Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 49 Dua bulan kemudian.


__ADS_3

2 bulan telah berlalu, Arhand kembali ke indonesia setelah mencari keberadaan Maira di London namun tak di ketemukan sama sekali, ia benar-benar frustasi akan hal itu, tapi ia pun tak tau apa yang harus ia lakukan, hingga ia memutuskan untuk pulang.


"Ar, gimana apa kau menemukan Maira?" tanya Ny. Arsy pada Arhand yang baru saja masuk kedalam rumah.


Arhand hanya menatap datar Mamanya. "Ma, Arhand mau naik ke kamar dulu," ujar Arhand sangat dingin, sangat berbeda saat waktu dulu walau di kenal dingin, tapi jika bersama Mamanya sikapnya masih bisa lembut walau wajahnya datar tapi tak sedatar sekarang.


"Ar ..." panggil Ny. Arsy pada Arhand yang langsung menaiki tangga, namun Arhand tak mengubris panggilan Mamanya dan tetap menaiki tangga.


Ny. Arsy mengembuskan napas, lalu berbalik menatap Daneil. "Daniel, ada apa?, kenapa sikap Arhand sangat dingin?, dan gimana apa menantu Tante sudah ketemu?, di mana dia?" tanya Ny. Arsy berturut-turun.


"Masih belum di temukan, Tan. Istri Arhand masih belum ketemu," jawab Daneil sopan, dan lembut.


"Bagaimana mungkin. Bukankah kau menemukan titik keberadaannya di London bahkan titik pastinya juga kau sudah menemukannya. Lalu bagaimana bisa tidak ketemu?" tanya Ny. Arsy.


"Benar, Tan. Tapi kami menyelidiki kembali hal itu dan ternyata itu adalah titik buatan dari seorang hecker handel, Tan," ujar Daniel.


"Maksudnya?" tanya Ny. Arsy tak mengerti.


"Seseorang dengan sengaja membuat titik palsu tersebut, untuk mengeco, dan biasanya ini di lakukan oleh seorang profesional dan juga bisa di gunakan oleh intel dan para pimpinan klan dunia hitam," jelas Daniel.


"Jadi maksudnya ada seseorang yang sengaja menyembunyikan Maira, gitu?" tanya Ny. Arsy lagi memastikan.


"Bisa jadi, Tan. Tapi bisa jadi juga Maira yang memang memiliki kemampuan itu," ujar Daniel menyampaikan pendapatnya.


"Jadi menurut kamu Maira memiliki kemampuan itu, dan sengaja menyembunyikan dirinya?" tanya Ny. Arsy, yang di jawab anggukan oleh Daniel.


"Iya, Tan. Itu menurut aku," ujar Daniel.


"Tidak. Maira sama sekali tidak memilki kemampuan itu, bahkan saat pertama kali ia datang ke sini dia sama sekali tak mampu menjalankan laptop ataupun komputer, jadi bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu," ujar Ny. Arsy mengelengkan kepalanya tak percaya.


"Kalau seperti itu, memang ada yang sengaja menyembunyikan dan melindungi keberadaan Miara, Tan," jawab Daniel.


"Tapi siapa?" tanya Ny. Arsy.

__ADS_1


"Itu juga yang tidak kami ketahui," sahut Daniel.


"Apa kau sudah mencoba mencari tau tentang orang yang menyembunyikan keberadaan Maira?" tanya Ny. Arsy lagi setelah lama terdiam dan berfikir.


"Sudah, Tan, sampai-sampai komputer yang selama ini ku gunakan harus terbakar, padahal itu aku rancang dengan sangat khusus dalam keahlian IT," ujar Daniel, merasa sedih dan juga marah saat laptop yang sangat ia sukai terbakar hangus di depan matanya.


"APA?!, hagus terbakar?" kaget Ny. Arsy, karena dia juga tau tipe laptop dan komputer Daniel.


"Iya, Tan. Bahkan tak hanya itu, setiap situs-situs milikku di retas semua olehnya dan mengancamku, agar berhenti mencari Maira jika tidak semua akan ia bobol terutama pembobolan keamanan setiap clienku, Tan," jelas Daniel, menceritakan semuanya.


