
Aunty Cantikkk."
Maira menoleh ke samping dan melihat Rian berlari kecil ke arahnya. "Eh, Rian."
"Aunty, Lian kangen sama Aunty Cantik," ujar Rian memeluk erat kaki Maira.
Maira menyamakan tingginya. "Really?"
Rian mengangukkan kepalanya. "Iya."
"Hai, Tuan Blanco," sapa Azlan namun Arhand tak menghiraukannya, hanya menampilkan wajah datarnya itu.
"Hai, Maira," sapa Azlan pada Maira.
Maira kembali berdiri. "Hai, Tuan Azlan," sapa Maira balik sembari tersenyum.
"Senang bertemu kembali," ujar Azlan lagi.
Maira mengangguk kecil. "Senang bertemu kembali."
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Azlan pada Maira.
"Ya, silahkan, Tuan Azlan. Mau tanya apa?" tanya Maira tersenyum.
Sedangkan Arhand yang melihat interaksi itu tak tau kenapa dadanya semakin naik turun, terasa sesak.
"Anda terlihat sangat cantik malam ini. Bahkan ke datangan Anda membuat suasana pesta menjadi ricu dengan pujian untuk Anda," ujar Azlan dengan jujur.
Maira menunduk tersipu malu. "Alhamdulillah. Terima kasih, Tuan Dirga," ujarnya kembali menegakkan kepalnya tapi wajahnya tak bisa menyembunyikan rona merahnya, yang semakin membuatnya terlihat sangat cantik.
"Auh, Mas," rintihnya saat pergelangan tangannya di tarik paksa Arhand pergi dari sana.
"Uncle, Aunty cantiknya kenapa di bawah pergi?" tanya Rian pada Azlan.
Azlan memandangi Maira yang berjalan dengan sempoyan karena langkah lebar Arhand.
"Rian kamu duduk di sini ya, tungggu Mama. Uncle mau menyusul Aunty Cantiknya dulu," ujar Azlan pada keponakannya.
Rian menganggukan kepalanya. "Iya, Uncle."
................
Arhand membuka pintu mobil dengan kasar. "Masuk," ujar Arhand dingin.
Maira masuk kedalam mobil dengan air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.
"Tunggu," ujar Azlan.
Arhand menghentikan langkahnya, dan menatap datar Azlan yang berjalan ke arahnya.
"Maaf Tuan Blanco, tapi kemana Anda ingin membawa Maira pergi?" tanya Azlan dengan wajah datar.
__ADS_1
Arhand menatap tajam Azlan. "Terserah padaku, mau aku bawah kemana. Dia itu istriku," ujar Arhand dingin dan membuka pintu mobilnya.
"Tunggu," cegat Azlan.
"Minggir," ujar Arhand dingin lalu membuka pintu mobilnya dengan kasar membuat tangan Azlan terlepas.
Arhand masuk ke dalam mobilnya, dan langsung pergi dari sana.
Brum ...
Azlan ingin mengejar, tapi dia mengingat Kakaknya masih berada di dalam pesta, membuatnya kembali masuk.
"Ma-mas," ujar Maira ketakutan karena Arhand mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Aaahhh, Ma-mas," teriaknya saat hampir saja menabrak sebuah truk.
Maira berpegangan kencang, ia juga menutup matanya sampai sebuah tangan menariknya keluar dari mobil.
"Auh ... " rintihnya karena Arhand kembali menarik pergelangan tangannya dengan kuat.
Arhand menarik Maira masuk ke dalam mension dengan kasar. Banyak Maid menatap mereka tapi tak ada yang berani berkata dan mencegah.
Buck.
Maira terlempar di atas tempat tidur dengan sangat keras. Arhand menatap dingin Maira yang meringis ke sakitan.
Arhand berbalik keluar dari kamar dengan menutup pintu kamar kasar.
Duaorr.
"Hiks, hiks, hiks ...."
Arhand berjalan ke pintu dengan wajah yang terlihat begitu emosi, membuat para Maid ketakutan melihatnya.
"Itu Arhand?, Apa mereka sudah pulang?, tapi mereka kan baru saja pergi kenapa sudah kembali saja, dan wajah Arhand juga terlihat sangat marah. Apa ada sesuatu yang terjadi, yah?" gumam Ny. Arsy melihat putranya yang sangat emosi perjalan keluar rumah.
