
📱📲. "Bagaiamana, Warston, apa kau bisa melacak keberadaan menantuku?" tanya Tuan Blanco pada sahabatnya.
"Aku minta maaf, Blan, tapi aku belum menemukannya," ujar Warston dengan nada tak enak.
"Ha, tidak masalah. Tapi terima kasih sebelumnya Warston, sudah membantuku dan kami bisa mengetahui kabar kehamilan menantu kami," ujar Tuan Blanco, walau agak kecewa.
"Iya, sama-sama. Tapi kamu tenang saja aku akan terus membantumu, jika aku menemukan jejak menantumu, segera aku beri kabar padamu," ujar Tuan Warston lagi, mencoba menghibur sahabatnya.
"Terima kasih, Wars," balas Tuan Blanco.
"Sama-sama. Aku tutup dulu telpon, soalnya ada meeting setelah ini," ujar Tuan Warston.
"Iya, iya. Sekali lagi terima kasih," ujar Tuan Blanco, lalu mengakhiri sambungan telponnya.
Tuan Blanco menyandarkan punggungnya kebelakang. "Hufh ...." membuang napas kasar.
"Kenapa Pa?, Apa kata Tuan Warston?" tanya Ny. Arsy, masuk kedalam membawah cangkir kopi untuk suaminya.
"Dia juga belum bisa melacak keberadaan Maira, Ma," ujar Tuan Blanco menyeruput kopinya.
"Ya Allah, kenapa bisa begini ( lirihnya ). Bahkan Tuan Warston saja, ahli IT tidak bisa menemukan jejak menantu kita. Pa, apa kita tidak akan menemukan mereka lagi, melihat cucu kita? ..."
"... tidak Pa, Mama mau ketemu dengan menantu dan cucu kita, pokonya Papa harus terus mencari menantu dan cucu kita," lanjut Ny. Arsy, pada suaminya untuk tidak berhenti mencari keberadaan menantu dan calon cucu mereka.
__ADS_1
"Tenang, Ma. Kita pasti bisa menemukan menantu kita. Papa janji akan terus mencari mereka, membawah mereka kembali lagi dengan kita," ujar Tuan Blanco menenangkan istrinya.
......................
"Kemana, perginya dokter itu. Tadi ku liat dia berdiri di sini kenapa sekarang malah tidak ada," ujar Arhand clingak-clinguk melihat sekitar, namun tak melihat keberadaan dokter Maya.
Sedangkan Dokter Maya yang sudah berhasil masuk kedalam pintu di balik semak bernapas lega. "Hampir saja ... untung ponselnya berbunyi, kalau tidak, aku tidak tau lagi deh bagaiamana aku bisa lolos dari pantauannya," celetuk Dokter Maya, mengatur napas lebih dulu sebelum mulai menyusuri lorong rahasia yang sangat panjang.
Mata Dokter Maya memutar melihat setiap sudut lorong yang begitu indah, megah, terang, dan di lengkapi berbagai macam jenis pajangan mahal, mulai dari lukisan hingga guci kuno. "Seseorang tidak akan pernah menyangka jika di bawah jalan raya ada lorong sebagus ini. Dasar Nama gila," ujar Dokter Maya, juga mengumpat nama seseorang.
"Jangan mengumpatku terus, May," sarkas seseorang, namun tak ada wujud.
Dokter Maya yang kaget, menatap sekitar mencari sumber suara itu. "Ha. Nam, kau kah itu?" tanya hati-hati dengan raut wajah takut.
"Tak perlu menujukkan ekspresi wajah palsu mu itu padaku," kesal Orang itu lagi.
"Dimana pun yang ku mau. Sudah cepatan jalan, gak perlu berdrama. Dasar penipu.
"Ya aku penipu, dan kau lah yang mengajariku. Dasar gila," ujar Dokter Maya tak mau kalah, dengan kembali mengumpat orang itu di akhir kalimatnya.
......................
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
"Qes ... Qesya, ponselmu bunyi ini. Bayi Besar yang menelpon," ujar Maira membaca tag nama penelpon.
"Astaga Qes ... Kau mengagetkanku!" kesal Maira, karena Qesya langsung merebut ponselnya di tangganya tanpa permisi dan tiba-tiba.
Pelakunya malah cengar-cengir. "Hehehehe ..." Maira yang jengah memilih pergi meninggalkan Qesya yang menelpon kembali orang yang ia beri nama Bayi Besar.
Pada saat akan beranjak, Qesya kembali memanggil Maira. "Oiya, Calmud, tunggu sebentar," panggilnya tetapi Maira terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
Qesya te ru s memanggil tapi tak diubrisnya, sampai Qesya harus berlari mengejarnya. "Hei ... Khumaira, aku memanggilmu sedari tadi tau, kenapa kau tak berhenti?" gerutu Qesya, pada Maira yang mengabaikan panggilannya.
Dengan wajah polosnya, Maira menunjuk dirinya. "Kau memanggilku?" tanyanya, dan Qesya langsung menganggukan kepalanya.
"Oh, maaf. Soalnya namaku adalah Khumaira bukan Calmud. Dan Calmud itu apa lagi?" ujar Maira kesal, tak suka namanya di ganti- ganti.
Dan dengan santainya bahkan tanpa rasa bersalah Qesya menjawab pertanyaan Maira. "Calmud itu Calon Mama Muda ...."
Mengetahui itu wajah Maira terlihat kesal, namun pada saat ingin marah sang pelaku sudah lebih dulu meleset naik kedalam kamarnya. "Awas aja kau, wanita gila. Aku akan menghabisimu jika kita bertemu," umpat Maira, sangat kesal pada Qesya.
...#continue .......
__ADS_1
...Hai Readers selamat menikmati, dan jika suka seperti biasa Author mau ingingatin jangan lupa tinggalkan jejeknya....
...See you the next episode....