Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 37 Kembalinya masalalu


__ADS_3

"Kenapa gak turun?" tanya Arhand ketus menatap lurus kedepan, hatinya benar-benar masih tak rela membiarkan istrinya pergi menemui Mamanya.


"Mas belum membuka kunci pintunya," ujar Maira dengan nada ketus juga, karena kesal dengan tingkah suaminya belakangan ini.


:Sudah kok," balas Arhand datar.


"Belum ( tegas Maira ). Mas ayolah buka ( memelas ), Mama pasti sudah sangat menunggu aku," ujarnya dengan nada rendah.


Tak lama ponsel Maira berbunyi, dan itu adalah panggilan dari Ny. Arsy.


Drrttt.


"Tuh kan, Mas. Mama sudah menelpon aku," ujar Maira, menatap layar ponselnya.


Maira mengeser ikon hijau, mengangkat telpon mertuanya. "Hallo, Mam," ujarnya dengan santun.


"Iya, hallo Sayang, ini kamu sudah ada di mana sayang?" tanya Ny. Arsy.


"Ini Maira sudah di parkiran kok, Mam," ujar jujur Maira.


"Ha iya sudah kalau gitu cepatan masuak yah sayang, gak enak terlalu di tunggu sama teman Mama," ujar Ny. Arsy lagi di seberang telpon sana.


"Iya, Ma," jawab Maira, setelah itu telpon terputus.


Maira membalikkan badannya melihat ke suaminya. "Mas ..." ujar Maira dengan memelas.


"Berhenti memanyungkan bibirmu seperti itu, jika tidak mau aku bawah ke hotel dekat sini," ancam Arhand, yang langsung membuat Maira melipat masuk bibirnya.


"Makanya buka donk, Mas," rengek Maira.


"Apaan itu?" tanya Maira saat Arhand menunjuk-nunjuk pipinya dan bibirnya secara berganti.


"Satu kiss sweet, baru bisa keluar," ujar Arhand dengan enteng.


"Arrhh. Mas Arhand menyebalkan," gerutu Maira kesal.


"Tapi kamu, cinta," balas Arhand dengan menaikan satu alisnya.


"Mas ..." rengek Maira, tidak mau melakukan hal itu karena malu. Ia tak ingin kejadian beberapa lalu terulang lagi, di mana mereka berciuman dengan di tonton oleh satu keluarga, dimana ada seorang anak kecil.


Namun Arhand, tetaplah Arhand yang akan mendapatkan apa yang ia inginkan. "Cepatan, atau kamu benar-benar mau kita ke hotel dulu?" tanya Arhand tersenyum penuh arti, menatap Maira.


Cup.


Kecupan manis Maira berikan di bibir suaminya, dengan rasa malu di hatinya. "Sudah. Sekarang buka pintunya," ujar Maira menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap mata suaminya.


"Satu kali lagi," ujar Arhand lagi, menunjuk pipi kirinya.

__ADS_1


"Mas ..." memelas Maira, namun Arhand tak mempedulikannya dan tetap menunjuk pipinya.


Cup.


Satu kecupan kembali Maira berikan di pipi kiri suaminya. Wajahnya kini tak perlu lagi di tanyakan, karena wajahnya benar-benar seperti tomat matang dan kepeting rebus memerah merona.


"Sekali lagi," ujar Arhand lagi, menunjuk pipi kanan.


"Mas," rengek Maira.


Namun bukan Arhand namanya jika mendengar dan tidak mendapat apa yang ia mau. Arhand ingin menyalakan mesin mobil namun benda kenyal lebih dulu menempel di pipi kanannya.


Cup.


Dan pada akhirnya kuncinya di buka juga oleh Arhand, Maira dengan cepat meleset keluar dari mobil.


"Lah, Mas mau kemana?" tanya Maira menatap bingung suaminya yang ikut juga turun.


"Mau masuk," ujar Arhand santai.


"Masuk?, Ngapain? kan Mas tadi bilang hanya mau nganterin aku saja," ujar Maira.


Arhand terlihat seperti orang yang mengingat-ingat. "Iyakah?, Aku tidak merasa bilang seperti itu," ujarnya pura-pura lupa.


"Terserah, Mas Arhand lah," ujar Maira malas berdebat.


Mereka melangkah masuk kedalam, namun langkah mereka terhenti.


Maira mematung menatap kejadian itu, bola matanya terlihat mulai tergenang air mata yang kapan pun bisa meledak.


"A-A-Anya," ujar Arhand terbata-bata, dengan menangkupkan wajah wanita itu yang merupakan mantan kekasihnya, Anya.


