
"Auh Mas, sakit ..." rintih Maira saat Arhand dengan kasar menghempaskan dirinya ke atas ranjang.
Dengan wajah penuh amarah, Arhand mendekati ranjang sedangkan Maira merangkak ketakutan menatap wajah merah amarah suaminya.
"Ma-mas," gagap Maira memegang tangan suaminya yang mencengram wajahnya.
"Apa aku terlalu memberikanmu kebebesan padamu, hingga membuatmu melupakan batasamu sebagai seorang istri, ha?!" sarkas Arhand.
Air mata Maira sudah membasahi pipinya. "Ma-mas ... auh ... sakit," rintih Maira saat Arhand semakin mencengram wajahnya.
"Apa kau tak sadar sudah memiliki seorang suami, kenapa kau tak menolak ke inginan Mama, ha?, Atau kau memang sengaja, karena juga menyukai Tuan Dirga, ha?!"
"Ti-tidak, Mas," ujar Maira berkata jujur sembari menahan rasa sakit.
"Tidak katamu?" comoh Arhand.
"Cih. Lalu apa maksud dari senyum tersipumu itu saat bertemu dengannya, ha?" sarkas Arhand penuh emosi saat mengingat kembali wajah tersipu malu Maira saat Azlan menyapanya.
"Mak-maksud, Mas?"
"Tak usah berpura-pura, aku sudah melihat bagaimana kamu berusaha menggoda, memcari perhatian dari Tuan Dirga, bahkan dengan sengaja kamu duduk dengan membuat lekuk tubuh terlihat jelaskan?" tuduh Arhand.
"Dan liatlah ini ( menunjuk pakaian Maira ), kau bahkan tak sekalipu memakai pakaian terbuka seperti saat jalan bersamaku, tapi saat kau tau ingin bertemu dengannya kau dengan sengaja memakai pakaian tebuka agar kau bisa memamerkan tubuhmu inikan padanya?"
Arhand tak hentinya mencemooh Maira dengan tuduhan-tuduhan yang begitu sadis dan kasar. "Tidak, Mas, aku-" ujar Maira ingin menjelaskan, namun lebih dulu di potong oleh Arhand.
"Kamu tau aku fikir, kamu jauh berbeda dengan wanita di luaran sana, ternyata aku salah kamu sama saja dengan mereka. Murahan!" sentak Arhand dengan sangat sadis.
Plak.
__ADS_1
Tamparan keras begitu nyaring di dalam ruangan itu, membuat suasana semakin mencekam. Maira menatap suaminya dengan tatapan tak percaya dengan rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Cukup, Mas!" sarkas Maira.
"CUKUP!" teriaknya lagi, menatap suaminya.
Maira menunjuk Arhand. "Aku selama ini sangat menghormatimu dan menghargaimu sebagai suamiku ...."
"Jika-" ujar Arhand ingin kembali berbicara tapi segera di potong oleh Maira.
"Aku belum selesai, Mas!" tegas Maira.
"Dan asal, Mas Arhand tau saat dulu Mas Arhand terus-menerus mengabaikan aku, tak pernah sedikitpun rasa di hatiku ingin menghianati dirimu sebagai suamiku, Mas. Tak terbesit sedikitpun, bahkan saat hati Mas Arhand ini ( menunjuk dada Arhand ) menyimpan nama perempuan lain bahkan sampai sekarang mungkin ( tertawa hambar ), tak sedikit pun di hatiku ini ( menunjuk dadanya sendiri ) rasa ingin menghianati dirimu, Mas, tak ada, dan itu semua hanya karena penghormatanku dan rasa cintaku padamu, Mas," ujarnya dengan menunjuk dan mendorong dada bidang suaminya kebelakang.
Arhand tak mengatakan apapun, Maira menatap suaminya yang diam membisu dengan deraian air mata yang membasahi pipinya, terlihat jelas rasa sakit di matanya. Cukup lama Maira menatap suaminya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" menahan tangan Maira yang ingin membuka kopernya.
Maira menatap suaminya. "Dan apa yang aku lakukan, Mas tau jelas apa alasanya. Aku tau Mas tidak akan melupakan pembicaraan kita sebelum pernikahan dulu, karena aku tau Mas punya daya ingat yang tinggi," ujar Maira, lalu kembali mengemas masuk ke dalam kopernya.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan mu pergi," ujar Arhand tegas, laki kembali memasukkan pakaian Maira kedalam lemari.
Mata tajam Arhand menatap istrinya, namun Maira membalas tatapan itu dengan tetapan yang begitu tajam pula. "Dan tidak akan ada orang bisa menghentikan diriku," sargasnya tegas.
"Uuhmm," berontak Maira saat Arhand dengan kasar menc*umnya dirinya.
"Iihss," ringis Arhand saat kedua bola pinpongnya kena sundulan lutut Maira.
"Mas, ingatlah ini aku bisa menerima sikap dingin dan datar Mas Arhand, tapi aku tidak bisa menerima bekas dari wanita lain," tegas Maira menunjuk Arhand.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Arhand tak mengerti.
"Apa maksudku, Mas tau betul itu," ujar Maira.
Flash back.
"Ma, aku akan tanya Mas Arhand dulu, biar bagaiamana pun Mas Arhand suami Maira," ujar Maira yang ingin meminta izin untuk pakai gaun yang di bilang sedikit terbuka itu.
"Baiklah, sayang, terserah padamu," ujar Ny. Arsy tersenyum lembut.
"Yah sudah Maira balik ke kamar dulu ya," ujar Maira lagi.
"Iya, sayang," ujar Ny. Arsy.
Maira keluar dari kamar mertuanya, namun saat melewati kamar tamu, tak sengaja ia melihat pintu kamar yang di tempati Anya terbuka, ia mendekat namun saat semakin dekat ia samar-samar mendengar suara aneh.
"Aahh, Honey ..." ini suara-suara aneh yang terus terdengar di balik kamar tamu, yang membuat hati Maira hancur.
Flash On.
"Dan ya ( kembali berbalik ), surat perceraian kita aku akan urus," ujar Maira lalu kembali berbalik berjalan ke arah pintu.
"Kok terkunci," guman Maira terus memutar knock pintu tapi tetap tidak bisa terbuka.
"Mas, buka pintunya aku mau keluar," marah Maira menatap suaminya yang duduk santai di sofa.
"Ambil sendiri," ujarnya mengulurkan remote kuncinya.
...#continue .......
__ADS_1
...Maaf baru update, Readers, semoga suka yah....
...See you the next episode....