
"Hiks, hiks, hiks ... " tangis Maira di tepi pantai tak jauh dari Villa, tempat ia menginap.
"Hei ... kenapa setiap kali kita ketemu kamu selalu managis?" ujar seseorang, yang membaut Maira terkejut dan sontak mendongakkan kepalanya keatas.
Maira mengerutkan keningnya menatap gadis remaja di depannya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Maira menghapus air matanya.
"Oh, maaf ini salahku, pasti kamu tidak mengenaliku karena saat kita bertemu aku pakai kostum boneka," ujar wanita itu yang ternyata Qesya.
"Kamu ingat gak, saat di taman dulu ... kamu juga sedih waktu itu ... aku boneka beruangnya. Masih ingat?" ujar Qesya lagi.
Maira langsung mengingat kala Qesya mengatakan tentang boneka beruang. "Iya ... aku ingat. Itu kamu?"
"Iya, itu aku," ujar Qesya tersenyum.
"Terima kasih banyak, karena waktu itu sudah menghibur aku," ujar Maira berterima kasih pada. Qesya.
"Sama-sama. Oiya, nama kamu siapa?, kenalin Qesya Purnama, panggil saja Qesya," ujar Qesya penuh semangat memperkenalkan dirinya.
Maira menyambut tangan Qesya. "Khumaira Blanco. Kamu juga bisa memanggilku Maira," ujar Miara juga memperkenalkan dirinya.
"Khumaira aja gimana?, menurutku itu jauh lebih sesuai dengan wajah cantikmu," ujar Qesya tersenyum manis.
"Hehehe ... kamu bisa aja. Tapi terserah padamu saja," ujar Maira tidak mempermasalahkanya.
"Baiklah, Khumaira. Kita sekarang teman."
"Teman," ujar Maira tersenyum.
"Oiya, kamu ke Bali ngapain?" tanya Qesya pada Maira, agar bisa lebih dekat.
"Ngapai?, Ngapain yah ( ujarnya seperti sedang berfikir ), Mungkin mau duduk dan melihat matahari terbenam," ujarnya lagi dan duduk di samping Maira.
Maira yang melihat hal itu, terkekeh. "Hehehe ... kamu tuh, ya ...."
"Kenapa?, aku benarkan?" tanya dengan wajah polosnya.
"Iya, sih. Tapi tidak mungkin kamu ke sini hanya untuk duduk dan melihat matahari terbenam saja, di jakartakan juga bisa," ujar Maira.
Qesya terkekeh. "Hehehe ... aku ke sini memanin sahabat aku bertemu sama pacarnya," jawab Qesya menghela napasnya.
"Bertemu pacarnya?, sejauh ini?" tanya Maira mengerutkan keningnya.
"Iya. Gila kan mereka?, Mereka memang gila, hufh," ujar Qesya mengerutu sendiri.
"Hehehe, itu lah cinta," ujar Maira memandangi kedepan.
"Cinta apaan. Gak ada yang namanya cinta."
"Kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanya Maira menatap Qesya yang terlihat murung sekaligus raut wajahnya seperti seseorang yang membenci cinta.
"Iya pengen aja," ujar Qesya tersenyum dan mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasa.
"Hehehe ... kamu sangat lucu," ujar Maira, walau ia tahu ada alasan khusus pasti saat Qesya mengatakan hal itu, tapi Maira juga mengerti dan tidak memaksa orang untuk bercerita pada siapapun, karena menurutnya semua orang memiliki rahasia dan masalah sendiri.
"Ahhhhhhh ..." teriak Qesya tiba-tiba membaut Maira terkejut dan khawatir.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Maira.
"Jangan panggil aku seperti itu ... sangat menggelikan," ujar Qesya bergidik ngeri.
Maira terkekeh mendnegar ucapan Qesya. "Oh ... astaga aku kira kamu kenapa berteriak seperti itu."
Qesya cengesan. "Hehehe."
Maira mengelengkan kepalanya, dan kembali menatap langit merah.
"Oiya ... kamu ngapain di sini?" tanya Qesya melirik Maira sebentar.
"Aku ke sini ngapain yah?" tanya seperti orang sedang berfikir.
"Arrhh, kamu membalasku ternyata," ujar Qesya kesal saat menyadari bahwa Maira sedang berjulid padanya.
Maira tertawa meliahat wajah kesal Qesya. "Hahahaha ... kenapa kamu sangat lucu saat kesal begini?"
"Aku kan sudah bilang jangan menyebutku seperti itu ... itu sangat menggelikan," manyung.
"Oiya?, Tapi kamu suka memuji orang. Kenapa giliran di puji balik gak mau. Ada ada aja," ujar Maira tertawa kecil.
"Walau begitu ... aku tidak suka," ujar Qesya terdengar seperti rengekan anak kecil.
Sudah ah, ngapain kita bahas hal itu. Katakan padaku kamu sama siapa di sini?" tanya Qesya mengalihkan topik yang membuatnya bad mood.
"Aku ke sini sama suamiku," jawab Maira.
"Oh ho, ternyata kalian lagi mau honeymoon," ujar Qesya dengan sangat los.
Qesya kembali kesal mendengar ucapab Maira yang mengatakab dirinya masih kecil. "Heii ... aku ini udah besar ya ( ujarnya tak terima ) ... bahkan aku sudah bisa mengandung baby, jadi jangan panggil aku anak kecil, tubuhku aja sedikit munggil tapi aku bukan anak kecil lagi," ujarnya dengan judes.
