Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Ban 57 Kedatangan Arhand ke Rumah Qesya.


__ADS_3

"Papa ..." ujar Qesya berlari menghamburkan diri kedalam pelukan Papanya yang sangat ia rindurkan.


"Hai, om," sapa Maira sopan, tersenyum manis.


"Hai, Nak," balas Papa Qesya, lalu mengalihkan pandagan ke stroller baby, dimana di isi bayi-bayi mengemaskan.


"Apa ini anak-anakmu?" tanya Papa Qesya lagi, mengusap pipi lembut putri Maira.


"Iya, Om. Mereka anak-anakku," jawab Maira santun.


"Wah, pada ganteng dan cantik banget," ujar Papa Qesya tersenyum lebar menatap bayi-bayi mengemaskan.


"Arsyad, saja yang ganteng. Arkhui gak, dia jelek," sahut Qesya menatap bayi kedua Maira penuh permusuhan. Walau tak mengerti Bayi kedua Maira sekaan dapat merasakan aura Qesya yang seakan mengeledeknya.


"Buuuaahh, hu hu hu," tangisnya segugukan.


"Oh, tidak sayang. Cucuk kakek ini juga sangat ganteng," ujar Papa Qesya mengendong Arkhui.


Arkhui berhenti menagis, ia menatap meledek pada Qesya, menjulurkan lidahnya, sekaan ingin mengatakan 'aku juga tampan, liat saja Papamu mengendongku dan memujiku tampan'.


"Mana ada?, Coba Aunty liat ( memegang wajah Arkhui ), ha gak ada ganteng-gantengnya kok, gantengan juga Arsyad. Iya, sayang?, Arsyad ganteng kan?" ujarnya yang membuat Arsyad tersenyum tapi tangisan Arkhui kembali pecah.


Maira mengambil anaknya, menenangkannya, membawah masuk anak-anaknya kedalam mobil, jika tidak sabahat dan putranya yang seperti tom and jerry tidak akan berhenti bertengkar.


......................


"Maaf, Tuan Anda tidak bisa masuk," ujar satpam rumah Qesya. Rumah Qesya walau sederhana, namun memiliki seorang satpam.


"Kenapa?, aku ini adalah kekasih Qesya. Aku ingin bertemu dengan kekasih ku," ujar Aditya memaksa masuk kedalam, tapi satpam nya tetap menghalangi Aditya yang ingin masuk.


"Maaf, Tuan, tapi Nona Qesya tidak memberikan pesan, lagi pula Nona tidak pernah membiarkan seseorang masuk kedalam, dan jika pun Nona ingin bertemu dengan seseorang dia lakukan hanya di luar, dan itu berlalu untuk siapapun itu. Jadi mohon jangan memaksa masuk," jelas Satpam, saat Aditya ingin memaksa masuk, Arhand menariknya menjauh sedikit.


"Hei. Kenapa kau membawahku kemari, ha, ... dan apa yang kau katakan tadi, kau kekasihnya?, Kalian pacaran?" kesal Arhand.


"Nanti aku jelaskan," ujar Aditya ingin kembali ke gerbang, tapi langsung di tahan oleh Arhand.


"Tidak. Jelaskan padaku sekarang, jika tidak kita akan pulang saja," ujar Arhand ingin tau sekarang.


Aditya menarik nafas dalam-dalam. "Hufh. Baiklah, itu memang benar aku menjalin hubungan dengannya, dan karena itu juga saat dia datang ke Los Angeles dulu, aku tak sengaja melihat foto-foto dan pesan dari Maira masuk kedalam ponselnya," ujar Aditya, dulu sempat melihat pesan dari Maira, menanyakan keberadaannya dan kapan ia kembali, sekaligus foto-foto saat mereka melakukan senang ibu hamil.


"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu, ha?" marah Arhand menatap tajam Aditya.


"Memangnya aku bisa menghubungi kalian?" ujar Aditya, kepancing.


"Iya, tapi-" ujar Arhand melemah, tapi langsung di serga oleh Aditya.


"Sudahlah lupakan itu semua. Yang terpenting adalah tujuan kita sekarang, bagaimana kita bisa masuk kedalam. Kamu mau kan segera bertemu dengan istrimu dan anakmu," ujar Aditya.


"Iya. Kamu benar," setujuh Arhand.


