengan segelas teh dan cake coklat. Merka berdua salin ngambil ringan.


"Oiya, Sayang, gimana kalau kamu bawakan bekal buat, Arhand, ke kantornya," ujar Nya. Arsy.


Maira yang menyeruput teh nya, tersedak mendengar usulan Mama mertuanya. "Huk, huk, huk ... be-bekal?" tanya Maira melihat Mama mertuanya.


Nya. Arsy menganguk. "Iya, bekal. Biar kalian itu semakin dekat, begitu loh," ujar Nya. Arsy.


Maira terbengong, mengingat masa di mana ia pernah membawakan bekal ke kantor Arhand namun ia harus mendapat sikap dingin dari sang suami.


"Bagimana, Sayang, kamu mau kan?" tanya Nya. Arsy saat Maira tak kunjung menjawab.


Maira ingin menolak tapi tak enak hati pada mertuanya, dengan tersenyum gugup ia meng-iyakan usulan mertuanya itu. "Baiklah, Ma. Maira akan membawakan bekal makan siang untuk Arhand."


Nya. Arsy tersenyum, dan mengusap lengan menantunya. "Gitu donk. Menantu Mama harus tetap semangat berjuang, ingat Mama akan selalu ada di samping kamu," ujarnya memberikan dukungan pada menantu ke ke sayangannya.


Maira tersenyum manis. "Makasih, Ma."


"Sama-sama, Sayang."


"Kalau gitu, Maira ke dapur dulu menyiapkan bekalnya," ujar Maira pamit ingin ke dapur.


Nya. Arsy mengangukkan kepalanya. "Iya, Sayang."


Maira pergi kedap menyiapkan makanan untuk ia bawa ke kantor suaminya


"Maid," panggil Nya. Arsy pada salah satu Maid yang kebetulan lewat.


"Iya, Nyonya Besar," ujar Maid itu menundukkan padanya sedikit.


"Tolong kamu tanya Pak Tono, katakan siap kan mobil untuk mengantar Nyonya ke kantor Tuan," ujar Nya. Arsy pada Maid itu.


"Baik, Nyonya Besar," ujarnya menundukkan badannya sedikit dan pergi dari sana.


"Bagaimana, Sayang, sudah beres," ujar Nya. Arsy mendekati Maira yang sedang mengemas makanan ke dalam tempat bekal.


"Sudah, Ma, tinggal ini saja," ujar Maira memasukkan makanan penutup.


"Baguslah. Sekarang pergilah, jangan sampai Arhand keluar makan siang," ujar Nya. Arsy.


Maira mengangukkan kepalanya. "Iya, Ma. Kalau begitu Maira pergi dulu," pamitnya pada Mama mertuanya.


Nya. Arsy tersenyum dan mengusap kepala menantunya. "Iya, Sayang, hati-hati."


......................


Maaf, Tuan. Apa kita jadi ke Blanco's Company's?


Iya, tentu saja. Tolong kamu siap kan berkasnya ya.


Baik, Tuan.


Oiya, waktu meeting nya jam berapa?


Sebelum jam makan siang Tuan.


Baiklah kalau gitu kita berangkat 10 menit lagi. Kamu siap kan berkasnya dulu.


Baik, Tuan.


......................

__ADS_1


"Selamat Siang. Ada keperluan apa,?" tanya resepsionis ramah.


:Kami dari Company's Dirga's. Kami mau bertemu dengan, Tuan Arhand. Kami sudah membuat janji dengannya," ujar Sekretaris Azlan.


"Baiklah. Mohon tunggu sebentar," ujar Resepsionis lagi.


"Silahkan, Nona, Tuan Arhand sudah menunggu di ruang meeting. Staff kami akan mengantar," ujar Resepsionisnya lagi setelah mengkonfirmasi kan data mereka.


"Terima kasih," ujar Sekretaris Azlan.


Resepsionis tersenyum ramah. "Sama-sama."


"Mari, Tuan dan Nona," ujar salah satu staff yang akan membawa Azlan dan sekretarisnya ke ruang meeting.


Selang beberapa menit mereka sudah sampai di ruang meeting, staff yang tadi mengetuk pintu ruangan.


"Masuk," ujar Aditya dari dalam.


Staff yang ngantar mereka membukakan pintu untuk Azlan dan Sekretarisnya.


"Tuan, Dirga, selamat datang di perusahaan kami," sambut Aditya mengulurkan tangannya, Azlan menjabat tangan Asisten pribadi Arhand.


"Selamat datang, Nona Alina," ujar Aditya lagi pada sekretaris Azlan.


"Terima kasih, Tuan Aditya," balas sekretaris Azlan.


"Silahkan duduk, Tuan Dirga," ujar Arhand berdiri mempersilahkan Azlan untuk duduk.


"Terima kasih, Tuan Blanco," ujar Azlan.


"Kita langsung saja mulai meetingnya?" tanya Arhand.


......................


"Hufh. Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Pak Tono, karena sedari tadi memperhatikan Nyonya-nya yang terlihat gelisa dan seperti orang takut.


Maira mengangukkan kepalanya tipis. "Iya, aku baik-baik saja."


"Apa Anda takut?" tanya Pak Tono lagi.


Maira tak menjawab pertanyaan Pak Tono, karena itu memang benar adanya ia takut jika suaminya tidak akan menyukai ke hadirannya, di sana.