"Maaf ya, Niel, gara-gara membantu Arhand kamu ikut terlibat dan situs-situs kamu di bobol olehnya," ujar Ny. Arsy tak enak hati.


Daniel tersenyum. "Gak, Tan. Apa yang tante katakan ... Arhand dan aku adalah sahabat, jadi sudah kewajiban aku membantunya," ujar Daniel mencoba membuat Ny. Arsy tak merasa tak enak padanya.


"Terima kasih banyak, Niel, perempuan yang mendapatkan dirimu nanti adalah perempuan yang sangat beruntung," ujar Ny. Arsy mendoakan, dengan tulus.


"Terima kasih, Tan. Kalau gitu Niel, pamit pulang dulu Tan," ujar Daniel berpamitan untuk pulang, karena sangat capek.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," ujar Ny. Arsy lembut.


......................


"Kemana Aditya, kenapa tidak bisa di hubungi sama sekali," kesal Arhand karena sudah beberapa kali dia menelpon Aditya namun tak bisa di telpon sama sekali.


"Hallo!" sarkas Aditya, setelah telponnya tersambung.


"Iya, hallo Tuan," ujar seseorang di balik telpon sana.


"Katakan pada Aditya untuk mengangkat telponku," ujar Arhand marah.


"Maaf, Tuan. Tapi Tuan Aditya tak ada di kantor," ujar di seberang sana.


Ya Arhand memutuskan menelpon Qesya, karena ponsel Aditya benar-benar tak bisa di hubungi bahkan di email pun tak bisa.

__ADS_1


"Kemana dia?" tanya Arhand dengan nada emosi.


"Apa Tuan Arhand tidak tau, jika Tuan Aditya pergi ke Los Angeles, karena di hukum oleh Papanya, dan dia akan menetap di sana dalam kurung waktu yang panjang dan juga tanpa bisa menghubungi keluarganya di sini, terutama Mamanya dan Kakaknya," ujar Qesya, mengatakan apa yang di katakan Aditya padanya sebelum Aditya pergi, setelah mendengar hal itu Arhand memutus telponnya, lalu kembali turun ke lantai bawah.


"Pa!!, Papa!" teriak Arhand memanggil Papanya.


"Ada apa?, kenapa kau terteriak- teriak," ujar Tuan Blanco, berjalan mendekati Arhand yang terlihat sedang sangat marah.


"Kenapa Papa mengirim Aditya ke Los Angeles tanpa persetujuan dan sepengetahuanku?" tanya Arhand emosi.


Dengan santai Tuan Blanco menjawab putranya. "Ku fikir sebelum kau melanggar perintah Papa, kau sudah memikirkan hal ini. Bukankah dulu Papa sudah menegaskan padamu jangan mencari dan menyusul Maira ke London, tapi kalian tidak mau dengar, bukan? Jadi jangan salahkan Papa," ujar Tuan Blanco datar, dan dingin menatap tajam putranya yang tak mendengarkan dirinya, sampai-sampai ia mengirim jauh salah satu putranya.


"Tidak bisa seperti itu, Pa. Aditya itu Asisten aku, jadi apapun tentang Aditya harus melalui persetujuan diriku," protes Arhand.


"Kamu jangan lupa, jika Aditya juga putra Papa. Dan sebagai seorang orang tua sudah sepatutnya bersikap tegas pada anak-anaknya jika mereka melakukan kesalahan," sarkas Tuan Blanco, lalu pergi neninggalkan Arhand yang terbengong.


"Pa."


"Papa."


"Arrhhgg ..." kesal Arhand saat Papanya tak menggubris dirinya.


"Ar, tenang dulu," ujar Ny. Arsy menenangkan putranya.


"Kenapa Mama membiarkan Aditya pergi, Ma?" tanya Arhand pada Mamanya.


"Mama juga sudah berusaha menghentikan hal itu, tapi kamu tau sendiri kan Papa kamu, jika Papa sudah mengambil keputusan, itu sangat sulit di rubah," ujar Ny. Arsy, yang juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ar, kamu mau kemana," teriak Ny. Arsy karena Arhand tiba-tiba pergi begitu saja, namun Arhand tak menggubris Mamanya dan tetap pergi.


...#continue .......


...Jika suka jangan lupa tinggalkan jejeknya, ya Readers....

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2