
"Sayang ..." panggil Ny. Arsy pada Maira.
Maira menatap Mama mertuanya. "Iya, Ma," sahutnya.
"Setelah ini kau pergilah bersiaplah," ujar Ny Arsy lagi.
Wajah Maira terlihat tak mengerti dengan ucapan Ibu Mertuanya. "Bersiap?, Memangnya kita mau kemana, Ma?" tanyanya.l?
"Hari ini kita akan pergi melamar putri Tuan Dirga," jawab Ny. Arsy menatap Aditya yang sedang sarapan tapi dengan wajah dinginnya.
"Melamar?, Putri Tuan Dirga?, untuk siapa, Ma?" tanya Maira, hatinya sudah di penuhi dengan rasa takut. Takut jika lamaran itu untuk Aditya. Hatinya tak hentinya berharap agar apa yang ada di fikirannya tidak terjadi, namun harapannya tak sesuai dengan apa yang difirkan. Gaunnya hancur mendengar jawab Mertuanya.
"Ya siapa lagi kalau bukan untuk Adik ipar mu itu," ujar Ny. Arsy santai dan tersenyum menggoda Aditya.
Aditya yang hanya tersenyum tipis menanggapi ucapann Ny. Arsy yang menggodanya, tak ada raut wajah malu-malu merona, layaknya dulu saat digoda bersama Qesya. Namun Ny. Arsy tak menyadari akan semua itu, dia fikir itu adalah memang sikap Aditya yang dingin seperti suaminya, karena yang Ny. Arsy ketahui putranya sudah move on dari gagalnya pernikahan pertamanya, dan itu jauh lebih membuat Ny. Arsy merasa lega dan bahagia.
"Ka-Kak A-Aditya?" shock Maira, menatap tak percaya pada Aditya, namun Aditya tak menatap ke arahnya.
Melihat reaksi shock menantunya Ny. Arsy tertawa kecil. "Reaksi kita sama sayang, bahkan Mama pun sama kagetnya saat anak nakal ini, tiba-tiba datang kekamar Mama dan mengatakan itu semua," cerocos Ny. Arsy, namun Maira seperti tak mendengar, tatapannya masih terfokus pada Aditya yang diam seribu bahasa.
"Kak?" panggil Maira, namun Aditya langsung berdiri.
"Aku sudah selesai, aku akan bersiap," ujar Aditya, meninggalkan meja makan.
......................
Dikamar Maira tak hentinya mondar mandir sembari meremas jari jemarinya, bahkan Arhand yang masuk kedalam kamarnya pun Maira tak menyadarinya.
"Ada apa?, kenapa kamu terlihat sangat gelisa," ujar Arhand menepuk pundak istrinya, yang menuai Maira sedikit terkejut.
"Hu?, Mas?" kaget Maira.
__ADS_1
"Ada apa?, kenapa terlihat gelisa?" tanya Arhand kembali.
"Tidak ada," ujar Maira dingin.
"Baiklah, bagaimana kalau kita turun semua orang sudah menunggu," ajak Arhand, mengalihkan pembicaraan ia tak ingin memaksa istrinya bercerita.
"Mas, turun saja lebih dulu," ujar Maira lagi, menolak ajakan suaminya.
Pada akhirnya Arhand kembali harus menelan pil pahit atas penolakan istrinya yand sama sekali tak ingin berinteraksi terlalu banyak padanya.
Setelah kepergian Arhand Maira terlihat kembali khawatir, gelisa, dan sedih. "Apa ini?, bagaimana perasaan Qesya sekarang?, dia pasti sangat sedih. Ini semua karena aku, jika saja aku bisa menjaga anak-anakku, sahabatku tidak perlu merasakan semua ini. Hiks, jika memungkinkan tolong maafkan aku, Qes," ujarnya menyalakan dirinya.
Ceklek.
"Sayang ( buru-buru mendekat ke Maira )... kamu menagis?, ada apa?" tanya Arhand khawatir. Arhand kembali naik memanggil isinya karena sudah lama menunggu namun Maira tak kunjung datang.
Dengan cepat Maira menyeka air matanya, kala Arhand mengangkat tangannya untuk menyeka air matanya. "Tidak," jawab Maira, setelah itu berjalan keluar meninggalkan Arhand yang harus menelan pil pahit lagi.
"Baiklah, sekarang kita berangkat," ujar Ny. Arsy lagi.
Semua orang masuk kedalam mobil, melaju pergi menuju kediaman Dirga.
