Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 38 Tak di Akui


__ADS_3

"Akhirnya kamu pulang juga, sayang. Mama khawatir banget sama kamu sayang," ujar Ny. Arsy memeluk Maira yang baru saja pulang.


Maira berusaha tersebyum di depan Mama mertuanya. "Maaf, Mam, sudah membuat Mama khawatir. Tapi Maira baik-baik saja," ujar Maira berusaha terlihat baik-baik saja di depan mertuanya.


"Tidak masalah sayang, yang penting sekarang kamu sudah pulang," ujar Ny. Arsy mengusap surai menantunya dengan lembut.


"Iya, udah Mama kalau begitu Maira naik ke atas dulu," ujar Maira.


Maira menaiki tangga, berjalan kearah kamarnya.


"Dari mana saja?" tanya Arhand duduk di tepi ranjang, menatap tajam Maira yang baru saja masuk kedalam kamar.


Maira hanya melirik Arhand sebentar, lalu berjalan melewati ranjang begitu saja, membuka lemari lalu mengambil pakaiannya.


Arhand yang tak biasa di abaikan dan juga dia masih emosi mengingat kejadian di bangku jalan. "Aku sedang bertanya sama kamu. Dari mana kamu?" tanyanya tegas mencengram pundak Maira.


Maira mendongakkan kepalanya menatap mata Arhand, matanya berkaca-kaca kembali. Maira melepskan tangan suaminya darinya lalu masuk kedalam kamar mandi.


......................


"Sayang, tolong panggil Mamanya yah buat makan malam," ujar Ny. Nadia pada cucunya.


"Iya, Grandma," ujar Rian langsung turun dari kursinya.


Rian berjalan ke arah kamar Sang Mama. "Mama," ujarnya langsung membuka pintu kamar Clarisa.


Clarisa yang sedang managis terkejut, dan segera menghapus air matanya. "Eh, Rian. Iya sayang kenapa?"


"Grandma inta Lian buat, anggil Mama mamam," ujar Rian dengan cadelnya.


"Ayo, Mama ita mamam belcama," ujar Rian lagi mengengam tangan Mamanya.


Clarisa tersenyum lalu bangkit dari duduknya. "Ayo, sayang," ujarnya mengengam tangan mungil putranya.


......................


"Duduk sayang," ujar Ny. Arsy pada Maira yang baru bergabung makan malam.

__ADS_1


Maira duduk dengan matanya menatap ke arah wanita yang duduk di kursi biasa ia duduk ki.


"Hai ..." sapa Anya tersenyum pada Maira.


"😐...." tak ngomong apa, hanya menatap Anya bergantian Arhand.


"Kamu Maira kan? sepupu Arhand?" ujar Anya lagi, namun Maira masih menampilkan wajah datar tak mengatakan apapun.


"😐..."


Maira menatap suaminya, mengingat ucapan suaminya saat akan turun makan. "Anya ada di rumah ini. Dan aku ingin kamu tidak mengatakan apapun tentang kita padanya. Dia baru selamat dari kematian dan dia juga memiliki rasa sakit kepalanya saat terlalu stress dan aku tidak mau itu terjadi," ujar Arhand saat di kamar.


Arhand tak menatap ke arah Maira sama sekali ia, makan dengan ekspresi wajah datarnya.


"Arhand tadi mengatakan hal itu, saat aku bertanya tentang foto kamu di ponselnya dan foto-foto kamu do kamar ini," ujar Anya lagi.


Maira, tak menjawab, ia bangkit dari duduknya melewati Anya begitu saja, pergi kembali kedalam kamarnya. Hatinya benar-benar hancur saat suaminya tak mengakui dirinya, walau dulu sudah sangat sering terjadi tapi kali ini hati Maira jauh terasa lebih sakit.


"Mama, mau kemana?" tanya Tuan Blanco.


Tuan Blanco menyusul istrinya, menyisahkan Arhand dan Anya saja di meja makan. Dengan Arhand tak mengatakan satu kata pun.


Di bangku taman kota, Maira duduk di bawah pohon dimana sinar lampu tak menjaunhkau tempat itu, hanya ada kegelapan malam. "Mas Arhand benar-benar tega ... hiks, hiks. hiks ..." tangisnya.


