Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 70.


__ADS_3

Baru saja Ny. Nadia berdiri Azlan dan Qesya telah kembali lagi. "Eh, kalian ternyata sudah datang, baru saja Nama ingin pergi memanggil kalian," ujarnya tersenyum, namun tiba-tiba wajahnya berubah saat melihat wajah Qesya. "Kau terlihat pucat sayang, apa semua baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Qesya yang di tanya tak menjawab, ia hanya berdiri mematun membuat Ny. Nadia tambah khawatir, sedangkan Azlan yang berdiri di samping Qesya dan melihat sang Mama sangat khawatir dengan segera ia menjawab pertanyaan Mamanya. "Istri Azlan tidak apa-apa, hanya sedikit kecapean. Mama tau sendiri jika pasangan pengantin baru. Bukannya Mama juga sudah pernah merasakan bagaimana rasany," ujarnya tanpa malu, enteng.


Sementara Qesya yang berdiri di sampingnya terkejut, menatap jijik Azlan yang sangat lihai dalam berbohong, apalagi mengatakan kebohongan yang begitu menjijikkan.


Mendengar ucapan putranya Ny. Nadia berdecih. "Cih. Dasar nakal. Tapi apapun itu Mama doakan semoga cucu Mama segera OTW, dan Mama akan mengendongnya seperti ini," ujarnya penuh semangat dan memperagakan mengendong seorang bayi.


"Apa Mama sangat mengingingkannya?" tanya Azlan pada sang Mama yang terlihat sangat antusias mengenai mereka memiliki seorang anak.


Pertanyaan Azlan sontak sang Mama kesal. "Pertanyaan apa itu, sudah jelas Mama menginginkannya masih bertanya lagi, Kalau bisa segera buat OTW cucu Mama."


Azlan menatap Qesya yang hanya diam berdiri. "Jika itu keingi-" Sebelum Azlan menyelesaikan ucapannya Qesya segera memotong percakapan mereka berdua. "Maaf Ma, tapi Qesya sangat lelah. Apa, tidak apa-apa Qesya baik keatas lebih dulu," ujarnya jujur, karena memang dia sangat lelah sekarang di tambah luka-luka di sekujur tubuhnya.


Ny. Arsy mengalihkan pandangnya tersenyum. "Tidak apa-apa sayang, naiklah keatas dan istirahat. Nanti Maid yang akan membawakan makanan untukmu," ujarnya penuh kelembutan, mengusap lengan Qesya, namun reaksi Qesya membuatnya kaget.


"Iiissh ... auh..." rintih Qesya karena Ny. Nadia mengusap lengannya yang terluka.


"Ada apa sayang?, apa lenganmu terluka?, coba Mama lihat," ujar Ny. Nadia sangat khawatir karena menantunya terlihat sangat kesakitan, padahal dia hanya mengusap lengannya saja, tidak memukulnya.


Pada saat Ny. Nadia ingin memeriksa lengan Qesya, dengan segera akan bertindak menghentikan Mamanya. "Ah iya, sebenarnya lengannya memang sedikit sakit, itu semua karena Azlan, Ma," ujarnya, sontak Qesya langsung menatap kaget ke arahnya, bahkan Maira pun kaget dan tak percaya, pasalnya Qesya pernah mengatakan jika orang tua Azlan tak mengetahui sifat asli putranya.


Sebelum melanjutkan ucapannya Azlan menoleh, menatap wajah Qesya yang begitu terkejut. Azlan tersenyum smirk. ""Sebenarnya pada saat melakukan hal itu, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, dan mencengkeram lengannya (menyentuh lengan Qesya) terlalu kuat, ya... bagaimana lagi istriku ini begitu menggoda," ujarnya tanpa rasa malu dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Qesya. Kedua tangan Qesya terkepal begitu kuat, mata dan wajahnya memerah marah, ingin rasanya mencekik, menamparnya dengan sangat keras hingga membuatnya tak lagi berani berfikir dan menatapnya seperti saat ini.


Keduanya tersadar saat Ny. Nadia memukul lengan Azlan."Plak."


Azlan mengalihkan pandangannya menatap Mamanya. "Mom...."

__ADS_1


Ny. Nadia menunjuk Qesya yang terlihat menunduk. "Lihatlah istrimu kau membuatnya malu, liat wajahnya sangat merah karena malu." ujarnya pada Azlan.


Tanpa mereka sadari tangan Qesya terkepal kuat, bahkan kukunya menembus kulit tangannya. "Wajahku merah bukan karena malu, tapi karena emosi ingin menghabisi putramu itu, dan aku tertunduk bukan karena malu tapi menyembunyikan mataku yang di penuhi amarah yang bisa membakar putramu," batin Qesya penuh Amarah.


Qesya mengatur emosinya, setelah itu mendongakkan kepalanya, menatap mertuanya."Ma, aku permisi dulu," ucapnya pergi dari sana.