Di mobil, Maira tak hentinya hatinya memikirkan keadaan sahabtanya sekarang. "Tidak. Ini salah, ini tidak boleh terjadi, pokoknya aku harus menggagalkan pernikahan ini. Karena jika tidak, setelah Qesya menyelesaikan masalah dan tujuannya, mereka pasti tidak akan bisa bersama lagi, dan semua itu tidaklah benar," batinnya, pada dirinya sendiri.
"Ya ... apapun yang terjadi pernikahan ini tidak boleh terjadi," tekad Maira, untuk menggagalkan pernikahan Aditya kali ini.
Di tengah lamunannya, Arhand tiba-tiba mengatakan sesuatu. "Aku tau, kamu pasti memikirkan sahabat kamu kan?. Mungkin inilah takdir mereka," ujar Arhand yang terdengar sangat santai dan tanpa beban Di telinga Maira.
Seketika itu juga Maira melayangkan tatapan marah pada suaminya, seakan gak terima dengan ucapan dan sikap santai suaminya. "Hu?, Mas ngomong apa?, Takdir mereka?, TIDAK!!, ini bukan takdir mereka, seharusnya ini menjadi takdir kita, yaitu berpisah!!. Ya seharusnya kita yang berpisah, bukan malah mereka yang berpisah," sarkas Maira emosi, sedangkan Arhand yang mendengar hal itu tak mengatakan apapun.
" ... jadi aku minta sebaiknya Mas Arhand memikirkan ucapan Mas sebelum mengatakan sesuatu tentang sahabatku," lanjut Maira, memberi peringatan pada Arhand, setelah itu dia mentap keluar jendela.
__ADS_1
Merasa istrinya salah mengartikan ucapannya, Arhand berniat ingin menjelaskan perkataannya. "Aku bukannya menjelekkan sahabatmu, dan bukan itu juga maksud aku. Maksud aku-" jelas Arhand berusaha menjelaskan tapi langsung di di potong oleh Maira.
"Sudahlah Mas. Mas Arhand fokus saja pada jalan," ujar Maira tak ingin mendengar apa pun dari Arhand.
......................
Dengan kasar Azlan menyimakkan selimut yang menutupi tubuh Qesya, menarik tangan Qesya untuk segera bangun. "Jangan kau berani ingin membodohi ku, cepat bersiap dan kita turun menyambut keluarga calon suami Kakakku," sentak Arhand.
Hanya dengan ekor matanya saja Qesya melirik suaminya, setelah itu Qesya merebut selimutnya, lalu kembali melanjutkan tidurnya, karena hatinya begitu lelah, semalaman dia tidak bisa tidur karena terus menangis akan acara pelamaran ini. Hatinya hancur kala mengetahui semua itu.
Rahan Arhand seketika mengeras, matanya menajam seakan ingin lompat keluar dari tempatnya. "Mau bangun sendiri atau dengan caraku yang lain?!!" tanya Azlan dingin.
Namun Qesya tak menggubris Azlan, membuat kesabaran Azlan yang setipis tisue seketika hilang. "Auh ... sakit!!, lepaskan kakiku bajingan," berontak Qesya.
"Arrhhgg ... dingin," teriak Qesya yang di guyur air es oleh Azlan.
Dengan mata tajam, emosi, Qesya menatap suaminya penuh kebencian. "Apa kau sudah gila ha?, Kau menarik kakiku dari ranjang tak menghiraukan kepalaku yang bisa saja terluka karena terbentur, dan sekarang kau menyiramku dengan air dingin seperti ini?, Benar-benar manusia berwujud iblis," sentak Qesya dengan sangat emosi.
Bukannya marah di umpat sebagai manusia iblis, Azlan hanya menampilkan raut wajah dingin. "Sudah?, sekarang mandi dengan cepat, dan turun. Sampai 10 menit kau belum datang terima akibatnya sendiri," ancam Azlan yang sudah di ketahui Qesya itu bukan main-main.
Azlan keluar dari kamar mandi meninggalkan Qesya yang masih emosi dan kesal. Pandangnya benar-benar di penuhi kebencian mentap punggung Azlan yang menghilang di balik pintu.
"Benar- bengat gila. Sepertinya aku benar-benar harus lebih berhati-hati padanya, jika tidak sebelum aku menjalankan tujuanku, aku yang akan lebih dulu tiada," guman Qesya, pada dirinya sendiri setelah itu dia jantung mandi sebelum iblis itu datang dan kembali menyiksanya.
...#continue .......
...Kembali Update, semoga suka ya....
...See you the next episode....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1