"Anda tidak perlu takut, karena Tuan Arhand adalah orang yang sangat baik, percayalah, Nya. Anda hanya perlu bersabar dan menyembuhkan luka Tuan Arhand," ujar Pak Tono, menyemangati Nyonya-nya.


Maira tersenyum. "Terima kasih, Pak Tono."


"Iya, Nya, sama-sama."


Setelah menempuh beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di kantor Company Blanco. Maira turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam perusahaan suaminya.


"Selamat siang, Nyonya," sambut resepsionis saat melihat kedatangan istri pemilik perusahaan.


Maira tersenyum dan berjalan ke arah resepsionis. "Siang. Saya ingin bertemu dengan Tuan Arhand, apa dia ada di ruangannya?" tanyanya sopan dan lembut.


"Tuan Arhand sedang ada di ruang meeting. Beliau sedang kedatangan tamu dari Company Dirga," ujar Resepsionis itu memberitahukan ke beradaan Tuan-nya.


"Huem, Baiklah kalau begitu. Apa meetingnya akan lama?" tanya Maira kembali.


"Mungkin sebenar lagi selesai, Nyonya. Anda bisa menunggu di ruangan Tuan Arhand," ujar resepsionis itu lagi.


Maira mengelengkan kepalanya. "Tidak. Biar aku menunggu di sini saja," ujarnya tersenyum.

__ADS_1


Resepsionis itu tersenyum. "Baiklah. Nyonya."


Maira duduk di sofa menunggu sampai suaminya selesai meeting. Di tengah lamunannya menatap ke luar jalan, seseorang mengagetkannya.


"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya seseorang dari belakang.


Maira sontak mendongakkan kepalanya. "Ha."


"Anda ..." ujar Maira berusaha mengingat wajah pria yang ada di depannya ini.


"Iya, aku Azlan, Uncle Rian. Kita ketemu di supermarket kemarin," ujar Azlan yah walau cara bicaranya sedikit kaku dan datar.


Maira memejamkan matanya, dan tersenyum. "Oh, Astaga. Aku lupa. Hai ... aku Khumaira panggil saja Maira," ujar Maira berdiri.


Azlan manatap Maira tanpa berkedip. "Maira. Cantik," ujarnya begitu saja dengan wajah datarnya.


Maira tersenyum malu mendapat pujian. "Terima kasih," ujarnya.


Azlan memejamkan matanya, karena baru saja tersadar dari apa yang ia ucapkan barusan.


"Kerja di sini?" tanya lagi dengan sedikit canggung.


"Oh, tidak."


"Lalu?" tanya Azlan lagi.


Sebelum Maira menjawab deheman keras seseorang dari belakang membuat dua orang itu menatap ke arah sumber suara.


"Huem."


Azlan tersenyum saat melihat Arhand berjalan mendekat. "Oh, Tuan Blanco. Maaf apa ada sesuatu?"


"Tidak ada. Hanya saja saya sedang menjemput istri saya," ujar Arhand menarik pinggang Maira ke arahnya.


Azlan menatap Maira yang sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Istri?" tanya Azlan.


"Iya. Istri saya, Nyonya Arhand Blanco," ujar Arhand menekang kata 'Nyonya Arhand Blanco.'


Azlan tersenyum. "Oh, ternyata wanita cantik ini istri Anda, Tuan Blanco. Sunggu Anda sangat beruntun karena menjadi suaminya. Dia adalah wanita yang baik, penyayang dan sangat cantik," ujar Azlan memuji Maira dengan matanya tak lepas dari wajah cantik Maira yang sedikit memerah mendapat pujian, pasalnya ini kali pertama seorang pria memujinya.


Arhand mengepalkan kedua tangannya, apa lagi melihat respon istrinya semakin membuat dada Arhand naik turun, tapi ia berusaha menahannya. "Terima kasih, Tuan Dirga. Tapi saya harus pergi lebih dulu, karena tidak enak jika makanan yang di bawah istriku jadi dingin," ujar Arhand dan sekali lagi menekang kata 'istriku.'


Azlan kembali tersenyum dengan ekspresi datarnya. "Iya. Silahkan Tuan Blanco."


Arhand membawa Maira pergi dari sana dengan merangkul pinggang istrinya. Dan pada saat akan masuk kedalam lif, Azlan menghentikan langkah keduanya.


"Maira, tunggu," teriaknya.


Maira berbalik, dan menatap Azlan yang berjalan mendekatinya. "Rian menitip salam buat Aunty Cantiknya. Dia tadi datang ke supermarket tapi kamu tidak datang, jadi dia menitipkan salamnya pada saya kalau bertemu dengan Aunty Cantiknya sampai kan salamnya padanya, dia juga mengatakan kalau di merindukan Aunty Cahtiknya," ujar Azlan menyampaikan pesan keponakannya.


Maira tersenyum manis. "Terima kasih. Dan tolong sampaikan juga salam dari ku. Katakan pada aku juga merindukannya," ujar Maira dan kembali tersenyum manis membuat Rara Arhand semakin mendidih.


"Permisi," ujar Arhand dingin menarik Maira masuk ke dalam lif.


...#continue .......


...Apa yang akan du lakukan oleh Arhand pada Khumaira?...


...Menurut Readers, gimana?...


...jawab di kolom komentar....

__ADS_1


__ADS_2