Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 41 Amarah Arhand.


__ADS_3

"Ke mana perginya Aditya," kesal Arhand.


Tak lama Aditya muncul depannya dengan wajah kesal pula. "Dari mana saja kamu?! tanya Arhand marah, menatap tajam asisten pribadinya.


Melihat amarah di wajah Tuannya, seketika rasa kesalnya menciut menjadi ketakutan, ia menelan ludahnya kasar. "Itu ... aku ... aku ... ( gagapnya ), ha, aku dari toilet," kilahnya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Arhand lagi.


"Itu karena ... karena ... karena apa yah? ... karena antri, ya antre," kilah Aditya lagi, dengan perasaan campur aduk, dalam hatinya tak berhenti berdoa untuk keselamatannya.


"Kita pulang ke kantor," tegas Arhand, lalu pergi begitu saja meninggalkan Aditya


"Hei, Ar, Ar ..." teriak Aditya mengejar Arhand.


......................


"Terima kasih," ujar Clarisa pada Qesya, yang sudah membantu diri kembali ke mobilnya.


Qsesya tersenyum. "Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar sopan.


"Iya. Sekali lagi terima kasih," ujar Clarisa lagi tersenyum.


"Iya, Nona," balas Qesya, lalu kembali masuk kedalam restoran.


"Tuan," ujar Qesya, berpapasan dengan Arhand di pintu, namun Arhand tak menggubris dirinya, berjalan terus masuk kedalam mobil.


"Masuk kedalam mobil. Kita kembali ke kantor," tarik Aditya yang mengejar Arhand.


"Tapi ini masih jam istirahat," ujar Qesya.


Tatapan tajam Aditya langsung keluar. "Apa kamu ingin membantah atasanmu?" tanyanya.


"Tidak, Tuan," sahut Qesya cepat mengelengkan kepalanya.


"Kalau begitu cepat masuk kedalam mobil," titah Aditya tak ingin di bantah.


"Baik, Tuan," ujar Qesya nurut.


......................


"Maaf Ma, Maira angkat telpon dulu," ujar Maira.


"Iya, sayang," ujar Ny. Arsy lembut.


Maira mengeser ikon hijau. "Hall-" Baru saja ingin mengatakan sesuatu tak jadi karena suara marah suami terdengar tak terbantahkan. "Pulang sekarang," ujar Arhand tegas.


"Tapi-" ujar Maira harus kembali terpotong karena sambungan telponnya di putus begitu saja oleh Arhand.


"Tut, tut, tut ...."

__ADS_1


Maira menghembuskan napas kasar, ia kembali ke tempat Mama mertuanya. "Ma," panggil nya.


"Iya, sayang, kenapa?" tanya Ny. Arsy lembut, tersenyum.


"Apa Maira boleh pulang lebih dulu?" tanya Maira.


"Tapi kenapa, Sayang?" tanya Ny. Arsy balik.


"Tidak apa-apa, hanya badan Maira sedikit lelah," bohong Maira.


"Ya sudah, Sayang, tidak apa-apa. Kamu bisa pulang saja lebih dulu


"Ya sudah kalau begitu biar Azlan saja yang antar kamu sayang," sahut Ny. Nadia.


Maira tersenyum canggung. "Tidak usah tante, Maira pulang sama supir saja," tolak halus Maira.


"Gak apa-apa sayang, Azlan juga mau pulang kekantor kok. Iya kan Azlan?" ujar kembali Ny. Nadia.


"Tapi-"


Maira yang ingin kembali menolak, terhenti saat Mama mertuanya juga malah ikut membujuk dirinya.


"Tidak apa-apa sayang, biar Nak Azlan saja yang antar kamu pulang ya. Pak Tono tadi izin mau ngopi lebih dulu, dan jika kamu menunggu Pak Tono Mama takut kamu sudah sangat lelah sayang," ujar Ny. Arsy bohong tentang pak Tono.


"Iya, sudah Ma," nurut Maira, karena tak mungkin ia membantah Mama mertuanya di depan teman-temannya.


Ny. Nadia dan Ny. Arsy tersenyum. "Ya sudah kalian pulang lah. Dan hati-hati di jalan," ujar Ny. Arsy.


