Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 45 Ancaman Azlan.


__ADS_3

"Bagaimana, apa kau sudah menemukan titik keberadaan istriku?" tanya Arhand menyolonong masuk kedalan rumah Daniel, salah satu sahabatnya yang ahli dalam bidang IT.


Daniel sedikit terkejut kedatangan Arhand. "Eh, Ar. Kemarilah," ujarnya bergeser sedikit agar Arhand duduk di dekatnya.


"Aku tadi sudah mendapatkan sebuah petunjuk tentang keberadaan istrimu, tapi tidak tau kenapa videonya tiba-tiba menghilang," ujar Daniel.


"Maksudnya?" tanya Arhand tak mengerti.


Daniel memberikan laptopnya pada Arhand. "Aku meretas setiap CCTV di sepanjang jalan dari rumah Loh, dan ada rekaman CCTV yang mereka istri Loh itu, tapi hanya sekilas. Liat lah," ujarnya meng-push videonya.


Arhand memperhatikan rekaman itu dengan seksama, dan benar saja ada sosok Maira di dalam sana. "Dia benar istriku, dan ini jalanan menuju bandara kan?" ujarnya menyadari jalanan di sana.


Daniel menganggukan kepalanya. "Heum, kamu benar, Ar, ini memang jalan menuju ke bandara," ujar Daniel membenarkan ucapan temannya.


Brak.


Arhand mengeprak meja dengan keras, membuat Daniel terkejut dan kesal, namun ia tak berani pada Arhand.


"Arrgg, Maira kamu benar-benar ...." ujarnya penuh emosi.


"Tenanglah," ujar Daniel berusaha menenangkan temannya walau ia sangat takut sekarang.


"Eh, Ar," teriak Daniel saat Arhand main pergi-pergi saja.


"Dia mau kemana?" tanya Aditya yang baru datang, dan berpapasan dengan Arhand, yang terlihat sangat emosi.


"Dia mau ke bandara?" ujar Daniel.


"Bandara?, memangnya Maira ada di sana?" tanya Aditya menatap Daniel.


"Aku tidak tau pasti sih ( kembali duduk ), tapi ada sebuah rekaman CCTV jalan yang menangkap istrinya dan itu jalanan menuju ke bandara, dan langsung pergi begitu saja," jelas Daniel, dengan nada kesal di kalimat terakhirnya.


"Dia dan istrinya, ada masalah apa sih? ( menatap Aditya ), sampai-sampai istrinya kabur kayak gitu?" tanya Daniel kepo.


"Lupakan hal itu. katakan padaku apa kamu sudah meretas bandara?" tanya Aditya tak menjawab pertanyaan temannya itu.


"Belum," ujar Daniel santai.


Aditya menatap tajam Daniel, lalu dengan keras memukul kepala temannya itu. "Oh, my god Daniel!, Cepat retas dan lihat apa Kakak ipar ada di sana semalam dan jika benar cari tau kemana tujuan kepergian Kakak ipar. Cepat," ujar Aditya.


"Iya, iya, bawel," cicit Daniel, dan jari-jari kembali bertukad pada laptopnya.

__ADS_1


Drrttt.


"Iya, ini kita lagi berusaha mengaksesnya," ujar Aditya.


"Kebiasaan kan, main matiin saja untung kamu atasanku kalau tidak sudah ku potong ibu jarinya," gerutu Aditya mengumpat ponselnya.


"Dapat," ujar Daniel cepat.


"Apa?"


"Rekaman istri Arhand," ujar Daniel masih bertukad pada laptopnya.


"Cepat telpon, Arhand," pinta Daniel, dengan cepat Aditya kembali menelpon Arhand.


"Hallo, Ar," ujar Daniel setelah telpon tersambung.


"Apa kamu sudah bisa mengakses CCTV di bandara," sahut Arhand.


"Iya. Dan benar istrimu tadi pagi sekitar jam 3 ada di bandara, dan aku juga sudah mengakses data-data penumpang di jam itu, dan mendapatkan istrimu terdaftar dengan tujuan ke London," jelas Daniel yang membuat Arhand kaget, emosi dan marah pada dirinya sendri.


