
"Hai, jeng Arsy," sambut Ny. Nadia.
Mereka melakukan cipika-cipiku. "Maaf ya aku datang terlambat soalnya di jalan kena macet," ujarnya tak enak.
"Gak apa-apa kok, Jeng Arsy," ujarnya semua teman-teman Ny. Arsy.
"Jeng Nadia benar, Jeng, kita semua tidak masalah, jadi santai saja seperti di pantai," timpal salah satu teman Ny. Arsy.
"Oiya, ngomong-ngomong nih lagi bahas Pantai, gimana kalau kita healing tipis-tipis," usul yang lainnya.
"Boleh tuh," ujar Ny. Nadia.
"Deal nih ya?" tanyanya yang menyusulkan ide healing.
"Deal," serempak semuanya.
"Ma," panggil Maira yang baru datang, setelah dari kamar mandi.
Ny. Arsy menoleh dan melihat menantunya sudah berdiri di sampingnya. "Eh, sayang. Ayo duduk, sayang," ujarnya bergeser sedikit.
Maira duduk, tersenyum canggung menyapa teman arisan Mama mertuanya.
"Ini, putri Jeng Arsy," tanya salah satu temannya.
Ny. Arsy mengangkat kepalanya, dan tersenyum bangga. "Iya donk, cantikkan?" tanyanya sombong.
"Bukan lagi cantik, tapi ini sangat cantik," ujar orang itu lagi, tak berhenti menatap wajah cantik Maira.
"Alhamdullilah," sahut Maira dengan tersenyum malu.
Sikap Maira itu semakin membuat para teman-teman Ny. Arsy semakin kagum dengan sosok Maira. "Wah, menantu idaman banget," kagumnya.
"Eh, Jeng dia ini sudah di japri untuk putraku yah, jadi jangan menikung dari kiri," ujar Ny. Nadia.
Yang lainnya tertawa melihat kejadian itu, apa lagi sikap posesif Ny.Nadia yang tak pernah ia lakukan pada perempuan mana pun. "Hahahahha ...."
Tawa semua orang terhenti kala seorang pria dengan tubuh tegak, dengan wajah tampang dan penuh percaya diri berdiri di samping mereka. "Mam," panggilnya.
Ny. Nadia menoleh, lalu langsung berdiri menyambut kedatangan putranya. "Kamu sudah datang rupanya, Ayo duduk dulu," ujar Ny. Nadia pada putranya, Azlan, yang baru juga datang.
"Kenalin semua putra aku, namanya Azlan, ganteng kan?, coco bingist kan dengan putrii Jeng Arsy," ujar Ny. Nadia.
Azlan menatap Maira yang duduk di samping Ny. Arsy, Maira tersenyum sebagai bentuk sapaannya.
Hai, Nyonya Blanco, kita ketemu lagi.
"Iya," ujar Maira singkat, tak tau mau ngomong apa.
"Tunggu, Ny. Blanco?" tanya Ny. Nadia menatap putra lalu menatap Ny. Arsy.
"🤨," ekspresi Ny. Nadia menatap Ny. Arsy tak mengerti.
__ADS_1
Ny. Arsy yang melihat ekspresi wajah temannya, seketika memutar otaknya. "Hahaha ... ( tawanya tiba-tiba ), kamu pasti salah satu orang yang tertipu dengan hubungan Putra ku dengan adiknya," ujar Ny. Arsy.
"Adik?" tanya Azlan, serempak dengan ibunya.
Ny. Arsy mengangukkan kepalanya pelang. "Iya, adik. Kenalin putri tante Khumaira Blanco putri satu-satunya keluarga kami, dan tentang hubungan Arhand dan Maira itu memang mereka lakukan untuk menghindari para wanita di luaran sana, Jeng Nadia dan Nak Azlan kan tau sendiri seperti apa di luaran sana," ujar Ny. Arsy berbohong.
"Kalau itu aku sangat ngerti, Jeng," timpal yang lainnya.
"Iya kalau itu aku setuju. Bahkan putraku saja setiap hari ada aja yang datang kekantornya, walau sudah sering kali di usir oleh putraku tetap aja datang," timpal yang lainnya.
"Dan itu sangat menganggu," ujarnya lagi.
"Makanya putra mengakui adiknya sendiri sebagai istrinya di depan publik, untuk menghindari itu semua," ujar Ny. Arsy.
Disisi meja lain, ada Arhand dan Aditya yang duduk dan mendengar semua ucapan Mamanya. Tangan Arhand terkepal kuat, matanya memerah karena amarah, bahkan jika matanya sudah seperti akan keluar dan mengkuliti Mamanya sendiri.
"Oiya, sayang bagaimana dengan putraku?, Kamu setuju kan menikah dengan putra Tante, dan menjadi menantu Tante?" tanya Ny. Nadia to the point.
Sedari tadi Maira yang diam sambil makan, terbatuk saat mendengar ucapan Ny. Nadia. "Huk, huk, huk ...."
Melihat Maira tersedak dengan cepat Azlan mengambil airnya, lalu membantu Maira minum. "Kamu gak apa-apa?" tanya Azlan yang menantu mengusap punggung Maira.
Para ibu-ibu disana senyam-senyum melihat mereka berdua, yang terlihat sangat romantis.
