
"Sepertinya kami terlalu lama di kamar, maaf semuanya." Azlan berjalan mendekati semua orang dengan menggendong Qesya di tangannya.
Melihat menantunya yang berada di gendongan suaminya, Ny. Nadia berdiri. "Az, istrimu kenapa?, Kok di gendong?, Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Ny. Nadia cemas.
"Isst ...." Qesya merintih kesakitan saat tangan Azlan menekan lipatan lututnya ( belakang lutut ).
Melihat wajah menantunya yang terlihat seperti menahan sakit rasa sakit membuat Ny. Nadia semakin cemas. "Sayang kenapa?" tanyanya penuh khawatir.
Dengan memejamkan matanya, Qesya mengatur napas kemudian tersenyum pada Ibu Mertuanya. "Tidak kok Ma, aku baik-baik saja." ujarnya, sembari berusaha melepas tangan Azlan yang menekan belakang lututnya, agar melepaskannya.
Melihat sang Mama tak begitu percaya dan masih saja cemas dengan keadaan Qesya, Azlan kembali menimpali. "Mama seperti tidak tau saja, Mama juga bukannya sering seperti ini karena Papa, semua pasangan yang sudah menikah pasti mengerti." Perkataan Azlan membuat Sang Mama malu, karena sudah mengerti dan paham Ny. Nadia kembali merasa lega.
"Oh, dasar anak nakal," ujar Ny. Nadia memukul lengan putranya.
Tak percaya dengan ucapan Azlan, Maira menatap wajah Qesya mencoba menyelisik apa yang sebenarnya terjadi, dan benar saja wajah Qesya terlihat menahan sakit, dan terlihat berusaha melepas tangan Azlan dari area lututnya.
Hanya senyum simpul yang Azlan tunjukkan. "Apa tanggal pernikahannya sudah di tentukan?" mengalihkan pembicaraan, sedangkan Qesya terlihat sangat marah ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya tapi dia tak bisa melalukan hal itu.
Qesya masih terus berusaha mencari cara agar Azlan tidak menekan lututnya, namun bukannya melepaskan Azlan semakin menekan lututnya.
Senyum penuh kesombongan Ny. Arsy menjawab pertanya Azlan. "Iya, satu bulan lagi pernikahan akan di lakukan," ucapnya dengan raut wajah bahagia, akan tetapi tatapannya tertuju pada Qesya.
Tanpa sengaja Qesya melihat senyum dan tatapan Ny. Arsy yang penuh kebencian dan amarah padanya, membuatnya hati Qesya begitu sakit, bahkan rasa sakit yang sering kali di berikan oleh Azlan tak sebanding. Dimana senyum yang sering kali mampu menenangkan fikiran dan hatinya dulu.
"Baguslah," ujarnya tersenyum bahagia dengan kabar itu, entah itu nyata atau hanya sebuah kepalsuan.
Melihat sikap Azlan, Qesya menatap tak percaya apa yang baru saja ia lihat. Harus Qesya akui keahlian Azlan dalam beraktin sangatlah luar biasa. "Aku sering kali melihat orang yang berakting, tapi akting iblis ini sangat luar biasa. Bahkan sifat iblisnya selama ini berhasil ia sembunyikan pada semua orang, dengan tampan wajah dingin dengan wajah lembut pada keluarga. ciih, dasar iblis...."
Dengan ekor matanya yang tajam Azlan menatap menyalang Qesya, dengan bibir tersenyum devil, tapi semua itu tak di sadari semua orang, hanya Qesya yang menyadari semua itu.
Saat keluarga Blanco akan pamit pulang karena tujuan mereka sudah mendapatkan muara, Azlan dengan segala kesopananya kembali mengatakan sesuatu. "Semuanya gak usah pulang dulu, bagaimana kalau kita makan siang bersama, mungkin sebagai tanda mulainya hubungan antar dua keluarga, bagaimana?" ujarnya yang membuat Qesya benar-benar muak mendengar semua omong kosong yang keluar dari mulut Azlab.
Telinga dan fikiran Qesya benar-benar tak mampu lagi menahan sikap menjijikan Azlan dengan paksa Qesya memberontak turun dari dalam gendongan suaminya. "Turunkan aku."
Azlan menatap menyalang Qesya, yakin Qesya tak lagi menghiraukannya, dia terus memberontak minta di turunkan, membuat semua orang menatap mereka. "Apa kamu serius, Beby?" tanya Azlan semakin mencengkeram belakang lutut sang istri, Qesya hanya bisa mengeram sakit, sakin sakitnya Qesya sampai mengatupkan kedua giginya.