"Ar ... Ar, apa kamu masih di sana," panggil Daniel karena tidak mendengar suara Arhand.


"Apa kau mau aku kirim data penerbangannya?" tanya Daniel.


"Iya, kirimkan padaku. Dan katakan juga pada Aditya untuk mengatur penerbanganku ke London," ujar Arhand lagi.


......................


"Aahh, Az, Az, lepaskan ..." mohonnya sembari memegang tangan Azlan yang mencekik dirinya.


Wajah Azlan sangat gelap karena emosi, membuat Anya ketakutan setengah mati. "Sudah ku katakan padamu, jangan sampai ini membuat Maira terluka, dan sekarang apa?, kau membuatnya menjauh," emosi Azlan semakin menguatkan cekikkannya.


Anya ngap dan kesulitan bernapas karena cekikan erat dari Azlan. "Huk ... huk, Az-Azlan, Aku benaran tidak tau kalau akan begini, aku huk ... " jelasnya namun Azlan semakin mengeratkan cekikkannya.


"Az, Az, kau akan m3mbunuhku," ujarnya dengan terbata-bata.


"Aku memang akan m3mbunuhmu," sarkas Azlan dengan semakin menekan lejer Anya.


Anya benar-benar sudah tidak bisa bernapas, wajahnya sudah mulai pucat. "Huk, huk, Az, Az, aku benar-benar minta maaf, aku mohon padamu tolong lepaskan aku, ak-aku sudah sangat kesulitan bernapas," pintanya memohon dengan matanya mulai menggelap.


"Az, aku ini sahabatmu, aku mohon maafkan aku," mohonnya lagi, saat Azlan sama sekali tidak melepaskan cekikkannya.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik," semakin menekang leher Anya.


"Huk ...."


"Jika Maira tidak bisa aku liat maka akan ku pastikan kamu tidak akan bisa juga melihat Arhand, bahkan bukan hanya Arhand tapi kau juga tidak akan bisa melihat dunia ini lagi. Kamu mengertikan maksudku?" ujar Azlan sangat dingin menatap tajam Anya. Anya yang sudah sangat ngap dengan cepat menganggukan kepalanya.


Preenkk.


Suara vas terjatuh dari balik tembok membuat kedua orang itu saling pandang. "Siapa di sana?" tariak Azlan.


"Keluar atau aku akan memb3nuhmu," sarkas Azlan menatap tajam ke arah di balik tembok.


"Kau mau kemana?" ujar Azlan menatap wanita yang ada di depannya.


Dengan wajah ketakutan Qesya mengangkat kepalanya, mengeleng pelang. "O-Om ak-aku-" ujar Qesya gugup, tapi ucapannya terpotong kala Clarisa tiba-tiba muncul.


"Qesya, kau sudah bangun? aku tadi mencarimu di kamar tapi kau tidak ada ternyata kau di sini dengan Azlan," ujar Clarisa mendekati mereka.


Azlan melepas cekalan tangannya. "Huem iy-iya," ujar Qesya gugup karena masih di tatap horor oleh Azlan.


"Ayo masuk kita sarapan bersama," ujar Clarisa mengandeng tangan Qesya.


"Az, Anya, kalian juga masuk lah kita sarapan bersama," ujar Clarisa.


"Kakak duluan aja, aku dan Anya akan menyusul," ujar Azlan tersenyum pada Kakaknya.


"Baiklah, tapi cepat," ujar Clarisa.


"Iya, Kak," angguk Azlan.


Clarisa masuk kedalam dengan mengandeng tangan Qesya, sedangkan Azlan di belakang menatap intimidasi Anya.


"Az ..." lirihnya saat Azlan kembali mencekik dirinya.


"Ingatlah yang kukatakan, kamu jangan macam-macam dan menganggap ucapanku main-main, dan jangan juga kau berfikir bisa membodohiku karena aku bukanlah Arhand yang bisa kau kibuling, kamu paham kan," tegasnya, lalu menghempas leher Anya, kemudian dia langsung pergi masuk kedalam meninggalkan Anya sendiri.


"Dasar iblis," umpatnya menatap Azlan yang berjalan seakan tidak ada yang terjadi.


...#continue .......


...See you the nex episode .......

__ADS_1


__ADS_2