Anya terlihat tersenyum menganggukkan kepalanya, dengan memegang tangan Arhand. "Iya, ini aku Anya, pacar kamu," ujarnya dengan air mata mengalir di pipihnya.


"Be-benaran in-ini kamu, Anyaku," ujar Arhand masih tak percaya tapi dari nada suara bergetar karena bahagia, bahkan Arhand tanpa memperdulikan kehadiran istrinya, kembali memeluk mantan kekasihnya dengan sangat erat.


Tubuh Maira bergetar saat mendengar ucapan suaminya, yang dengan jelas mengatakan bahwa wanita di depannya adalah miliknya. "A-Anyaku," ujar Maira dengan suara bergetar menahan tangis menatap dua instan di depannya.


Arhand yang mendengar suara istrinya tersadar, namun Maira lebih dulu berlari pergi dengan deraian air mata. Arhand ingin mengejar namun tangannya langsung di tahan oleh Anya.


"Kamu mau kemana, Hon?" tanya Anya pada Arhand, sedangkan Arhand hanya bisa mengelengkan kepalanya, tidak mungkin ia mengatakan ingin mengejar istrinya.


"Tidak ada," ujar Arhand tersenyum, mengusap surai Anya.


Plak.


Arhand memegangi wajahnya yang terasa panas, karena tamparan yang begitu keras dari sang Mama. Ny. Arsy berniat menjemput menantu, tetapi malah di sugukan dengan kejadian seperti ini.

__ADS_1


"Ta-tante," ujar Anya shock, melihat Ny. Arsy menampar putranya sendiri dengan sangat keras.


"Diam!" bentak Ny. Arsy pada Anya.


Ny. Arsy menatap tajam putranya. "Kamu sudah kelewatan, Arhand Blanco!" ujarnya tegas menunjuk putranya.


"Jika sampai Maira kenapa-napa Mama tidak akan memaafkanmu. Dan dengan kejadian ini Mama semakin yakin dengan rencana Mama," ujar Ny. Arsy tegas menatap tajam putranya yang diam mematung namun tangan Arhand terkepal kuat saat mendengar kalimat akhir Mamanya. Ny. Arsy pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua.


"Honey, kamu gak apa-apa?" tanya Anya memeriksa wajah Arhand yang di tampar oleh Ny. Arsy tadi.


Arhand kembali tersenyum. "Tidak. Aku baik-baik saja ( mengusap wajah Anya ). Aku antar kamu pulang ya," ujarnya.


"Tapi aku tidak punya rumah Honey," ujar Anya dengan wajah terlihat menyedihkan.


"Kalau gitu kamu bisa tinggal di apartemen aku," ujar Arhand lagi.


"Tapi aku takut, Honey. Aku tidak mau berpisah lagi denganmu," ujar Anya mengelengkan kepalanya.


"Tapi-" ujar Arhand terpotong karena Anya langsung mememeluk dirinya.


"Aku sangat takut hidup sendiri, Honey. Aku gak mau, hiks, hiks, hiks," ujar Anya sembari menangis di pelukan Arhand.


Arhand melepas pelukan Anya, lalu kembali menagkupkan wajah Anya. "Ya sudah kalau kamu gak mau tinggal di apartemen, gak usah tapu tolong jangan menangis lagi, ok? ( menghapus air mata Anya ), Aku gak bisa melihatmu menangis seperti ini," ujarnya kembali membawa Anya kedalam pelukannya.


......................


"Terima kasih," ujar Maira mengambil sapu tangan yang di sodorkan oleh Azlan.


"Boleh aku duduk," tanya Azlan.


"Heum ( mengangguk ). Duduk saja," ujar Maira.


"Maaf," ujar Azlan.


Maira menolehkan kepalanya sebentar menatap Azlan. "Kenapa?" tanyanya.


"Aku tadi tak sengaja melihat kejadian itu, dan aku mengikuti kamu ke sini karena takut terjadi sesuatu padamu," ujar Azlan.


Maira tersenyum, menutupi kesediannya. "Terima kasih, Tuan, tapi aku baik-baik saja," ujarnya berbohong.


Azlan ikut tersenyum menatap Maira. "Itu benar, kamu baik-baik saja karena kamu adalah wanita yang kuat," ujarnya.


Sedangkan mobil Arhand berhenti kala melihat Maira duduk di bangku jalan bersama dengan laki-laki lain, tangannya mencengkeram setir mobil, matanya menatap tajam Azlan dan Maira yang terlihat salin berinteraksi.


"Kenapa berhenti, Honey," tanya Anya, karena mobil tiba-tiba terhenti.


"Ha, tidak. Aku tidak apa-apa," ujar Arhand, lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


...#continue .......


...See you the next episode, Readers....


__ADS_2