"Huem?" angguk yakin Qesya, dia benar- benar muak di dekat Azlan.
Tak ingin membuat semua orang curiga, terutama orang tuanya, Azlan dengan hati-hati menurunkan Qesya, namun baru saja Qesya menginjakkan kaki di lantai dengan kejam dan sengaja Azlan membuat Qesya melengkungkan lututnya. "Auuh ..." rintih Qesya sedikit keras mengundang semua mata kembali memandangi kearah mereka.
Dengan wajah tanpa dosa Azlan kembali menunjukkan sikap yang peduli akan istrinya. "Sudah ku katakan Baby biar aku yang menjadi kaki mu hari ini. Lagi pula semua ini juga karena diriku bukan?" ujarnya lembut yang membuat darah Qesya mendidih.
"Memang karena dirimu," ujar Qesya penuh emosi, namun suara yang sangat lirih. Dengan cepat Qesya melepas tangan Azlan dari tubuhnya, memaksakan tersenyum. "Tidak usah!, Aku bisa," ujarnya.
"Ok," ujar Azlan mengalah, tapi wajahnya terlihat mengeram kesal.
__ADS_1
"Kalau gitu mari, silahkan kita ke meja makan," ujar Tuan Dirga pada Tuan Blanco dan keluarganya.
"Baiklah," balas Taun Blanco berjalan bersama Tuan Dirga.
Semua orang berjalan ke arah meja makan, namun Maira menahan tangan Qesya yang hendak berjalan kearah meja makan. "Qes, kau tidak apa-apa? ( khawatir ), ( Qesya ingin berbohong tapi langsung di dahulu oleh Maira ) kau jangan berbohong karena aku tau apa yang di katakan oleh iblis itu tidak benar. Karena kau tidak akan membiarkan iblis itu menyentuh dirimu, aku tau itu ...."
Dengan kepala tertunduk dan air mata yang menetes Qesya menganggukkan kepalanya pelan. "Heum ... Dia meny*yat kedua area belakang lututku, aku benar-benar tidak bisa berjalan," ujarnya jujur.
"APA!!" teriak Maira, namun Qesya segera menghentikannya. Takut semua orang mendengar dan datang kemari, yang membuat Azlan mengamuk lagi padanya.
Maira mengeram marah, dadanya naik turun saat melihat luka sayat*n di balik gaun yang dikenakan oleh Qesya. Bagaimana tidak lukanya sangatlah dalam dan parah, bahkan darahnya terus bercucuran namun itu tak membuatnya menetes ke lantai karena alat yang di pasang oleh Azlan. "Dia benar-benar seorang iblis, bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji seperti ini pada orang," ujar Maira tak habis fikir.
Mata Maira beralih menatap senduh sahabatnya, air matanya menetes. "... Qes, tolong maafkan aku, karenaku kau harus-" Qesya yang mendengar Maira masih menyalakan dirinya dengan segera memotong ucapannya.
"Sttt, aku tidak apa-apa. Kau berhenti menyalahkan dirimu, hum?" ujarnya tersenyum, menyeka air mata sahabatnya.
"Terima kasih," ujar Maira dengan sangat tulus, memeluk erat sahabtanya.
"Iya, iya, kau ingin terus berterima kasih atau kita ke meja makan?" ujar Qesya melepas pelukan Maira, dan berusaha mengalihkan pembicaraan, dengan berbicara sedikit bercanda.
"Aku akan terus berterima kasih. Anak-anakku hari ini masih ada di sisiku itu hanya kerena pengorbananmu saja. Dan untuk itu aku akan terus berterima kasih padamu," ujar Maira dengan sangat tulus, dan berterimakasih pada Qesya.
Tanpa ada rasa penyesalan Qesya menangkup wajah Maira. "Mereka juga adalah keponakan kesayanganku, dan aku tidak akan membiarkan apapun dan siapapun menyakiti mereka." Qesya mengatakan hal itu seakan dia sedang mengucapkan sebuah janji pada Maira.
Setelah mengatakan hal itu Qesya bersikap seolah tidak ada apa-apa. "Sudah ah, ayo kita ke sana sebelum iblis itu membunuhku, kau tidak mau itu kan." Niat hanya ingin bercanda mala membuat Maira kaget.