Mereka kembali mendekati gerbang rumah Qesya. "Pak, tolong buka pintunya aku ingin masuk kedalam. Saya punya keperluan penting dengan pacar saya," ujar Aditya memohon agar di bukakan gerbangnya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan sekali tidak berarti tidak. Lagi pula Nona tidak ada di dalam," tegas Pak Satpam.


"Dia pergi kemana?" tanya Aditya, tapi Satpam nya pergi begitu saja kembali ke poskonya.


"Hei, hei, Pak mau kemana?, kau belum menjawab pertanyaanku, jangan pergi," teriak Aditya tapi ucapannya tak di ubris sama sekali oleh satpam Qesya.


"Berhenti," ujar Qesya, pada supirnya.


Papa Qesya menoleh ke arah putrinya yang tiba-tiba meminta untuk menghentikan mobilnya, padahal mereka belum sampai. "Kenapa sayang?" tanyanya.


Qesya menoleh lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Pa," ujarnya, dengan menatap dua pria didepan gerbang rumahnya.


Maira mengikuti arah pandang Qesya, betapa terkejutnya melihat pria yang salama ini ia ingin lupakan tapi tak bisa berdiri di hadapannya. "Mas Arhand, Kak Aditya," gumam Maira, menatap suaminya dan pria yang selalu ada untuknya sebagai sosok seorang kakak.


Qesya menoleh kearah Maira, dimana mata Maira sudah di genagi sebuah air yang siap tumpah kapan saja. Qesya memegang tangan sahabatnya. "Kamu tenang saja, mereka tidak akan menemukanmu. Kamu turun dan diam disana ( tunujknya sebuah rumah kecil ), nanti satpam yang akan menjemputmu masuk kedalam rumah," ujar Qesya.


"Tapi, Qes ..."


"Sudah, kamu percaya padaku," ujar Qesya lagi, Maira keluar dari mobil di bantu oleh Qesya mengeluarkan semua anak-anak mereka.


"Kau turunlah, jaga mereka. Jika sampai terjadi sesuatu padanya kau tau akibatnya," ancam Qesya, pada supirnya.


Sang supir menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik, Nona," ujar supir Qesya, kemudian membantu mendorong bayi Maira kesebuh bangunan kecil, yang di ikuti oleh Maira di belakang.


Setelah melihat Maira berjalan menjauh, Qesya melajukan mobilnya mendekati gerbang rumahnya. Qesya turun dari mobilnya. "Honey, kau ada di sini?, Ngapain?" tanya Qesya, Aditya berbalik.


"Ah, tidak. Aku hanya datang ingin mengunjungimu tapi penjaga rumah kamu tidak mengizinkan aku masuk," ujar Aditya, nadanya juga masih sedikit kesal karena satpam rumah Qesya.


Qesya mengalihkan pandangannya menatap Arhand, yang menelisik setiap sudut rumahnya, melihat hal itu Qesya diam-diam tersenyum smirk. "Hai, Tuan Arhand," sapa Qesya.


Arhand mengalihkan pandangannya menatap Qesya lalu tersenyum membalas sapaan Qesya, namun Arhand dapat melihat tatapan tak suka padanya.


"Oh, iya, Honey boleh aku masuk kedalam?" tanya Aditya mengalihkan pandagan Qesya.


Mendengar keinginan kekasihnya, segera Qesya membuat alasan. "Maaf, banget Honey. Sepertinya jangan hari ini ya, soalnya Papa baru datang dan ingin istirahat penuh. Bagaimana kalau kau datang pas besok saja, pas hari lamaran kita," ujar Qesya, Aditya sedikit kecewa atas penolakan pacarnya, tapi saat melihat kedalam mobil ia bisa melihat pria paruh bayah sedang tertidur menyender kebelakang.


Tak ingin membuat sang kekasih merasa nyaman, Aditya memilih mengalah, lagi pula dia tak ingin terlihat tidak baik di depan calon mertuanya. "Baiklah. Kalau gitu aku pergi dulu. Besok aku akan datang lagi, tapi juga akan membawah mu," ujar Aditya, tak lupa ia memberika godaan kecil pada pacarnya.


Qesya tersenyum malu. "Aku akan menantikan hari itu," ujar Qesya.


Arhand mengepalkan kedua tangannya melihat tingkah mesra mereka.


"Ya sudah aku pulang," pamit Aditya.


Qesya menganggukan kepalanya. "Hum, bay."


