
"Uncel ..." panggil Rian pada Azlan.
Azlan melirik keponakannya sekilas. "Hem, kenapa boy?" tanyanya lembut.
"Rian, sedih ..." lirih Rian dengan kepala menunduk.
Melihat keponakannya tertunduk dengan raut wajah sedih, Azlan membawah Ruan kedalam pangkuannya. "Sedih kenapa, hum?, katakan pada Uncle ..." ujar Azlan mengusap surai lembut keponakannya.
Dengan kelapa tertunduk Ruan kembali berujar lirih. "Rian, sedih karena Mama sudah tidak sayang sama Rian ...."
Sontak pernyataan keponakannya membuat Azlan sedikit kaget, baru kali ini dia mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut Rian. "Kenapa bilang gitu?, Mama sayang kok sama Rian. Bahkan sangat sayang malah," ujar Azlan dengan lembut, namun Rian mengelengkan kepalanya pelang.
"Tidak. Jika Mama Sayang sama Rian, lalu kenapa Mama sudah tidak pernah lagi menemani Rian bermain. Mama juga tidak pernah membacakan dogeng untuk Rian. Mama juga tidak pernah lagi mengantar Rian ke sekolah, menghadiri acara orang tua murid sekolah, semuanya terus di lakukan oleh Grandma," ujar Rian mengeluarkan setiap apa yang dia rasakan selama beberapa bulan terakhir.
Curhatan Rian, membuat hati Azlan terhenyu mendengarnya. "Kakak apa yang kau lakukan, kau mengabaikan putramu yang sejak dulu selalu menjadi alasanmu untuk terus hidup. Tapi sekarang? Kau mengabaikan putramu, apa segitu cintanya Kakak sama asisten Arhand itu," batin Azlan.
"Sepertinya aku memang harus melakuan semua itu," lanjut batin Azlan.
Azlan kembali mengusap kepala Rian. "Kamu tenang saja sayang, Mama itu sayang sama Rian, mungkin saja belakangan ini Mama banyak kerjaan, jadi Rian yang sabar ya, pasti setelah Mama tidak punya banyak kerjaan lagi, Mama akan menemani Rian ke sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, dan membawah Rian bermain lagi seperti dulu," ujar Azlan menghibur keponakannya, yang di anggukki dengan sangat pelang.
"Iya Uncle," ujar Rian lirih.
......................
Arhand terus memeriksa setiap sudut kamar Qesya yang tidak ada apa. "Maira, aku tau kau disini. Ku mohon maafkan aku. Di mana kau, tolong muncullah," mohonya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Maira ..." teriaknya terus tapi tetap tak mendapat sahutan apapun.
Tangan Maira terulur kedepan memegangi wajah lesu suaminya, hatinya teriris melihat air mata suaminya, ia ingin keluar menampakkan diri, tapi hatinya sangat sakit mengingat perkataan suaminya dulu, yang mengatakan diri tak beda jauh dengan seorang wanita ja*lang yang sering kali menjajankan tubuh mereka, pada hal sebelum pernikahan dia sudah mengatakan dengan sangat jelas, jika dia akan bertahan dalam pernikahan apapun terjadi, tapi dia akan pergi saat itu juga saat kehormatan dirinya sebagai seorang perempuan di pertanyakan.
Takut sahabatnya menjadi lebih sakit melihat semua ini, Qesya kembali menunya Arhand untuk keluar dari kamarnya. "Tuan Arhand, Ny. Maira tidak ada disini, ku mohon tolong keluarlah," ujar Qesya.
Selain itu ia takut Arhand menyadari tembok palsu di kamarnya, sedangkan ia sudah berjanji bahwa Arhand tidak akan pernah menemukannya kalau dirinya belum siap, Qesya tak takut tanpa alasan, karena walau bagaimana pun Arhand itu bukanlah orang sembarangan dia pasti bisa merasakan yang palsu dan yang asli.
Qesya yang terus memikirkan bagaimana caranya agar semua orang meninggalkan ruangan itu, malah Arkhui terus berceletuk dan menunduk ke arah dinding "Mama, Mama, Mama ..." ujar Arkhui menunjuk tembok, namun sebelum Arhand melihat kearah sana dengan cepat Qesya memegang tangan Arkhui agar tidak menunjuk ke tembok.
"Ini juga simulut mercon, kenapa tidak bisa berhenti bicara," gerutu batin Qesya, menatap tajam Arkhui agar diam.
Segera Qesya mengambil ahli Arkhui dari gendongan Arhand. "Ah, sayang, Mama kan ada di tempat yang jauh," ujarnya mencium dan memegang tangan Arkhui agar tidak menunjuk ke tembok lagi.
"Maaf, Tuan. Tapi dia memang seringkali merindukan Mamanya yang sudah tiada. Dia adalah anak sahabat saya, tapi dia juga sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, iya kan sayang ( mencium Arkhui )?" ujar Qesya.