"Sini aku bantu." Maira membantu memapah Qesya berjalan ke arah meja makan, walau dia sendiri sedikit sempoyong karena berat badan Qesya, biar kata Qesya termasuk langsing tapi berat badannya jauh lebih berat di banding Maira.
"Tumben baik, biasanya ngomel saja ..." celetuk Qesya mengisi di antara mereka.
Plak.
Satu pukulan kecil di lengannya ia dapatkan dari Maira. "Auh, sakit Mamud," protes Qesya.
"Itu akibatnya," kesal Maira.
......................
Saat hampir sampai di meja makan Qesya meminta di lepaskan, tak ingin membuat semua orang curiga dengan keadaannya, yang akan membuat dia di hukum lagi oleh Azlan.
"Aunty, enap?" tanya Arkhui, melihat Qesya berjalan tertatih dan menahan sakit.
"Kenapa ..." balas Qesya memperbaiki ucapan keponakannya.
"Ama ja!!" kesal Arkhui.
__ADS_1
"Sama saja ..." ujar Qesya dengan senyum jail, ia tau kalau keponakannya yang satu itu akan sangat marah jika ada orang yang memperbaiki ucapan kalimatnya, seakan merasa terhina.
"Aaahhh ..." Arkhui merengek pada Papanya.
"Jadi anak laki-laki kok cengen banget."
"I don't care," sarkas Arkhui.
"Idih ... giliran pakek bahasa bule lancar, pakek bahasa sendiri gak lancar. Keluar kau dari indonesia," balas Qesya, yang membuat Arkhui merengek kembali pada Mamanya.
"Maaa ... Aunty ..." tunjuknya .
Maira memukul ringan lengan Qesya, Arkhui yang melihat itu tersenyum puas.
"Auh, kenapa kau memukulku?" protes Qesya.
"Karena kau sudah besar tapi tidak malu terus bertengkar sama anak kecil." Arkhui kesenangan mendengar Mamanya mengomel pada Aunty nya.
Azlan yang memperhatikan hal itu langsung berdiri membantu Qesya berjalan ke kursi di dekatnya. "Terima kasih Ny. Blanco, sudah membantu istriku, yang sangat keras kepala ini," ujarnya dengan menekan pundak Qesya duduk ke kursi.
"Sama-sama," balas Maira dingin.
"Baby, Kau mau makan apa?, biar ku ambilkan," ujarnya penuh kelembutan.
Sikap Azlan yang seperti ini sudah jelas mendapat penolakan dari Qesya. "Tidak perlu, kau duduk makan saja, aku akan ke belakang dulu," ujarnya lalu berdiri dengan susah payah.
"Biar ku bantu," ujar Azlan ikut berdiri.
Qesya mengankat tangannya, mengisyaratkan dia tidak butuh bantuan. "Tidak per-" sebelum selesai mengatakan penolakannya Azlan sudah mengangkat tubuhnya.
"Aaah ..." teriak Qesya karena kaget sekaligus kesakitan luka say*tanya di belakang lututnya kembali di tekan keras oleh Azlan.
"Itu akibatnya jika kau terus menolak dan bersikap acu di depan Mama dan Papa. Aku sudah bilang bukan jaga sikap di depan mereka jika tidak, akan ku buat kau tidak bisa berjalan selamanya. Atau kau memang ingin memancing kesabaranku, HA?" sentaknya dengan lirih tapi sangat menyeramkan di telinga Qesya.
Karena hanya berdiri di dekat kursi Ny. Nadia berucap. "Az ..."
Azlan menoleh kearah Mamanya. "Iya, Ma ...."
"Kok berdiri saja, mau makan atau membantu istrimu?" tanya Ny. Nadia.
"Ah, maaf Ma Azlan lupa. Ya bagaimana lagi di gendonganku ini ada seorang wanita cantik, yang selalu membuatku terpesona dan melupakan hal lainnya. Dan untuk itu aku sangat beruntung memiliki istri yang sangat cantik seperti ini," ujar Azlan sangat manis, setelah itu Azlan membawah Qesya ke salah satu toilet di kamar tamu, terlihat jelas rasa takut dan gelisa di wajah Qesya.
...#continue ........
...Update lagi, semoga suka dan terhibur ya. See you the next episode....
__ADS_1
...Oiya Author mau nayak donk, ada gak sih di sini yang nonton konsernya AgutsD in Jakarta, kalau ada selamat kamu salah satu yang membuatku mengiri sangat😥😥....