Azlan tersebyum tipis, menganggukkan kepalanya. "Pasti, Tante," ujarnya.


.......................


"Honey ... Kamu sudah pulang?" sambut Anya yang kebetulan ada di ruang tamu, sedang nonton tv.


Langkah Arhand terhenti. "Huem," dehem Arhand, dengan wajah yang terlihat sangat marah.


"Ada apa, Honey, kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu?" tanya Anya lagi dengan lembut.


Anya ingin menyentuh wajah kesal Arhand, namun tangannya langsung di cekal oleh Arhand. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit capek. Aku masuk kamar dulu," ujarnya menahan emosi.


Arhand meninggalkan Anya, dan langsung masuk kedalam kamarnya.


"Tuan," panggil Qesya pada Aditya.


"Heum," sahut Aditya yang baru turun dari mobil.


"Ini rumah siapa?" tanya Qesya, menatap bangunan mewah di depannya.


"Rumah Tuan Arhand," ujar Aditya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kita kemari?" tanya Qesya lagi berjalan kedepan.


"Ya untuk kita buat baby," ujar Aditya santai, dan mengkungku Qesya di body mobil.


"A-apa?" takut Qesya.


"Kamu jangan macam-macam," ujarnya lagi dengan wajah panik, dan takut.


"Aku hanya satu macam," ujar Aditya tersenyum menyeringai.


Kepala Qesya mendongak ke atas karena dagunya di tarik oleh Aditua. "Aku pernah dengar kata seperti ini, jika kita bisa mendapatkannya dengan baik, gunakan cara lain karena semua adil dalam perang dan cinta," ujar Aditya, yang semakin membuat Qesya ketakutan.


Qesya memalingkan wajahnya, lalu menatap berani sekaligus takut Aditya. "Kamu jangan macam-macam, kalau tidak aku akan berteriak," ancamnya.


Aditya tersenyum simpul. "Berteriak saja, orang di rumah ini tidak akan ada yang berani marah padaku," ujarnya tak takut.


Memang benar semua orang tidak akan pernah ada yang berani melarang apa lagi memarahi Aditya karena mereka semua tau hubungan Aditya dengan keluar Blanco, bahkan Aditya suda ? seperti Tuan Mudah kedua keluarga Blanco.


"Aditya. Apa yang kamu lakukan?" tanya Maira yang baru saja sampai dan sudah melihat pemandangan Aditya dan Qesya yang di bilang intem.


Seketika Aditya melepas Qesya. "Huem. Nyonya," ujarnya gegalapan, begitupun Qesya.


"Ini bukan seperti yang kamu fikirkan Maira," ujar Qesya ingin menjelaskan.


"Aditya aku bertanya sama kamu, apa yang kamu lakukan, pada Qesya?" tanya Maira menatap tajam Aditya yang sudah seperti Kakak baginya.


Aditya kelimpungan, tak tau mau jawab apa. "Ha, itu tadi kami sedang membicarakan bisnis," ujarnya asal.


"Bisnis? Dengan posisi seperti itu?" interogasi Maira.


"Maira!!" teriak lantang Arhand dari atas balkon kamarnya.


Maira, Azlan, Qesya dan Aditya kaget mendengar teriakan Arhand. Azlan mengepalkan kedua tangannya mendengar teriak itu, namun ia berusaha menahannya.


"Maira, sudah kamu cepatlah masuk dulu, Arhand sudah sangat marah," ujar Aditya khawatir.


"Huem," angguk Maira, lalu masuk kedalam rumahnya dengan perasaan takut.


"Honey ... Honey ... buka pintuny, kamu kenapa berteriak," ketuk Anya khawatir.


Ya Anya langsung berlari naik ke atas setelah mendengar teriak keras dari Arhand.


"Maira," ujar Anya menatap Maira yang berdiri di sampingnya.


Pintu terbuka, tangan Maira langsung di tarik masuk oleh Arhand dan pintu kembali tertutup, sedangkan Anya diam mematung mendengar suara bantingan pintu.


"Honey ... Honey ... buka pintunya," gedor Anya lagi, namun berkali-kali ia menggetuk pintu dan berteriak tapi tak mendapat respon apapun dari dalam


...#continue ........

__ADS_1


...See you the next episode, Readers....


__ADS_2