Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 63 Pampers.


__ADS_3

"Kenapa kamu malam- malam kemari?" tanya Dokter Maya menatap Qesya, yang langsung menyelonong masuk kedalam Apartemennya.


"Karena ucapanmu. Lupakan itu ( menatap Dokter Maya ). Katakan apa yang ingin kau katakan tadi, kau sempat menyebut Tunangan?, Apa maksudmu ada sesuatu terjadi pada Aditya?" tanya Qesya khawatir terjadi sesuatu pada pria yang dia cintai.


Terlihat Maya mengingat-ingat kembali. " Oh ... yang itu ( ujar Dokter Maya santai, duduk di sofa ). Aku tadi tak sengaja melihatnya keluar dari club, dan keadaannya sangat buruk."


Dahi Qesya mengerutu. "Ngapain dia ke club?"


"Mana ku tau," sahut Dokter Maya cuek, yang mendapat jawaban menohok dari Qesya.


"Aku tidak bertanya padamu. Sudah ah," ujar Qesya, setelah itu langsung bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan apaertemen Dokter Maya.


"Hei, kau mau?" teriak Dokter Maya tak tak diubris sama sekali oleh Qesya.


Bruck.


Pintu apartemen Dokter Maya kembali di buka dengan kasar. "Terakhir kali kau melihatnya di club mana?" tanya Qesya, hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Boy Club," jawab Dokter Maya, setelah itu pintu Apartemennya kembali di di tutup dengan keras.


"Ok ...."


"Terima kasih. Sama-Sama," ujar Dokter Maya, berterima kasih dan di jawab sendiri.


Sesaat ingin kembali duduk tiba-tiba dia mengingat sesuatu. "Aduh ... ( menepuk jidatnya ). Aku lupa lagi bilang padanya, jika mantan calon suaminya, bersama dengan Kakak iparnya, bisa gawat ini," panik Dokter Maya, kemudian langsung mengambil ponselnya tapi tak di jawab, membuatnya tak punya pilihan lain selain menyusulnya.


......................


"Kau terbangun? ( mentapa Maira yangg terbangun ), maaf menganggu tidurmu, tadi babynya tiba-tiba menagis. Tidurlah kembali aku yang akan mengganti popoknya," ujar Arhand mengambil pampers bayi mereka.


Bayi Maira memang selalu menangis saat pampers mereka sudah penuh, entah itu malam, dini hari, mereka akan menagis begitu pampersnya penuh. Seperti sekarang Bayi Arkhui menagis karena pampersnya sudah penuh, dan kali ini Papanya yang mendengar tangisannya.


Maira mengintip di balik tidurnya, melihat bagaimana Papa Bayinya masih terlihat berusaha beberapa kali untuk memasang pampers bayi Arkhui, namun tak bisa, di tambah bayi Arkhui tak berhenti mengerak-gerakkan kakinya.


Merasa kasihan Maira kembali membuka matanya, bangun, meminta pampers di tangan Arhand. "Tidak apa Mas, biar aku saja. Lebih baik Mas tidur saja," ujar Maira.

__ADS_1


Arhand yang sudah menyerah, menyerahkan pampersnya ke istrinya, tersenyum malu. "Maaf, tapi aku akan mempelajari ini. Biar nanti bisa membantu dirimu merawat mereka," ujar Arhand serius, Maira hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


Maira berahli ke bayi Arkhui yang terlihat tertawa kecil, menatap Papanya. "Aduh, anak ganteng Mama ( mengangkat kedua kaki bayi Arkhui ). Pampers aku itu sudah penuh Ma, makanya aku nangis, iya sayang?" ujar Maira, berbicara pada putranya, yang terlihat bahagia menatap Papanya, yang tak bisa memasangkan pampers padanya.


"Aduh, aduh, anak Mama ganteng banget dah," ujar Maira lagi, setelah menganti pampers bayi Arkhui. Maira turun membuang Pampers bekas ke tong sampah, setelah itu dia kembali naik ke atas ranjang, menyusui putranya.


......................


Tak tega melihat pria yang di cintainya, Qesya berjalan mendekati Aditya yang berjalan sempoy, dan terus ngelatur, ingin membantu, namun seseorang langsung menarik tangannya dengan kasar dari belakang. Dengan penuh amarah Qesya berbalik. "Beraniny-" ujarnya terputus, melihat suami hitam putihnya sedang menatap horor dirinya, yang entah datang dari mana, tiba-tiba muncul di hadapan Qesya.


