Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 46 Ketegasan Tuan Blanco


__ADS_3

"Adi, Aditya tunggu, tunggu sebentar," panggil Ny. Arsy berlari mengejar Aditya yang berjalan keluar dengan tergesa-gesa.


Aditya berhenti, berbalik. "Iya, Ma ada apa?" tanya Aditya.


Ny. Arsy langsung merampas yang di pegang oleh Aditya. "Ini ( menatap paspor yang ia ambil tadi ), inikan pospor Arhand, kenapa ada paspor?" tanya Ny. Arsy menatap selidik Aditya.


"Ini ... Arhand, akan menyusul Maira," jawab Aditya jujur.


"Menyusul Maira?, memangnya Maira ada di mana?" tanya Ny. Arsy khawatir.


"Dia sekarang berada di London," ujar Aditya.


"London?" kaget Ny. Arsy.


"Iya, Ma. Daniel tadi sudah membobol data penumpang bandar dan di sana juga ada nama Kakak ipar terdaftar dengan tujuan ke London," jelas Aditya memberitahu semuanya.


"Pa!!!, Papa!!!" teriak Ny. Arsy memanggil suaminya.


"Ma, Mama tenang dulu," ujar Aditya meminta Ny. Arsy tenang.


"Ada apa sih, Ma," gerutu Tuan Blanco karena waktu santainya terganggu dengan suara istrinya yang subhanallah.


"Kita berangkat ke London sekarang. Minta anak buah Papa menyiapkan jet, sekarang!" ujarnya Ny. Arsy pada suaminya panik.


"Ngapain?" tanya Tuan Blanco santai, tidak tau apa-apa.


"Iya, Ma, ngapain? Mama di sini saja, biar aku yang menemani Arhand ke London," ujar Aditya.


"Tidak. Mama akan ikut dan menjemput menantu Mama pulang. Dan jika Papa tidak ingin menelpon anak buah Papa, maka Mama akan pergi sendiri," kekeh Ny. Arsy mengancam suaminya.

__ADS_1


"Ok, ok, Papa telpon, tapi Mama tenang dulu," ujar Tuan Blanco mengalah.


"Adi, suruh Arhand pulang. Sekarang!" ujar Tuan Blanco pada Aditya.


"Ada apa, Pa?' tanya Aditya.


"Papa bilang telpon, jadi telpon sekarang!" ujar Tuan Blanco tak ingin di bantah.


"Baik, Pa," ujar Aditya nurut, menelpon Arhand yang sudah ada di bandara.


"Apa!, Maira di London?, aku harus mengatakan hal ini pada iblis itu, jika tidak dia bisa m3mbunuhku saat tau dari orang lain," celetuk Anya menguping pembicaraan mereka. Saat baru pulang dari rumah Azlan, Anya tak sengaja mendengar teriak Ny . Arsy membuatnya tetap berdiri di luar mendengar pembicaraan mereka.


Anya merongo tasnya mengambil ponselnya, kemudian ia segera menelpon Azlan.


Drttt.


"Hallo, ada apa?" bentak Azlan di balik telpon.


"Katakan cepat, kenapa kamu menelponku," sarkas Azlan.


Anya yang tak ingin membuat Azlan kesal dan berakibat fatal untuknya, memilih mengalah. "Aku baru mendengar pembicaraan mereka jika Maira sekarang sedang berada di London," ujarnya.


"London?"


"Iya, bahkan keluarga Blanco menyiapkan penerbangan ke London," ujar Anya lagi.


"Baiklah, cari tau perkembangan Maira dan beritahu aku secepatnya, jika tidak maka aku akan memb3nuhmu," sarkas Azlan, kemudian langsung mematikan sambungan telponnya.


Anya berdesih kesal, menatap ponselnya, lalu ia masuk kedalam kamarnya, seakan tak mendengar apa pun.

__ADS_1


......................


Arhand turun dari mobil, dengan segera ia berjalan masuk. Di dalam ruang kerja Tuan Blanco suasananya begitu sunyi, karena tak ada yang berani bicara saat Tuan Blanco dalam mode pemimpin.


Pintu terbuka menampakkan sosok Arhand. Arhand menatap semua orang yang terdiam, dengan perasaan aneh ia berjalan ke arah mereka dan duduk di samping Aditya.


"Berikan paspor kalian pada Papa," ujar Tuan Blanco datar, menatap satu persatu semua orang. Tak ingin membantah semua orang memberikan paspornya, tanpa berkata satu katapun, karena mereka tau jika Tuan Blanco dalam mode seperti ini tidak baik bagi keselamatan untuk membantah.


Tuan Blanco menatap semua pospor yang ada di tangannya, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kotak. "Tidak akan ada yang pergi menjemput Maira," ujarnya mengunci kotak itu.


Perkataan Sang Papa membuat Arhand berdiri. "Apa maksud, Papa?" tanya Arhand, terlihat marah.


Tuan Blanco menatap datar putranya. "Papa bilang tidak akan ada yang terbang ke London, menjemput Maira!. Tidak Mama, tidak dirimu, dan juga tidak untukmu Aditya. Jika ada yang melanggar perintah Papa, maka orang itu akan berhadapan dengan Papa, bahkan Papa sudah menelpon semua pihak bandara, anak buah, jika ada yang berani mengantar ataupun mencoba menerbangkan kalian ke London maka mereka akan berhadapan dengan Papa," tegas Tuan Blanco dengan penuh kharisma pemimpinnya.


Semua orang shock, terutama Arhand. "Tapi, kenapa Pa? Bukankah Papa sendiri yang tadi pagi meminta dan meng-support Arhand untuk mengejar istri Arhand?, tapi kenapa sekarang malah Papa yang melarang Arhand?" tuntut Arhand pada Tuan Blanco


"Karena kamu tak mengerti ucapan, Papa," tegas Tuan Blanco menatap tajam putranya.


Semua orang menelan ludahnya dengan kasar, suasana begitu mencekam, bahkan ruagan yang biasa terasa sangat dingin menjadi dingin. "Papa bilang kejar, tapi sebelum itu bersihkan dirimu, akan tetapi kamu belum membersihkan dirimu dari duri yang ada di diri mu, dan Papa tidak akan membiarkan menantu Papa itu tertusuk duri yang kau bawah," tegas Tuan Blanco menatap tajam Arhand, lalu kemudian ia keluar kembali ke kamarnya.


Arhand mengepalkan tangannya, ia marah pada dirinya sendiri karena baru menyadari kesalahannya lagi, dan pantas Papanya sama sekali tak membantunya dalan mencari keberadaan istrinya.


"Ar ..." panggil Aditya memegang pundak Arhand yang menunduk.


"Arrhhgg ..." teriak Arhand menendang meja di hadapannya.


"Ar, tenang dulu. Kita bisa mencari cara lain, tapi sebelum itu kamu harus membersihkan dirimu dulu, karena aku setujuh dengan ucapan Papa," ujar Aditya menenangkan Arhand dan juga memberikan support padanya.


...#continue .......

__ADS_1


...See you the next episode....


...Jika suka jangan lupa tinggalkan jejeknya....


__ADS_2