
"Tu-Tuan Muda," ujar seorang pilot dengan ketakutan karena Arhand menodongkan pistol di belakang lehernya.
"Jalankan pesawatnya, cepat!" perintah Arhand pada pilotnya.
Iya, Arhand nekad membantah Papanya, hanya untuk menyusul Maira ke Landon, mengancam pilot dengan menyandera keluarganya.
"Ta-tapi," ujar pilot ingin menolak karena tak ingin melanggar perintah Tuan Blanco, namun Arhand langsung menyerga ucapannya.
"Heii!!! ( sargasnya ), jika kau tidak menerbangkan pesawatanya, akan kupastikan istrimu dan anakmu akan menyusul nenek mereka," ujarnya Marah.
"Jangan Tuan Mudah," sahut pilotnya cepat.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, terbangkan cepat pesawatnya," sarkas Arhand lagi.
Sang pilot sedang berada dalam di lema antar mematuhi perintah Tuan Besar ataukah Tuan Mudanya, jika dia menerbangkan pesawatnya maka ia harus berhadapan dengan Tuan Besar Blanco namun jika ia menolak nyawa istri dan anaknya ada di tangan Tuan Muda Blanco.
Melihat sang pilot tak bergeming membuat Arhand mengeram kesal. "Apa lagi yang kau tunggu," marah Arhand saat pilotnya tak kunjung menerbangkan pesawatnya.
"Iy-iya, Tuan Muda," ujar pilot dengan gagap, menyalakan mesin pesawat.
"Aku mohon maaf, Tuan Besar," batin sang pilot, memejamkan matanya sebelum lepas landas.
"Maaf, Pa, tapi kali ini Papa tidak bisa menghentikan aku. Dan untuk masalah Anya, pasti akan aku selesaikan secepatnya," guman batin Arhand setelah pesawatnya lepas landas.
Di mension kediaman Arhand, Aditya sedang di hadapkan oleh Tuan Blanco, terlihat Aditya menunduk, tak berani menatap wajah Tuan Blanco yang terlihat marah, dari raut wajah Aditya sudah di pastikan dia sangat ketakutan sekarang, bahkan tangannya pun bergemetaran.
"Tatap Papa, Aditya!" ujar Tuan Blanco dingin, menatap tajam Aditya yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Apa kau tidak mengerti ucapan Papa kemarin❄?" tanya Tuan Blanco dingin, yang membuat Aditya terintimidasi dan ketakutan.
Kepala Aditya kembali tertunduk, ia benar-benar tak sanggup menatap wajah Tuan Blanco.
"Bukankah Papa sudah bilang tidak ada yang boleh menyusul dan menjemput Maira, lalu kenapa kau sangat berani menentang larangan Papa," emosinya.
"Pa ..." sahut Ny. Arsy, ingin menenagkan suaminya.
__ADS_1
"Mama, jangan ikut campur! ( tegas Tuan Blanco ). Karena Mama juga memiliki giliran," ujarnya datar melirik istrinya dengan ekor mata yang tajam, bak elang yang siap memangsa.
Seketika Ny. Arsy begitu sulit menelang ludahnya sendiri melihat raut wajah marah suaminya, jika sudah dalam mode begini dia sudah tak bisa membantah lagi.
Lama terdiam akhirnya Aditya mengangkat suara. "Maaf, Pa," ujar Aditya lirih, dan hanya satu kalimat itu yang berhasil lolos dari mulutnya, itupun terasa sangat sulit.
"Papa, sudah sangat menegaskan pada kalian semua kemarin, jika ada yang melanggar perintah Papa, maka orang itu akan berhadapan langsung dengan Papa, dan menerima hukuman," tegas Tuan Blanco.
Dengan menarik napas dalam-dalam Aditya memberanikan menatap Tuan Blanco. "Aditya mengaku salah, dengan ini Aditya minta maaf pada Papa karena Aditya sudah mengecewakan Papa, dan untuk itu pula Aditya sudah siap dengan segala apapun hukuman yang Papa berikan," ujar Aditya, yang memang sudah siap sebelum ia membantu Arhand.
"Baguslah, kau masih memiliki kesadaran atas kesalahanmu dan mengakuinya," ujar Tuan Blanco bangga karena putra masih bisa mengakui kesalahan dengan begitu tegas di hadapannya.
"Sebagai hukumannya, kau akan tinggal di Los Angeles ...."
Ny. Arsy terlihat tersenyum lega karena Aditya hanya di berikan hukuman ringan, namun senyuman itu sirna saat mendengar kelanjutan kalimat suaminya.
"... Dan kau juga di larang keras berhubungan, ataupun menemui Mamamu dan Arhand, dalam kurung waktu tak di tentukan, untuk itu Papa akan mencabut seluruh akses keluar masuk kamu dari Los Angeles, mulai besok," tegas Tuan Blanco.
Dada Aditya terasa gilu mendengar keputusan Tuan Blanco, ia tidak pernah membayangkan bagimana ia akan hidup tanpa berhubungan dengan keluarga ini, walau keluarga Blanco bukalah keluarga aslinya, tapi ia benar-benar menyayangi keluarga Blanco.