Melihat wajah Arhand dan Tuan Blanco yang seperti tidak percaya, Tuan Warston turunnya tangan. "Ayo Boy, sini sama Kakek ( mengambil ahli Arkhui dari Qesya ). Maaf, tapi apa yang di katakan Qesya benar, dia sering kali merindukan orang tuanya, makanya tak henti-henti menyebut nama Mamanya. Kita juga sudah tau bahwa kata pertama dari seorang anak terkadang Mama atau Papa," ujar Warston, ikut menyembunyikan keberadaan Maira. Sedangkan Maira kembali kaget mendengar perkataan Tuan Warston yang menyetujui alasan Qesya, yang menganggapnya meninggal.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan acara lamarannya, kalian juga sudah liat di dalam sini tak ada apa-apa," lanjut Tuan Warston.
"Maafkan putraku, Wars. Kamu tau sendiri kan," ujar Tuan Blanco tak enak.
Tuan Warston tersenyum mengangguk. "Iya, aku mengerti. Mari kita lanjutkan lamarannya saja," ujarnya mempersilahkan semua orang keluar dari kamar Qesya.
"Ayo, Ar," ajak Tuan Blanco menarik tangan Arhand, namun Arhand menolak.
__ADS_1
"Tidak Pa, aku yakin istriku ada disini, aku bisa merasakannya, dan dia ( mengambil kembali Arkhui dari gendongan Tuan Warston ), ini adalah putraku. Aku bisa merasakannya juga Pa," ujar Arhand yakin, dengan matanya kembali menyusuri setiap sudut kamar Qesya.
Tuan Blanco mengambil Arkhui, kemudian mengembalikannya pada Tuan Warston. "Maafkan putraku. Dia sangat merindukan istri dan anaknya, makanya bersikap seperti ini," jelas Tuan Blanco menarik paksa Arhand keluar dari kamar Qesya.
Setelah mendapat tanggal kepastian pernikahan Qesya dan Aditya, yang akan di lakukan satu minggu lagi. Waktu dan tanggal di tentukan oleh kedua mempelai sendiri. Keluarga Blanco pulang menuju kerumahnya.
Di mobil Arhand marah pada sang Papa yang menarik dirinya dengan paksa. "Kenapa Papa tadi menarik paksa Arhand keluar sih, padahal Arhand sangat yakin kalau bayi itu adalah anak Arhand, dan juga di dalam kamar itu Arhand bisa merasakan kehadiran istriku. Tapi Papa malah menarik ku keluar," emosinya.
"Papa tau. Papa juga tidak buta, dan Papa juga bisa merasakan. Jika Anak itu adalah anakmu dari wajahnya saja dia sangat mirip sama kamu," ujar Tuan Blanco.
"Lalu kenapa Papa tadi malah mengembalikannya pada Tuan Warston, dan menarik Arhand keluar," marah Arhand karena berfikir Papanya sengaja ingin memisahkannya dengan anak dan istrinya.
Tuan Blanco langsung menatap putranya. "Karena kau tidak akan bisa menemukan orang yang di sembunyikan oleh Warston. Mama masih ingatkan saat kita mencari sahabat Mama dulu, seberapapun kita berusaha tidak akan bisa menemukannya, sampai dia sendiri yang mengingingkan sahabat Mama muncul ke publik baru setelah itu kita tau keberadaannya," ujar Tuan Blanco mengingat kembali kelakuan Warston yang menyembunyikan sahabat Ny. Arsy karena tak mendapat restu dari orang tua pacarnya.
Ny. Arsy mengangguk, dia ingat betul bagaimana orang tua sahabatnya mencari, bahkan sampai PBI turun tapi hasilnya tetap nihil.
"Lalu maksud Papa, Arhand harus menunggu gitu. Tidak. Arhand sudah tidak bisa menunggu lagi," ujar Arhand tak ingin menunggu lagi dan berpisah lebih lama lagi dengan istrinya dan anak-anaknya.
Bosan mendengar amarah putranya yang terus membludak Tuan Blanco mejadi ikut kesal. "Kamu harus menunggu, jika tidak Papa bisa pastikan selamanya kamu tidak akan bisa menemukan istrimu," tukas Tuan Blanco dengan yakin.
"Warston itu adalah ilmuwan, pencipta, dan ahli dalam stategi, sekaligus keahliannya dunia IT tidak bisa di ragukan, Jadi kau jangan sampai salah gerak," ujar Tuan Blanco memperingatkan putranya, yang sudah sangat mengenal Warston, Ny. Arsy menyetujui perkataan suaminya.
Melihat putranya terdiam, Tuan Blanco menepuk pundak putranya. "Dengarkan Papa kali ini. Kamu tenang saja Papa sudah punya rencana, agar kau bisa bertemu istrimu. Dan yang terpenting sekarang istri dan anak-anakmu itu sangat aman sekarang," ujar Tuan Balnco menyakinkan putranya. Arhand tak lagi membantah dan mengikuti ucapan Papanya, dia juga sedikit banyak tau tentang Warston.
...#continue .......
__ADS_1
...Jangan kula jejaknya, Readers....
...See you the next episode....