
Plak.
Suara tamparan menggema di pagi hari, membuat pria tampan yang tidur nyenyak terbangun seketika saat mendapat tamparan berturut itu.
"Auh ..." rintihnya memeganggi tangan munggil putranya.
Ketiga putranya malah cengengesan menatap wajah ayahnya yang terlihat kesal tapi juga tak bisa marah. "Hehehe ..." kesenangan, Arhand hanya bisa menghela nafas lalu mengusap pipi gembul anak-anaknya yang terlihat menggemaskan.
Maira terbangun karena suara tawa anaknya, namun ponselnya berdering dan segera ia mengangkat ponsel setelah melihat pemanggilannya.
"Aku segera kesana, tolong jaga dia baik-baik," ujar Maira panik, setelah itu dengan cepat masuk kedalam kamar mandi mencuci muka, menganti pakaiannya.
setelah mengganti pakaian Maira mendekati putra-putranya. "Ada apa?" tanya Arhand karena dari tadi dia perhatikan istrinya terlihat begitu panik dan khawatir.
"Aku harus pergi, bisakah Mas Arhand menjaga tripel?" tanya Maira.
"Bisa ... tapi ada apa?, kenapa wajahmu panik seperti itu?" tanya Arhand.
Maira mencium ketiga putranya. "Sayang, Mama pergi dulu. Jadi anak yang baik ya, jangan nakal," pesan Maira yang di balas cengesan dari ketiga anaknya, setelah itu Maira dengan cepat berlari keluar kamar.
"Maira ..." panggil Arhand, namun Maira sudah menghilang di balik pintu.
"Ada apa?, kenapa dia terlihat terburu-buru banget, mukanya juga sangat panik, apa terjadi sesuatu bahaya?, atau apa?" tanya Ahad pada dirinya sendiri, penasaran, cemas, dengan istrinya.
"Pa, Papa ..." panggil Arsyad, membuat Arhand tersadar dari lamunannya.
Pandangannya kembali teralih ke putra pertamanya. "Iya, boy. Ada apa, hem?" tanyanya lembut.
"Pis, pis, pis ..." ujar Arsyad memegangi celananya.
Tak mengerti bahasa bayi, Arhand mengaruk kepalanya. "Ha?, pis?, Pis apa, boy?" tanya Arhand kebingungan.
Seakan mengerti raut wajah Papanya, Arsyad mengeluarkan miliknya yang sangat munggil, membuat Arhard tersenyum, mengerti. "Oh ... pipis?" tanyanya yaang di jawab anggukan oleh putra sulungnya.
"Kemarilah biar Papa bawah anak pintar Papa ini kamar mandi buat pipis," ujar Arhand memopong anaknya masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Anak-anak Miara semuanya sangatlah pintar karena sering kali di biasakan oleh Qesya dulu, mengajarinya jika mau buang Pup, atau pipis, harus ke toilet dan meminta seseorang mengantarnya.
Arsyad terus tertawa, karena keusilan Papanya, yang terus mengeleitik leher putranya dengan janggut tipisnya. "Hehehe ... eli, eli, Pa ..."
......................
Qesya dibuat lemas saat mendengar jika Maira sedang ke rumah sakit. "Apa yang kamu lakukan?, kenapa kamu menelpon Mamud itu, dia pasti akan ngomel," ujar Qesya, setelah baru i saja sadar.
Belum Dokter Maya mengatakan sesuatu, pintu kamar rawat Qesya terbuka dengan kasar. "Ah, jadi kamu tidak mau memberitahuku, iya?" ujar Maira masuk kedalam kamar rawat Qesya.
Melihat wajah kesal Maira, dengan segera Qesya berdalih. "Eh, Mamud. Tidak ( mengeleng kepala, dengan tersenyum aneh ). Aku malah yang meminta dia ( nunjuk dokter Maya ), buat memberitahumu. Iyakan Dok?" bohongnya, tapi langsung mendapat tatapan tajam, dengan cepat Qesya memutus kontak mata, menatap arah lain.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Maira, lembut, khawatir.