"Itu sudah menjadi keputusan Papa, dan keputusan Papa itu tidak bisa di ganggu gugat. Dan hukuman ini memang bukan hanya untuk Aditya saja, tapi untuk Mama dan juga Arhand karena kalian sudah melampaui batas dan perintah Papa," tegas Tuan Blanco, kemudian keluar dari ruagan kerjanya.
"Pa ... Papa tunggu," panggil Ny. Arsy mengejar suaminya.
Ny. Arsy mencakal tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan kecewa dan marah. "Sudah, Ma. Ini sudah menjadi keputusan Papa," tegas Tuan Blanco yang sudah bulat dengan keputusannya, dan tak ingin di bantah lagi.
Ny. Arsy menghapus air matanya menatap suaminya. "Baiklah, jika ini sudah menjadi keputusan Papa, maka dengarkanlah keputusan Mama juga. Jika Papa bersikeras menjauhkanku dengan putraku, maka Mama akan ikut bersamanya," tegas Ny. Arsy.
Keputusan istrinya membuat Tuan Blanco sedikit kaget, namun tak menunjukkannua. "Mama mau ikut?" tanya Tuan Blanco datar.
"Iya, Mama mau ikut," jawab Ny. Arsy tegas.
"Maka ikutlah, tapi ingat satu hal ini Ma, sejengkal saja kaki Mama melangkah keluar melewati pintu, maka pintu untuk menemui Papa akan tertutup untuk selamanya," tegas Tuan Blanco, yang membuat Ny. Arsy terganga tak percaya, tubuh Ny. Arsy diam membeku.
Mendengar keputusan Tuan Blanco dengan cepat Aditya memohon pada Tuan Blanco untuk tidak melakukan hal itu. "Tidak Pa!. Tolong jangan lakukan itu, karena Mama akan tetap di sini dan aku akan pergi ke Los Angeles sendiri, dan tidak akan kembali dan menemui kalian kecuali Papa memanggilku pulang," ujarnya cepat.
__ADS_1
Ny. Asry yang ikut tersulut emosi, menahan Aditya untuk tidak memohon. "Tidak, Sayang. Jika itu- "
"Tidak, Ma ... tolong jangan lakukan ini, aku moho. Mama akan tetap tinggal di sini, ok?. Mama tidak perlu khawatir aku akan baik-baik di sana," ujar Aditya meyakinkan Mamanya.
"2 jam lagi penerbanganmu," ujar Tuan Blanco datar.
"Pa ..."
Ny. Arsy ingin kembali protes Ny. Arsy, namun Aditya kembali menenangkan Mamanya. "Ma, sudah," ujarnya.
"Iya, Pa. Aditya akan pulang dan mengemasi barang Aditya," ujar Aditya, menatap orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Sedangkan Tuan Blanco langsung masuk kedalam kamarnya.
"Sayang, tolong jangan pergi, kamu gak usah dengerin apa kata Papa kamu, dia pasti hanya emosi. Nanti pasti dia akan baik-baik saja," pinta Ny. Arsy.
Aditya tersenyum menagkupkan wajah wanita yang sudah merawatnya. "Tidak, Ma. Aditya harus pergi, ini adalah hukuman jadi Aditya harus menjalaninya. Bukankah ( menghapus air mata Ny. Arsy ) Mama selalu mengajarkan aku dan Arhand untuk selalu mempertanggung jawabkan perbuatan kami, jika salah kita harus berani mengakuinya dan jika benar jangan menundukkan kepala kita, iya kan?, ujarnya menenangkan Mamanya.
"Tapi sayang, jika kamu pergi dan Arhand kembali apa yang harus Mama katakan padanya, ia pasti akan sangat marah," ujar Ny. Arsy tak ikhlas melepas putranya.
"Itu urusan Mama," ujar Aditya becanda, memeluk Ny. Arsy, namun ia langsung mendapat tabokan dari Ny. Arsy.
Plak.
"Kamu, Mama lagi serius ini, bisa-bisanya becanda," kesal Ny. Arsy, dengan terkekeh kecil.
Wajah Aditya kembali serius dan mantap ke depan. "Kami sudah membahas ini tadi malam, jika Papa tau semua ini maka kami sudah siap apapun hukuman yang Papa berikan," ujarnya, yang memang semua ini sudah mereka bahas kemarin malam, namun hukuman ini tak pernah terlintas dari pikiran mereka.
"Sudah ah, Aditya harus kembali dan berkemas sebentar lagi jadwal penerbanganku," lanjut Aditya, dan kembalj memeluk Mamanya dengan sangat erat, lalu pergi tanpa mengatakan apapun ataupun hanya berbalik menatap wajah Ny. Arsy. Ia berlari kecil keluar dari rumah itu, dan berbalik sebentar saat tepat berada di depan kamar Tuan Blanco.
"Pa, aku pergi," ujarnya dalam hati, dan tersenyum karena melihat Tuan Blanco menatapnya dari bali tirai.
...#continue ........
...Seperti bisa hanya ingin mengingatkan, kika suka tinggalkan jejeknya ya, Readers....
...See you the nex episode. Enjoy your Read....
__ADS_1