Pada saat melewati meja makan, tangannya di cekal oleh Maira, yang mana membuat Qesya sedikit merintih kesakitan, sontak Maira segera melepas tangannya. " Maaf..." ujarnya lirih. Qesya tak mengatakan apapun, ia kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Tanpa permisi air mata Maira menetes, dengan segera ia menyeka air matanya. Hati Maira begitu sakit saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat pucat, dan tubuhnya yang lemah serta raut wajahnya terlihat seperti menahan rasa sakit yang amat menyakitkan.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Arhand menahan tangan Maira yang hendak mengejar Qesya.


Maira tak menggubris ucapan Arhand, ia menatap tangannya yang di pegang oleh Arhand, menyadari tatapan mata Maira dengan segera Arhand melepas tangannya. " Maaf..." ujarnya lirih, namun Maira tak menggubrisnya lagi.


"Maaf, semuanya tapi apa boleh aku menemui sahabat saya ... maksudku Qesya, aku memiliki obat yang mungkin dapat mengobati luka nyerinya. Dulu aku sering kali memakainya juga," ucapnya, meminta izin menemui Qesya, walau bagaimana pun ini bukan rumah mertuanya.


Baru Azlan ingin melarang, tetapi Ny. Nadia lebih dulu memberikan izinnya. "Tentu saja, kamu boleb menemuinya, kalian bersahabat. Pergilah," ujar Ny. Nadia dengan lembut.


Anak-anak Maira yang melihat Mamanya berlari, menarik baju Arhand. "Pa, Papa Ama au ana?" tanya Arkhui.


Arhand mengalihkan pandangannya menatap putranya. "Mama mau bertemu dengan Aunty," jawab Arhand, dan kembali menatap istrinya yang terus berlari menaiki anak tangga.


"eangya Aunty apa (memangnya Aunty kenapa)? tanya Arsyad.


"Mungkin Mama kengen sama Aunty kalian," jawab Arhand asal masih dengan menatap istrinya yang tidak bisa berjalan santai dan terus berlari.


Di kamar Qesya terlihat sedang berusaha melepas gaunnya, namun sedikit sulit karena luka-lukanya. "Iiissh ... aahh ... hufh," leganya setelah bersusah payah membuka gaunnya.

__ADS_1


Saat akan mengoleskan salep ke lukanya tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. "Sampai kapan?, katakan sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini?" tanyanya.


Qesya menoleh ke asal suara itu, betapa kagetnya melihat orang itu. "Kalian?, ngapain di sini?" ujarnya, saat melihat kedua sahabatnya berdiri dan bersandar di dinding kamarnya.


Bukannya menjawab mereka malah berjalan mendekat kearah Qesya sedangkan Qesya terlihat panik, takut Azlan yang tiba-tiba datang bisa-bisa semuanya hancur. "Kau masih belum menjawab kami, sampai kapan kau akan menahan luka ini?" tanyanya kembali, lalu mengambil ahli salep di tangan Qesya, mengoleskan salep itu di luka-luka Qesya.


Qesya duduk di depan cermin, matanya menajam, menatap pantulan dirinya, mengepal kuat tangannya. "Sampai aku menghancurkannya, membuatnya menyesali setiap perbuatan kejinya padaku bahkan bukan padaku saja tapi juga kekejamannya pada orang lain, membautnya berlutut di hadapanku dan memohon ampun atas hidupnya. Akan aku pastkan dia akan merasakan setiap rasa sakit dan penderitaan setiap orang yang pernah ia siksa," ujarnya di penuhi amarah dan balas dendam.


Anis dan Dokter Maya menatap pantulan Qesya di cermin. "Bagaimana kalau psikop*t itu lebih dulu membunuhmu?" tanya Anis yang diangguki oleh Maya.


Qesya tersenyum, dan dengan enteng berucap. "Bukan kah peraturan perang memang seperti itu?, jika bukan musuh yang kembali hanya tinggal nama saja, maka kita yang akan kembali hanya tinggal nama saja," ujar Qesya tak takut.


Melihat keseriusan sahabatnya, Anis dan Maya tersenyum. "Baiklah jika itu keputusanmu. Kita akan selalu ada bersamamu, ingat itu," ujar mereka sambil memeluk pelang Qesya.


Tok.


Tok.


Tok.


Mereka semua panik dan berbalik kebelakang. "Mamud? (bernapas lega, karena itu bukan Azlan), ngapain berdiri di sana, ayo masuk sini," ujar Qesya mempersilahkan Maira masuk yang terlihat berdiri mematung di ambang pintu.


Maira masuk mendekati mereka namun matanya menatap intes Qesya, merasa Maira menatap dirinya tak biasa, Qesya sedikit khawatir dan gugup tetapi dia berusaha untuk mengendalikan diri. "Kenapa dia menatapku seperti itu?, Apa dia mendengar percakapan kami?, Ku harap dia tidak mendengar percayakan kami," ujar batin Qesya.


...****************...


...#continue ......

__ADS_1


...**Semoga suka kelanjutannya, kalau suka jangan lupa dukungannya. **...


...See you the next episode........


__ADS_2