"Aku tidak apa-apa?" jawab Qesya, tersenyum. Tapi itu membuat Maira menjadi kesal, karena Qesya selalu saja menyembunyikan rasa sakitnya, walau dia tau kalau Qesya melakukan semua itu karena tak ingin membuatnya khawatir berlebihan, yang nantinya berpengaruh pada tripel.
"Tidak apa bagaimana?, diperban bagini ( menekan luka tusuk di lengan Qesya ), bilang tidak apa-apa," gerutu Maira.
"Auh ..." rintih Qesya, ngilu karena tekanan dari Maira tadi.
"Makanya, kira-kira donk. Sakit ini?" gerutu Qesya, pura-pura kesal, agar kecemasan di wajah sahabatnya menghilang.
"Iya, maaf. Siapa suruh sok bilang baik-baik saja. Aku gak apa-apa kok ( menirukan gaya bicara Qesya )," gerutu Maira.
"Iya, tapi tidak di tekan juga," cemberut Qesya.
"Iya, maaf," ujar Maira, merasa bersalah.
Melihat sikap Sahabatnya, Qesya dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. "Lupakan itu. Apa kau membawah makan untukku?" tanyanya, karena dia sangat lapar sekarang.
Maira mengelengkan kepalanya. "Tidak."
"Sesuatu yang lainnya?, Buah misal, atau bunga?" tanya Qesya.
Maira kembali mengelengkan kepalanya. "Tidak."
__ADS_1
"Dasar pelit," sarkas Qesya lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Maira.
Tak terima dengan ucapan Qesya yang mengatakan jika dirinya pelit, emosinya kembali memuncak. "Hei!!, aku gak pelit. Aku datang kesini terburu-buru setelah melihat fotomu yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, dan kau fikir aku bisa memikirkan hal lain?, di fikiranku hanya ada kau saat itu, dan kau-," ngomel Maira, namun mulutnya segera dipotong oleh Qesya.
"Sttt ... Mamud, dari pada ngomel, mending belikan aku sarapan. Aku sangat lapar ( memelas )," ujar Qesya.
Maira membuang napas kasar. "Hufh ... baiklah, tunggu sebentar," ujar Maira.
"Terima kasih," balas Qesya.
"Hm. Istirahatlah, aku akan segera kembali," ujar Qesya lembut, Qesya tersenyum manis.
"Oiya, Dokter Maya mau pesan apa?, biar sekalian aku belikan," ujar Maira pada Dokter Maya, yang sudah menjaga Qesya semalaman, pasti dia juga kelaparan.
"Apa saja. Samakan saja milik Qesya," ujar Dokter Maya tak request apapun.
"Baiklah. Kalian tunggu sebentar, aku segera kembali," ujar Maira.
"Terima kasih," balas Dokter Maya, setelah itu Maira keluar dari kamar Qesya, untuk mencarikan sarapan buat mereka berdua.
Dokter Maya mengintip di pintu, melihat apa Maira sudah menjauh, setelah memastikan Dokter Maya menutup pintu, menguncinya. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi?, aku melihat malam itu suamimu keluar dari kamarmu, apa benar dia yang melakukan semua ini?" tanya dokter Maya yang dianguki oleh Qesya.
"Tapi bagaimana bisa?" ujar Dokter Maya lagi masih tak percaya, tapi dia sendiri melihat malam itu hanya Azlan yang keluar dari kamar hotel Qesya.
"Iya bisa, karena dialah orang yang selama ini kita cari," ujar Qesya, masih terbayang bagaimana Azlan dengan santai melakukan kekerasan itu pada Qesya.
"Maksudmu, dia adalah psikopat yang selama ini kita cari?" tanya Dokter Maya terkejut.
Qesya menganggukan kepalanya, membuat Dokter Maya terdiam, sebelum mengatakan sesuatu lagi. "Berarti kau dalam bahaya," ujar Dokter Maya menatap wajah Qesya, yang di balas anggukan dan senyum.
...#continue .......
...Hai, Readers selamat menikmati episode hari ini....
...Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya....
__ADS_1
...See you the next episode....