Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 14 Sikap lebih Dingin.


__ADS_3

"Oummmh. Eehhmmm ... auh, sakit," rintih Maira saat bagian bawahnya terasa sakit.


Ingatan kemarin malam kembali berputar di kepala Maira, di mana untuk pertama kalinya setelah 3 tahun menikah, mereka berdua melakukan hal itu.


Maira tersenyum namun senyuman itu runtuh kala mengingat suaminya menyentuh dirinya karena mabuk, dan tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dan pada saat Arhand kembali bangun sikapnya padanya juga akan kembali berubah dingin, datar padanya.


Hati Maira kembali menangis, dan terasa sakit. Maira berusaha melepas tangan Arhand dari perutnya dan bangkit dari sana sembari menahan rasa sakit di bagian bawah.


Maira menatap pangtulan dirinya di cermin, ia meraba bekas kebuasaan Arhand di leher jenjangnya. "Hiks, hiks, hiks ... Andai bekas ini di buat dengan sebuah perasaan dan ke adaan sadar, mungkin hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan untukku, tapi tidak ( memejamkan matanya ). Setelah dia bangun maka bekas ini akan membuatnya marah padaku, dan mungkin saja menyesali semuanya," ujarnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.


......................


"APA!" teriak Ny. Arsy, bahkan ia sampai berdiri dari duduknya saat mendengar pengakuan dari suaminya, apa yang di dengarnya tadi malam.


"Ma, pelangkan suaramu. Kau membuat Papa hampir budek," ujar Tuan Blanco, menutup telinganya yang berdenging karena suara keras istrinya.


Ny. Arsy cengesan. "Hehehe ... maaf, maaf ( mengusap telinga suaminya ). Tapi apa yang barusan Papa katakan, benarkan?" tanya Ny. Arsy penuh harap apa yang di katakan suaminya bukanlah becanda.


"Apa, Papa, pernah berbohong sama Mama?" tanya Tuan Blanco pada istrinya.


Mendengar pertanyaan suaminya, mood Nya. Arsy seketika jadi buruk, ekspresi wajahnya datar dan jutek. "Pernah. Sering malah," ujarnya sangat judes.


"Come on, Ma, itu masalah lalu ... kenapa Mama ungkit lagi,"" ujar Tuan Blanco saat istrinya masi saja mengungkit masa lalu yang sudah sangat lama.


Iya, begitulah perempuan kira-kira yah, Readers, walau sudah berlalu akan selalu di ingat dan tak terhenti mengungkit.


"Yang jelas Papa pernah berbohong, jadi jangan pernah mengatakan kalau Papa tidak pernah berbohong sama, Mama," ujar Ny. Arsy masih judes dan tak terima jika suaminya mengatakan ia tak pernah berbohong padanya.


Tuan Blanco menghenbuskan napasnya. "Iya, iya, Papa minta maaf. Jangan mancung gutu donk, Ma," ujar Tuan Blanco mengalah.


......................


"Maid," panggil Ny. Nadia.


"Iya, Nya ...."


"Apa Azlan sudah berangkat kerja?" tanya Ny. Nadia mencari putra bungsungnya uang tak ia lihat dari tadi pagi saat sarapan.

__ADS_1


"Maaf, Nya. Sepertinya Tuan Azlan belum keluar dari kamarnya," ujar Maid itu.


Ny. Nadia mengerutkan keningnya. "Belum keluar?, Tidak biasanya Azlan belum bangun saat hari sudah siang begini," ujar Ny. Nadia pada dirinya sendiri.


"Apa ada lagi yang Ny. butuhkan?" tanya Maidnya.


"Tidak ada. Kamu boleh pergilah," ujar Ny. Nadia.


"Baik, Nya, permisi."


Ny. Nadia hanya mengangukkan kepalanya sedikit. "Huem."


......................


Maira keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit tutubuh mungilnya yanng mulus. Ia berjalan dengan canggung di depan suaminya yang menatap dirinya dengan datar. Arhand bangkit dari ranjang, membuat Maira menutupi lehernya, tubuhnya gemetaran ketakutan, takut Arhand marah padanya karena kejadian kemarin, walau itu bukan salahnya, tapi tetap saja ia meresakan ketakutan yang luar biasa, apa lagi Arhand tak menampilkan ekspresi apapun.


Arhand berlalu di hadapan Maira tanpa mengucapkan apapun, ia masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan shower. Maira memejamkan matanya karena apa yang sedari tadi yang ia pikirkan terjadi juga, dan itu membuat hatinya sangat sakit.


