
"Kenapa, Nyonya belum keluar-keluar juga," khawatir Maid yang selalu menemani Maira dan menghiburnya.
"Tuan Aditya tolong ketuk pintunya," pintanya pada Aditya.
"Apa Maid, ingin tubuhku tak memiliki kepala lagi?" ujar Aditya, juga takut pada Arhand.
"Semoga, Tuan Muda tak menyakiti Nyonya," ujar Maid hanya bisa memohon doa, untuk Nyonyanya yang sudah seperti putrinya sendiri.
"Iya, semoga saja," timpal Qesya.
Di kamar tamu Anya terlihat sedang menelpon dengan seseorang. "Semuanya berjalan lancar, sesuai rencana," ujarnya tersenyum penuh kemenagan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya seorang di balik telponnya.
Dengan kesal Anya mengumpat orang itu. "Hei!, kami itu seorang CEO apa kamu tidak bisa berfikir, ha. Ya jelaslah kamu itu harus bisa menjadi obat untuknya dan akupun begitu dengan begitu aku mendapat Arhand dan kamu mendapat cintamu," sarkasnya.
"Hallo, halo, Az," kesalnya saat orang itu yang ternyata Azlan, langsung mematikan sambungan telponnya tanpa mengatakan apapu.
Tut, tut, tut.
"Dasar, pria menyebalkan," umpatnya melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Eh, ada tamu rupanya," ujar Ny Arsy baru datang dan langsung heboh melihat Qesya duduk di sofa.
Qesya berdiri, menundukkan kepalanya sedikit sebagai sopan santunnya. "Selamat siang nyonya," ujarnya sopan dengan tersenyum.
"Ah, manisnya. Girlfriend Aditya?" tanya Ny. Arsy tersenyum merekah.
"Ha, Bukan," jawab Qesya.
"Iya, Ma," ujar Aditya bersamaan dengan Qesya.
__ADS_1
Qesya menatap tajam Aditya namun Aditya berpura-pura tidak melihatnya, menatap yang lainnya.
Ny. Arsy tersenyum menatap Qesya, ia mengusap lengannya. "Kamu tidak usah malu-malu gitu, sayang. Tante tidak masalah kok, lagi pula kamu itu cantik dan sangat cocok dengan putraku yang sudah lama karatan ini," ujar Ny Arsy santai memukul lengan Aditya.
Sedangkan wajah Aditya jangan di tanya, ia begitu malu saat Ny. Arsy mengatakan dirinya pria karatan. "Ma ..." protesnya.
"Memang benar, kan?" ujar Ny. Arsy lagi yang membuat Aditya tak bisa berkata-kata lagi.
"Ayo duduk dulu, sayang," ujarnya lembut menuntung Qesya kembali duduk di tempatnya.
"Maid, tolong ambilkan minuman untuk calon menantuku," ujar Ny. Arsy lagi pada Maid yang tak henti-hentinya menatap ke lantai atas.
"Baik, Nya," ujarnya lalu pergi ke dapur mengambil minuman untuk Qesya.
"Tuan, aku mohon katakan yang sejujurnya pada Mama anda," mohon Qesya pada Aditya, untuk menjelaskan siapa dirinya.
"Aku tidak mau. Kamu saja," tolak Aditya dengan santai.
Qesya tersenyum canggung. "Ha, tidak apa-apa, Nyonya," ujarnya.
......................
"Mas, tolong lepaskan aku," pinta Maira, dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Arhand.
Ya, saat Maira akan mengambil kunci, dengan cepat Arhand menarik tangannya hingga ia jatuh di atas pangkuan suaminya.
Arhand mengelengkan kepalanya. "Tidak."
Drrttt.
Drttt.
__ADS_1
Drttt.
Ponsel Arhand terus berbunyi tanpa henti, dengan tag nama Anya.
"Tuh Mas, Anya terus menelponmu temui dia dan lepaskan aku," berontak Maira.
Prenk.
"Astaga, Mas. Apa yang Mas lakukan?" tanya Maira kaget, ia menatap bagian-bagian ponsel Arhand yang berserakan di lantai.
"Mas lepaskan aku!" bentak Maira, namun Arhand semakin Menguatkan pelukannya.
"Tidak!. Dan tidak akan pernah," ujar Arhand dengan sangat tegas.
"Kamu jangan egois, Mas," sarkas Maira lagi.
"Arrhh ( membanting barang di atas meja )... kenapa ponselnya sekarang tidak aktif?, apa yang mereka lakukan," ujar Anya penuh emosi.
"Itu suara apaan?" tanya Qesya, sedikit kaget.
"Tak perlu di hiraukan itu. Itu hanya Mak lampir yang sedang mencari sisirnya," celetuk Ny. Arsy pada Qesya.
"Aku tau, Arhand kamu tidak akan membiarkan Maira pergi. Kamu kira Mama tidak tau pembicaraan kalian sebelum pernikahan terjadi," batin Ny. Arsy menatap lantai atas.
"Dan untukmu wanita parasit ( menatap kamar tamu ), biarpun kau terjungkal balik di dalam sana, Arhand tidak akan keluar dari kamar dan menemuimu, karena tugasnya adalah menjaga Maira agar tidak pergi." batin Ny. Arsy.
"Mama, benar-benar sangat mirip mertuanya, licik dan tau kapan bisa menggunakan kartu As-nya," batin Tuan Blanco menatap istrinya dengan gelengan kepala.
"Pa, jangan mengumpat, Mama," ujar Ny. Arsy lewat telepaty hanya menatap mata suaminya.
...#continue .......
__ADS_1
...Selamat menikmati. Sampai ketemu di Episode selanjutnya....