Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 61 Nikah di atas Kertas.


__ADS_3

"Apa-apaan ini?!" tanya Aditya emosi, ingin menarik Qesya dari pelukan Azlan, namun Qesya memundurkan langkahnya kebelakang, menghindari Aditya.


"Seperti yang kau liat, mulai hari ini, aku adalah Ny. Azlan Dirga," ujar Qesya dingin, menatap acuh Aditya.


Aditya tersenyum tak percaya. "Tidak ( sembari mengelengkan kepalanya ), kau jangan bercanda sayang. Ini adalah hari pernikahan kita, ku mohon jangan seperti ini," ujar Aditya kembali ingin menarik Qesya ke sisinya, akan tetapi tangannya langsung di cegat oleh Azlan yang berdiri di samping Qesya.


"Maaf, aku tidak mengizinkan siapapun untuk menyentuh istriku," ujar Azlan datar.


Seketika emosi Aditya memuncak, tangannya terkepal, bagai angin tangan Aditya dengan cepat melayang ke wajah Azlan, yang membuat Azlan mundur beberapa langkah.


Buck.


"Kau jangan ikut campur. Dia adalah calon istriku," ujar Aditya emosi, menatap tajam Azlan yang mengusap darah di ujung bibirnya.


Melihat pertengkaran keduanya, Qesya marah. "Cukup!!!" ujarnya tegas pada Aditya, dengan tatapan tajam.


"Kau jangan lagi memukul suamiku ( menatap tajam Aditya ). Ini menjadi peringatan pertama dan terakhir dari ku Tuan Aditya Cor, jika tidak, aku akan melaporkan anda ke pihak berwajib atas perlakuaan kekerasan," ancam Qesya serius menatap dingin Aditya.


Setelah mengatakan hal yang membuat Aditya shock, Qesya menghampiri Azlan yang sekarang sudah menjadi suaminya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Qesya lembut memeriksa bibir Azlan yang berdarah.


Kedua tangan Aditya terkepal, dengan kasar Aditya menarik tangan Qesya dari wajah Azlan. "Berhenti melakukan hal konyol!, kau calon istriku dan aku tidak akan membiarkamu menyentuh pria ini!" ujar Aditya sangat marah, mencengram tangan Qesya.


Wajah Qesya terbengong, menatap wajah yang dulu selalu terlihat lembut di hadapannya, suara tak pernah tinggi, tapi kini wajah itu di penuhi amarah, detak jantung memburu, kesadaran Qesya kembali setelah satu bogeman keras memukul mundur Aditya, terpental jauh kebelakang.


Buck.


"Isstt ..." ujar Aditya mengusap sudut bibirnya, matanya memerah marah, menatap Azlan, kedua tangannya terkepal.


"Anda sudah ku peringatkan jangan pernah menyentuh istriku tanpa izin dariku," tegas Azlan, menatap tajam balik Aditya.


Dengan tersenyum sinis, Aditya kembali menarik Qesya ke arahnya. "Sadarlah, seharusnya saya yang mengatakan hal itu, jangan kau berani menyentuhnya karena dia adalah calon istriku, dan sebentar lagi menjadi istriku," ujar Aditya.

__ADS_1


Azlan ikut tersenyum sinis mendengar perkataan Aditya. "Apa Anda tuli, atau tak mengerti bahasa manusia?, jelas-jelas istriku ( menarik Qesya kembali ) tadi mengatakan bahwa dia adalah Ny. Azlan Dirga yang artinya adalah milik-KU," ujar Azlan dengan menekan kalimat terakhirnya.


"Ayo sayang kiita pulang," lanjut Azlan, mengandeng tangan Qesya pergi dari sana. Tetapi dengan keras seseorang menarik lengannya dari belakang.


Buck.


Satu bogem keras kembali di layangkan oleh Aditya, yang mana membuat Azlan kembali tersungkur kelantai, sudut bibir berdarah. Aditya yang dikuasai emosi, kembali ingin melayangkan bogem, menghajar Azlan tapi Qesya langsung berdiri di depan Azlan, menjadi tamen di depan suaminya.


Plak.


Suara tamparan bergema di setiap sudut ruagan, semua semua orang shock. "Han ..." ujar Aditya shock, tak percaya apa yang baru terjadi, Aditya memegangi pipinya yang terasa panas.


Dengan tatapan marah, tajam, Qesya menunjuk wajah Aditya. "Sudah ku katakan jangan berani memukul suamiku lagi," tegas Qesya, dengan menunjuk lantang di depan wajah Aditya.


