
"Tunggu," ujar Aditya sesaat Qesya ingin membuka pijtu ruangan.
Qesya berbalik menatap atasannya. "Iya, Tuan," ujarnya.
"Ingat nanti malam, jangan sampai terlambat," ujar Aditya mengingatkan kembali Qesya soal pesta yang akan mereka hadiri.
Qesya memutar bola mata malas. "Iya, Tuan. Anda tenang saja, karena saya tidak memakai jam karet," ujarnya dengan malas.
"Baguslah," ujar Aditya.
Qesya keluar dari ruangan kerja untuk segera pulang, karena dia harus bersiap untuk menemani Aditya ke pesta.
"Arhand," panggil Aditya saat melihat Arhand yang baru saja keluar dari ruagan.
Arhand berbalik. "Sttt. Ada apa?" tanya pelan.
"Nyonya, kenapa?" tanya Aditya melihat Maira berada di gendongan Arhand.
"Dia tidak apa-apa, hanya ketiduran. Katakan ada apa?" ujar Arhand lagi.
"Rencana soal yang tadi?" tanya Aditya melihat Arhand.
"Batalkan saja, karena Maira sudah tidur," ujar Arhand dan menatap sekilas Maira yang tertidur dengan sangat pulas.
"Huem, baiklah," ujar Aditya mengangukkan kepalanya mengerti.
Arhand yang ingin masuk kedalam lift kembali berbalik menatap asisten sekaligus sahabatnya. "Kamu mau pergi menghadiri pesta Tuan Winata kan?" tanya Arhand.
Dahi Aditya mengerut menatap Arhand, tak biasanya dia menayakan hal yang sudah ia tau. "Iya ...."
"Kamu ajak saja sekretaris baru kamu itu," ujar Arhand, untuk meminta Aditya mengajak Qesya ke pesta Tuan Winata.
"Saya memang mengajaknya," ujar Aditya santai.
"Oh, ternyata sudah sat set sat set ( tersenyum jail ). Bagus," ujarnya.
"Apa kamu sehat?" tanya Aditya memeriksa dahi Arhand.
Kini giliran Arhand yang mengerutkan keningnya kala mendengar pertanyaan dari asistennya. "Ya ... memangnya kenapa?" tanyanya dengan bingun.
Bukannya menjawab Aditya justru menatap aneh Arhand. "Ini benaran kamu kan, Ar?" tanyanya lagi.
Arhand menepis tangan Aditya dari jidatnya, dan melayangkan tatapan tajamnya. "Kamu fikir aku siapa?
"Tidak ( mengelengkan kepalanya ), soalnya ini seperti bukan kamu," ujar Aditya.
"Maksud kamu?" tanya Arhand terdengar kesal.
"Ya, heran saja, sejak kapan kamu tau berbicara menggoda seperti itu ( tersenyum mengejek ), apa karena cinta dari Nyonya?" ujarnya menggoda Arhand.
Arhand seketika menjadi gugup, sikap salah tingkah. "Enyalah," ujarnya lalu segera berjalan masuk kedalam lift.
"Ar. Hahahaha ...."
Aditya menghentikan tawanya, menatap sendu pintu lift. "Ar, aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun merengut senyuman itu dari mu."
"Auh," rintih Qesya saat menabrak sesuatu yang begitu keras.
"Ah ****. Kamu," ujar Aditya melihat sekretarisnya dengan tajam.
Qesya mengangkat kepalanya. "Maaf, Tuan, saya tidak melihat Anda," ujar Qesya dengan mengusap usap keningnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa kembali lagi?" tanya Aditya pada sekretarisnya.
"Ponsel saya ketinggalan, Tuan," ujar Qesya.
"Huem," angguk Aditya.
"Kalau gitu saya permisi masuk dulu mengambil ponsel saya," ujar Qesya dengan sopan.
"Iya, pergilah," ujar Aditya mempersilahkan Qesya pergi mengambil ponselnya.
......................
"Pelangkan saja laju mobilnya," ujar Arhand pada supirnya, untuk menenangkan laju mobilnya.
POV Author: "Aduh sweet banget sih, Ar. Perhatian kecil namun menyentuh. Pengen deh."
"Baik, Tuan," sahut supir lalu memelangkan laju mobil, bahkan laju mobil mereka sangat pelang dan santai, sangat jauh berbeda saat dulu yang akan sampai di rumah dalam 15 menit.
Maira tertidur dengan sangat nyenyak di dada suaminya, wajahnya bersinar kala lampu mobil lain mengenai wajah cantiknya.
"Dia terlihat sangat cantik," ujar supir Arhand tanpa sadar.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Arhand dengan tatapan mautnya.
Supir seketika gegalapan mendapat tatapan mau sang bos. Jantungnya terasa berhenti berdetak. "Huem, ti-tidak Tuan," ujarnya gagap.
"Fokus menyetir, atau aku akan membunuhmu," ujar Arhand sangat dingin menatap tajam supirnya.