Aditya menarik tangan Arhand masuk kedalam mobil, lalu pergi meninggalkan pekaragan rumah Qesya.


"Hufh ... untung sebelum aku turun aku sudah meminta Papa untuk berpura-pura tidur," ujar Qesya merasa lega, ia kembali kedalam mobilnya.


......................

__ADS_1


"Jadi mereka sudah ingin menikah. Aku mohon tuhan kuatkanlah hatiku," ujar Clarisa yang memasang penyadap suara di liontin gelang coupel pasangan Aditya dengan Qesya, jadi setiap ucapan Aditya bisa ia dengar melalui earphone miliknya.


"Ma, Mama kenapa nangis?" tanya Rian, masuk kedalam kamar Mamanya.


Clarisa menghapus cepat air matanya. "Hu, gak sayang. Mama tidak apa-apa," ujar Clarisa mengusap surai putranya.


"Kenapa Rian belum bersiap-siap mandi, buat ke sekolah, hum?" tanya Clarisa lagi, mengalihkan topik.


"Aku gak mau ke sekolah, aku mau temani Mama saja," ujar Rian naik keatas ranjang Mamanya.


"Rian tidak-" ujar Clarisa ingin marah tapi terpontong karena Azlan tiba-tiba masuk kedalam.


"Tidak apa-apa kalau Rian tidak mau sekolah hari ini, tapi besok harus pergi ya," ujar Azlan lembut.


Dengan cepat Rian menganggukkan kepalanya. "Iya, Uncle."


"Kalau gitu boleh Rian keluar sebentar, Uncle mau bicara sama Mama," ujar Azlan lagi meminta Rian keluar dulu.


"Mau bicara apa Uncle?" tanya Rian, penasaran.


"Urusan orang dewasa. Rian keluar sebentar ya?" bujuk Azlan pada keponakannya.


"Ok. Ma Rian keluar dulu ya," ujarnya pamit pada Mamanya.


Clarisa tersenyum. "Iya, sayang," ujarnya lembut, memaksakan senyumnya.


"Ada apa, Az?" tanya Clarisa berusaha bersikap biasa saja.


"Apa Kakak benaran mencintainya?" tanya Azlan to the point.


"Siapa?" tanya Clarisa pura-pura tak tau maksud dari pertanyaan adiknya.


"Kakak tidak perlu lagi berbohong padaku. Aku sudah tau semuanya, jadi aku mohon Kakak jujurlah padaku," pinta Azlan, yang bosan melihat senyum dan bahagia palsu yang selalu di tunjukkan oleh Kakaknya pada dunia luar.


Clarisa langsung berhambur ke dalam ke pelukan sang Adik. "Apa Kakak egois, Az?" tanyanya.


Clarisa menagis didalam dekapan Adiknya, ia sudah lama menyimpang rasa sakit itu dan baru sekarang ia bisa mmmencurahkan semuanya, membuatnya menumpahkan segala rasa sakit dihatinya yang menganggunya sejak satu tahun terakhir.


Azlan melepas pelukan Kakaknya, menangkup wajah Kakaknya. "No, Kak. Kakak gak egois, Kakak berhak mendapatkan kebahagain itu, dan aku jamin Kakak akan hidup bersama dengannya. Aku berjanji padamu," ujar Azlan dangan serius.


"Tapi bagaimana, bahkan dia sudah ingin melamar kekasihnya. Sudah tak ada lagi peluang, Az," ujar Clarisa kembali menagis.


Azlan mendekap kembali Kakaknya. "Jangankan melamar dia punya istri saja, akan ku buat istrinya meninggalkannya," ujar batin Azlan.


"Itu hanya sebuah lamaran, Kakak. Apapun bisa berubah," ujar Azlan lagi penuh misteri.


Clarisa menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam. "Sudahlah, Az, lebih baik kau berangkat kekantor," ujar Clarisa mengusir Adiknya keluar dari kamarnya, Azlan keluar dari kamar Kakaknya, menutup pintu kamar Kakaknya, namun sebelum menutup Azlan menatap kembali 1Kakaknya. "Aku benjaji Kak, kau akan mendapatkan cintamu. Apapun itu akan aku lakukan demi dirimu," batin Azlan, setelah itu ia menutup rapat pintu kakaknya, berangkat kekantornya.


...#continue ........


...Hai Readers, episode kali ini gak panjang sebagai penebus episode 55 yang pendek. Semoga suka....

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2