
Maira mundur berjalan mundur saat, Arhand mendekatinya dengan raut wajahnya yang sangat emosi. "Ma-mas ... " ujar terbata-bata karena takut.
Arhand tak menghiraukan ketakutan istrinya, ia terus berjalan dengan tatapan tajam, sedangkan Maira terus berjalan ke belakang, dengan rasa takut di hatinya, ia bahkan tak mampu menatap mata suaminya.
"Ma-mas ...."
"Ada hubungan apa kamu bersamanya?" tanya Arhand dingin dengan mengkungkung Maira di meja kerjanya.
Maira yang mendengar pertanyaan suaminya, sontak menatap mata suaminya. "Mak-maksud, Ma-mas?, hu-hubungan?, hubungan apa?" tanyanya dengan suara yang bergetar, seperti ada rasa kecewa saat mendengar pertanyaan itu dari mulut suaminya sendiri.
"Arrhh ..." teriak Maira saat tiba-tiba Arhand mengeprak meja dengan kera.
Arhand dengan penuh emosi, mencengram dagu istrinya. "Dengar!, aku tidak peduli kamu punya hubungan apa dengannya, dan siapa pun itu. Tapi satu yang harus kamu ingat selalu, kalau kamu itu seorang, Nyonya Arhand Blanco. Jangan sampai karena hubungan gelap kalian, membuat orang-orang mencomot Blanco. Paham!" sarkas Arhand dingin. Arhand melepas dagu Miara yang memerah.
"Tapi, Mas, ak-aku ... " ujarnya ingin membela diri namun ucapan melayang begitu saja saat Arhand kembali mengeprak meja dengan kuat.
"Ahhh," teriak Maira memejamkan matanya, takut.
"Keluar!" ujar Arhand marah, dingin.
"Ma-mas ..."
"KELUAR!!" sarkas Arhand lagi dengan kembali mengeprek meja, dengan kuat.
Maira kembali menutup mata dan telinganya. "Ahhh ... hiks, hiks, hiks."
Maira keluar dengan air mata yang terus bercucuran di pipi mulusnya, ia berlari dengan cepat sembari memegangi hatinya yang terasa sangat sakit.
Maira duduk di bangku taman, yang tak jauh dari perusahaan suaminya. "Hiks, hiks, hiks, hiks ..." tangisnya tersedu-seduh, terdengar sangat pedih.
Di tengah tangisannya, Maira dikejutkan dengan sebuah boneka beruang besar.
"Hai ... La la la la ... Jangan nangis, jangan nangis, jangan nangis, nanti cantik hilang, hilang, hilang," ujarnya dengan melompat lompat, tak karuan.
Maira menatap Boneka Beruang yang terus jungkar jangkir, dan tanpa di sadari senyum terbit di bibir manis Maira. "Hehehe," kekehnya.
__ADS_1
Boneka Beruang itu, semakin jungkar-jangkir, melihat Maira sudah mulai tersenyum lagi. "Cantiknya kembali, kembali, kembali, kembali. Terus tersenyum, senyum, senyum. Sangat cantik, cantik, cantik," ujarnya terus menerus dan berulang kali.
Senyum Maira semakin mereka hingga berubah menjadi tawa. "Hahaha. Terima kasih, Boneka Beruang, kau telah mengjiburku," ujar Maira berdiri dan memeluk Boneka Beruangnya.
"Sama-sama, sama-sama, sama-sama. Jangan lagi sedih, sedih, sedih," ujar Boneka Beruang semakin jungkar jangkir setelah mendapat pelukan hangat dari Maira.
"Sulap, sulap, sulap," ujar Boneka Beruangnya.
"Sulap?, Maksudnya mau melakukan sulap?" tanya Maira.
Boneka Beruangnya, mengangukkan kepalnya dan bertepuk tangan. "Iya, iya, iya. Mau liat?, mau liat?, mau liat?" tanya Boneka Beruangnya lagi.
Maira tersebyum, mengangukkan kepalanya. Boneka Beruang itupun bertepuk tangan sendang,c dan berucap, "Tutup mata, tutup mata, tutup mata."
Maira memeramkan matanya, dengan senyum tipis di bibirnya. Selang berapa menit Maira berucap, "Apa sekarang boleh buka mata?"
"Boleh, boleh, boleh," ujar Boneka Beruangnya kesenangan, bertepuk tangan.
Maira perlahan membuka matanya. "Sulapnya mana?" tanyanya saat tak ada pertunjukan sulap yang di lakukan oleh Boneka Beruangnya, selain berdiri dengan bertepuk tangan.
Maira memenang telinga kanannya, dan mendapat sesuatu. "Ini?" tanyanya memenangi setangkai bunga, yang ia ambil dari balik telinganya.
Boneka Beruang dengan penuh antusias melompat lompat. "Bunga cantik, wanita cantik, bunga cantik, wanita cantik," ujarnya terus mengulang ucapannya.
Maira yang melihat tingkah Boneka Beruang, kembali mengguncang tawa manis Maira. "Hahahaha," tawanya, namun ia menghentikan tawanya saat seseorang memanggil namanya.
"Permisi, Nyonya Blanco," ujar Sesorang memanggil Maira.
Maira membalikkan badangnya, dan melihat assisten pribadi suaminya. "Ha. Aditya."
"Maaf, Nya, Tuan meminta saya menjemput Anda, kembali ke kantor," ujar Aditya dengan sopan.
Seketika mendengar kata 'Tuan' hati Maira terdetak lebih cepat, ada rasa takut di hatinya. "Tu-tuan?" ujarnya terbata- bata.
"Iya, Nya. Tuan ingin Anda kembali ke kantor," ujar Aditya kembali.
__ADS_1
"Tapi ada apa, Aditya?" tanya Maira.
Aditya kembali menjawab pertanyaan Nyonyanya dengan sopan. "Mohon Maaf, Nya, Saya juga kurang tau ada apa. Tuan hanya meminta pada saya untuk mencari Anda dan membawa Anda kembali ke kantor."
Maira yang tak ingin membuat suaminya kesal dan marah padanya, mengangukkan kepalanya. "Huem, Baiklah," ujarnya walau hatinya berdetak lebih cepat karena takut.
"Mari, Ny," ujar Aditya mempersilahkan Maira berjalan lebih dulu.
Sebelum pergi Maira kembali berbalik. "Bay, Boneka Beruang. Terima kasih karena sudah menghibur saya. Ini buat kamu," ujarnya kembali memeluk Boneka Beruangnya, dan memberikan beberapa lembar uang.
"Terima kasih, bay ..." ujar Boneka Beruangnya melambaikan tangannya.
Tok.
Tok.
"Masuk," ujar pemilik ruangan.
Aditya membuka pintu ruangan dan mempersilahkan, Maira masuk. "Silahkan, Nyonya."
Maira tersenyum pada Aditya. "Terima kasih, Aditya."
Aditya mengangukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Maira masuk kedalam dengan kaki yang sudah gemetaran saat suaminya menatap dirinya dengan tajam.
Dengan rasa takut di hatinya, Maira memulai membuka suaranya. "Ma-mas. Ad-Aditya mengatakan ka-kamu me-meminta un-untuk ... " ujarnya terpotong saat Arhand dengan dingin meminta Maira duduk.
"Duduk."
...#continue ......
...Ayo dukung terus Author, dengan Like, favorite, comen, and Vote....
...See you the next Episode....
...Enjoy the Reading of Novel 'SUAMIIKU BUKAN UNTUKKU.'...
__ADS_1