Azlan menyeret Qesya menjauh dari Aditya, sedangkan Qesya terus saja memberontak. "Lepaskan aku ..." sarkasnya terus menerus, membuat emosi Azlan memuncak.


Buck.


Suara dari bantingan tubuh Qesya begitu keras, memenuhi kamar hotel yang di baru saja di bersihkan oleh staff. "Auh ..." rintih Qesya, memegangi pinggangnya.


"Om, gila yah. Sakit tau!!" sarkas Qesya, kesel menatap marah Azlan yang juga menatap tajam dirinya.


"Sepertinya memang aku harus memberi pelajaran padamu, biar kau biasa patuh padaku," ujar Azlan dingin.


......................


"Kemana menghilangnya Qesya?" tanya Dokter Maya yang menemukan motor Qesya, tapi orangnya tidak ada.


Pandangan Dokter Maya menangkap sesuatu. "Itu bukannya kakak ipar Qesya, yah?, Dia ngapain menagis tersungkur seperti itu ?, lalu di mana Aditya dan Qesya?" tanya Dokter Maya lagi, melihat sekeliling tapi sangat sunyi tak ada seorang pun selain dirinya dan Clarisa.


"Oh, ****! ( mengingat sesuatu ), apa ini perbuatan Qesya. Oh, no," paniknya lagi, setelah itu Dokter Maya dengan cepat berlari naik kedalam lobby hotel.


"Maaf, apa ada seorang wanita baru masuk kemari?" tanya Dokter Maya pada resepsionis.


"Maaf, Nona, banyak seorang wanita yang keluar masuk kemari?" jawab resepsionisnya.


"Maksud aku belum lama ini. Tunggu sebentar ( mengambil ponselnya ), ini dia orangnya ( menunjukkan foto Qesya ), apa dia ada di sini?" tanya Dokter Maya lagi.


"Maaf, kalau boleh tau anda siapa?, Karena kami tidak bisa memberikan informasi apapun mengenai tamu kami," ujar resepsionis dengan sopan.

__ADS_1


"Aku adalah sahabatnya, ini anda bisa lihat foto kami ( menujukkan foto dirinya bersama Qesya ), ku mohon ini sangat penting," ujar Dokter Maya, memohon.


"Baiklah tunggu sebentar biar kami cek dulu," sahut resepsionis.


"Kalau boleh tau namanya siapa?" tanya resepsionis lagi.


"Qesya Purnama," sahut Dokter Maya cepat.


Dokter Maya menunggu resepsionisnya mengecek data tamunya, sembari menunggu Dokter Maya memutar sekeliling yang sudah sepi banget. Tak lama resepsionis kembali berucap. "Maaf, nama dengan Qesya Purnama tidak ada di daftar tamu," ujar resepsionis jujur.


"Kalau dengan nama Aditya?" tanya Dokter Maya lagi.


"Sebentar kami liat dulu," ujar resepsionis.


"Atas nama Tuan Aditya kami memilikinya, tapi kalau boleh tau Nona ini apanya?"


"Dia adalah tunangan sahabat saya yang tadi, ( resepsionis baru ingin berkata tapi lebih di dahulu oleh Dokter Maya ), kalau anda tidak percaya Anda bisa cek di berita tentang pertunangan Putra kedua keluarga Blanco dengan sahabat saya Qesya Purnama. Informasi itu akan keluar," ujar Dokter Maya cepat.


"Kamarnya ada di nomor 286," jawab Resepsionis, setelah yakin apalagi melihat wajah khawatir Dokter Maya.


"Baiklah, terima kasih," ujar Dokter Maya, meleset pergi dari sana.


Pintu lift terbuka, Dokter Maya langsung keluar mencari kamar 286, namun dia tak sengaja melijat Azlan baru saja keluar dari sebuah kamar dengan kondisi yang berantakan.


"Itu bukannya suami Qesya?, Dia ngapain kemari?" guman Dokter Maya, Azlan berjalan mewati dokter Maya, masuk kedalam lift.


Melihat tampang Azlan Dokter Maya berjalan kearah kamar di mana Azlan keluar dengan tampang berantakan.


Betapa terkejutnya saat ia melihat masuk kedalam kamar, kakinya kaku berdiri di ambang pintu kamar, tangannya membungkam mulutnya sendiri, air mata tanpa sadar menetes keluar. "Qe-, Qe-, Qesya ..."


...#continue ......


...Hai Readers, kembali up nih, jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya jika suka....


...See you the next episode....

__ADS_1


__ADS_2