Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 19 Satu Restoran.


__ADS_3

"Ayang ganteng," girang Qesya tanpa sadar menyapa Azlan.


Azlan mengerutkan keningnya. "Hu?"


Qesya tersadar dan menutup matanya mala. "Ah, maaf. Maksud aku, Om Azlan. Hai ..." ujarnya melarat ucapanya.


Asisten Bima menahan tawa di belakang. "Puuth ...."


"Bim ..." ujar Arhand datar melirik tajam asistennya.


"Iya, Tuan," sahut Bima masih menahan tawanya.


"20%," ujar Azlan datar menatap tajam asistennya.


Bima terkejut mendengar ucapan Tuan. Dia tau banget maksud Tuannya itu, memotong gajinya. "Tapi-" ujarnya ingin protes tapi tak jadi saat mendengar kalimat Azlan selanjutnya.


"25%," ujar Azla datar. Bima mengatupkan mulutnya tak lagi ptotes daei pada gajinya terus di potong.


"Namaku Azlan, dan aku bukan Om kamu, ok. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan Om," ujar Azlan menatap datar Qesya.


"Tapi umur Om Azlan kan jauh di atas umurku," ujar Qesya dengan polos.


"Lalu?" tanya Azlan datar.


"Lalu apa Om?" tanya Qesya balik.


Mendegar pertanyaan gadis remaja di depannya, membuat Azlan kesal. "Berhenti memanggilku seperti itu, karena aku bukan Om mu," ujar Azlan menahan kekesalnya.


"Tapi- " ujar Qesya ingin protes tapi terhenti saat seseorang memanggil namanya dari belakang.


"Qesya ..." teriak Khumaira yang baru masuk ke dalam restoran.


"Khumaira ... hai, sini-sini," ujar Qesya melambaikan tangannya.


Maira ingin berlari ke sana, namun tangannya langsung di tahan oleh Arhand, Maira berjalan bersama Arhand masuk kedalam menghampiri mereka semua.


"Hai ..." sapa Khumaira.


"Hai ..." sapa balik Qesya.


"Ternyata kamu juga di sini rupanya. Mau makan juga" tanya Khumaira.


"Mau mandi," ujar Qesya.


"Oh ..." jawab Miara ber-Oh'ria saja.


"Ya mau makan donk, Khumaira, ya kali ke sini mau mandi inikan restoran."


"Siapa tau. Di belakang kan ada kolam renangnya," ujar Maira santai, yang mana membuat Qesya kesal dengan tanggapan sahabatnya itu.


"Sepertinya aku salah jawab deh. Terserah kamu sajalah," ujar Qesya kesal.


Maira terkekeh melihat wajah kesal teman barunya. "Hehehe ... Jangan kesal nanti cepat tua," ujar Maira menggoda Qesya.


"Hallo, Tuan Blanco," sapa Azlan pada Arhand, namun Arhand tak menjawab dan menampilkan wajah datarnya, dari wajahnya terlihat ke tidak sukaannya pada Azlan. Namun Azlan yang melihat itu semua tak ambil pusing dan mengedikkan kedua bahunya cuek.


"Hai Maira ..." sapa berganti pada Maira.


Maira mendongakkan kepalanya melihat Azlan. "Hai, Tua-" sapanya namun langsung di potong oleh Azlan.


"Azlan. Tolong kamu panggil aku Azlan saja," ujar Azlan tersenyum.

__ADS_1


Maira tersenyum dan ingin menjabat tangan Azlan, namun tangannya lebih dulu di tarik pergi oleh Arhand. "Ayo."


"Auh, Mas," ujar Maira saat ia hampir tersandung dengan kakinya sendiri.


Qesya menatap dan salah tingkah melihat sang pujaan hati berdiri di depannya. "Ayang Ganteng, ha maksudnya Om Ganteng. Aduh bukan maksudnya-" ujarnya grogi ingin mengajak Azlan bergabung bersama mereka, namun ucapannya harus melayaan saat Azlan tanpa mengatakan apapun berlalu dari sana.


"Ayang Ganteng mau kemana?" teriak Qesya namun Azlan tak menghiraukannya dan tetap berjalan.


"Qesya kamu mau kemana?, ayo duduk," ujar Anis menahan tangan sahabatnya saat akan mengejar Azlan.


Qesya menghembuskan napas kasar. "Iya, baiklah," ujarnya tidak semangat.


Mereka makan, menikmati makanan pesanan mereka.


"Qes ..." panggil Anis tiba-tiba.


"Huem," sahut Qesya tetap melahap makanannya.


"Tadi siapa?" tanya Anis.


"Yang mana?" tanya Qesya tak tau siapa yang di maksud oleh Anis.


"Itu, yang kamu panggil Om Ganteng," ujar Anis.


