Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 47 Kepergian Aditya


__ADS_3

"Ngapain dia kesini?, apa jangan-jangan mereka janjian ketemu di sini?, Kurang ajar!!" kesal Arhand menatap tajam kearah depan, di mana Azlan berdiri dan terlihat berbicara dengan seseorang.


"Apa kau sudah mendapatkan titik orang yang ku minta?" tanya Azlan pada anak buahnya. Azlan tak menyadari keberadaan Arhand.


"Iya, Tuan. Saya sudah mengirimnya pada Tuan, silahkan periksa email Anda," ujar orang tersebut sopan pada Azlan.


"Ok. Kerja bagus," ujar Azlan setelah memeriksa emailnya, dan melihat titik keberadaan Maira.


Buck.


Suara bogeman mengema di bandara internasional of London, membuat para pengunjung berhenti dan menatap ke arah mereka.


"Auh, Tuan Blanco?" ujar Azlan memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat bogem yang keras dari Arhand.


"Apa-apaan ini Tuan Blanco, kenapa Anda secara tiba-tiba-" ujarnya terpotong, karena Arhand kembali melayangkan bogem pada wajah Azlan.


Buck.


Azlan mengusap sudut bibirnya yang berdarah, menatap Arhand yang menatapnya tajam, dan dingin. "Aku peringatkan padamu, jauhi istriku!, kalau tidak-" ancam Arhand tapi segera di serga oleh Azlan.


"Kalau tidak, kenapa Tuan Blanco?" provokasi Azlan, kembali berdiri dengan tegak, membalas tatapan tajam Arhand dengan wajah dinginnya juga.


Arhand mengepalkan keduanya tangannya menatap Azlan yang memprovokasi dirinya. "Aku akan membunuhmu!" ancam Arhand lagi, dengan aura dinginnya.


"Dan aku tidak takut!" sahut Azlan tak kalah dingin dari Arhand.


Semua mata memandang mereka, bahkan sebagian dari wanita-wanita yang melihat mereka tertarik dan kagum dengan aura mereka, yang menurut merekan sangatlah cool.


Azlan menyinggungkan senyuman. "Wanita secantik Maira, sangatlah tidak pantas dengan pria sepertimu, yang hanya bisa memberikan luka dan sangat egois, dan satu lagi pria arogan," ujarnya.

__ADS_1


"Brengsek!!" ujar Arhand dengan mengepalkan kedua tangannya.


Buck.


Buck.


Perkelahian di antara mereka tak terelakkan, dan itu membuat semua orang mengerumuni mereka yang membuat bandara macet.


"Ada apa ini?" tanyak seorang polisi wanita, menatap keduanya, setelah berhasil memisahkan mereka.


"Saya pun kurang mengerti ada apa, tapi pria ini tiba-tiba langsung menyerang saya," ujar Azlan dengan menatap dingin Arhand.


"Lepaskan aku," ujar Arhand melepaskan tangannya dari polisi.


"Pak tolong tenang. Karena jika Anda bersikap seperti ini kami akan menahan Anda!" tegas polisi wanita itu.


"Apa kau berani menahanku, ha!!!, kau tidak tau aku siapa?" sentak Arhand emosi.


"Sekarang bubar, atau kalian ku bawah ke kantor polisi," ujarnya lagi pada dua pria dingin itu.


Arhand yang emosi ingin kembali mengamuk, tapi langsung di tahan oleh Daniel. "Tuan, Tuan, sebaiknya kita pergi, sangat tidak baik jika ada berita tentang Anda, yang mengatakan bahwa Anda mengekang seseorang dengan kekuasaan Papa Anda, dan itu dapat mencemari nama baik orang tua Anda," ujarnya, yang membuat Arhand tersadar dan mulai mengontrol emosinya, dan sebelum pergi Arhand memberikan tatapan dingin dan tajam ke arah Azlan.


Azlan ikut pergi dari sana, bersama dengan orang-orangnya.


"Kalian liat apa?, bubar!" tegas polisi wanita itu pada kerumunan orang yang menonton perkelahian tadi.


"Dasar pria-pria pengecut, berkelahi kok di depan umum. Berkelahi itu di atas ring, baru laki," ujar polisi wanita itu menatap punggung Arhand dan juga Azlan yang berjalan berlawanan arah.


"Ayo kembali bertugas, aku tidak mau ada yang terlewat," ujarnya lagi pada anak buahnya, karena mereka datang ke sana untuk mencari seseorang yang membawah sebuah bukti dari kasus yang ia tanganin.

__ADS_1


"Siap, komandan," ujar para rekannya serentak.


"Nel, apa kita sudah akan sampai?" tanya Arhand tak sabar ingin bertemu dengan sang istri.


"Sebentat lagi, Ar. Bersabarlah," sahut Daniel masih menyetir mobil dan memperhatikan jalan.


"Cepatlah," cercah Arhand tak sabaran.


"Iya, ini juga sudah sangat cepat," kesal Daniel karena Arhand daei tadi terus mencerca dirinya, minta melajukan mobil dengan cepat padahal sudah sangat cepat.


......................


"Anda jangan bercanda, Tuan. Aku tau ini pasti modus Anda, kan?" ujar Qesya tak percaya dengan omongan Aditya, yang katanya akan pergi dan tak akan kembali dalam waktu yang sangat lama bahkan bisa juga tidak pernah lagi kembali ke negara ini.


"Aku sedang tidak becanda, penerbanganku sebentar lagi. Jadi aku mohon apakah aku boleh melakukannya?, aku janji hanya sebentar saja," mohon Aditya pada Qesya.


Qesya cukup lama berfikir sembari menatap wajah Aditya yang penuh harap, sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya pelan.


Melihat persetujuan Qesya, Aditya dengan cepat menarik Qesya kedalam pelukannya, ia menekap Qesya dengan sangat erat. Qesya membeku dalam dekapan Aditya, bagaimana tidak ia dapat merasakan detak jantung dan tubuh bergetar Aditya, yang bisa yakinin bahwa Aditya sedang menangis.


Aditya melepas pelukannya setelah cukup lama memeluk Qesya. Aditya mencakup wajah Qesya. "Selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik. Dan maaf aku melakukannya terlalu lama," ujarnya dengan mengecup dahi Qesya cukup lama, lalu ia berpergi tanpa berbalik lagi.


Qesya memandangi punggung Aditya yang berjalan semakin jauh dari pandangannya, dekapan dan kec*pan yang di berikan oleh Aditya membuat perasaannya sekarang campur aduk. Tanpa terasa air matanya menetes, dan dadanya terasa sesak ada perasaan tak rela melihat kepergian Aditya. Semua bayang-bayang kenagannya bersama Aditya, mulai dari saat Aditya marah padanya, sikap dingin datarnya kembali berputar di otaknya.


Anak buah Aditya membukakan pintu, lalu kembali menutup pintunya setelah Aditya masuk.


"Tunggu ... " teriak Qesya yang berlari keluar, namun sayang sekali mobil Aditya sudah melaju menjauh, dan ia hanya bisa menatap mobil Aditya yang semakin menjauh.


...#continue .......

__ADS_1


...Seperti biasa hanya ingin mengingatkan jika suka tinggalkan jejek ya, Readers....


...See you the next episode....


__ADS_2