"Maaf, Tuan," ujar supir lagi dengan takut.
Arhand tak menghiraukannya, ia menurunkan pembatas kursi depan dengan kursi belakang, lalu beralih menatap istrinya yang tertidur sangat lelap. "Kenapa kamu selalu membuatku marah, walau kau tertidur," ujar Arhand dengan mengusap pipi mulus istrinya.
POV Author: "Ya'elah Arhand, itu bukan marah namanya, tapi cemburu. Masa gitu aja gak tau."
......................
"Perasaan tadi baik-baik saja, kenapa mogok tiba-tiba," celetuk Qesya dengan kesal karena motornya yang tiba-tiba mogok.
Suara suara klakson mobil mengagetkan Qesya.
Pin.
Pintu kaca mobil terbuka menampakan sosok wajah tampan Aditya "Motornya kenapa?, Mogok?" tanyanya.
"Iya, Tuan. Saya juga gak tau kenapa tiba-tiba jadi mogok, tadi baik-baik saja," ujar Qesya.
"Ya, sudah kamu tinggalkan saja motor kamu, dan naik biar saya yang antar kamu pulang," ujar Aditya dengan membuka pintu mobilnya.
"Tidak usah, Tuan, Anda-" ujar Qesya ingin menolak tapi ucapannya langsung du serga oleh Aditya.
"Kamu tidak perlu merasa G'r, aku ingin mengantar kamu, agar tidak terlambat datang ke pesta nantinya. Kamu kan harus bersiap dulu, dan pasti masih lama. Jadi ayo masuk," ujar Aditya.
"Siapa juga yang G'r, hu," gerutu Qesya dengan kesal, namun dengan sangat lirih.
"Apa lagi, ayo masuk cepatan," ujar Aditya kembali dengan suara baritonnya.
"Iya, iya," ujar Qesya mengalah dan masuk ke dalam mobil.
Setelah Qesya masuk, Aditya langsung mengendarai mobilnya keluar dari perusahaan. Aditya mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.
"Kerja bagus, aku akan memberikan bonus untukmu besok," isi pesannya lalu mengirim ke nomor penjaga ke amanan kantor.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan," balasnya.
Iya, memang benar Aditya yang membuat motor Qesya mogok dengan meminta kepala ke amanan kantot untuk mengeluarkan semua bahan bakarnya.
Aditya menyimpan ponselnya, menatap Qesya yang menatap keluar jendela.
"Katakan di mana alamat rumahmu?" tanya Aditya.
"Masih jauh," ujar Qesya lemes, dan tetap fokus ke luar jendela.
"Iya, tapi di mana?" tanya Aditya lagi.
Qesya tak menyahuti ucapan Aditya, karena pikirannya benar-benar sedang kacau, begitupun hatinya masih sangat sakit tentang hubungan Azlan dengan Clarisa.
"Sudah donk, Qesya lupakan Om Azlan, dia sudah menikah dan punya anak. Masa kamu ingin menjadi pelakor," ujarnya pada dirinya sendiri.
Mendengar hal itu Aditya mencengkram setir mobilnya, mengeram marah, dadanya memburu satu sama lain.
......................
"Ueem, Ma-mas," ujar Maira terbangun saat tangan nakal suaminya berkelana mesuk ke dalam bajunya mendaki gunung kembar miliknya.
Arhand menundukkan kepalanya, menatap mata indah istrinya. Begitupun dengan Maira menatap mata suaminya. Mata keduanya salin mengunci dan entah sejak kapan wajah Arhand tak lagi mememiliki jarak dengan wajah Maira.
Cup.
Arhand memberikan kecupan manis di bibir isrtinya, membuat Maira tersenyum lalu membalas mengecup manis bibir suaminya.
Cup.
Namun kepalanya di tahan oleh Arhand, dan kecupan itupun berubah menjadi ciuman, dan tak lupa ia menurunkan pembatas antara kursi dengan dan kursi belakang.
......................
"Kak," panggil Azlan.
Clarisa menatap adiknya. "Heum."
"Maukan menemani aku ke pesta, Tuan Winata?" tanya Azlan.
"Sepertinya Kakak gak bisa," ujar Clarisa lemah.
"Kenapa, Kak?" tanya Azlan lagi.
"Bukannya, tadi pagi Kakak setujuh," ujar Azlan menatap sang Kakak.
"Iya, tapi Kakak sedang tidak enak badan, maaf," ujar Clarisa lalu langsung berdiri melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Sekarang aku benaran yakin kalau Kak Clarisa menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?" ujar Azlan yang semakin penasaran dan khawatir dengan sang Kakak.
...#continue .......
...Hai Readers, menurut kalian apa Aditya sudah tau jika Anya masih hidup dan ingin kembali ke Arhand, sehingga dia berucap seperti itu?...
...Jangan lupa:...
...Like....
...Vote....
...Comments....
__ADS_1
...Favorite....