"Mungkin ini terlalu jahat, tapi inilah kebenarannya ( menjeda sebentar ucapannya ). Bahwa aku tidak pernah mencintaimu, aku menerima dirimu hanya untuk menjadikanmu sebatas pelarian saja dari rasa cintaku yang kukira bertepuk sebelah tangan, tapi ternyata aku salah dia juga mencintaiku, tadi dia sudah mengakui perasaannya padaku," ujar Qesya tanpa wajah bersalah dan sangat santai.


"Maaf tapi aku sudah berusaha mencintaimu tapi aku tidak bisa," lanjut Qesya lagi, meminta maaf karena mempermainkan perasaan cinta Aditya.


"Qes ..." ujar Maira lirih menatap mata sahabatnya, yang terlihat kosong.


Namun Qesya, langsung melepas tangan Maira dari lengannya sembari tersenyum, membuat hati Maira semakin merasa bersalah, hatinya sakit, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Maira menatap nanar punggung sahabatnya yang semakin menjauh, menghilang di balik pintu. "Qes, apa yang kau lakukan, kau mengorbankan cinta dan kebahagianmu hanya karenaku," batin Maira merasa bersalah.


"Adi, Sayang," ujar Arhand dan Ny. Arsy bersamaan saat Aditya tiba-tiba pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apa pun, dengan perasaan emosi.


Tuan Blanco menahan Arhand dan istrinya yang ingin mengejar Arditya. "Ma, Ar, jangan di kejar ( tahan Tuan Blanco ). Biarkan dia pergi menenangkan diri. Aditya butuh waktu untuk sendiri," jelas Tuan Blanco, ingin memberikan ruang waktu Aditya setelah penghianatan yang di lakukan oleh calon istrinya, ia tau sekarang Aditya membutuhkan waktu untuk lukanya.


"Maaf, Tuan, apa pernikahannya batal?" tanya Pak penghulu angkat bicara setelah sedari tadi terdiam.


Tuan Blanco tersadar, dan segera berbalik pada pak penghulunya. "Iya, Pak. Mohon maaf ya Pak.," ujar Tuan Blanco tak enak, karna orang lain melihat masalah keluarganya.


"Tidak apa-apa, kalau gitu saya permisi," ujar Pak Pengikutnya berpamitan.

__ADS_1


"Silahkan Pak, terima kasih sebelumnya.," ujar Tuan Blanco, ramah.


.....................


Malam sudah tiba, begitupun Ketiga anak Maira terlihat sudah tertidur nyenyak, Maira menyelimuti ke tiga anaknya dengan hati-hati agar jangan sampai membangunkan ketiganya, karena itu akan menjadi masalah. Pada saat ingin beranjak dari ranjang, sesorang dari belakang memeluk pinggangnya dengan sangat erat. "I missed you so much," ujar Arhand mengecup cengkuk leher Maira, yang membuat Maira merasa tersengat, namun dengan cepat ia mengelengkan kepalanya, menyingkirkan tangan Arhand dari perutnya.


"Kita tidak bisa begini, Mas," ujar Maira bangkit dari tempat tidur.


"Kenapa?, Aku ini suamimu," ujar Arhand sedikit kecewa dengan respon istrinya, yang sama sekali tak ingin di sentuh olehnya setelah dia datang kemari, bahkan hanya memegang kedua tangannya saja tidak di izinkan.


"Itu memang benar, tapi aku tidak bisa melakukannya," ujar Maira lirih, ingin keluar dari kamar tapi langsung di tahan oleh Arhand.


Arhand berdiri memegang tangan Maira. "Kamu mau kemana?" tanya Arhand.


Maira melepas tangan Arhand yang menahan lengannya. "Biar aku tidur di kamar lain, Mas tidur saja bersama tripel, dan jika mereka terbangun Mas bisa panggil aku di kamar tamu depan," ujar Maira kembali ingin keluar dari kamar, tapi Arhand kembali mencegahnya.


"Tidak, kamu tidur saja disini biar aku yang tidur di kamar tamu," ujar Arhand lembut, dan Maira pun tak menjawab, membuat Arhand harus mengelus dada dengan sikap istrinya yang sangat dingin padanya.


......................


Plak.


"Beraninya kau!!" ujar Azlan penuh emosi, menatap tajam Qesya yang baru saja menampar dirinya.


Dengan lantang Qesya menunjuk kedepan wajah Azlan. "Ingatlah batasanmu! ( penuh emosi, menunjuk wajah Azlan ). Kita menikah hanya di atas kertas. Aku adalah istri yang haram kau sentuh, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku sedikitpun. Ingat itu!!" tegas Qesya, dengan wajah memerah, setelah itu ia berjalan keluar kamar, mencari kamar tamu yang akan ia tempat tidur.


...#Continue .......


...Hai Readers kita kembali Update, semoga suka. Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya....


...See you the next episode....

__ADS_1


__ADS_2