Qeysa mengangukkan kepalanya. "Oh, dia. Dia adalah Om Azlan," ujar Qesya dengan bahagia saat menyebut nama Azlan.


"Azlan?"


"Iya. Ganteng kan," ujar Qesya lagi.


Anis mengangukkan kelapanya. "Huem."


Anis tersenyum. "Yah'elah kamu gak usah khawatir begitu kali, Qes, aku ini sahabat kamu jadi tidak mungkin aku menghianati kamu," ujar Anis serius.


"Aku percaya kok. Ayo kita makan," balas Qesya tersenyum.


Anis mengangukan kepalanya. "Huem," ujarnya melanjutkan makannya.


......................


"Aditya," panggil Tuan Blanco.


"Iya, Tuan Besar," jawab Aditya menghentikan sarapannya.


"Apa hari ini ada meeting penting?" tanya Tuan Blanco.


"Tidak ada, Tuan," jawab Aditya jujur, karena dia tau meeting penting apa yang di maksud oleh Tuan Besarnya itu.


"Kalau gitu kamu handle perusahaan dulu hari ini, karena saya tidak bisa ke kantor," ujar Tuan Blanco tak ingin ke kantor karena harus mengantar istrinya ke tukan urut karena encok.


"Baiklah, Tuan Besar. Kalau gitu saya permisi lebih dulu," ujar Aditya pamit pergi


"Huem. Pergilah."


Aditya pergi dari sana, berangkat ke kantor, namun di tengah jalan tak sengaja ia melihat seorang wanita sedang memeriksa mesin mobilnya.


"Permisi, Nona," ujar Aditya membuat wanita yang membelakanginya terkejut, dan hambir ke hilangan ke seimbangannya.


"Mobilnya kenapa?" tanya datar Aditya khas sikapnya.


Bukannya menjawab Clarisa malah menatap Aditya tanpa berkedip, dan tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Nona, Nona ( melambaikan tangannya ). Nona," ujar Azlan menepuk pelang lengan Clarisa.


Clarisa tersadar dari lamunannya, membuatnya salah tingkah. "Hu?. Oh, maaf. Kenapa tadi?"


"Saya tadi bertanya mobil Nona kenapa?, apa mogok?" tanya Aditya dengan ekspresi wajah datar sebelas dua belas Bosnya yang selalu bersikap datar dan dingin.


"Iya, mobil saya mogok, dan saya sedang terburu buru," ujar Clarisa sembari terus menetralkan detak jantungnya.


"Boleh saya, liat?" tawar Aditya.


"Ah, silahkan."


Aditya memeriksa mesin mobilnya, sedangkan Clarisa berdiri di sampin menatap Aditay tanpa berkedip dan terus saja tersenyum.


"Coba, Anda nyalakan mobilnya," ujar Aditya setelah selesai mengecek mesin mobilnya.


Clarisa tersadar dari lamunannya dan segera masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mobilnya. "Ah, akhirnya nyala juga," lega Clarisa karena mobilnya sudah menyala kembali.


Clarisa keluar lagi dari dalam mobil. "Terima kasih, Tuan," ujar Clarisa sedikit mengangukan kepalanya sebagai rasa terima kasihnya atas bantuan Aditya.


Aditya mengangukkan kepalanya sedikit. "Sama-sama," ujarnya datar.


"Oiya, kenalkan Clarisa," ujar Clarisa mengulurkan tangannya.


Aditya membalas uluran tangan Clarisa. "Aditya," ujarnya datar.


"Aditya," gumamnya tersenyum.


Clarisa kembali menatap Aditya yang memakai kembali jasnya. "Kenapa sikapnya sangat mirip Azlan datar, dan sangat dingin. Hufh ... Tapi setidaknya dia lebih baik dari Azlan yang menyebalkan," ujar batin Clarisa mengumpat adiknya sendiri.


"Nona, Nona," panggil Aditya dengan kembali menepuk pelang lengan Clarisa.


"Hu?, Maaf," ujar Clarisa kembali di buat salah tingkah.


"Anda tidak apa?" tanya Aditya datar.


Clarisa mengelengkan kepalanya. "Iya, aku tidak apa-apa," ujarnya.


"Tapi hatiku ku rasa tidak baik-baik saja," ujar Clarisa lirih namun Aditya masih bisa mendengar.


"Maksudnya?" tanya Aditya bingun.


"Tidak ada," ujar Clarisa memukul kepalanya sendiri, ia sangat malu dengan sikapnya ini.


"Baiklah kalau begitu saya peemisi," pamit Aditya.


Clarisa tersenyum. "Iya. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama."


...#continue ......


...Readers jangan lupa :...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments. ...


...Favorite. ...

__ADS_1


__ADS_2