Bukannya marah mendengar ucapan Qesya yang judes malah membuat Miara tertawa. "Hahahaha ... kenapa kamu sangat sensitif dan lucu saat ngambek seperti ini?"
Qesya menenggelamkan kepalanya di lututnya. "Oohh ... come on, jangan panggil aku lucu."
"Huem," ujar seseorang mengagetkan dua wanita itu.
Maira dan Qesya kompak berbalik dan mendongakkan kepalanya. "Tuan Dirga?" ujar Maira sembari berdiri.
"Maira, kita ketemu lagi. Sama siapa di sini?" ujar Azlan melihat sekeliling.
"Iya, kita ketemu lagi. Saya kesini bersama suami saya. Tuan Dirga sendiri ngapain di sini?" tanya balik Maira pada Dirga.
"Aku lagi sedang ninjau proyek. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya balik Azlan pada Maira.
"Sangat tampan," ujar Qesya tersenyum menatap Azlan.
Maira dan Azlan mengerutkan keningnya menatap Qesya yang seperti orang terhipnotis.
"Apa Nona sedang mengatakan sesuatu?" tanya Azlan.
Sedangkan Qesya yang masih terhipnotis dengan ketampan Azlan, sama sekali tak mendengar pertayaan Azlan dengan bail. "Tampan," jawabnya tak sadar.
Maira yang melihat tingkah Qesya, menahan tawanya. "Puht ... maaf Tuan Dirga dia memang sering seperti itu," ujarnya menahan senyum dan malu melihat tingkah teman barunya itu.
__ADS_1
"Auh, kok kamu mencubit aku sih," kesal Qesya mengusap lengannya.
"Biar kembali sadar," ujar Maira.
Qesya ingin menjawab terhenti saat melihat Aditya. "Maaf, Nyonya, Tuan memanggil Anda masuk," ujar Aditya sopan pada Maira.
"Baiklah-" ujar Maira terpotong saat Qesya dengan keras menunjuk Aditya.
"Kamu!" ujar Qesya lantang menatap kesal Aditya.
"Apa kita pernah bertemu, Nona?" tanya Aditya melupakan gadis yang pernah ia tabrak dan bajunya tertumpah minuman.
"Qesya kamu mengenal, Aditya?" tanya Maira menatap temannya.
"Iya, dan dia adalah pria yang sangat-sangat tidak bertanggung jawab," ujar Qesya penuh kekesalan.
"Tidak bertanggung jawab bagaimana?, Kalian berdua ...?" ujar Maira menatap Qesya dan Aditya bergantian.
Qesya mengerti maksud dari ekspresi Maira langsung menyanggah semuanya. "Tidak. Bukan seperti itu, Khumaira. Amit-amit dah cabang baby kalau itu sampai terjadi," ujar Qesya mengetuk kepalnya lalu tangannya, bahunya bergedik ngeri.
"Lalu?" tanya Maira menatap keduanya.
"Bair aku jelaskan. Dia ( tunjuknya pada Aditya ). Dia pria yang tidak bertanggung jawab, karena setelah menabrak seseorang dia dengan sombongnya berjalan ke depan tanpa meminta maaf pada orang yang ia tabrak!, Tidak bertanggung jawab bangetkan jadi cowok?" ujar Qesya penuh amarah, ia sangat membenci wajah Aditya.
Mendengar ucapan Qesya, Aditya kembali mengingat ke jadian beberapa hari yang lalu. "Maaf, Nona tapi saya sudah memberikan kompensasi, saya rasa itu sudah jauh lebih cukup," ujar Aditya dingin, datar.
"Apa kamu bilang!!" marah Qesya, saat me nd engar ucapan datar Aditya yang sama sekali tak merasa bersalah.
"ADITYA!" panggil seseorang dengan tegas dan keras, dari sebuah balkon Villa.
"Maaf, Nyonya, Anda harus segera masuk," ujar Aditya takut saat mendengar ucapan dingin Arhand.
Maira yang juga mendengar ucapan suaminya yang dingin, dan terdengar marah membuat Maira ikut ke takutan dan segera pamit semua orang. "Tuan Dirga, Tuan sekretaris, Qesya, aku pergi lebih dulu, permisi," ujarnya dengan sopan dan tersenyum tipis, lalu berlalu dari sana.
"Iya. See you the next day," teriak Qesya melambaikan tangannya.
"Bay," ujar Maira melambaikan tangannya sambil terus berjalan pulang.
"Khumaira, tunggu," panggil Qesya, dan berlari mengejar Maira.
Maira berbalik. "Iya, Qes, ada apa?" tanya Maira terdengar buru-buru.
"Ini ( ujarnya memberika kertas bertuliskan nomor telponny ). Dan kamu harus menelponku kalau tidak ... aku akan memecahkan kepalanya itu," ujarnya menatap tajam Aditya namun Aditya hanya menampilkan wajah datarnya.
Maira mengambil kertas itu. "Baiklah ... aku akan menghubungimu. Bay," ujarnya pergi meninggalkan Qesya.
"Bay," ujar Qesya melambaikan tangannya.
...#continue ......
..."Menurut Readers, apa Maira akan kembali di hukum?, Dan jika di hukum, hukuman apa yang akan di berikan oleh Arhand?"...
...Jawab di kolom komentar di bawah 👇...
...See you the next Episode, Readers...
__ADS_1