"Ku fikir perubahan sikap mu ini, menandakan kamu mulai mencintaiku, tapi ... tapi aku salah, cintamu padanya terlalu besar."


"Kenapa Mas?, Apa yang kurangnya diriku?, hiks hiks, ke-kenapa Mas tidak bisa mencintaiku sebesar Mas mencintainya?, kenapa Mas? kenapa?'


"Hiks, hiks, hiks ..." tangisnya tersedu seduh.


"Maafkan aku yang egois, tapi aku akan merebutmu dari suamimu itu," ujar Azlan memperhatikan Maira dari dalam mobilnya.


Azlan yang tadi berniat pulang tak sengaja melihat Maira berlari ke arah taman sambil menangis. Azlan sangat ingin turun dan menghibur Maira namun ia urunkan karena ingin memberikan waktu untuk Maira mengeluarkan rasa sakit di hatinya melalui tangisannya.


"Dan aku juga minta maaf, tapi aku akan mengikuti rencana Anya kali ini. Laki-laki seperti Arhand tidak pantas memiliki cintamu. Proses ini mungkin akan sedikit menyakitimu tapi aku berjanji rasa sakit itu akan ku ganti dengan penuh kebahagian," ujar Azlan masih menatap Maira.


Flashback.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?, aku tidak akan membiarkan kamu menganggu kebahagian mereka," tahan Azlan pada Anya.


Anya memberontak dan berusaha menjelaskan. "Dengarkan aku Az, untuk kali ini saja. Biarkan aku muncul di depan mereka maka kamu akan liat bahwa Arhand masih sangat mencintaiku dan dia tidak mencintai istrinya," ujar Anya.


"Tidak. Ayo masuk," ujar Azlan mendorong Anya masuk kedalam mobil.


Anya menutup kembali pintu mobil. "Az, Az, dengarkan aku," uajrnya tak ingin masuk kedalam mobil.


"Tidak, ayo cepat masuk," ujar Azlan lagi berusah mendorong Anya masuk kedalam mobil.


"Baik, baik, ok," ujar Anya mengangkat tangannya.


Anya mengambil napas dalam-dalam. "Begini jika Arhand benar-benar tidak mencintaiku maka kehadiranku tidak akan berarti dan pasti dia akan lebih memilih istrinya, tapi jika Arhand masih mencintaiku maka kamu harus mendukung hubunganku dengan Arhand sampai ke jenjang pernikahan. Bagaimana?" kekeh Anya, dengan membuat penawaran.


Namun Azlan dengan tegas menolak penawarannya. "Tidak."


Anya menghempaskan tangan Azlan. "Az, kamu jangan munafik, aku tau kamu suka sama istri Arhand," sarkas Anya.


Azlan sedikit terkejut mendengar ucapan Anya, tapi dia masih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. "Kamu cepat masuk saja, tidak usah ngomong ngelantur," ujarnya tak menanggapi ucapan Anya.


"Az, Az ( tersenyum mengejek ), kita ini bersahabat dari kecil, aku tau kamu luar dan dalam. Kamu tidak akan menyimpang foto seorang wanita di dompet kamu jika wanita itu tidak kamu cintai. Kamu fikir aku lupa tentang wanita kecilmu itu🀨?" ujar Anya menatap Azlan yang menjadi canggung dan salah tingkah.


"Hentikan omong kosongmu itu," ujar Azlan mengelak.


"Kamu yang berhenti menolak perasaanmu. Ingatlah ini Az, semua adil dalam perang dan cinta. Dan kamu juga gak maukan kehilangan cintamu untuk kedua kalinya," sarkas Anya.


Azlan tak menjawab, melihat hal itu Anya kembali berucap, "Az, dengarkan diriku kali ini saja, aku berjanji jika Arhand tidak mencintaiku lagi aku tidak akan memaksakan diri. Kamu percaya padaku," bujuknya.


"Baiklah. Tapi jika kamu melanggar janji maka aku sendiri memberikan hukuman untukmu," tegas Azlan.


"Iya, itu terserah dirimu," ujar Anya.


Flash On.


...#continue .......


...See you the next episode, Readers....

__ADS_1


__ADS_2