Ny. Arsy menaiki tangga, dan berjalan ke arah kamar menantunya. "Sayang," ujarnya membuka pintu. Betapa terkejutnya saat melihat keadaan menantu kesanyangannya.
"Eh, Mam," ujar Maira menghapus air matanya, ia juga bangkit dari ranjang.
Ny. Arsy berjalan mendekati sang menantu. "Kamu nangis, Sayang?" tanya lembut memegang pipi Maira.
Maira tersenyum, mengelengkan kepalanya. "Engak kok, Mam," ujarnya berbohong.
"Lalu kenapa mata kamu sembap, hum?" tanya Ny. Arsy lagi dengan sangat lembut.
"Oiya, Mam, ada apa?, Apa ada sesuatu?" tanya Maira mengalihkan pembicaraan.
"Kamu belum jawab pertanyaan, Mama loh," ujar Ny. Arsy.
"Maira tidak apa-apa kok, Mam. Maira baik-baik saja," ujar Maira lagi memaksakan tersenyum.
__ADS_1
"Mata kamu tidak bisa berbohong, Sayang. Katakan pada Mama, apa Arhand menyakitimu lagi?" tanya Ny. Arsy lagi.
Maira mengengam tangan mertuanya. "Ngak kok, Mam. Percaya akad Maira."
"Benaran?"
"Iya, Mam. Mama tidak perlu khawatir, Maira baik-baik saja. Mama mending ke kamar, Papa pasti sudah mencari Mama," ujar Maira.
"Baiklah. Tapi kalau kamu ada masalah atau apapun itu, bicara sama Mama yah," ujar Ny. Arsy lagi.
"Iya, Mam."
"Kalau gitu, Mama ke kamar dulu," ujar Ny. Arsy sembari mengelus pipi menantunya.
"Biar Maira antar," ujar Maira.
"Tidak perlu, Sayang. Kamu istirahat saja," ujar Ny. Arsy lembut mengelus surai Maira dengan lembut.
Maira tersenyum hatinya menghangat. Inilah salah satu alasan ia bertahan dengan pernikahannya. "Baiklah, Mam," ujar Maira tersenyum.
................
"Tuan, ada apa?, kenapa Anda meminta saya menemui Anda?" tanya Aditya duduk di samping Arhand.
"Temani aku minum. Dan jangan panggil aku Tuan, ini di luar jam kerja," ujar Arhand meneguk minumannya. "Tuangkan untuknya," ujarnya pada Bartender.
Bartender menuangkan minuman untuk Aditya. Aditya mengambil gelasnya ia menatap Arhand.
"Apa ada masalah?" tanya Aditya langsung, karena ia tau jika Arhand datang ke club saat dia memiliki masalah ataupun sedang sangat emosi.
"Tidak ada," ujar Arhand datar, ia kembali menegak minumannya.
Gluk.
"Hai, tampan," goda seorang wanita seksi.
"Singkirkan tanganmu," ujar Arhand dingin, matanya berubah sangat tajam saat wanita itu dengan langcangnya membuka kancing atas kemeja Arhand dan tangannya bermain di sana.
"Kalian pergilah, jangan mengganggunya," ujar Aditya datar menatap kedua wanita seksi itu.
Mereka pergi karena tatapan datar Aditya. Arhand minum dengan sangat banyak, gelasnya tak pernah kosong.
"Anda terlihat sangat cantik malam ini. Bahkan ke datangan Anda membuat suasana pesta menjadi ricu dengan pujian untuk Anda."
Kalimat itulah yang terus berputar di fikiran Arhand, dan wajah merona istrinya saat di puji oleh Azlan.
Prannkk.
"Astaga. Arhand. Apa yang kamu lakukan?" kaget Aditya saat tiba-tiba Arhand membanting gelasnya, dan botol minumanya.
Arhand bangkit dari duduknya, dan pergi dari sana meninggalkan Aditya. Aditya ikut bangkit dan pergi setelah menyelesaikan permasalah yang di buat Arhand.
__ADS_1
...#continue ......
...See you the next Episode, Readers....