......................


"Sayang, kamu sudah bangun," ujar Ny. Arsy mendekati Maira yang baru saja turun dari tangga.


"Tidak masalah kok, Sayang, malah Mama senang ... Kalau perlu setiap hari juga gak apa-apa," ujar Ny. Asry dengan tersenyum mengoda.


Maira bingun maksud dari mertuanya, hingga Maira hanya terkekeh. "Hehe ...."


"Mama kenapa ya?, Kok bersikap aneh seperti ini ," ujar batin Maira yang melihat sikap mertuanya yang agak aneh menurutnya, sekaligus membingungkan karena mertuanya terus saja tersenyum.


"Oiya, Sayang ... Arhand kemana?, Gak turun bareng?" tanya Ny. Arsy lagi.


"Dia masih mandi, Mam," jawab Maira jujur.


"Huem ... yah sudah, Sayang, sekarang jita ke meja makan dulu ... kamu makan isi tenaga, karena kamu pasti capekkan?" tanya Ny. Arsy membawa Maira ke meja makan.


Maira mengikuti langkah mertuanya dengan berjalan sedikit ngangkang karena area bawahnya masih terasa sakit.


"Sepertinya putra Mama melakukannya dengan sangat bersemangat, sampai-sampai membuat istrinya sulit untuk berjalan," ujar Ny. Arsy menggoda menantunya.

__ADS_1


"Huk, huk, huk ..." batuk seseorang dari belakang.


Maira dan Ny. Arsy berbalik dan melihat Arhand berdiri pas di belakang mereka. "Arhand?, ternyata kamu juga sudah turun. Ayo duduk dulu makan, mama tau kalian pasti ke capean dan membutuhkan banyak tenanga," ujar Ny. Arsy tersenyum dan mengambilkan makanan untuk putra semata wayangnya.


Maira melirik suaminya yang berekspresi datar dan bersikap sangat dingin. "Sikap Mas Arhand lebih dingin dari biasanya, dari tadi pagi dia tidak mengatakan apapun padaku bahkan tak berekspresi apapun seperti biasanya. Dulu dia akan memarahi aku saat melakukan sesuatu, bahkan tanpa pada saat ia mabuk dan tak sadar menciumku pasti di pagi harinya ia bakal marah dan kesal padaku, tapi hari ini dia sama sekali tidak melakukannya," ujar batin Maira, merasakan perubahan sikap Arhand semakin dingin padanya setelah kejadian kemarin malam.


"Ayo sayang, di makan," ujar Ny. Arsy memegang pundak Maira.


Maira tersadar dari lamunannya. " Iya, Mam. Terima kasih."


"Sama-sama, Sayang," ujar Ny. Arsy.


Arhand mendorong ke belakang kursinya, dan bangkit dari dudiknya. "Arhand ada meeting. Arhand akan ke kantor," ujar Arhand dingin, datar.


Melihat putranya yang akan melangkah, Ny. Arsy segerah menahan lenagan putranya. "Tidak. Hari ini kamu libur saja, Mama sudah minta sama Aditya untuk men-cancel semua jadwal kamu hari ini. Dan hari ini Mama mau kamu membawa istri kamu liburan," ujar Ny. Arsy pada putranya.


"Arhand sibuk," ujarnya ingin kembali melangkah tapi terhenti saat mendengar perkataan Papanya.


"Papa yang akan mengurus pekerjaanmu," ujar Tuan Blanco yang baru saja datang. Tuan Blanco berjalan mendekati istrinya, lalu menghadiahkan kecupan manis di kening istrinya.


"Pa ..." ujar Arhand ingin protes, tapi tidak jadi saat melihat tatapan maut Papanya.


Ny. Arsy yang melihat putra tidak berkutip seketika tersenyum puas, dan memeluk suaminya. "Ahhh, Papa tau aja ke mauan Mama, kan makin cinta jadinya," ujarnya dengan manja.


"Semuanya tidak gratis, Ma," ujar Tuan Blanco menatap mesum istrinya.


Ny. Arsy tersenyum. "Apapun untuk membuat cucu, Mama, segera on the way," ujar Ny. Arsy dengan santai, yang mana membuat pasangan suami istri itu menatap ke arahnya dengan pandangan yang berbeda.


......................


...#continue ......


...See you the next Episode....


...Vote....


...Like. ...

__ADS_1


...Comen....


...Favorite-kan....


__ADS_2