"Aku baik-baik saja, terima kasih," ujar Maira tersenyum menatap Azlan.
Mata mereka Azlan kembali terpesona dengan senyum menawan Maira. Azlan baru tersadar saat para ibu-ibu bersorak, dan ricuh.
Ny. Arsy tersenyum geli. "Makanya sayang kalau makan pelang-pelang donk ... untung Nak Azlan sigap," ujarnya.
"Iya, Ma," ujar Maira mengangguk.
Praankk.
Suara piring terjatuh membuat Anis yang sedang asik menyantap makan siangnya kaget, dan langsung menatap temannya, Qesya.
"Qes, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa?" tanya Anis khawatir.
Qesya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa. Aku ke toilet dulu," ujarnya, pergi meninggalkan Anis sendiri.
"Apa mencintai memang harus sesakit ini, ya Tuhan," tangis Qesya di depan cermin.
"Baru saja aku berfikir masih memilki kesempatan untuk berjuang untuk cintaku, setelah tau hubungan Om Azlan dengan kakaknya, tapi sekarang kesempatan itu kembali hilang, dan memang sepertinya tidak ada kesempatan untukku mendapatkan cinta Om Azlan," ujar Qesya pada sendiri.
"Kalau begitu, denganku saja," ujar seseorang secara tiba-tiba.
Qesya kaget dan langsung berbalik, menatap orang itu. "Tuan Aditya."
Aditya berjalan mendekati Qesya. "Qes ... ( mengenggam tangan Qeysa ), apa yang kurang dariku?, apa yang harus aku lakukan agar bisa kamu mencintaku, seperti kamu mencintai Tuan Dirga?, Apa perlu aku mengubah diriku sendiri seperti Tuan Dirga?, katakan Qes, aku akan lakukan apapun itu agar kamu bisa mencintaiku seperti kamu mencintai bahkan menangisi Tuan Dirga," ujar Aditya serius, menatap mata Qesya.
Memang benar Aditya sudah mengakui persaanya sendiri pada Qesya, bahkan sudah dua kali ia menembak Qesya, yang pertama saat di pesta Tuan Winata dan yang kedua Aditya sendiri menyiapkan sebuah dinner romantis, namun Qesya selalu menolaknya, tapi Aditya tak berhenti dan terus berusaha mendapatkan cinta Qesya.
__ADS_1
"Aku harus kembali," ujar Qesya melepaskan tangan Aditya.
"Tunggu, Qes," cekal Aditya.
Aditya berjalan ke depan Qesya, membuat Qesya sedikit canggung.
"Mungkin ini bukan waktu dan tempat yang benar, tapi aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu lagi.
"Aku-" ujar Qesya terpotong karena dengan cepat Aditya melanjutkan ucapannya.
"Aku akan mengungkapkan perasaanku lagi padamu, dan jika kali ini aku masih gagal mendapatkan kesempatan darimu, maka aku berjanji padamu kamu tidak akan melihat diriku lagi dan kamu bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan, seperti keinginanmu," ujar Aditya, yang sempat mendengar gerutu Qesya yang ingin hidup tenang tanpa gangguan dari Aditya.
"Maksudnya?" tanya Qesya bingung sekaligus kaget mendengar kalimat terakhir Aditya.
Aditya menarik napas lebih dulu, baru baru berucap. "Aku sudah meminta pada Arhand, bahwa aku ingin pindah ke perusahaan cabang yang ada di America. Jadi ..." menjeda ucapannya.
"Qesya Purnama apakah-" ujar Aditya yang baru saja ingin menembak Qesya tapi terpotong saat seseorang dari dalam toilet tersungkur di lantai.
"Auh ..." rintihnya.
"Nona Clarisa," ujar Qesya dan langsung menghampiri Clarisa, membantu Clarisa berdiri.
"Maaf, maaf, kakiku terpeset tidak tau kenapa?" ujar Clarisa malu, dan gugup.
"Tidak masalah. Tapi Anda tidak apa-apa?" tanya Qesya tidak marah.
Clarisa menganguk. "Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih," ujarnya.
"Benaran?" tanya Qesya memastikan.
"Iya. Kalau gitu aku permisi dulu," ujar Clarisa pamit.
"Bisa berjalan?" tanya Qesya lagi, khawatir Clarisa tidak bisa berjalan.
Clarisa tersenyum. "Bisa. Bisa kok," ujarnya dan mulai melangkahkan kakinya, namun baru juga satu langkah ia kembali merintih kesakitan. "Auh ..." rintihnya kembali.
"Biar ku bantu, Nona," ujar Qesya memapah Clarisa.
Qesya membantu Clarisa berjalan, meninggalkan Aditya sendiri.
"Qes, Qesya," panggil Aditya namun Qesya tak berbalik dan berpura-pura tidak dengar.
"Maafkan aku Tuan Aditya. Dan terima kasih Nona Clarisa kamu sudah menyelamatkan aku," batin Qesya.
"Maaf, Aditya, tapi aku benar-benar tidak bisa melihatmu bersama wanita lain. Aku sudah mencoba ikhlas tapi aku tidak bisa. Sekali lagi maaf," batin Clarisa merasa bersalah.
...#continue .......
...See you the next episode, Readers....
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya....
__ADS_1